
"Siska telah mendapatkan pekerjaan," celetuk Siska.
"Apa?" membuat Cakra tersentak dari pikirannya yang mulai traveling kemana-mana.
"Siska udah dapat pekerjaan," ulang Siska, dia pikir Cakra tidak mendengarnya.
"Kamu diterima bekerja?" tanya Cakra. Dia heran memangnya ada perusahaan yang menerima karyawan dalam kondisi hamil? Dua bulan lagi Siska akan melahirkan, jadi itu sangat tidak efisien.
"Iya, Siska senang, Siska tidak menyangka akan diterima, mungkin karena Siska lulus cepat dan cumlaude," bangga Siska.
"Oh," cicit Cakra, dia bingung harus berkata apa? Jika Siska mulai bekerja, itu artinya Siska telah mempersiapkan dirinya untuk berpisah dari Cakra.
Cakra merasa tidak rela kehilangan Siska, meskipun dia belum mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Abang, izinkan, Siska bekerja, 'kan?" tanya Siska lagi karena melihat Cakra tidak berekasi.
"Apa tidak sebaiknya tunggu kamu melahirkan dulu?" saran Cakra.
"Kalau nunggu, Siska melahirkan, takutnya pekerjaan ini diisi orang lain," ucap Siska.
"Ya sudah, terserah kamu saja," putus Cakra.
"Terima kasih, Bang," Refleks Siska mencium pipi Cakra. Siska bersiap untuk berdiri dan meninggalkan Cakra.
Cakra menahan langkah kaki Siska. Siska kembali membalikan tubuhnya dan menatap Cakra.
"Kenapa, Bang?" heran Siska dengan sikap Cakra.
"Mau Abang temankan tidur?" tanya Cakra, dia menyesali pertanyaannya itu. Namun, kata-kata tersebut tidak bisa dia tarik lagi.
"Hah?" heran Siska.
"Hmm, maksud, Abang--," Cakra menjadi kerepotan sendiri bagaimana menjelaskannya.
"Ya sudah, Siska mau ke kamar," pamit Siska. Dia mendengar perkataan Cakra. Hanya saja apa maksud Cakra mengatakan itu. Siska kembali berjalan menuju kamarnya.
Sementara Cakra masih termenung di kursi ruang tamu. Entah apa yang dipikirkannya saat mengatakan ingin menemani Siska tidur.
***
Siska bangun pagi, dia bahagia karena ini adalah hari pertama dia bekerja. Siska memasak sarapan pagi, menghidangkannya di meja makan.
Kemudian Siska bersiap-siap mengganti pakaian dengan pakaian yang cocok untuk bekerja. Siska memoles wajah dengan make up natural, dan terakhir menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Siska keluar dan meminum susu hamilnya. Sarapan telah dimakan Siska begitu selesai masak. Cakra telah duduk di ruang makan, sedang memakan sarapannya. Dia memperhatikan gerak-gerik Siska.
"Siska, berangkat, ya, Bang," pamit Siska.
"Mau, Abang antar?" tawar Cakra. Dia ingin tahu perusahaan apa yang mau menerima wanita hamil besar?
"Nggak usah, Siska udah biasa naik motor, lebih cepat. Lagian, nanti susah balik, harus naik ojek online. Sayang, duitnya," terang Siska. Dia menjadi hitung-hitunga dan mulai berhemat lagi. Setelah mengetahui kondisinya.
__ADS_1
"Nanti, Abang jemput lagi," tawar Cakra, masih berusaha membujuk Siska.
"Nggak usah, Bang. Siska aman, kok," tolak Siska. Dia meminum air putih di gelas, "pamit, ya, Bang." Siska meninggalkan ruang makan dan keluar dari apartment.
Cakra buru-buru memakan sarapannya, dia ingin memastikan bahwa Siska aman.
Siska melajukan motor dengan kecepatan sedang. Cakra hanya pasrah melihat kepergiaan Siska.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Siska telah sampai di kantor Danil. Semalam Danil telah mengirim pesan ke Siska, jika telah di kantor langsung menghubungi HRD.
Satpam telah memberitahu Siska dimana ruangan HRD.
"Pagi. Mbak, saya Siska, karyawan baru di sini," ucap Siska memperkenalkan diri.
Staff HRD yang telah hadir memandang Siska dengan aneh.
Kok wanita hamil besar, sih, yang jadi sekretaris pak Danil? Apa nggak ada pilihan lain? Lumayan cantik, sih.
"Saya, Dara, tunggu sana saja, Mbak, bu Vinanya bentar lagi datang," tunjuk Dara kepada kursi yang kosong di depannya.
