Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 48


__ADS_3

Ayunda memasuki kelas untuk menggambar, karena hatinya sedang tidak merasa baik. Ayunda belajar agar hatinya kembali baik, Ayunda menyiapkan alat gambar dan crayonnya dengan perlahan Ayunda menggambar sebuah pemandangan yang membuat bibirnya mengulas senyum dan hatinya kembali merasa baik.


"Sudah jadi," ucap Ayunda yang merenggangkan tangannya.


"Wuudiihhhh, ada yang lagi bad mood ni? Gambar apa tuh?" tanya Nico yang masuk kelas gambar.


"Apa sih, Nico," jawab Ayunda dengan ketus dan Nico terkekeh.


"Tumben aja gitu ngeliat teteh tiba-tiba gambar," ujarnya.


"Lagi pengen aja, udah lama gak ngegambar," jawab Ayunda.


"Pasti lagi ada problem?" tanya Nico.


" Sok tau," jawab Ayunda yang memonyongkan bibirnya.


"Teh, jangan jangan terlalu dekat dengan Yogi. Nanti kalo suami teteh tau, Nico jadi gak enak sama suami teteh," kata Nico.


"Siapa yang dekat sama Yogi? Tuh anaknya aja yang terus deketin aku," ujar Ayunda.


"Nico, udah pernah bilangin tapi emang dasar anaknya agak sedikit.." Nico tak meneruskan kata-katanya.


"Sedikit gila ya. Teman kamu tuh, agak gila berapa kali aku tolak masih aja deketin aku," kata Ayunda.


"Yaitu, Yogi susah di bilanginnya. Dia berbeda dengan teman yang lain, dia itu selalu suka sama istri orang,"


"Teman kamu itu, kenal dimana sih teman begitu?" Nico memghardikan bahunya dan Ayunda tersenyum.


"Udahlah, gak usah bahas tuh anak stress. Nih liat gambar aku gimana," kata Ayunda yang menunjukkan hasil gambarnya.


"Good, makin bagus aja. Udah siap kalo di lepas," jawab Nico.


"Makasih, semua karena kamu. Kalo kamu gak ngajarin aku ini semua mungkin aku gak akan bisa seperti ini," ujar Ayunda.


"Itukan karena tetehnya mau belajar, kalo gak mau belajar mungkin teteh gak akan bisa," kata Nico.


"Iya juga sih, tapi aku tetap menganggap kamu suhu, guru, teman, sahabat dan adik buat aku," kata Ayunda tersenyum.


"Pokoknya Nico pesan jangan terlalu dekat dengan Yogi. Ingat ya teh, Nico ulangi sekali lagi jangan terlalu dekat," kata Nico yang penuh penekanan di akhir katanya.


"Makasih ya, Nico," jawab Ayunda tersenyum.


Bersyukur Ayunda mempunyai teman seperti Nico yang baik, Ayunda menganggapnya sebagai teman, sahabat, guru dan adik baginya. Usia Nico sama seperti adiknya, dan Ayunda sangat senang bisa bertemu dengan Nico dan anak-anak yang lain karena mereka semua menghargai juga membuat Ayunda terhibur.

__ADS_1


Ayunda bersiap untuk pulang dan dia membereskan mejanya juga perlengkapannya, Ayunda menengok ponselnya yang berbunyi pesan masuk. Dia melihat Yogi mengirimkan pesan dan Ayunda tersenyum membacanya.


"Aduh lama-lama aku bisa ikutan gila," gumam Ayunda yang menggelengkan kepalanya.


"Udah mau pulang?" tanya Ahmad.


"Iya, emang kenapa?" Ayunda balik nanya.


"Aku mau kasbon dong, Teh," jawab Ahmad.


"Berapa?" tanya Ayunda yang membuka dompet kasnya.


"Seratus aja, Teh. Buat malam mingguan," jawabnya dengan menampilkan deretan giginya.


"Dasar abegeh," cibir Ayunda yang mengambil uang lalu di kasihkan pada Ahmad.


"Makasih ya, Teh. Nanti kalo gajian dipotong aja, oke" kata Ahmad yang tersenyum lalu masuk ke kelas lagi. Ayunda hanya menggelengkan kepalanya.


"Pulang yuk, mba" ajak Ayunda pada Lia yang juga sudah bersiap.


"Naik motor?" tanya Lia dan Ayunda mengangguk sambil tersenyum.


Ayunda dan Lia pulang dengan motor matic kesayangan Ayunda hitam metalic pilihan Satrio, karena Satrio menyukai warna hitam. Satrio sebenarnya laki-laki yang sangat menyayangi istrinya namun cara mencintai dan menyayangi Ayunda tidak seperti laki-laki yang hanya menggombal.


