
"Bayi itu--punya Abang," ucap Siska terbata-bata. Setelah itu dia pingsan. Namun, Cakra tidak terlalu memahami apa yang diucapkan Siska.
"Apa, Sis?" tanya Cakra. Dia mendekatkan telinga ke bibir Siska, agar dapat mendengar dengan jelas. Akan tetapi, Siska tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Dokter, sepertinya dia mengalami pendarahan hebat," ucap perawat satu lagi saat melihat darah yang banyak di ************ Siska.
"Cepat ambil kain kasa!" teriak Dokter. Perawat mengambil kain kasa untuk menahan agar darah Siska tidak keluar banyak.
Dokter dengan cepat menghentikan pendarahan Siska.
"Sis!" panggil Cakra. "Apa yang terjadi kenapa dia pingsan?" tanya Cakra mulai cemas. Dia terus menepuk pipi Siska pelan, agar Siska tersadar.
"Dia mengalami pendarahan hebat, sebaiknya Bapak keluar, kami akan menanganinya," sahut Dokter.
Cakra keluar dengan terpaksa.
"Bagaimana?" tanya Danil begitu melihat Cakra keluar sendiri.
"Siska mengalami pendarahan," sedih Cakra.
Bagaimana jika Siska pergi? Apakah dia sanggup hidup tanpa Siska? Karena mereka telah terbiasa bersama?
Salah satu perawat keluar membawa bayi Siska.
"Maaf, Pak. Apakah pakaian bayi dan ibunya, ada dibawa?" tanya perawat. Cakra tidak tahu, dan Cakra baru ingat.
Apakah Siska telah membeli pakaian untuk bayi itu?
"Sebentar, saya akan menghubungi seseorang," ujar Cakra.
"Baiklah, saya akan meletakan bayi ini ke dalam ruangan bayi," jelas perawat.
"Boleh saya lihat, bayinya, Sus?" tanya Danil. Dia mendekat ke arah perawat dan mengintip bayi dari balik selimutnya. "Mirip sekali dengan, Loe," ejek Danil.
Cakra teringat dengan kata-kata Siska sebelum pingsan.
"Bukankah, itu sudah sepantasnya karena Bapak ini Bapaknya," tunjuk perawat kepada Cakra. "Sebaiknya segera diantar pakaiaan bayinya, Pak." Perawat kembali mengingatkan Cakra dan meninggalkan mereka untuk menuju ruang bayi.
Cakra segera menghubungi ibunya dan meminta untuk memeriksa di apartment apakah ada pakaian bayi di dalam kamar Siska.
Cyntia langsung menuju apartment Cakra dan memasuki kamar Siska. Dia melihat tas yang telah rapi. Cyntia memeriksa tas tersebut dan ternyata itu adalah tas persiapan buat persalinan Siska. Ya, Siska telah mempersiapkan semuanya sendiri.
Cyntia langsung menuju rumah sakit tempat Siska melahirkan.
"Bagaimana keadaan Siska?" tanya Cyntia begitu sampai di rumah sakit. Siska telah dipindahkan ke kamar rawat inapnya.
"Dia masih belum sadar, tapi pendarahannya telah di hentikan dan dokter telah memberikan transfusi darah kepada Siska karena dia cukup banyak kehilangan darah," terang Cakra. Danil telah pergi dari rumah sakit saat Siska dipindahkan ke kamar rawat inap.
"Bayinya, bagaimana?" tanya Cyntia. Dia memang belum sempat menanyakan tentang bayi Siska kepada Cakra.
"Ada di ruang bayi," ucap Cakra.
__ADS_1
Perawat masuk. "Apakah pakaian bayinya sudah ada, Pak?" tanya perawat.
"Ada, sebentar," Cyntia mengambilkan tas yang berisi pakaian bayi dan menyerahkannya kepada perawat.
"Saya akan memakaikannya kepada bayi itu," ucap perawat dan dia ke luar dari kamar rawat inap.
"Bisakah, bayinya dibawa ke sini?" pinta Cyntia.
"Tentu saja, Bu," sahut perawat. Dia meninggalkan kamar inap Siska dan menuju ruang bayi.
Cyntia mendekat ke arah Siska yang tengah terbaring pingsan.
"Malang sekali, nasibmu, Sayang," ujar Cyntia. Dia mengusap pipi Siska yang lembut.
"Siska ingin bercerai setelah bayi itu lahir," ujar Cakra memberitahu Cyntia.
"Kenapa?" heran Cyntia.
"Dia telah tahu bahwa, aku bukan ayah dari bayi itu," ungkap Cakra.
"Kau sendiri bagaimana?" tanya Cyntia.
"Entahlah, Ma. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri," jelas Cakra.
