Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 41


__ADS_3

Ayunda keluar dari sekolah selesai mengajar ekskul menggambar dan mewarnai, Ayunda langsung naik angkot menuju tempat les. Di dalam perjalanan Ayunda menyandarkan punggungnya di dinding angkot, Ayunda membuka ponselnya dan melihat sms dari Yogi mengingatkan agar jangan lupa makan. Ayunda tersenyum melihat perhatian Yogi padanya, berbeda dengan suaminya yang terkadang cuek dan kadang perhatian. Ayunda ingin seperti yang lain namun Satrio selalu mengatakan manja, padahal hati Ayunda ingin suaminya itu sedikit romantis. Tapi Satrio selalu mengatakan bahwa dirinya bukan laki-laki yang romantis. Tak terasa perjalanannya sudah sampai di tempat, Ayunda turun dan berjalan ketempat les gambarnya.


"Hei," sapa Yogi yang tersenyum padanya sambil melambaikan tangannya ke wajah Ayunda.


"Kamu, sejak kapan ada disini?" tanya Ayunda mendongakkan kepalanya.


"Sejak tadi aku tunggu kamu, nih aku bawakan makanan jangan lupa dimakan ya. Sudah aku mau berangkat kerja dulu dan jangan kangen sama aku ya," kata Yogi yang memberikan bungkusan lalu mencubit pipi Ayunda dan pergi.


"Awwwwww, sakit," rengek Ayunda dan Yogi tersenyum lalu pergi.


"Dasar, cowok aneh," gerutu Ayunda.


Dalam hati Ayunda tersenyum melihat perhatian Yogi melebihi suaminya sendiri, dirinya tak menyangka bertemu dengan laki-laki yang usianya berbeda 7 tahun dengannya. Hati Ayunda seakan bergetar saat Yogi sudah menjauh.


"Kenapa denganku? Gak mungkin aku jatuh cinta sama anak ingusan itu," gumam Ayunda yang duduk di kursi dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Teteh kenapa?" tanya Lia yang juga baru datang melihat wajah Ayunda yang seperti ada masalah.


"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah tadi berjalan dan panas sekali cuacanya," bohong Ayunda dengan senyuman.


"Bawa bekal, teh?" tanya Lia yang melihat bungkusan di depannya.


"Eh iya, mba sudah makan?" tanya Ayunda balik.


"Sudah, teh. Aku masuk kedalam dulu teh," kata Lia yang masuk kedalam kelas


Ayunda menarik nafas panjang dan dia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Mengingat perhatian Yogi yang perlahan membuat luluh hati Ayunda. Namun Ayunda sadar dia sudah mempunyai seorang suami dan dia tidak ingin melakukan kesalahan dengan menyakiti suaminya.


"Kak," panggil perempuan yang masuk lalu duduk di hadapan Ayunda bersama anaknya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, bunda?" tanya Ayunda dengan sopan.


"Anak saya mau daftar les disini, untuk biaya berapa ya, Kak," jawab perempuan itu dengan senyum dan Ayunda melihat anak laki-laki itu dengan senyuman yang mengembang.


Ayunda menjelaskan rincian biaya masuk kelas mewarnai dan menggambar. Perempuan itu tertarik untuk memasukkan anaknya les di tempat itu. 


"Baiklah, saya daftarkan anak saya, Kak," kata perempuan itu yang langsung Ayunda menulis persyaratan dan perempuan itu membayar biaya serta yang pertama masuk.


Hari sudah sore, rasa lelah melanda Ayunda dan Ayunda mulai membereskan mejanya bersiap untuk pulang. Lalu ponselnya berbunyi tanda masuk pesan, suaminya Satrio tak bisa menjemput karena masih ada kerjaan. Ayunda menarik nafas dan dia harus menjadi perempuan kiat tanpa harus bergantung pada suami.

__ADS_1


Tak lama kemudian Yogi datang dengan motor maticnya, dia masuk menemui Nico sambil melirik kearah Ayunda. Jantung Ayunda terasa ingin keluar dari peredarannya saat Yogi menatapnya sambil tersenyum.


"Duh, kenapa sih kok aku jadi salah tingkah begini," gumam Ayunda.


"Ayo, teh kita pulang," ajak Lia yang sudah siap di depan meja Ayunda.


Lia dan Ayunda memang berbeda arah jika pulang, namun kadang Ayunda suka pulang bersama Lia karena dia ingin membeli dvd drakor.


" Maaf, mba aku pulang kearah sana," kata Ayunda menunjukkan arah dia pulang.


"Oke, aku duluan ya," ujar Lia yang pergi dahulu.


