
Cakra mengambil bayi dan menggendongnya. Dia mendekatkan bayi mereka dengan tubuh Siska. Kemudian meletakkan tubuh mungil itu di dada Siska.
"Bangun. Sis. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita?" bujuk Cakra.
Bayi mungil itu mengeliat dan menggerak-gerakan tangannya mengelus-elus daerah sekitar dada Siska. Sentuhan lembut bayinya, membuat jari Siska merespon sentuhan tersebut.
"Lihat," seru Cyntia, saat dia melihat pergerakan tangan jari Siska. Sayang hanya beberapa detik saja.
Cakra memperhatikan tunjuk Cyntia ke jari Siska. Namun, Cakra tidak melihat apa-apa lagi.
"Apa?" heran Cakra.
"Tadi, telunjuk Siska bergerak," ujar Cyntia.
"Apa?" Cakra langsung memegang jari Siska tersebut. Berharap Siska kembali memberikan respon. Namun, nihil.
Cyntia langsung menekan tombol agar perawat datang.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya perawat yang datang tidak lama setelah tombol ditekan Cyntia.
"Tadi, jari telunjuknya bergerak," sahut Cyntia.
Cakra mengambil bayinya dari atas tubuh Siska dan menggendongnya.
Perawat mencoba memeriksa keadaan Siska. Belum menemukan apapun tanda-tanda Siska akan siuman.
"Mungkin itu hanya respon sementara," ujar Perawat setelah memeriksa Siska.
Cakra dan Cyntia kecewa karena ternyata Siska belum sadar.
"Apa yang Bapak dan Ibu lakukan sehingga pasien merespon?" tanya perawat.
"Saya meletakan bayi kami di tubuhnya," balas Cakra.
"Seiring-sering saja lakukan kembali, bisa jadi keinginan ibunya untuk hidup adalah bayinya," jelas perawat.
"Akan kami lakukan," jawab Cakra.
***
Cakra dan Cyntia melakukan sesuai saran Dokter dan perawat, untuk membuat interaksi antara Siska dan bayinya.
Sebulan berlalu, Siska belum juga siuman. Cyntia menyuruh Cakra di minggu kedua untuk kembali bekerja. Saat Cakra bekerja Cyntia yang akan mengawasi Siska dan bayinya.
Mereka menyewa jasa perawat untuk Siska dan sang bayi. Cheryl tengah berlibur di Indonesia. Dia sedikit heran karena Cyntia tiΔak menjemputnya di bandara hanya sopir yang di kirim Cyntia. Biasanya setiap Cheryl kembali ke Indonesia Cyntia yang selalu menjemputnya.
__ADS_1
Cyntia memberitahu Cheryl bahwa dia di rumah Sakit NFL milik keluarga Nathan. Cheryl bertanya kepada Cyntia siapa yang sakit. Namun, Cyntia belum menjelaskannya.
Cheryl langsung menuju kamar rawat inap yang diberitahu Cyntia. Dia membuka pintu kamar VVIP tersebut.
"Mama!" panggil Cherryl saat melihat mamanya menggendong seorang bayi.
"Cheryl, kamu telah datang. Bagaimana perjalananmu? Kenapa tidak istirahat saja dulu? Kamu pasti masih jet lag?" cecar Cyntia, dia terkejut dengan kedatangan Cheryl, dia pikir Cheryl akan istirahat dulu, baru ke sini esoknya.
"Aku tidak apa-apa. Bayi siapa itu?" tanya Cheryl, dia mendekat ke arah Cyntia dan melihat bayi tersebut. "Apa, ini anak, Abang?" ujar Cheryl saat melihat wajah si bayi yang sangat mirip dengan Cakra. Cheryl belum melihat siapa yang terbaring di brangkar kamar itu.
"Iya," jawab Cyntia singkat.
"Kapan, Abang menikah? Dan dengan siapa?" heran Cheryl, kenapa dia tidak diberitahu tentang pernikahan saudara laki-lakinya?
"Sebaiknya kamu istirahat dulu. Tunggu bayi ini tidur, baru kita bicara," balas Cyntia.
Cyntia menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu hingga tertidur. Cheryl sebenarnya ingin menggendong bayi mungil yang menggemaskan itu. Namun, dia tidak berani.
Cyntia meletakan bayi yang telah tertidur di box bayi yang berada di samping brangkar Siska. Cheryl akhirnya melibat siapa wanita yang terbaring di dalam kamar itu.
"Siska!" heran Cheryl. "Apa yang terjadi?" Cheryl mendekat ke arah Siska dan menyentuh tangannya. Cheryl memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.