"Mama tahu Siska telah mencintaimu selama hampir tujuh tahun. Tidak mudah baginya untuk hidup dengan orang yang dicintainya, tapi orang itu hanya mengasihinya. Jangan sampai
hingga waktu perpisahan kalian tiba. Kau baru menyadari perasaanmu. Namun, semua telah terlambat dan hanya menyisakan air mata. Mungkin saja cinta Siska padamu akan menghilang. Jadi cepat kau pahami perasaanmu sebelum semua terlambat," nasehat Cyntia.
"Andai bisa segampang itu, mungkin dari awal Cakra akan mencintai Siska," ujar Cakra. Dia tidak bisa memaksakan perasaannya.
Untuk melepaskan Siska, Cakra juga tidak rela. Namun, memberikan hatinya untuk Siska, ia belum bisa melakukannya.
Perawat masuk membawa bayi Siska dengan box bayi.
"Saya akan meletakan, bayi di samping brangkar ibunya," ujar perawat. Kemudian dia keluar dari kamar Siska.
Cyntia menghampiri bayi tersebut, alangkah shock Cyntia melihat wajah bayi itu.
"Cakra!" seru Cyntia. Dia merasa seperti dejavu saat melihat bayi itu.
"Ya, Ma," balas Cakra.
"Tidak, Mama, tidak memanggilmu, melainkan bayi ini," terang Cyntia.
"Kenapa dengan bayinya?" heran Cakra. Dia berdiri dan menghampiri Cyntia.
"Apa kau yakin, bukan kau yang memperkosa Siska?" selidik Cyntia.
"Apa maksud, Mama?" tanya Cakra tersinggung dengan tuduhan ibunya.
Cyntia mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan kepada Cakra. "Lihat ini," tunjuk Cyntia pada foto lama saat Cakra bayi.
__ADS_1
Cakra memperhatikan fotonya kemudian melihat bayi yang baru dilahirkan oleh Siska.
"Apa ini?" bingung Cakra. Dia teringat kata-kata Siska.
"Bayi itu--punya Abang,"
Entah kenapa Cakra mengingat kejadian saat dia mabuk sembilan bulan yang lalu.
"Abang!" kaget Siska saat mengetahui si tamu adalah Cakra cinta pertamanya dan dia telah mencintai Cakra selama enam tahun.
"Nabila." Dalam pikiran Cakra gadis di depannya adalah Nabila. Cakra semakin mendekati Siska, ingin menyentuh pipi Siska yang dalam penglihatan Cakra adalah Nabila, cinta pertamanya.
"Kamu, nggak benar-benar menikahkan, Bil?" racau Cakra, sambil memegang pipi Siska.
"Sadar, Bang, ini Siska, bukan Nabila," elak Siska mencoba menyingkirkan tangan Cakra dari pipinya.
Cyntia memperhatikan wajah Cakra yang kalut. "Cak, kamu baik-baik saja, 'kan? Apa yang terjadi?" cemas Cyntia.
Cakra mendekat ke arah Siska dan memeluknya. "Maafkan, Abang--Abang tidak sengaja," mohon Cakra. Akhirnya dia ingat bahwa dia yang menghancurkan masa depan Siska.
Cakra teringat kembali saat Siska keluar dari poly obgyn dengan wajah sedih dan bingung.
"Ya, anggap saja Abang menolongmu karena kamu teman Cheryl, Abang tidak bisa membayangkan ... jika itu menimpa Cheryl,"
"Abang tidak perlu berkorban, jika bukan PELAKUnya."
"Abang akan tetap bertanggung jawab, apa kamu tidak kasihan dengan anak itu, terlahir tanpa ayah?"
"Lagian hidup Abang tidak ada tujuan lagi. Nabila telah menikah, jadi tidak ada salahnya Abang membantumu. Abang akan menikahimu. Setidaknya kamu tidak menjadi gunjingan orang. Dan kamu tidak menjadi karyawan yang akan dipecat jika hamil diluar nikah,"
"Namun, jika suatu hari Abang menemukan wanita yang membuat Abang jatuh cinta, Abang mohon, kamu ikhlas melepaskan Abang,"
"Baik, jika itu mau Abang, mari kita menikah besok."
"Tapi kita harus merahasiakannya. Abang tidak ingin orang di hotel tahu. Jika kamu ingin berhenti kerja, tidak masalah. Abang akan membiayai hidupmu. Jadi tidak perlu merahasiakan pernikahan kita,"
"Tidak, Siska masih ingin bekerja, biar seperti saling tidak mengenal di kantor. Siska hanya ingin surat bahwa kita menikah, agar anak ini tidak dicap sebagai anak haram,"
Cakra juga teringat saat dia--bukannya menolong Siska, dia malah menolong Nabila. Cakra ingat tatapan terluka Siska.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggu up silahkan mampir ke karya teman author ya!
...TERPAKSA MENIKAHI SELINGKUHAN IBU TIRI...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad