
Dua tahun sudah hubungan Satrio dan Ayunda, setiap hari Ayunda dan Satrio selalu bersama. Ayunda sudah mengenal keluarga Satrio dan selalu di ajak ketika ada acara keluarga Satrio. Ayunda juga sudah mengenalkan pada keluarga Ayunda.
Malam itu papa Ayunda ingin bicara dengan Satrio dan kemudian Satrio masuk dan duduk berhadapan dengan papa Ayunda.
"Begini, Yo. Bapa lihat kamu sama Ayunda selalu berdua dan gak enak ketika di lihat tetangga jika berdua terus. Bapa hanya ingin kalian bertunangan dulu saja, hanya mengikat dan jika di tidak ada jodoh ya bisa putus. " Kata papa Ayunda.
"Sampaikanlah pada orang tuamu. " Kata papa lagi.
"Baik, Pa. Saya akan bilang orang tua saya. " Ujar Satrio.
Lalu Satrio keluar dan menemui Ayunda yang duduk di teras rumahnya. Ayunda tersenyum melihat kekasihnya yang keluar dari dalam rumah.
"Papa bilang apa, A? " Tanya Ayunda.
"Aku di suruh ngelamar kamu. " Jawab Satrio dengan senyuman lalu duduk di samping Ayunda.
"Ishh... Aa bercanda aja bisanya. " Kata Ayunda yang memukul lengan Satrio.
"Awww... Beneran, Yank. " Kata Satrio yang mengelus lengannya.
"Papamu bilang kita tunangan dulu, nikah mah nanti kapan juga bisa. " Kata Satrio.
"Emang ada biayanya? Aa kan kerjanya belum stabil. "
"InsyaAlloh pasti ada rezekinya. Nanti kamu sama ibu aja ya beli cincinnya. " Kata Satrio.
"Emang kapan Aa dan keluarga kesini? " Tanya Ayunda.
"Hmmm... Entahlah nanti aku coba nyuruh mas Budi yang bilang sama mas Dani. " Kata Satrio.
"Emang Aa gak berani bilang sendiri sama mas Daninya? "
"Ck.. Malas, Yank. Mas Dani itu mulutnya comel dia pasti nanti ngomong gini emang kamu punya duit? " Kata Satrio yang mengikuti gaya bicara kakaknya. Ayunda hanya tersenyum melihat Satrio.
Dani adalah kakak Satrio yang no 3, Satrio dan Dani memang jarang akur dari dulu selalu bertengkar masalah sepele. Dulu waktu Satrio jadi anak jalanan Dani memprovokasi bapa ibunya kalo pergaulan Satrio gak bener. Satrio yang kala itu berpenampilan urakan rambut mohawk dan diwarnai. Seketika bapaknya marah dan menyuruh Satrio bekerja dengan kakaknya menjadi fotografer.
"Jadi kapan rencananya mau bilang sama mas Budi? " Tanya Ayunda.
"Mungkin besok kalo di sini ada acara. " Jawab Satrio.
"Ya sudah aku mah terserah Aa aja. " Ujar Ayunda.
__ADS_1
Malam itu Ayunda tak bisa memejamkan mata, seperti mimpi dia akan bertunangan dengan Satrio laki-laki yang sudah meluluhkan hatinya dan merubahnya menjadi perempuan yang tak lagi urakan. Satrio juga menyuruh Ayunda memanjangkan rambutnya juga berpenampilan seperti perempuan namun sisi tomboy Ayunda masih ada.
Seminggu kemudian keluarga Satrio datang untuk melamar Ayunda. Satrio yang mengenakan kemeja kotak-kotak biru muda tersenyum kala melihat Ayunda yang mengenakan kemeja yang sama dengan Satrio. Mereka membelinya dua hari sebelum acara tunangan.
Satrio memasangkan cincin di jari kiri Ayunda dengan senyuman yang mengembang. Begitu juga Ayunda yang tak henti-hentinya menatap lekat laki-laki yang dia cintai. Senyum mereka menjadi saksi kebahagiaan mereka malam itu.
Sabtu, 17 Juni 2004 Satrio dan Ayunda bertunangan. Pertama kali mereka jadian sebagai sepasang kekasih 28 September 2002 menjadi awal kisah cinta Satrio dan Ayunda yang penuh liku.
Ayunda terus memandang cincin pemberian Satrio sambil senyum-senyum.
"Cieeee... Yang sudah di lamar. " Ledak Eli adik sepupu Ayunda yang kebetulan menginap di rumah Ayunda untuk melihat acara pertunangan Ayunda dan Satrio.
"Iihhh.... Apaan sih kamu. " Kata Ayunda yang wajahnya bersemu merah.
"Semoga langgeng sampe nikah ya, Yunda. " Kata Yana kakak Eli.
"Aamiin, makasih ya do'anya. Semoga kalian juga cepat dapat jodoh. " Kata Ayunda.
"Aamiin.. " Kata Eli dan Yana serempak.