Siska duduk di sana, sambil menunggu manager HRD. Siska memainkan ponselnya.
Dara sesekali menatap Siska dengan sinis, sebenarnya dia telah meminta Vina untuk menjadikannya sekretaris pak Bos. Saat trngah di proses tiba-tiba Danil memberikan lamaran Siska kepada Vina. Tentu saja Dara menjadi kesal.
"Ngomong-ngomong, kamu, kok, bisa diterima bekerja di sini? Maksud aku, kamu, 'kan lagi hamil?" ledek Dara. Siska menghentikan tangannya yang tengah memegang ponsel.
"Memangnya kenapa, jika saya hamil?" jawab Siska dengan kesal. Dia tahu bahwa wanita di depannya ini tidak menyukainya.
"Ada, deh," jawab Siska asal. Sebenarnya dia ingin bersikap ramah di hari pertama bekerja. Namun, melihat rekasi Dara yang tidak bersahabat dan julid, membuatnya terpancing juga.
"Anak baru aja, belagu," sungut Dara. Siska hanya tersenyum sinis. Dia harus bersabar, wajar jika ada yang merasa tidak suka di dunia kerja.
Vina memasuki ruanga HRD dan melihat Siska serta Dara.
"Kamu, Siska?" tanya Vina sopan. Dia telah menerima mandat dari Danil untuk memperlakukan Siska dengan baik.
"Benar, Bu," jawab Siska lebih ramah lagi karena kesopanan Vina.
"Ayo. Ikut ke ruangan saya," ajak Vina. Wanita tersebut berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Cantik dan modis. Siska mengikuti Vina menuju ruangannya. Dara memandang sinis Siska.
Vina meletakan, tas ke dalam lemari mejanya.
"Silahkan, duduk," tawar Vina kepada Siska. Dia sendiripun duduk di kursi kerjanya.
Vina menghidupkan laptop, kemudian mencari file yang telah disiapkannya. Kemudian Vina memprintnya.
"Sislahkan, diisi," tunjuk Vina kepada kertas.
"Baik, Bu." Siska mengambil kertas dan mengeluarkan pena dari tasnya. Siska mengisi data. Cukup kaget saat gaji yang diberikan oleh Danil kepadanya.
"Jika sudah selesai, kamu bisa langsung tanda tangan di sini," tunjuk Vina pada kolom tanda tangan.
__ADS_1
"Maaf, Bu, apakah gajinya tidak salah?" Vina heran apakah Siska ingin lebih dari ini?
"Itu nominal dari pak Danil sendiri, jika kamu merasa keberatan, nanti akan saya bicarakan dengan pak Danil," jelas Vina.
"Bukan, Bu. Malahan ini sangat besar menurut saya," cicit Siska.
"Ya, sudah kamu syukuri saja. Kalau boleh saya tahu, kamu siapanya Danil?" tanya Vina hati-hati, dia penasaran juga dengan hubungan Siska dan Danil.
"Pak Danil, senior saya, saat SMA, Bu," jawab Siska.
"Hanya senior?" canda Vina. Siska paham maksud Vina.
"Iya, hanya senior, Bu," senyum Siska. "Ini sudah, Bu." Siska memberikan kertas yang telah diisinya kepada Vina.
Vina berdiri dan mengambil dua buah buku, satu buku panduan karyawan dan satu lagi buku jobdesk untuk sekretaris.
"Ini, silahkan kamu pelajari, saya akan mengantarkan kamu ke ruangan pak Danil," ajak Vina.
Mereka menuju ruangan Danil. Beberapa karyawan telah datang dan duduk di kursi ruangan HRD.
Siska sempat melihat beberapa yang bergerombolan, tengah bergosip dan melirik ke arah Siska. Namun, karena ada Vina, mereka langsung bubar.
Siska mengikuti Vina terus ke ruangan Danil, mereka melewati ruangan lain. Ruangan marketing, keuangan dan lain-lain.
Vina mengetuk pintu ruangan Danil.
"Siska, sudah siap untuk bekerja?" tanya Danil. Dia memperhatikan penampilan Siska yang meski hamil tapi masih tetap cantik.
"Sudah, Pak," balas Siska.
"Kalau begitu, saya akan memberitahu, Siska tempat duduknya, Pak," pinta Vina.
"Silahkan," ucap Danil.
Vina mengajak Siska keluar dari ruangan Danil.
"Kamu di sini,"
Meja dan kursi kerja sekretaris ternyata berada di depan ruangan Danil.
Vina menjelaskan pekerjaan serta beberapa laporan yang pernah dibuat oleh sekretaris sebelumnya.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1