Ayunda kemudian pulang dan berjalan menuju tempat angkutan umum yang sedikit jauh dari tempat ngajarnya. Kemudian suara klakson motor berbunyi persis di belakang Ayunda dan Ayunda menengok kebelakang ternyata Yogi dengan senyum berhentikan motornya.


"Mau aku antar pulang?" tanya Yogi sambil tersenyum.


"Tapi sampai rumah sakit CR saja ya, nanti aku naik angkot aja," kata Ayunda.


"Kenapa gak sampe rumah? Takut sama suaminya?" tanya Yogi yang terkekeh.


Ayunda mengelakkan matanya dan Yogi tertawa melihat Ayunda yang menurutnya lucu, dan manja. 


Dalam perjalanan Yogi terus mengulas senyum akhirnya Ayunda mau ikut dengannya, setelah sekian lama Yogi mengajak Ayunda selalu menolak. Dan sekarang Ayunda mau di antar Yogi walaupun tidak sampel rumah.


"Aku antar sampai rumah, Ya," kata Yogi.


"Tidak usah, sampai rumah sakit CR saja," jawab Ayunda.


"Kenapa? Takut sama suami kamu?" tanya Yogi.


"Iyalah, kamu tau aku itu punya suami. Seharusnya kamu itu menyerah, sudah tau aku punya suami masih saja kamu suka sama aku," kata Ayunda.


"Jika seorang laki-laki menyukai perempuan itu gak melihat statusnya," jawab Yogi.


"Tapi kan status saya itu sudah suami, kamu paham gak sih!"


"Tapi aku kan sukanya sama kamu bukan suami kamu," ujar Yogi.


"Aduh, kamu itu gak ngerti-ngerti ya," kata Ayunda dengan kesal.

__ADS_1


"Hahahaha, kamu itu lucu kalo lagi kesel," ucap Yogi tertawa.


"Apa sih, kamu malah ketawa," Ayunda memukul pundak Yogi.


"Abisnya kamu itu kalo kesel lucu, bikin gemes tau gak," jawab Yogi. Ayunda terus memukul pundak Yogi bertubi-tubi.


"Emangnya aku itu badut dibilang lucu," kata Ayunda mengerucutkan bibirnya.


"Awwwwww, sakit. Ampun, jangan dipukul terus," sahut Yogi mengelus pundaknya.


"Biarin, habisnya kamu ngeselin," ujar Ayunda.


Dalam perjalanan Yogi sangat menyukai Ayunda, dia terus menggoda Ayunda. Ayunda pun tak hentinya memukul Yogi. 


"Udah sih, kamu itu meledek aku terus," kata Ayunda.


"Ya, sudah sampai. Sampai rumah saja sih aku antarnya biar agak lama godain kakinya," kata Yogi. Ayunda turun dan dia memukul lengan Yogi.


"Terimakasih, ya. Sudah sana pulang," ucap Ayunda.


"Nanti tunggu kamu sampai naik angkot," jawab Yogi.


" Modus," ujar Ayunda memukul lengan Yogi 


"Ya ampun kamu itu tukang pukul ya, sakit semua badan aku," kata Yogi mengelus lengannya.


"Udah, aku pulang," ucap Ayunda yang kemudian naik kedalam angkot.


Ayunda duduk sambil melihat Yogi yang memutar motornya. Ayunda tersenyum mengingat ledekan Yogi yang garing menurutnya, sejenak Ayunda melupakan Satrio suaminya yang terkadang Ayunda merasa kesal tak begitu perhatian.


Sepenjang jalan Ayunda mencoba membuka ponselnya, ponsel yang Satrio belikan. Ayunda membuka sosmednya dia melihat status teman-temannya, Ayunda lalu membuat status "Seneng banget dengerin lagu Padi" lalu dia mengirim ke berandanya. Kebetulan di angkot sang supir menyetel lagu Padi kesukaan Ayunda.


Tak terasa akhirnya Ayunda sudah sampai dan dia turun lalu berjalan sampai rumah. Waktu yang sudah sore dan sebentar lagi menjelang Maghrib, Ayunda mempercepat langkahnya agar lebih cepat sampai rumah.


Sampai dirumah, Satrio belum pulang dan Ayunda bersiap-siap membersihkan badannya dan menyiapkan makanan untuk Satrio suaminya.


Ayunda selesai menyiapkan makanan untuk suaminya namun sampai pukul tujuh Satrio belum datang juga. Ayunda selesai dengan pekerjaan beres-beres kamar, dia melihat jam di dinding dan Ayunda hanya menghembuska nafasnya.


"Pasti pulang malam, lagi," gumam Ayunda.

__ADS_1


__ADS_2