Ayunda tersenyum melihat adik sepupunya yang sangat akrab dengannya dan keluarganya.
Keesokan pagi, Ayunda jalan-jalan dengan keponakannya ghibran yang masih balita dengan strollernya. Lalu Ayunda bertemu dengan teman waktu masih di sekolah dasar Ani namanya.
"Baik, Ni. Kamu sama siapa? " Ayunda balik tanya.
"Ini sama kakakku. Aku dengar dari Yulli kamu udah tunangan ya? "
"Iya.. " Kata Ayunda dengan menundukkan kepala karena malu.
"Selamat ya, Yunda. " Kata Ani mengulurkan tangan mengucapkan selamat.
"Terimakasih, Ni. " Ujar Ayunda dengan senyuman yang mengembang.
"Ini anaknya mba Dian, Yunda? "
"Iya, Ni. Ghibran namanya. "
"Wah.. ganteng mirip bule ya. Bapaknya bule beneran. "
"Iya, bapaknya dari Australia. "
__ADS_1
"Wah.. Keren ya mba Dian bisa sampe Australia suaminya. "
"Eh... Ni, aku pulang dulunya rewel nih ghibran. " Kata Ayunda yang melihat ponakannya sedikit menangis.
"Oke, semoga langgeng sampe nikah ya, Yunda. "
"Terimakasih, aku duluan ya. " Kata Ayunda yang berjalan pulang.
Malam hari Ayunda dan Satrio duduk di teras, Ayunda merebahkan kepalanya di bahu Satrio dan Satrio bermain gitar sambil bernyanyi lagu kesukaan Ayunda 'Semua Tak Sama'. Namun di pertengahan lagu Satrio mengganti liriknya dan membuat Ayunda tertawa.
"Iiihhh... Apaan sih Aa tuh. Ngapain coba ganti lirik lagu orang. " Kata Ayunda.
"Menyusup ke dalam relung sukmaku, bukan sukmana. " Kata Ayunda yang tertawa mendengarnya.
"Gpp biar kamu ketawa. " Kata Satrio yang melanjutkan bermain gitarnya.
"Nanti sukmananya ke sini loh. " Ujar Ayunda cekikikan.
"Biar aja nanti di ajak nyanyi bareng. " Kata Satrio.
"Apaan sih.. " Ayunda memukul lengan Satrio dan Satrio pun tertawa. Mereka pun tertawa bersama.
Ayunda tak bisa menyembunyikan perasaannya pada Satrio, sungguh dia sudah jatuh cinta pada Satrio yang menurut Ayunda tipe cowok dia banget.
"Semoga Satrio itu jodohku, ya Alloh. " do'a Ayunda di setiap ketika dia menjalankan sholat wajibnya.
Keesokan harinya Satrio mengantar Ayunda melamar pekerjaan, Satrio begitu setia dan selalu menemani Ayunda, itu yang membuat Ayunda semakin cinta pada kekasihnya itu. Walaupun sifat Satrio yang tempramen namun Ayunda sangat sabar menghadapi sifat tempramen Satrio. Kadang Satrio juga masih suka minum-minuman alkohol dan Ayunda kadang marah. Seperti kemarin Satrio datang ke rumah dengan mulut bau alkohol.
"Aa habis minum ya? " Tanya Ayunda yang mencium mulut Satrio yang berbau alkohol.
"Masih ke cium emangnya? Padahal aku udah mencoba menghilangkan bau alkoholnya. " Kata Satrio.
"Aa tuh kebiasaan, Ayunda berapa kali bilang jangan suka minum alkoholnya lagi. Ayunda gak suka, dan itu akan jadi kebiasaan. Bagaimana kalo kita nikah? Yang ada kita ribut terus. " Kata Ayunda kesal.
"Maafin, Yank. Aku gak akan minum lagi. " Satrio menangkup kedua tangannya memohon maaf pada Ayunda.
"Maaaf, sudah berapa kali. Setiap melakukan kesalahan pasti di ulangi lagi. Coba kalo Ayunda yang melakukan kesalahan ayo marah gak berhenti. " Kata Ayunda yang cemberut.
"Yank, aku janji gak akan di ulangi lagi. " Kata Satrio.
Entah mengapa Ayunda tak bisa marah pada Satrio walaupun laki-laki ini sering nyakitin hati dan fisiknya. Ayunda selalu memaafkan Satrio apapun alasannya dia tak bisa marah pada Satrio. Ayunda begitu sayang dan cinta pada Satrio, dia ingin Satrio yang pertama dan terakhir baginya. Ayunda tidak ingin ketika menikah Satrio seperti papanya yang dulu seorang pemabuk, dan itu membuat mama menderita. Namun mama sangat sabar menghadapi papa yang sering mabuk-mabukan.
__ADS_1
Ayunda berharap bisa merubah Satrio yang akan menjadi imam nya dan membimbingnya ketika kelak mereka menikah.