Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Menjenguk


__ADS_3

Dokter memeriksa keadaan Siska kembali, dokter memutuskan bahwa Siska telah bisa melakukan terapy untuk berjalan. Petugas pelatih telah ditunjuk dan Siska melakukan latihan dengan tekad untuk segera sembuh. Dia melihat putranya yang menggemaskan dan semangat hidup Siska telah kembali. Tidak peduli terhadap Cakra, yang menurut Siska masih mengabaikannya. Terbukti Cakra masih saja ke luar negeri, padahal Siska masih terbaring di rumah sakit.


Apa Cakra tidak tahu bahwa Siska telah siuman? Atau karena Cakra tahu bahwa Siska telah sadar dan menurutnya Siska telah bisa ditinggalkannya? Sudahlah sebaiknya fokus dengan kesembuhan dan secepatnya berpisah dengan Cakra. Begitu Cakra kembali dari luar negeri, Siska akan membicarakannya dengan Cakra.


Siska harus mulai mencari kontrakan baru untuk dia tinggal dengan putranya. Dia akan mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya hanya untuk putra semata wayangnya. Mungkin dia akan meminta bantuan Mila atau Veronica untuk mencarikan rumah kontrakan yang tidak terlalu mahal. Namun, nyaman untuknya tinggal bersama Atha.


Cheryl telah selesai mandi pagi, Athapun telah dimandikan perawat dan diberi susu. Sekarang putranya kesenangan bermain sendiri di dalam boxnya.


Petugas terapy telah datang dan bersiap-siap membawa Siska untuk latihan.


"Cher, gue, titip Atha, ya," pinta Siska. Dia mendorong kursi roda menuju box Atha. Perawat membantu mengambilkan bayinya dan menyerahkannya kepada Siska. "My baby, jangan nakal, ya, sama aunty Cheryl," bujuk Siska, dia mencium pipi temben sang buah hati dengan geram.


"Berapa jam latihannya, Sus?" tanya Cheryl. Dia berencana selama Siska latihan akan membawa Atha ke kamar Cakra dan melihat keadaan Cakra.


"Minimal tiga jam, jika Nona Siska masih sanggup bisa diteruskan, agar otot-otot kakinya terlatih kembali, tapi, kami juga tidak menyarankan untuk terlalu dipaksakan, tahu sendiri bahwa sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan baik," terang petugas terapy.


Siska merasa kalimat terakhir petugas ada benarnya. Terutama terhadap perasaan, dia tidak bisa memaksa Cakra untuk mencintainya, jika, memang hati Cakra tidak bergetar saat bersamanya.


"Oh, oke, Sis, nanti gue mau bawa Atha jalan-jalan buat menghirup udara segar, ya," bohong Cheryl, mungkin tidak sepenuhnya bohong. Setelah melihat kondisi Cakra mungkin dia akan membawa Atha jalan-jalan.


"Oke, gue berangkat, ya, Cher." Siska kembali mencium bayinya sebelum menyerahkannya kepada Cheryl. Cheryl mengambil Atha dari tangan Siska. Kemudia petugas terapy membawa Siska menuju tempat latihan.


"Hi, Beb, sekarang hanya tinggal kita berdua, ayo, kita pergi lihat papa," rayu Cheryl. Si bayi hanya tersenyum dengan mengangkat kedua tangannya seperti mengerti apa yang dikatakan Cheryl.


Cheryl melihat kereta bayi dalam kamar tersebut. Entah siapa yang membawanya atau membelinya, bisa jadi mamanya atau Cakra sendiri. Cheryl mengambil perlengkapan bayi seperti botol susu, air hangat di dalam termos, air mineral, susu formulanya, juga popok ganti, tissu dan tissu basah. Cheryl menyusun semuanya di tempat yang ada di kereta bayi tersebut. Kemudian meletakan Atha ke dalam kereta.


"Let's go, Beb, kita pergi lihat papa," ajak Cheryl. Dia kemudian mengambil tasnya dan mendorong kereta bayi, meninggalkan kamar rawat Siska.


Cheryl telah diberitahu Cyntia lantai dan kamar berapa Cakra di rawat. Mereka menaiki lift dan menuju kamar Cakra. Setelah sampai di lantai kamar rawat inap Cakra. Cheryl memperhatikan nomor kamar, dia mencari kamar Cakra. Setelah melihat angka 303, akhirnya Cheryl mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu seseorang dari dalam untuk membukakannya.