"Terimakasih ya , Teh," jawab Lia yang turun dari motor Ayunda.


"Sama-sama, duluan ya mba," ujar Ayunda yang menjalankan mesin motornya.


Dalam perjalanan Ayunda terus berpikir tentang hubungannya dengan Satrio yang selalu ribut dan sebenarnya apa yang diributkan. Ayunda merasa lelah, Satrio selalu posesif dan cemburu tak jelas. Ayunda sendiri tak pernah seposesifnya seperti Satrio, Ayunda juga tak pernah cemburu dengan siapa Satrio bercanda atau mengobrol dengan siapa saja. Tapi giliran Ayunda sedang berbalas pesan langsung marah dan ah..pusing untuk memikirkannya.


Ayunda sudah sampai dirumahnya, dia melihat motor vespanya tidak ada. Ayunda menarik nafas dan menghembuskannya, lalu masuk dengan lemas dan lelah.


"Huffffttt, pergi lagi ya," gumam Ayunda yang merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


Kemudian ponselnya berbunyi dan pesan dari Yogi yang menanyakan apakah sudah sampai dirumah. Ayunda pun membalas pesan dari Yogi dan sampai malam Ayunda dan Yogi saling berbalas pesan. Sedikit terhibur ketika membalas pesan Yogi, yang membuat tertawa juga hilang rasa sedih Ayunda seketika.


Malam sudah larut, belum ada tanda-tanda Satrio pulang dan Ayunda bolak-balik melihat ke luar menunggu suaminya datang. Tak lama kemudian suara motor vespanya terdengar lalu Ayunda keluar dari kamar merapikan rambut dan bajunya dan menghampiri suaminya.


"Hai, belum tidur?" tanya Satrio tersenyum dan Ayunda membalas senyumannya itu dan menggelengkan kepalanya.


"Udah makan?" tanya Satrio lagi. Ayunda juga menggelengkan kepalanya.


"Nih, aku beli sate ayam kesukaan kamu," kata Satrio yang memberikan bungkusan sate ayam kesukaannya.

__ADS_1


Ayunda memang menyukai makanan sate ayam, Satrio selalu membelikannya untuk Ayunda karena tahu itu makanan kesukaan istrinya. Ayunda menempatkan sate di piring lalu mengambil nasi untuk suaminya dan juga dirinya.


"Maaf ya, nunggu aku kelamaan," kata Satrio.


"Nggak apa-apa," jawab Ayunda datar.


Ayunda memasukkan sendok nasi dan lauk ke mulutnya dan melihat Satrio tersenyum melihat istrinya yang sedang menikmati sate ayam.


"Ini beli dimana, Yang?" tanya Ayunda.


"Ditempat biasa beli," jawab Satrio.


"Kok beda rasanya," ujar Ayunda.


"Masa sih, tapi iya juga sih beda rasanya. Mungkin abangnya yang melayani beda," kata Satrio.


"Tapi makasih udah beliin Yunda sate," jawab Ayunda tersenyum.


"Makan yang banyak ya, Sayang," ujar Satrio mengelus pucuk kepala istrinya.


"Kenapa sih, aku tuh gak bisa marah sama ayang?" batin Ayunda.


Ayunda dan Satrio menikmati makan malam berdua dengan sederhana, walaupun bukan makanan mewah tapi mereka sangat menikmati kebersamaan. Ayunda ingin sekali marah dan membenci laki-laki yang ada dihadapannya, tapi tak bisa Ayunda membencinya ataupun marah. Entah apa yang membuat Ayunda begitu mencintai Satrio, laki-laki yang selalu membuat hatinya sakit.


"Udah makannya?" tanya Satrio yang melihat Ayunda membereskan tempat makannya.


"Sudah, Ayunda kebelakang dulu," jawabnya.


Ayunda kebelakang membereskan tempat makan dan kemudian dia duduk di dekat wastafel sambil diam, tetesan air mata membasahi pipinya.


"Sampai kapan kamu akan berbohong padaku? Jika itu memang permainan yang kamu lakukan, baiklah aku juga akan memainkan permainan aku, Yang"


****


Hai... Reader gomawo.... Sudah membaca kisah Ayunda dan Satrio, bagaimana kisah selanjutnya, terus beri semangat author agar terus up kisahnya dengan memberikan like, hadiah, vote dan komentar nya reader...


*love sekebon*


Sambil menunggu kisah Ayunda dan Satrio up...


Yuk... Mampir di karya novel author yang kece badai, ceritanya seru loh dan pastinya membuat reader penasaran dengan kisahnya...


__ADS_1


__ADS_2