
"Mama!" panggil Cheryl kepada Cyntia yang sedang bimbang.
"Ya?"
"Susu Atha tumpah, bisa ambilkan tissu basah di kereta bayi?" pinta Cheryl.
Cyntia menuju kereta bayi dan mengambil tissu basah dari dalam tas perlengkapan bayi Atha. Kemudian menyerahkannya kepada Cheryl.
"Terima kasih, Ma," ucap Cheryl. Dia melap mulut Atha, lalu, kembali memberinya susu.
Sementara Cyntia kembali ke samping Cakra, untuk melihat infus.
Cakra menggerakan tangan dan membuka matanya dengan perlahan. Meskipun dia masih merasa sangat mengantuk. Mungkinkah efek dari bius yang diberikan kepadanya masih bekerja?
Cakra memfokuskan pandangannya kepada seorang wanita yang berada di sampingnya.
Apakah itu perawat yang tengah memeriksa selang infusnya?
Perlahan penglihatan Cakra menjadi tajam dan Cakra dapat melihat siapa wanita di sampingnya. Ternyata wanita itu adalah mamanya.
"Mama!" panggil Cakra dengan perlahan. Cyntia melirik ke arah putranya yang telah membuka mata. "Siska?" lanjut Cakra. Dia ingin bertanya kepada Cyntia di mana Siska dan putranya berada?
"Cakra! Kamu tenang dulu, Mama akan memanggil dokter," ucap Cyntia. Dia bersiap untuk melangkah memanggil dokter. Mungkin karena panik, Cyntia lupw bahwa dia hanya perlu menekan tombol emergency. Cakra memegang tangan ibunya.
"Abang!" Cheryl memanggil Cakra. Namun, dia belum bisa menuju ke arah Cakra karena Atha tengah menyusu dengan lahap.
"Siska di mana? Siska menghilang?" Cakra mengabaikan panggilan Cheryl. Dia memaksa agar kata-kata keluar dari mulutnya.
"Siska, baik-baik saja. Kamu tenang saja," jelas Cyntia menenangkan putranya.
"Cari Siska dan anak Cakra, Ma," mohon Cakra.
"Apa maksud kamu?" bingung Cyntia.
"Cakra mau minum," pinta Cakra. Cyntia mengambil air yang ada di samping brangkar dan memberikannya kepada Cakra. Cyntia kemudian menekan tombol emergency agar dokter atau perawat bisa datang.
"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" tanya perawat dari speaker emergency.
"Putra saya telah sadar," ucap Cyntia.
"Baiklah, sebentar lagi dokter akan ke sana." perawat mengakhiri pembicaraan.
"Mama!" panggil Cakra lagi. Dia berusaha untuk duduk karena merasa lelah tidur.
"Sebaiknya jangan bergerak dulu," larang Cyntia. Dia memaksa Cakra untuk berbaring lagi.
"Mama, Siska dan bayiku hilang," Cakra masih mencoba memberitahu mamanya. Agar Cyntia membantu mencari keberadaan Siska dan bayinya.
"Apa yang kamu katakan?" Cyntia kemudian memeriksa kening Cakra. Apakah putranya sedang demam tinggi sehingga mengigau?
__ADS_1
"Siska dan bayiku tidak ada di kamarnya," jelas Cakra lagi.
"Apa maksud Abang?" Cheryl menghampiri Cakra dengan menggendong Atha.
"My Baby?" panggil Cakra saat melihat bayi yang ada digendongan Cheryl. "Siska, bagaimana keadaannya?" tanya Cakra lagi. Dia lega bayinya masih ada dan Cakra yakin Siska tidak meninggalkannya. Cakra tidak tahu bahwa Siska telah siuman.
"Siska baik-baik saja, dia telah siuman kemarin," balas Cyntia.
"Sekarang Siska sedang terapy berjalan," tambah Cheryl.
"Syukurlah, Abang pikir dia meninggalkan Abang," lega Cakra.
"Kenapa, Abang sampai berpikiran seperti itu?" heran Cheryl.
"Kemarin saat pulang kerja, Abang lihat kamarnya kosong, kalian juga tidak ada. Abang pikir kamu menyembunyikan Siska dan putra Abang," tuduh Cakra.
"Rencananya gitu, biar Abang nggak nyakitin Siska lagi," sewot Cheryl.
"Cher," tegur Cyntia.
"Iya, kemarin setelah Siska sadar kami ke kamar Nabila yang baru melahirkan," jelas Cheryl. Cheryl memperhatikan reaksi Cakra saat dia menyebut nama Nabila. Namun, reaksi Cakra biasa saja.
