Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Siska telah diizinkan pulang, Cakra membawa Siska ke apartmentnya.


"Bang, apa nggak salah? kita mau ke mana?" Siska bingung mereka mau ke mana? Karena ini bukan jalan menuju rumahnya?


"Ke apartment, Abang," jawab Cakra.


"Kenapa?" heran Siska.


Apa yang terjadi, kenapa Cakra mengajaknya ke apartmentnya? Apakah aku dan Abang berhubungan?


Siska tersenyum, dia berpikir bahwa dia dan Cakra berpacaran.


"Kenapa kamu tersenyum?" selidik Cakra saat melihat tingkah Siska yang aneh menurutnya.


"Tidak, bukan apa-apa," elak Siska dengan wajah merona merah seperti kepiting rebus.


Cakra dan Siska hanya diam. Jika Siska sibuk dengan hayalannya. Cakra justru pusing bagaimana menjelaskan kejadian yang menimpa Siska.


Akhirnya mereka sampai di apartment Cakra. Cakra membuka pintu apartment dan menyuruh Siska masuk. Apartment Cakra cukup luas dan nyaman. Peralatannya pun komplit.


Cakra mengajak Siska masuk ke kamar.


"Ini kamar kamu, sebaiknya kamu istirahat, ya," pinta Cakra.


Siska sedkit heran, dia memperhatikan sekeliling kamar. Siska melihat ada pakaiannya di dalam sana.


Apakah hubunganku dengan bang Cakra telah sedekat itu? Tidak mungkin karena Papa pasti tidak akan mengizinkan dia tinggal bersama pria tanpa ada ikatan.


"Ini semua, maksudnya apa, Bang?" heran Siska. Dia harus mendapatkan penjelasan dari Cakra. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Sis, kamu hilang ingatan. Kemarin kamu mengalami kecelakaan, sehingga lupa kejadian yang lalu," ungkap Cakra akhirnya. Selanjutnya, dia bingung bagaimana cara untuk memberitahu tentang orang tua Siska?


"Mama sama papa Siska ke mana bang?" tanya Siska lagi, entah kenapa dia merasa cemas. Siska telah mengetahui jika dia mengalami amnesia lakunar. Dokter telah menjelaskan kepadanya.


Namun, apa yang terjadi padanya selama tiga tahun ini, hanya Cakra yang bisa menceritakan.


"Sis, abang tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena kamu baru keluar dari rumah sakit," jelas cakra lagi.


"Tapi bang?"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian ... kamu harus sembuh dulu ... baru Abang kasih tahu," potong Cakra, agar Siska tidak mengajukan pertanyaan lagi.


***


Seminggu Siska berada di apartment Cakra pasca dia keluar dari rumah sakit. Siska merasakan ada yang berubah dari dirinya. Terutama saat pagi hari, Siska sering mual dan muntah. Cakra selalu mendampingi Siska.


Seperti pagi ini Siska kembali mual dan muntah.


"Hasil pemeriksaan dokter, apa sih, Bang? Kok Siska seminggu ini mual dan muntah terus?" tanya Siska setelah mengeluarkan isi sarapan paginya.


Cakra menimbang, apakah harus sekarang dia memberitahu Siska tentang kehamilannya?


"Kamu hamil, Sis." Akhirnya Cakra memutuskan memberitahu Siska. Tidak ada gunanya menyembunyikan hal itu karena semakin lama perut Siska akan semakin membesar.


"Hamil? Apa terjadi sesuatu? Kenapa Siska hamil?" Siska tidak percaya yang terjadi.


"Tenanglah, jangan berpikiran lain. Kita telah menikah, makanya kamu tinggal sama abang," bohong Cakra, untung selama Siska di rawat, Cakra telah menyusun pakaian Siska di kamar.


"Apa? Menikah?" Siska sangat senang karena Cakra adalah cinta pertamanya dan sampai saat ini dia masih mencintai Cakra dengan tulus.


"Benar." Cakra meyakinkan Siska.


"Kenapa kita bisa menikah?" Siska masih ingat jika Cakra mencintai Nabila. Dan ini sangat mencurigakan jika mereka menikah?


