
Cakra terus mencumbu Siska, dia sangat senang melihat bukit kembar yang ditampilkan di depannya. Sangat padat dan berisi, Cakra terus memberikan tanda di sekitar sana dan kembali ke leher Siska. Siska pun yang mendamba perlakuan sayang dari Cakra merespon dengan sama bergairahnya.
Mereka larut dengan kegiatan masing-masing, saling membagi kasih sayang. Cakra bahkan melupakan kakinya yang masih di perban. Melupakan sakit yang dirasakannya, dia seperti pria yang tidak mengalami kecelakaan.
Siska baru menyadari bahwa ini tidak benar, dia belum empat puluh hari, meskipun haid nifasnya telah tidak keluar lagi. Tapi, dia harus tetap menghormati tradisi.
"Abang, hentikan!" teriak Siska saat Cakra membuka semua pakaian Siska. Refleks Cakra menghentikan kegiatannya saat mendengar perintah Siska.
"Kenapa?" tanya Cakra, pandangannya telah berkabut gairah.
"Ini belum empat puluh hari," jawab Siska memberitahu.
"Lalu?" heran Cakra yang tidak mengerti.
"Aku masih dalam masa nifas dan kita dilarang untuk berhubungan," terang Siska. Dia kembali memasang kancing bajunya.
"Dan, kapan itu akan selesai?" tanya Cakra tidak sabar.
"Dua atau tiga hari lagi," ucap Siska. Dia turun dari ranjang.
"Untunglah, tidak lama lagi," senyum Cakra mengembang. "Kamu mau kemana?" tanya Cakra.
"Melihat Atha, seharusnya ini waktunya dia mandi," sahut Siska. Dia menghampiri bayi tembemnya.
Untuk mengalihkan perhatian dari gairahnya yang telah bangkit, Cakra kembali memfokuskan diri kepada pekerjaannya. Dia menyibukan dirinya agar tidak memikirkan kejadian barusan.
Siska sendiri menyiapkan pakaian Atha dan semua perlengkapannya di atas ranjang di samping Cakra. Dia juga menyiapkan air mandi Atha, setelah itu membangunkannya. "Atha, ayo bangun! Saatnya mandi," bujuk Siska, dia mengelus pipi putranya agar bangun. Namun, sang putra masih saja tertidur dengan lelap. Siska menggendongnya dan memindahkannya ke ranjang. Dia membuka baju Atha, agar putranya bangun.
Cakra memperhatikan kegiatan Siska tersebut dan mengalihkan laptop ke meja. Cakra memudian mendekatkan tubuhnya ke Atha.
"Putra Papa yang ganteng, mau mandi, ya?" Cakra mengelus kepala putranya dan menciumnya. Hal itu membuat tidur Atha terusik dan dia perlahan membuka mata.
"Akhirnya, bangun juga," lega Siska. " Saatnya mandi." Siska menggendong putranya ke dalam kamar mandi.
Tidak lama, Siska keluar dengan menggendong Atha yang telah segar. Dia meletakkannya kembali ke ranjang dan memakaikannya baju.
"Anak Papa, sudah mandi dan wangi," Cakra mencium putranya dengan gemas. Cakra memperhatikan Siska yang bekerja dengan cekatan, membuat Cakra kagum kepada Siska. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan Siska.
Selesai memakaikan baju untuk Atha. Dia mengambil nursing cover untuk menutupi tubuh saat menyusui. Siska duduk di samping Cakra, menyandarkan diri di kepala ranjang, membuat posisinya nyaman untuk menyusui. Siska kemudian mulai menyusui Atha.
"Kenapa, mesti di tutup?" komplen Cakra.
__ADS_1
"Malu," balas Siska singkat.
"Tidak ada orang lain di sini, hanya Abang," ujar Cakra.
"Malu sama Abang," sahut Siska.
"Hah? Yang benar aja, Sis. Barusan juga Abang udah lihat," ledek Cakra, dia menggeser duduknya lebih dekat ke Siska.
"Abang, jangan diingatin donk," kata Siska, wajahnya merona merah.
"Abaikan saat Abang memaksamu, tapi, saat SMA, Abang masih ingat, dan itu sampai bawah Abang lihat," ejek Cakra.
"Abang, udah ah." Wajah Siska semakin merah dan panas. Cakra justru menjadi jahil dan mengintip dari nursing cover.