"Mama?" curiga Cakra.
"Mama pergi membeli makanan untuk Cheryl karena dia belum makan," bela Cyntia.
"Lalu, kenapa telepon Cakra tidak diangkat?" kesal Cakra.
"Kamu?" Cakra memelotot kepada adiknya.
"Sama, dan lagian, kami, 'kan sedang temu kangen, mana bisa lihatin handphone," ucap Cheryl membela diri.
"Kamu nggak tahu, Abang panik karena kamar Siska kosong. Abang mencari ke apartment. Berharap Siska dan bayi Abang telah kembali, ternyata nggak ada dan itu membuat Abang panik!" terang Cakra dengan sedikit emosi. Dia meluapkan kekesalan kepada Cheryl karena tidak mungkin memarahi mamanya. Bisa dicap jadi anak durhakim Cakra.
"Maaf," cicit Cheryl.
Apa Abangnya sangat mencintai Siska sampai takut kehilangan seperti itu? Jika Cakra benar-benar mencintai Siska, maka dia akan membantu Cakra. Wong hubungan Nabila dan Nathan dibantunya. Apalagi hubungan saudara dan sahabatnya. Pasti Cheryl akan membantu dengan sungguh-sungguh. Sampai mereka tidak berpisah lagi. Apalagi menyangkut keponakannya yang unyu. Tidak akan Cheryl membiarkan mereka berpisah.
Cyntiapun merasa bersalah karena telah membuat putranya panik sehingga mengalami kecelakaan. Andai dia cukup menyuruh sopir membelikan makanan untum Cheryl, pasti Cakra tidak akan kecelakaan.
Cyntia hanya bisa pasrah karena semua telah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan putra dan menantunya.
Dokter datang bersama perawat. Dokter memeriksa kondisi Cakra.
"Semuanya bagus, hanya tinggal penyembuhan kakinya saja," beritahu dokter. "Setelah perbannya dibuka, kita akan pantau lagi, semoga lukanya cepat memgering," lanjut Dokter.
"Terima kasih, Dok, jadi putra saya sudah boleh makan, Dok?" tanya Cyntia. Dia yakin Cakra pasti sudah lapar.
"Tentu saja. Sus, suruh seseorang untuk mengantarkan makanan buat pasien," perintah Dokter kepada perawat yang bersamanya
__ADS_1
"Baik, Dok," sahut perawat.
Dokter dan perawat meninggalkan ruangan Cakra. Cakra mencoba duduk dan dibantu Cyntia.
"Sini, bawa bayi Abang," panggil Cakra sambil melambaikan tangannya agar Cheryl mendekat ke arahnya.
Cheryl membawa Atha kepada Cakra, Cakra mengambil bayinya dari tangan Cheryl.
"Abang, yakin kuat menggendong Atha?" cemas Cheryl.
"Tenang saja, Abang kuat, kok," ucap Cakra tidak terima Cheryl meremehkannya. "Eh, tunggu, Atha?" heran Cakra.
"Iya, nama bayi, Abang, Atha Kafi," balas Cheryl.
"Pragya, jangan lupa," tambah Cyntia.
"Siapa yang memberinya nama?" curiga Cakra.
Apa Cheryl dengan seenaknya memberi nama untuk putranya? Tanpa berdiskusi dengannya maupun Siska?
"Tentu saja Siska," jawab Cyntia. Cakra merasa lega dan sedikit kecewa karena Siska tidak berdiskusi dengannya untuk memberi nama putra mereka.
"Apa Siska tahu, Cakra kecelakaan?" tanya Cakra karena dia heran, kenapa Siska tidak ikut bersama mereka?
Apa karena jadwal terapynya? Atau Siska yang tidak ingin bertemu dengan dirinya?
"Siska tidak tahu kalau Abang kecelakaan," sahut Cheryl.
"Kami sengaja tidak mmeberitahunya karena dia baru saja siuman, dan kami takut itu akan menjadi beban pikiranya," terang Cyntia.
"Dan Cheryl terpaksa berbohong, mengatakan Abang sedang ada pekerjaan di luar negeri," tambah Cheryl.
"Ya, udah, tidak apa-apa. Abang akan cepat sembuh dan menemui Siska langsung," putus Cakra. Meskipun dia sangat merindukan Siska, dia harus menahannya, agar Siska tidak shock melihat kondisinya.
Petugas pengantar makanan datang. Cheryl segera mengambil Atha dari tangan Cakra. Petugas meletakan meja di depan Cakra beserta makanan.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggu up, silahkan mampir ke karya teman author ya !
...I LOVE YOU ARDIAN...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad