Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Meminta Sekamar


__ADS_3

Siska memutuskan, mungkin ini yang terbaik, dia harus fokus dengan kehamilannya. Dia tidak ingin bayinya juga pergi. Apa lagi ini adalah buah cintanya dengan Cakra.


Siska melakukan hari-hari seperti biasa. Dia sangat bahagia dengan kehamilannya. Beruntung amnesia yang dialaminya tidak berdampak pada kecerdasannya. Siska masih dapat mengikuti kuliah dengan lancar. Cakra mengantar jemput Siska ke kampus.


Siska meminta Cakra untuk mengantarkannya ke makam orang tuanya. Bersyukur Cakra menghubungi Sandi teman papa Siska. Sehingga Cakra tahu dimana papa Siska dimakamkan dan memakamkan juga mama Siska di tempat yang sama.


"Mama ... papa ... terima kasih telah menjadi orang tua, Siska ... maaf Siska tidak ingat tentang kematian kalian ... Siska juga akan menjadi seorang ibu ... semoga Siska bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak Siska kelak," lirih Siska. Cakra hanya diam di samping Siska.


Siska berdiri dan memegang perutnya yang masih rata.


"Baik-baik ya, Nak ... kita akan lalui bersama," batin Siska. Cakra yang melihat Siska mengusap perutnya menjadi khawatir.


"Sis, kamu tidak apa-apakan?" Cakra ikut memegang perut Siska. Hal itu membuat Siska nyaman. Siska merasa Cakra sangat perhatian padanya dan bayi mereka.


"Siska, nggak pa-pa, Bang," sahut Siska. Dia memeluk Cakra dengan erat.


"Terima kasih karena menikahi Siska ... Abang tahu Siska telah mencintai Abang dari kelas sepuluh," jujur Siska. Cakra yang baru menerima informasi tersebut sangat terkejut. Namun, ada perasaan bahagia dihatinya. Siska menatap wajah Cakra dan mencium pipi Cakra.


"Maaf," batin Cakra, dalam pelukan Siska.


"Ayo, Bang, kita kembali, Siska lega setidaknya mama dan papa telah bersama," ucap Siska. Dia menggandeng tangan Cakra, mereka menuju mobil Cakra.


"Bang, Siska pindah ke kamar Abang ya?" pinta Siska. Dia tidak ingin membuat Cakra kesepian, bagaimanapun Cakra adalah suaminya.


Cakra yang mendengar permintaan Siska refleks menginjak rem. Membuat kepala Siska hampir saja terjedot dashboard mobil. Untung Cakra juga refleks menjadikan tangannya sebagai alas kepala Siska.


"Kalau kamu belum nyaman, tidak usah dipaksakan, Abang nggak pa-pa, kok," elak Cakra. Berharap Siska mengurungkan niatnya.


Jangan sampai Siska pindah ke kamarnya, bisa runtuh pertahanan Cakra. Apalagi Cakra pernah hampir melakukannya dengan Siska, saat Siska diberi obat perangsang oleh Laudya.


"Nggak pa-pa, kok, Bang, Siska senang bisa melayani Abang," balas Siska malu-malu dengan wajah memerah seperti tomat yang baru dipanen.


Cakra yang melihat wajah malu-malu Siska menjadi geram, Cakra mencubit hidung Siska.


"Kamu ini ngomong apa, sih," elak Cakra. Semakin lama mereka berbicara, bisa-bisa dia khilaf dan terbawa suasana.


"Siska tahu, Bang, laki-laki pasti punya kebutuhan, apa lagi kita sudah pernah, buktinya ada ini," tunjuk Siska ke perutnya.


Cakra menjadi serba salah, bagaimana menjelaskanya kepada Siska, bahwa mereka belum pernah melakukan lebih seperti yang dipikirkan Siska. Karena Cakra masih belum ingat pemerkosaan yang dilakukannya kepada Siska.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu memaksa," sahut Cakra. Dia harus mencari cara agar tidak bersama Siska di dalam kamar.


Cakra melajukan mobil membelah jalanan Jakarta yang padat merayap. Matahari mulai terbenam dan cakrawala berwarna jingga. Senja segera datang dan memeluk bumi. Mereka tidak lagi berbicara, sebenarnya Siska ingin bertanya kapan mereka menikah?


Mereka telah sampai di rumah, Siska menuju kamarnya.


"Siska mandi dulu, Bang, baru memindahkan barang-barang ke kamar, Abang," beritahu Siska. Tanpa menunggu jawaban Cakra, Siska telah masuk ke dalam kamarnya.


Apa aku terlalu memaksa bang Cakra? Apa pernikahan kami keterpaksaan?


Siska mulai mempertanyakan tentang kenapa mereka bisa menikah? Seingat Siska, Cakra masih sangat mencintai Nabila?


Apa perlu ditanyakan kepada bang Cakra? Jangan itu tidak baik.


Siska memutuskan untuk mandi dan segera merapikan beberapa pakaian yang akan dibawanya ke kamar Cakra. Mungkin tidak harus semuanya. Takut tidak cukup di lemari Cakra.


Siska memperhatikan pakaiannya, pakaian biasa, tidak branded seperti pakaiannya dulu.


Apa karena papa bangkrut, bang Cakra menikahinya, karena kasihan?


Siska mengeleng-ngelengkan kepalanya mengusir pikiran tersebut dari kepalanya.


Huh, kenapa aku tidak ingat?


Siska mencari-cari pakaian yang cukup sexy yang bisa dia gunakan. Akan tetapi, Siska kecewa karena dia tidak memiliki gaun tidur seperti kebanyakan wanita menikah.


Satu-satunya pakaian yang menurut Siska sexy hanya sebuah daster dengan tali spagetti dan panjang diatas lutut. Siska memakai saster tersebut, mulai sedikit bermake up tipis dan memakai parfum.


Lumayan cantik, senyum Siska yang mematut dirinya di depan cermin.


Siska mengambil beberapa pakaian dan membawanya ke kamar Cakra. Siska trlah memutuskan akan menarik perhatian Cakra, tidak peduli mereka menikah karena apa? Yang penting Siska mencintai Cakra dan Nabila juga telah menikah dengan Nathan. Jadi Siska harus bisa membuat Cakra melupakan Nabila.


Siska langsung memasuki kamar Cakra, tanpa mengetuk pintu. Siska membawa pakaian hanya dengan menumpuk pakaian di tangannya.


Siska terpaku diam saat melihat pemandangan di depannya. Cakra tengah memakai Celana.


"Siska nggak lihat," refleks Siska menjatuhkan pakaian dan menutup matanya. Siska bohong dengan mengatakan tidak melihat apa-apa, padahal dia melihatnya. Wajah Siska menjadi bersemu merah.


Cakrapun dengan tergesa-gesa memakai Celana boxer dan mengambil celana pendek untuk di rumah.

__ADS_1


"Siska, kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu?" kesal Cakra.


"Eh, itu--Siska kira karena kita suami istri jadi kenapa harus mengetuk pintu?" bela Siska. Dia masih menutup matanya, sedikit mengintip, di sela-sela jari kemudian dirapatkannya lagi jari-jarinya.


"Kalau begitu, kenapa kamu menutup mata?" tanya Cakra. Dia mendekati Siska. Entah kenapa Cakra ingin mengerjai Siska.


"I--itu karena Siska--hanya kaget," gugup Siska. Jantungnya berdetak dengan kencang seperti akan copot saja. Tangan Siska masih betah menutup matanya.


Siska tidak menyadari bahwa Cakra mendekat ke arahnya. "Buka saja," ujar Cakra sambil menarik tangan Siska dari matanya. Jarak mereka sangat dekat, Siska semakin gugup karena Cakra masih bertelanjang dada.


"Ba--baju Abang, mana?" gugup Siska. Dia pikir dia bisa melihat Cakra tanpa busana, ini Cakra bertelanjang dada saja telah membuat jantung Siska menari-nari dengan musik metal.


Cakra baru menyadari bahwa dia belum memakai baju kaosnya.


"Katanya, mau melayani Abang? Ini saja kamu udah malu, Abang nggak pa-pa, kok. Kamu tidak usah memaksakan diri," ucap Cakra, berharap Siska berubah pikiran dan kembali ke kamarnya. Siska terdiam kaku, bahkan dia menahan nafasnya.


Menimbang apakah sebaiknya, dia kembali ke kamar saja? Terus terang Siska sendiri bekum siap.


Apa sebaiknya tunggu sampai dia ingat saja, baru mereka sekamar? Tidak, bagaimana kalau Abang berselingkuh? Dan itu bukan salah bang Cakra, tapi, Siska karena tidak melayani suami dengan baik.


Cakra melihat kebimbangan Siska, semoga Siska benar-benar kembali ke kamarnya. Demi kebaikan mereka berdua.


"Tenang saja Sis, Abang beneran nggak pa-pa, kok," tambah Cakra lagi.


Mendengar perkataan Cakra, Siska menjadi berani. Siska semakin membuat tubuhnya merapat ke Cakra.


Cakra terkejut saat bibir Siska menyentuh bibirnya.


Apa yang dilakukan Siska? Apakah dia tidak sadar yang telah dilakukannya?


Cakra awalnya hanya diam, Siska sadar karena Cakra tidak merespon. Siska menjadi malu dan menjauhkan wajahnya dari Cakra. Siska merasa menjadi wanita yang tidak tahu malu.


"Maaf," cicit Siska sambil mundur dan membalikan tubuhnya.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!

__ADS_1


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2