"Abang!" tegur Siska, melihat tingkah Cakra yang mesum.
"Udah, ini nggak usah dipakai." Cakra melepas nursing cover dari leher Siska. "Begini lebih bagus, Athapun bisa menghirup udara dengan leluasa dan Abang--, Cakra tidak melanjutkan kata-katanya.
"Abang apa?" tanya Siska penasaran.
"Abang bisa cuci mata," senyum Cakra jahil. Siska memelotot kepadanya.
Setelah merasa Atha kenyang, Siska melepaskan ASI dari mulut Atha. Dia meletakan Atha di atas ranjang. Siska turun dari ranjang.
"Mau mandi, Bang," sahut Siska.
"Sis, Abang juga ya, di mandiin," rayu Cakra.
"Kaki Abang, 'kan masih belum sembuh." Siska mengingatkan Cakra.
"Ya, setidaknya dilap aja, Abang gerah juga, Sis," bujuk Cakra.
"Siska malu, Bang," cicit Siska.
"Sini!" Cakra mengulurkan tangannya agar Siska mendekat. Siska menerima uluran tangan Cakra. "Kamu harus membiasakan diri, kita telah menikah, bahkan telah memiliki seorang putra," rayu Cakra.
"Iya, deh. Siska ambilin dulu airnya." Siska berjalan ke dapur untuk mengambil baskom. Kemudian ke kamar mandi mengisi air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh Cakra.
Siska membuka pakaian Cakra dan celananya. Dia mulai membersihkan tubuh Cakra dengan handuk yang dibasahi. Siska sedikit gemetaran saat harus membersihkan tubuh Cakra. Otot-otot dan perut sixpacknya terpampang kelas di depan Siska. Bahkan Siska dapat merasakannya.
Siska membersihkan tubuh Cakra dengan cepat, agar jantungnya aman dan tidak copot. Siska mengambil pakaian bersih dan menggantinya.
__ADS_1
"Kamu melupakan sesuatu," ucap Cakra. Siska heran perasaan dia telah membersihkan semuanya.
"Apa?" tanya Siska, menatap Cakra heran.
"Sini!" panggil Cakra, Siska mendekatkan diri. Cakra membisikan sesuatu, Siska melongo tidak percaya dengan yang dia dengar. Wajah Siska memerah seperti kepiting rebus.
"Tidak!" tolak Siska. Dia menunduk karena malu.
"Harus, dan itu juga harus di ganti dengan yang baru," bujuk Cakra.
"Baiklah," ucap Cakra akhirnya.
Siska mulai membuka pakaian dalam Cakra, dia menutup mata karena malu.
"Kenapa harus tutup mata, sih?" komplrn Cakra. "Justru tutup mata akan bahaya, bagaimana kalau kamu salah pegang? Atau mengenai kaki Abang yang cedera?" kata Cakra. Dia tersenyum melihat tingkah Siska. "Lagian, kamu, 'kan udah pernah lihat, kenapa masih malu?" Cakra sengaja membuat wajah Siska malu.
"Abang, udah, ah. Mau Siska suruh bersihin sendiri dan pakai sendiri," ancam Siska.
"Ya, udah, Abang diam aja," sahut Cakra.
Siska memuyuskan mmeberanikan diri melihat. Dia membersihkan dengan cepat dan memakaikan pakaian Cakra.
Siska memasukan handuk ke dalam kerancang kain kotor dan membawa baskom ke dapur..
"Abang sama Atha, sudah bersih, jadi sekarang giliran Siska," ucap Siska, dia kemudian langsung memasuki kamar mandi dan mandi. Siska mengganti pakaiaannya di dalam kamar mandi, daripada Cakra nanti tidak konsentrasi.
Siska keluar dari kamar mandi dengan pakaian telah rapi. Dia menuju meja riasa dan memakai make tipis untuk harian dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
"Atha, lihat Mama udah cantik dan wangi," puji Cakra. Dia memadukan jarinya ke tangan putrannya. Atha menendang kaki dan tangannya ke udara.
"Siska panaskan dulu makanan, bentar lagi masuk waktu makan malam." Siska keluar dari kamar dan memanaskan makanan yang tadi telah dibelikan oleh mertuanya.
Sejak mulai menyusui, Siska jadi sering lapar dan harus mengemil, beruntung mertuanya telah memberikan cemilan untuk Siska.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad