Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Kejujuran


__ADS_3

"Itu bukan anak, Abang," ceplos Cakra tanpa sadar. Dia tidak bermaksud memberitahu Siska.


Siska menahan air mata yang akan keluar, dia kecewa, Cakra masih mementingkan Nabila dari pada dirinya. Siska sadar bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anak Cakra. Akan tetapi, bisakah Cakra menunjukan kasih sayangnya kepada Siska?


Ternyata mendengar langsung Cakra mengatakan bahwa anak yang dikandung Siska bukan anaknya, terasa lebih menyakitkan. Dibanding Siska mendengar secara diam-diam.


"Maafkan Abang, Sis, Abang tidak bermaksud menyakitimu," mohon Cakra. "Biarkan Abang membantu, ya?" bujuk Cakra.


"Tidak perlu," sesal Siska. Dia berjalan tertatih, meninggalkan Cakra.


Akhirnya Cakra menggendong paksa Siska dan membawanya ke dalam mobil.


Cakra memerintahkan sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit.


"Sis, loe nggak apa-apakan? Pasti sakit banget, ya?" tanya Nabila khawatir. Dia melihat darah di siku Siska.


Nabila tidak tahu bahwa tangis Siska bukanlah karena luka tersebut. Melainkan luka hatinya.


Nabila melihat siku Siska. "Bang, ada P3K di mobil, 'kan?" tanya Nabila.


Cakra langsung mencari di dalam dashboard mobil.


"Ini." Cakra memberikan kotak P3K kepada Nabila. Nabila mengambil alkohol dan membersihkan luka Siska. Nabila memberikan obat merah ke luka Nabila dan menempelnya dengan plester.


"Ini lebih baik," lega Nabila setelah merawat luka Siska.


Siska menahan tangisnya. Cakra melirik dari kaca spion tengah. Dia menyesal, bagaimana menjelaskan kepada Siska? Pasti Siska bertanya-tanya kenapa ia memberitahu bahwa anak yang dikandung Siska bukan anaknya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mereka hanya diam.


Nabila dan Siska langsung menuju poli obgyn.


"Siapa yang hamil?" tanya Dokter saat melihat dua wanita muda yang masuk ke ruangannya.


"Dua-duanya, Buk," jawab perawat yang tadi telah memeriksa awal mereka.


"Periksa, Siska saja dulu, Dok," tunjuk Nabila kepada Siska.


Dokter menyuruh Siska untuk berbaring di brangkar.


Ponsel Nabila berbunyi dan dia keluar dari ruangan itu untuk menerimanya.


"Apa anda, suaminya?" tanya Dokter kepada Cakra yang masih berdiri di dalam ruangan.


"Ya, Dok," sahut Cakra.

__ADS_1


"Mendekatlah ke sini," perintah dokter.


Dia mulai melakukan pemeriksaan kepada Siska. Cakra memperhatikan secara seksama. Dia mendengar suara detak jantung, entah kenapa mendengar dan melihat pemeriksaan secara langsung membuat Cakra nyaman


"Bayinya tidak apa-apa dan sehat, saya hanya akan memberikan vitamin. Tapi, sepertinya pergelangan kakinya perlu pemeriksaan lebih lanjut," terang dokter.


Perawat membawakan kursi roda untuk Siska.


"Siska, udah selesai diperiksa, Bang?" tanya Nabila saat melihat Siska keluar dengan kursi roda dari ruangan dokter.


"Sudah, giliran loe, Nab," ucap Cakra.


Nathan berlari menghampiri Nabila, "Beb, kamu nggak pa-pa, 'kan?" tanya Nathan dengan nafas yang memburu akibat berlari. Dia begitu mencemaskan Nabila.


"Nabil, nggak pa-pa, Kak. Ini baru mau diperiksa," jelas Nabila.


Cakra masih saja cemburu saat melihat perhatian Nathan kepada Nabila. Siska melirik kepada Cakra, dia tahu bahwa Cakra masih memendam perasaan kepada Nabila.


"Ayo, kita periksa," ajak Nathan merangkul tubuh Nabila. Nathan bahkan tidak melihat ada Cakra dan Siska di sana.


"Bang, bawa Siska, ya, Nabil, mau periksa dulu," pamit Nabila. Nathan baru menyadari bahwa ada Cakra dan Siska.


"Siska kenapa?" tanya Nathan, dia melihat Siska yang berada di kursi roda.


