Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 40


__ADS_3

Pagi ini Ayunda diantar suami berangkat karena Satrio juga akan bekerja, Ayunda menatap wajah suaminya yang begitu tampan dan berpikir pasti banyak perempuan yang tergoda dengan suaminya. Ayunda sudah sampai di tempat dia mengajar dan Satrio berpamitan pada istrinya.


"Selamat pagi, anak-anak," ucap Ayunda dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.


"Pagi ibu guru," jawab semua anak-anak.


"Bu, hari ini kita belajar mewarnai saja ya," kata Bu Ani dan Ayunda menganggukkan kepalanya.


Selama satu jam setengah Ayunda mengajarkan anak-anak mewarnai Ayunda merapikan alat untuk mewarnainya, dan kemudian Ayunda beralih berangkat ke tempat kursus dengan naik angkot. Didalam angkot Yogi mengirimkan pesan singkat pada Ayunda.


"Hai, aku udah ada di tempat les kamu nih," kata Yogi dengan emot senyum.


"Iih, tuh anak emang ya nyebelin banget. Sudah berapa kali aku tuh punya suami tapi masih saja nekat," gumam Ayunda yang tak membalas pesannya.


Ayunda pun turun dari angkot dan berjalan menuju tempat kursus dia mengajar menggambar dan mewarnai, disana memang Yogi sudah menunggu dan dia tersenyum namun Ayunda hanya bersikap dingin.


"Hei," sapa Yogi yang menarik lengan Ayunda.


"Ada apa, Gi?" tanya Ayunda melepaskan tangan Yogi.


"Ini, aku bawain makanan buat kamu makan siang. Nanti dimakan ya, sudah saya mau berangkat kerja," kata Yogi yang mencubit pipi Ayunda.


"Awwwwww, sakit. Yogi!" seru Ayunda sambil memegang pipinya dan Yogi langsung menyalakan motornya dengan senyuman.


"Dasar, gila!" umpat Ayunda yang memukul di udara.


"Kenapa, teh?" tanya Nico yang melihat Ayunda marah-marah.


"Gak apa-apa," jawab Ayunda.


Ayunda masih kesel dengan Yogi yang seenaknya sendiri, Ayunda membuka bungkusan yang di berikan oleh Yogi dan Ayunda tak berselera makan lalu memberikan pada Nico. Ayunda tidak ingin dirinya hutang budi pada laki-laki itu, laki-laki yang membuatnya gila.


"Kenapa sih, teh. Dari tadi keliatannya kesel sekali?" tanya Nico.


"Temen kamu tuh nyebelin banget deh, kesel aku tuh," jawab Ayunda.


"Yogi maksudnya, teh. Emang dia udah ngapain teteh?"

__ADS_1


"Gak, cuma dia nyebelin aja,"


"Kalo dia ganggu bilang sama aku, teh,"


"Iya, terimakasih. Sudahlah aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu,"


Sore ini, Ayunda sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia membereskan tasnya dan dia bersiap pulang, lalu dia melihat mba Lia yang juga sedang membereskan tasnya.


"Mba, kita pulang bareng yuk. Kebetulan aku ingin ke toko kaset yang ingin beli beberapa kaset Drakor, buat besok weekend liburan," kata Ayunda.


"Iya, teh. Sebentar ya aku beresin dulu meja kerjanya," jawab Lia.


Ayunda menunggu Lia yang membereskan mejanya dan dia melihat Nico yang sedang ngobrol dengan temannya. Ayunda khawatir ada Yogi disana. Jantung Ayunda berdetak kencang seakan keluar dari peredarannya.


"Aduh, jantung tolong kondisikan. Ada apa dengan jantungku?" gumam Ayunda memegang dadanya.


"Ayo, teh. Katanya kita pulang bareng," kata Lia.


"Eh, iya. Ayo, maaf tadi aku melamun," jawab Ayunda.


"Kenapa, aku mencarinya? Ada rasa yang tak bisa aku bohongi, aku merasa kehilangan ketika dia tidak mengirimkan ku pesan," batin Ayunda.


"Kenapa, teh?" tanya Lia yang melihat Ayunda yang sedang bengong.


"Ah, gak ada apa. Udah yuk kita pulang," ajak Ayunda yang menarik Lia.