"Cheryl, Mama harap kamu bisa menerima apa yang akan Mama ceritakan," ucap Cyntia memulai percakapan.
Cheryl masih menatap Siska yang terbaring lemah. Kemudian Cheryl menatap mamanya bingung. Cyntia mendekat ke arah Cheryl dan mengajaknya duduk di sofa.
"Apa Abang menikah dengan Siska?" tanya Cheryl.
"Ya," jawab Cyntia singkat.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu Cheryl bahwa Abang menikah? Dan Siska adalah sahabat Cheryl," kesal Cheryl. Dia kecewa Siska maupun Cakra tidak memberitahu dia bahwa mereka menikah.
"Maafkan, Abang, ya," pinta Cyntia. Dia pasti tahu bahwa Cheryl akan sangat marah jika tahu saudaranya memperkosa temannya.
"Apa maksud, Mama?" bingung Cheryl.
"Cakra memperkosa Siska," ujar Cyntia terbata-bata.
"Apa?"
Cyntia menceritakan semua yang dialami Siska kepada Cheryl. Cheryl menutup kulut tidak percaya dengan semua itu.
"Jadi orang tua Siska telah meninggal?" isak Cheryl, begitu Cyntia selesai bercerita.
"Ya,"
__ADS_1
"Papanya bunuh diri dan ibu Siska di bunuh?" Cheryl memastikan bahwa dia tidak salah dengar. "Abang memperkosa Siska seminggu sebelum, Nabila menikah?" Cheryl bertemu dengan Siska. Mereka memang mempertanyakan penampilan Siska dan ia baru mengetahuinya sekarang.
Kenapa Siska tidak menceritakan kepada mereka tentang kondisinya?
Cheryl mendekat ke arah Siska dan memeluk sahabatnya itu.
"Siska, maafkan kami yang tidak menyadari dan bertanya tentang perubahan, loe," isak Cheryl.
Setelah memeluk Siska, dia langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar Siska.
"Mau kemana, Cher?" tanya Cyntia yang terkejut saat Cheryl tiba-tiba ingin pergi dan tanpa pamit.
"Abang, di mana, Ma?" tanyanya.
"Di kantor, kamu mau apa?" tanya Cyntia. Dia merasa tiba-tiba sangat was-was. Apa yang akan dilakukan Cheryl?
"Cheryl akan ke kantor, Abang," pamit Cheryl. Langsung meninggalkan kamar dengan tergesa-gesa.
"Cher, jangan lakukan apapun," cemas Cyntia. Dia ingin menyusul Cheryl. Namun, sang bayi menangis karena terkejut saat Cyntia berteriak melarang Cheryl. Chyntia menggendong sang bayi untuk menenangkannya.
Cheryl langsung berlari menuju parkiran. Tanpa sengaja dia menabrak Nathan yang tengah panik membawa Nabila dengan kursi roda.
"Cheryl!" panggil Nabila.
"Nab, loe, mau melahirkan?" tanya Cheryl.
"Iya," balas Nabila yang menahan mulas dan kontraksi. "Loe, sendiri, ngapain di sini? Siapa yang sakit?" cecar Nabila.
"Gue buru-buru, nanti gue ke sini lagi. Semoga sukses lahirnannya," ucap Cheryl tanpa menjawab pertanyaan Nabila. Dia langsung berlari keluar.
Cheryl meminta sopir mengantarkannya ke I-Shine hotel. Begitu sampai di sana Cheryl bertanya kepada resepsionit hotel ruangan CEO.
Resepsionis yang curiga dengan Cheryl, memberikan banyak pertanyaan kepada Cheryl. Ya, wajar mereka tidak mengenal Cheryl karena Cheryl belum diperkenalkan ke karyawan I-Shine juga saat serah terimapun, Cheryl tidak hadir.
"Gue, cuma mau ketemu Cakra," kesal Cheryl, dia memyebut nama CEO I-Shine tanpa Pak ataupun Abang.
"Maaf, untuk bertemu Pak Cakra harus membuat janji dulu," jelas Resepsionis dengan mempertahankan ke ramahanhya. Meskipun dia kesal dengan ketidak sopanan Cheryl.
"Gue, nggak butuh buat janji, kasih tahu aja ruangannya di lantai berapa?" desak Cheryl lagi.
"Cheryl!" sapa Cakra yang kebetulan akan keluar bersama Manger Marketing.
Cheryl langsung menghampiri Cakra dan memukulnya dengan tasnya.
πππ
__ADS_1