"Jika kita telah menikah, kenapa kita tidur di kamar yang terpisah?" tanya Siska, dia merasa sedikit aneh, tapi tidak tahu apa?


"Karena kamu hilang ingatan ... Abang tidak mau kamu merasa tidak nyaman karena tidak mengingat tentang pernikahan kita," bohong Cakra lagi. Siska merasa ada yang salah, namun, dia tidak tahu apa itu? Juga perasaan bersalah karena membuat Cakra kesepian.


"Lalu bagaimana dengan orang tua Siska, Bang?" tanya Siska lagi. Dia belum mengetahui tentang orang tuanya.


"Maaf Sis, orang tua kamu telah meninggal." Mungkin ini saat yang tepat memberitahu Siska bahwa orang tuanya telah tiada.


"Kenapa? Apa yang terjadi dengan mereka?" Siska tidak terima jika orang tuanya telah tiada.


"Papa kamu mengalami gagal jantung dan tidak bisa diselamatkan lagi," beber Cakra, tidak mungkin dia memberitahu Siska bahwa papañya bunuh diri?


"Lalu ... mama?"


"Mama kamu meninggal karena kecelakaan bersamamu sepuluh hari yang lalu." Cakra tidak sepenuhnya berbohong. Hanya saja dia tidak mendetailkan seperti apa kejadian sesungguhnya?

__ADS_1


Siska terduduk, tidak percaya jika kedua orang tuanya telah tiada. Rumah dan perusahaan papanya, siapa yang mengelola? Karena Siska masih kuliah.


Siska merasakan kepalanya berdenyut. Dia mencoba mengingat saat terakhir orang tuanya. Akan tetapi, semakin Siska mencoba mengingat semakin kepalanya sakit.


"Sis ... kamu tidak apa-apa?" cemas Cakra yang melihat Siska seperti menahan sakit. Cakra memeluk Siska.


"Jangan pikirkan apapun ... ingat kamu sedang hamil." Cakra mengingatkan Siska akan kondisinya. Siska menangis dipelukan Cakra.


"Siska, anak durhaka, Bang ... kenapa Siska melupakan kejadian kematian papa dan mama?" isak Siska. Itu yang terbaik Sis, batin Cakra.


"Mungkin itu yang terbaik Sis ... mama dan papa kamu tidak ingin kamu bersedih," bujuk Cakra lagi


"Perusahaan papa dan rumah Siska bagaimana, Bang?" tanya Siska. Dia merasakan suatu firasat tentang perusahaan papanya.


"Sis, Abang tidak tahu, apakah kamu siap mendengarnya?" Cakra tidak bisa berbohong tentang kondisi perusahaan keluarga Siska.


"Siska siap, Bang ... katakan saja?" jawab Siska. Toh. Apalagi berita buruk yang akan dia terima, kecuali tentang kematian orang tuanya.


"Perusahaan papamu bangkrut," ungkap Cakra singkat.


"Apa karena itu, papa meninggal?" tanya Siska lagi. Dia melepaskan pelukan Cakra. Berjalan menuju ranjang.


"Tidak, papamu meninggal enam bulan setelah kejadian." Cakra terpaksa berbohong lagi.


"Kuliah? Kuliah Siska? Apakah karena menikah Siska tidak lagi kuliah?" Tanya Siska lagi.


"Kamu masih kuliah, hanya saja beberapa hari setelah kejadian ini kamu tidak masuk," beritahu Cakra. Siska lega ternyata dia masih kuliah.


"Handphone Siska mana, Bang?" Siska ingin memastikan tahun berapa sekarang. Cakra memberikan handphone Siska yang memang dia simpan. Siska melihat tanggal dan tahun. Ternyata ingatan yang hilang adalah selama hampir tiga tahun.


Sebenarnya Siska masih ingin bertanya. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing.


"Istirahatlah, ingat kondisimu ... abang tidak mau kamu dan bayimu kenapa-kenapa," saran Cakra, menyuruh Siska kembali beristirahat. Sekalipun Siska sedikit bingung tentang kata 'bayimu' bukankah seharusnya 'bayi kita'. Namun, disingkirkan Siska.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!

__ADS_1


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2