__ADS_1


"Cheryl!" panggil Cyntia saat mengetahui Cheryl yang masuk. Cyntia langsung memeluk Cheryl.


"Bagaimana keadaan Abang, Ma?" tanya Cheryl. Cyntia melepaskan pelukannya dan beralih melihat Atha yang ada di kereta bayi.


"Seharusnya, Abang udah sadar, tapi, sampai jam segini, dia belum juga sadar," jawab Cyntia. Dia menggendong cucunya. "Sayang Oma, ayo kita lihat Papa?" bujuk Cyntia. "Siska, di mana? Dia tidak tahu bahwa Cakra kecelakaan, 'kan?" Cyntia baru menyadarinya.


"Siska sedang terapy berjalan, makanya, Cheryl ke sini. Tadi, Cheryl udah bilang sama Siska, akan membawa Atha jalan-jalan," balas Cheryl.


"Oh, syukurlah, semoga Siska cepat bisa kembali normal," ucap Cyntia. Dia membawa Atha menuju Cakra.


"Papa, ini Atha, ayo, segera bangun dan cepat sembuh, Atha ingin di gendong, Papa," ujar Cheryl menirukan suara bayi saat mamanya mendekatkan Atha kepada Cakra.


"Cak, ayo segera sadar, lihat putramu, dia telah diberi nama oleh Siska," ucap Cyntia. Berharap putranya segera sadar, ini sudah lewat satu jam dari waktu seharusnya Cakra sadar.


"Iya, Bang, Siska udah sadar malah Abang pula yang belum sadar. Cheryl minta maaf, ya, Bang karena telah memukul, Abang," sesal Cheryl. Kalau dia tahu Cakra bakal kecelakaan tidak akan di memukul Cakra kemarin.


"Cucu Nenek yang tampan, ayo, bilang sama Papa, untuk segera bangun," bujuk Cyntia. Atha hanya tersenyum sambil menggerak-gerakan tangannya. Cyntia mendekatkan tangan mungil Atha ke pipi Cakra, agar Cakra merasakan sentuhan tangan mungil bayinya.


"Mama, suruh ke kantor Cakra, sekalian menunjuk pimpinan sementara untuk mengelola hotel sampai Cakra sembuh dan mengambil alih kembali," jawab Cyntia.


"Oh,"


"Atau untuk sementara kamu aja, Cher yang gantiin Abang," tawar Cyntia. Sekalian agar Cheryl mulai belajar mengelola bisnis keluarga. Jangan hanya tahu shoping saja, meskipun Cyntia sadar hobby belanja Cheryl turunan dari dia.


"Eh, jangan, Ma. Cheryl nggak ngerti. Lagian Cheryl jagain Siska dan Atha," elak Cheryl. Diakan tipe wanita manja yang hanya tahu menghabiskan uang orang tua saja. Masa disuruh kerja.


"Dasar, bilang aja kamu malas ngurus bisnis," tuduh Cyntia.


"Ya, 'kan Cheryl anak perempuan, Ma. Lagian, 'kan udah ada Abang." Cheryl masih mengelak dengan cara halus.

__ADS_1


"Iya, sekarang kondisi Abang kamu, lihat," tunjuk Cyntia kepada Cakra yang terbaring tidak berdaya.


"Ntar, kalau Siska udah sembuh, suruh Siska aja, Ma. Siska pintar dan dari SMA emang sering terjun bantu bisnis papanya dulu," usul Cheryl.


"Iya, kalau Siska bersedia," ejek Cyntia.


"Tenang, Cheryl yang akan bujuk. Lagian Abang, bentar lagi sembuh, kok," ucap Cheryl. Dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ya, semoga saja," harap Cyntia. "Cher, bikinin, Susu buat Atha, dia haus kayaknya," perintah Cyntia. Cheryl yang baru duduk kembali berderi.


"Atha mau susu? Tunggu, ya, Aunty bikinkan dulu," Cheryl membuatkan susu untuk Atha. Dia telah belajar dari perawat cara membuat susu dna takarannya serta berapa campuran air hangat dan dingin. Cheryl menggendong Atha dan memangkunya di sofa sambil memberikan susu.


Cyntia melihat selang infus Cakra yang hampir habis. Menimbang apakah sebaiknya dia memanggil perawat sekarang untuk mengganti atau tunggu habis?


"Mama!"


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambik nunggu aku up, mampir di karyaku yang lain donk besties!


...ONE NIGHT ONLY...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2