Dalam perjalanan pulang Ayunda terus memikirkan Yogi, biasanya Yogi selalu mengirimkan pesan pada Ayunda tapi hari ini seharian dia tak mengirimkan pesan pada Ayunda.


"Kenapa, aku jadi memikirkan Yogi?" gumam Ayunda di dalam hatinya.


Sampai dirumah, Ayunda melihat suaminya belum datang dan dia kemudian membersihkan diri lalu memasak untuk suaminya yang sebentar lagi akan pulang. Satu jam kemudian Satrio datang, Ayunda menyambut dengan senyum mencium punggung tangannya dan membawakan barang-barangnya.


"Mau mandi dulu, Yang?" tanya Ayunda.


"Iya, aku mau mandi dulu. Kamu masak apa?" tanya Satrio balik.


"Itu tempe tepung hangat dan sambal, sudah mandi dulu nih handuknya," ujar Ayunda yang memberikan handuk pada suaminya. Lalu menyiapkan makanan untuk suaminya dan dirinya.

__ADS_1


"Ayang, sudah makan?" tanya Satrio pada Ayunda.


"Ini mau makan bareng sama, ayang," jawab Ayunda yang menyiapkan makanan di meja.


"Ini sambal kamu yang buat?"


"Iya, coba cicip kurang apa lagi," Satrio mencolek sambal yang masih di ulegan dan mengangguk lalu mencium kening Ayunda.


'Pas, enak sambalnya. Itu tempenya masih di goreng?"


"Iya, mau tunggu yang hangat atau mau makan yang sudah matang?"


"Hmmmm, tunggu yang masih goreng saja deh," jawab Satrio yang duduk sambil memakan tempe goreng buatan Ayunda.


Ayunda tampak senang melihat suaminya yang sedang memakan cemilan sebelum makan nasi. Setelah siap mereka berdua makan dan setelah selesai makan mereka berdua berbincang hangat menceritakan seharian tentang pekerjaan masing-masing. Ayunda masuk ke dalam kamar dia memeriksa ponselnya dia takut Yogi akan mengirimkan pesan, ternyata tidak ada dan Ayunda mengelus dadanya.


"Kenapa?" suara bariton Satrio dari belakang Ayunda.


"Gak ada apa-apa, ayang mau tidur?"


"Iya nih rasanya lelah, besok motor kamu bawa ya," kata Satrio yang naik ke ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya.


"Ya sudah, aku juga sudah ngantuk," ujar Ayunda yang juga merebahkan tubuhnya di samping Satrio.


Pagi hari Ayunda sudah siap berangkat dengan motor maticnya, dia melihat Satrio masih terlihat dan Ayunda tidak ingin mengganggu tidurnya, Ayunda mencium keningnya dan berbisik dia pamit berangkat.


Sampai di sekolah, Ayunda mulai mengajar anak-anak dengan penuh kasih sayang. Meskipun mereka tak lahir dari rahim Ayunda, namun Ayunda sangat menyayangi anak muridnya. Ayunda mengajar anak didiknya dengan senyuman dan kasih sayang sebagai seorang guru.


Setelah selesai mengajar, Ayunda mengajar ekskul di sekolah internasional yang elit. Ayunda mengajar mewarnai dan menggambar. Ayunda sangat menyukai dunia anak-anak dia memilih terjun ke dunia pendidikan anak usia dini untuk menghibur dirinya yang sudah lama belum di karuniai keturunan. Mungkin sudah takdirnya Ayunda yang belum di karuniai keturunan.


"Kak, uang sudah saya berikan pada kak Be," kata Miss Diana sebagai wali kelas di internasional school tersebut.


"Oh, iya Miss thank you," jawab Ayunda dengan senyum.


Ayunda membereskan peralatan gambar dan mewarnainya, dia akan berangkat ke tempat lesnya. Namun Ayunda merasa ada yang kurang, Ayunda berpikir apa yang kurang. Lagi-lagi Ayunda membuka ponselnya dan dia melihat ponselnya, ternyata Ayunda merasa kehilangan Yogi yang selalu mengirimkan pesan menanyakan apa saja pada Ayunda.


"Kok, aku merasa kehilangan ya. Ketika dia tidak mengirimkan pesan, seharusnya aku senang bukan," kata Ayunda berbicara pelan.

__ADS_1


__ADS_2