
Karir Ayunda dan Satrio sedang berada diatas, Ayunda semakin banyak tawaran mengajar menjadi guru ekstrakurikuler mewarnai. Dan ujian kini mulai berjalan di tengah-tengah rumah tangga Ayunda dan Satrio.
Pagi ini, Ayunda terlibat perdebatan dengan Satrio. Satrio yang tidak jelas marah-marah karena Ayunda yang salah ngomong sedikit. Ayunda hanya diam tak menanggapi omelan Satrio.
"Itu kamu pakai motor yang matic. " Kata Satrio dengan nada marah.
"Hufft... Sabar Ayunda. " Gumam Ayunda yang mengelus dadanya.
"Pagi-pagi udah bikin kesel kamu, tuh. " Kata Satrio dengan ketus. Ayunda hanya diam tak menanggapi, jika dia menanggapi maka bisa jadi bertengkar.
Ayunda dengan lemas berangkat menyalakan motor maticnya. Dalam perjalanan tetes air mata Ayunda jatuh di pipi, setiap Satrio marah Ayunda pasti menangis.
"Ya Alloh, sabarkan hati ini. " Kata Ayunda di tengah perjalanan menuju tempat baik mengajar.
Seharian penuh Ayunda mengajar walaupun banyak masalah namun, Ayunda tetap profesional dalam hal mengajar. Di tempat kursus gambar ada teman laki-laki Nico yang menyukai Ayunda, Ayunda hanya jutek dan bersikap biasa aja.
"Nico nya ada, bu. " Kata Yogi nama laki-laki itu.
"Ada, masuk aja. " Kata Ayunda yang hanya menatap layar notebook nya.
"Ayunda, oh.. Namanya Ayunda. " Kata Yogi yang melihat name tag yang ada di baju Ayunda.
"Apaan sih. " Ayunda langsung menutup nametag di bajunya.
"Mau kenalan aja. " Ujar Yogi dengan tersenyum. Namun Ayunda pasang wajah jutek.
"Assalamu'alaikum " Sapa mba Lia yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam. " Balas Ayunda dan Yogi bersamaan. Lalu Ayunda masuk ke dalam dan mengabaikan laki-laki yang terus mengganggunya.
"Nico, itu ada temen kamu tuh. Nyebelin banget temen kamu itu. " Kata Ayunda yang duduk di ruang kepala sekolah.
"Siapa? " Tanya Nico yang sedang menggambar sketsa.
"Tau tuh.. " Jawab Ayunda yang mengangkat bahunya.
Nico pun keluar untuk melihat siapa temannya yang datang, Ayunda pun melanjutkan pekerjaannya membuat Rpp untuk Paud. Kemudian Nico dan temannya masuk ngobrol di ruang belakang. Ayunda melirik disaat bersamaan pandangan mereka bertemu. Dan Ayunda langsung mengalihkan ke sembarang arah..
Ayunda selesai mengerjakan tugas lalu kedepan ngobrol bersama mba Lia, karena jam belajar masih lama.
"Kenapa, Bu? " Tanya mba Lia yang melihat wajah Ayunda cemberut.
"Itu temannya Nico nyebelin banget. " Kata Ayunda yang duduk di kursi depan mba Lia.
"Yogi? " Tanya mba Lia.
"Tau siapa namanya, gak mau tau. " Kata Ayunda.
"Sudah bu, biarin aja. " Kata mba Lia tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Nico sama Yogi keluar dari kelas, Ayunda diam sambil memainkan ponselnya.
"Teh, nanti siang gantiin kak Be ngajar. " Kata Nico yang seperti biasa dengan tingkah usilnya mensejajarkan dirinya dengan Ayunda yang sedang berdiri.
"Pendek amat sih, teh. Kaya minion. " Ledek Nico tertawa.
"Biarin, yang penting punya suami tinggi. " Ujar Ayunda. Kemudian melihat Yogi ikut ketawa
"Napa ikut ketawa, emang lucu ya. " Kata Ayunda yang melihat Yogi ketawa.
"Iya, lucu. Lucu banget malah. " Kata Yogi yang masih tertawa.
"Iih... Aneh. " Ujar Ayunda yang memutar bola mata malas dan masuk ke dalam ruangan kelas, untuk menyiapkan materi belajar.
"Hahaha... Teman kamu lucu sih, Lia. " Kata Yogi yang tertawa.
"Hush... Jangan kurang ajar kamu. " Kata Lia.
Ayunda di dalam kelas menyiapkan materi untuk belajar, karena tutor kak Be hari ini tidak masuk. Ayunda berusaha menenangkan hati untuk tidak memikirkan perdebatannya tadi pagi dengan Satrio.
Selesai sholat dhuhur Ayunda makan siang dengan Lia, tak lama kemudian teh Ufi pemilik tempat kursus datang dan langsung masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Teh Ufi orang yang baik dia dan suaminya mendirikan tempat kursus menggambar dan mewarnai juga kelas melukis dan seni lainnya.
"Mba, bisa lihat pembukuan hari ini. " Kata teh Ufi pada Lia.
"Iya, teh. Sebentar. " Jawab Lia yang mengambil buku besar pembukuan.
"Ya teh. " Ujar Lia.
"Teh Ufi minta apa, Mba? " Tanya Ayunda.
"Itu, bu laporan pembukuan. " Kata Lia yang membawa buku besar lalu masuk menemui teh Ufi.
Ayunda duduk sambil menunggu jam belajar, Ayunda ingin mengirimkan pesan pada Satrio meminta maaf, tapi rasanya jarinya kelu. Dan Satrio pun egois gak mau meminta maaf dulu, padahal yang salah Satrio.
"Hufttt.. " Ayunda menarik nafas mencoba mengalah pada suaminya yang keras itu.
Ayunda mulai mengirim pesan pada suaminya.
Isi pesan..
*Ayunda : Ayah, Ayunda minta maaf ya..
My husband : Ya, sudah. Ayah udah pulang.
Ayunda : Kok, sebentar?
My husband : Iya cuma 1 roll.
Ayunda : Sudah makan, yah.
__ADS_1
My husband : Sudah, tadi beli empal. Kamu sudah makan?
Ayunda : Sudah, ini sebentar lagi mau ngajar. Sudah dulu ya Ayunda ngajar dulu.
My husband : Iya, nanti pulang hati-hati ya.
Ayunda : Iya, sayang*...
Ayunda tersenyum kala pesannya di balas oleh suaminya. Kemudian tak lama anak-anak yang mau belajar mewarnai datang dan mereka masuk ke kelas. Ayunda ikut masuk dan mulai mengajar mewarnai. Satu jam selesai kelas mewarnai, Ayunda istirahat dan duduk di depan ruang front office bersama Lia.
"Besok giliran piket ya, Mba? " Tanya Ayunda.
"Nico, Bu yang piket. " Jawab Lia.
"Besok PAUD nya libur, aku mau gantian piket ah sama Nico. " Kata Ayunda.
"Libur apa, Bu? " Tanya Lia.
"Sekolahnya di pake posyandu, Mba. " Jawab Ayunda.
"Emang belum punya gedung sendiri, Bu? " Tanya Lia lagi.
"Kalo PAUD masih pake baperkam, Mba. " Kata Ayunda.
"Ohh... " Jawab Lia yang hanya sekedar oh saja. Ayunda hanya menatap bingung dan heran lalu tersenyum.
Akhirnya jam mengajar sudah selesai, Ayunda pulang dengan si MJ motor matic kesayangannya. Dengan cepat Ayunda sudah sampai di rumah, lalu dia melihat Satrio yang sudah rapi sepertinya mau keluar.
"Mau kemana, Yah? " Tanya Ayunda yang mencium tangan Satrio.
"Mau main ya. " Jawab Satrio yang tak sedikit pun Ayunda curiga.
"Owh.. Udah makan belum? " Tanya Ayunda yang menyimpan tasnya.
"Nanti saja malam. " Jawab Satrio.
"Perginya habis maghrib, Yah. Jangan pas adzan pergi pamali. " Kata Ayunda.
"Iya, Ayunda ambilkan minum buat ayah. " Kata Satrio.
"Iya sebentar. " Kata Ayunda yang berjalan menuju dapur mengambil segelas air mineral. Satrio tidak menyukai kopi atau teh manis. Dia lebih suka minum air putih saja.
"Ini, Yah. Ayunda mau mandi dulu. " Kata Ayunda.
Ayunda membersihkan dirinya dan setelah selesai dirinya makan sambil menonton televisi. Adzan maghrib sudah selesai berkumandang, Satrio langsung pamit pada Ayunda untuk pergi main. Entah main kemana Ayunda tak sedikit pun curiga.
Ayunda mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim, berdo'a agar suaminya selalu sehat dan di berikan jalan yang lurus serta bisa beribadah dengan rajin, karena Ayunda ingin suaminya di berikan hidayah.
Malam semakin larut, Ayunda mengerjapkan mata melihat jam sudah hampir larut. Ayunda melihat di garasi motor Satrio belum juga datang. Ayunda khawatir kemana suaminya pergi. Ayunda menunggu suaminya pulang, dan tak lama suara deru motornya datang, Ayunda membuka pintu menyambut sang suami.
__ADS_1