"Ya udah, Abang bawa Siska dulu," pamit Cakra. Dia mendorong kursi roda Siska.


Siska harus di rawat di rumah sakit beberapa hari sampai kakinya sembuh.


"Sis, tentang tadi, Abang minta maaf," ucap Cakra di kamar rawat inap Siska.


Siska hanya diam, dia tidur membelakangi Cakra.


"Sis!" panggil Cakra lagi.


"Pergilah, Bang. Siska mau istirahat sebentar," usir Siska. Dia ingib menenangkan dirinya, sebelum berbicara dengan Cakra.


"Kalau begitu, Abang balik kantor, dulu. Pulang nanti Abang langsung ke sini." Cakra meninggalkan kamar rwat Siska.


***


Cakra memasuki ruangan Siska, Siska tengah memainkan ponselnya.


"Udah makan, Sis?" tanya Cakra.


"Udah," jawab Siska singkat. Setidaknya Cakra merasa lega karena Siska telah mau berbicara dengannya.

__ADS_1


"Ini, Abang belikan buah-buahan, dan roti," tunjuk Cakra pad kantong kresek yang dibawanya.


Cakra meletakan buah-buahan dan roti di atas meja yang berada di samping brangkar. Cakra mendekat ke arah Siska dan duduk di tepi brangkar.


Cakra meraih tangan Siska, "Kamu, tidak marah lagi sama, Abangkan?" tanya Cakra hati-hati, dia takut menyinggung perasaan Siska.


"Apa maksud, Abang bahwa anak yang Siska kandung--bukan anak, Abang?" tanya Siska. Dia telah memutuskan ingin mengetahui segalanya. Sehingga Siska tidak lagi berharap, Cakra akan mencintainya. Jika dulu saja Siska belum ternodai, Cakra tidak tertarik padanya. Apalagi sekarang?


Siska merasa sangat kotor karena tidak bisa menjaga diri dengan baik. Jadi, bantuan Cakra menikahinya saja cukup membuatnya bersyukur.


"Sis, Abang, nggak tahu, apakah kamu sanggup mendengarnya?" tanya Cakra.


"Siska, telah memikirkannya, dan Siska telah siap mendengarnya, Bang," ujar Siska. Daripada dia hidup tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, "Jika, anak yang Siska kandung bukan anak, Abang? Lalu, anak siapa?" lanjut Siska, dia berharap Cakra tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Maafkan, Abang, Sis, Abang juga tidak tahu. Kamu hanya memberitahu Abang bahwa kamu diperkosa," terang Cakra lagi.


Dia kembali mengingat kejadian saat bertemu Siska. Siska tidak memberitahu, siapa yang memperkosanya dan Cakra hanya memutuskan untuk membantu Siska.


Cakra juga menceritakan tentang pernikahan rahasia mereka.


"Jadi, Abang, menikahi Siska karena kasihan?" tanya Siska, meskipun dia telah tahu jawabannya. Entah kenapa Siska tetap ingin mendengar langsung dari bibir Cakra.


"Sis, kamu tidak usah memikirkan niat Abang, menikahimu, yang penting sekarang kamu dan bayimu baik-baik saja," bujuk Cakra.


Akhirnya Siska paham kenapa Cakra sering menyebut 'bayimu' bukan 'bayi kita'. Itu karena anak yang dikandungnya bukan milik Cakra.


"Apakah, Abang berniat selamanya menikahi Siska, atau hanya setelah anak ini lahir?" Mungkin seperti di dalam cerita novel online, mereka menikah hanya karena perjanjian dan setelahnya memutuskan bercerai.


"Abang--," Cakra menjeda kalimatnya karena terus terang mereka belum membahas ini. Hanya saja Cakra meminta agar Siska melepaskannya, saat Cakra bertemu wanita yang bisa menggantikan posisi Nabila di hatinya.


Siska tahu, pasti berat untuk Cakra mengungkapkannya.


"Apakah ada kemungkinan untuk Siska menggantikan Nabila dihati, Abang?" tanya Siska. Dia ingin tahu posisinya dihati Cakra. Jika memungkinkan, Siska ingin berjuang mendapatkan cinta Cakra. "Seperti yang pernah Siska, ungkapkan, bahwa Siska telah mencintai Abang dari kelas sepuluh." Siska meneteskan air mata. Selamanya perasaannya kepada Cakra tidak akan terbalaskan. Begitu kuatnya perasaan Cakra terhadap Nabila.


"Abang--,"


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2