
Hari berganti hari Ayunda mulai terbiasa harus menjadi seorang istri yang mandiri, tak pernah dia manja ataupun lemah. Satrio mengajarkan Ayunda seperti itu, sikap Satrio yang semakin membuat Ayunda curiga setiap hari membuat Ayunda berpikir bahwa Satrio selingkuh.
Ayunda mengecek ponsel Satrio dan ternyata benar banyak sekali pesan dari perempuan yang entah siapa namanya, yang pasti Satrio memanggilnya Nisa.
"Ooh.. Rupanya kamu mulai berulah lagi ya, A," gumam Ayunda yang membaca pesan di ponselnya.
Ayunda menahan sakit dan kecewanya pada Satrio, akhirnya iblis dalam hatinya mulai menghasutnya dan Ayunda pun merasa jika Satrio bisa berselingkuh kenapa dirinya tidak.
Ayunda sampai di tempatnya mengajar gambar, dia melihat ada pesan dari Yogi masuk dan Ayunda menanggapinya serius, ketika Yogi menyatakan cinta padanya tak segan dan berpikir lagi Ayunda menerima pernyataan Yogi.
"Aku akan membalas semua rasa yang kamu berikan padaku, A," gumam Ayunda saat selesai membalas rentetan pesan dari Yogi.
Ayunda bertekad untuk membalas rasa sakitnya pada Satrio yang sudah sering menyakiti hatinya. Yogi dengan hati sumringah datang ketempat Ayunda mengajar dan melihat wanita pujaannya sedang duduk sambil mengetik membuat laporan.
"Hai, Ay," sapa Yogi yang dengan mesra memanggil Ayunda.
"Hai," sapa Ayunda dengan senyuman.
"Pulangnya mau aku antar?" tanya Yogi yang duduk di hadapan Ayunda.
"Hmmmm, boleh tapi sampai di RS Sehat saja ya," jawab Ayunda.
"Kapan aku bisa antar kamu sampai rumah?" tanya Yogi yang memasang wajah yang cemberut.
"Aku kan pulang kerumahnya suami, jadi gak mungkin dong kalo kamu antar aku kerumah," ujar Ayunda.
"Coba kamu gak punya suami, Ay," kata Yogi dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Kalo aku gak punya suami kenapa?" tanya Ayunda menopang dagunya.
"Aku kan bisa miliki kamu tanpa ada batasan," jawab Yogi.
"Huuuuhhh..." Ayunda mendorong wajah Yogi dengan tangannya.
"hehehehe," Yogi yang tertawa.
"Sudah, ah. Kamu tau aku sudah punya suami tapi kamu masih aja suka sama aku," kata Ayunda. Yogi hanya senyum melihat Ayunda menundukkan kepalanya.
"Sudah makan, Ay?" tanya Yogi dan Ayunda menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau aku belikan apa? Baso atau nasi campur?" tanya Yogi.
"Apa aja deh, yang penting bisa dimakan," jawab Ayunda.
"Ya sudah aku belikan nasi campur saja, sama es putih," kata Yogi dan Ayunda mengangguk sambil tersenyum.
Perhatian Yogi membuat hati Ayunda menjadi tak karuan, belum pernah suaminya begitu perhatian. Jangankan bertanya makan atau belum bertanya Ayunda sedang apa juga tak pernah peduli. Ayunda merasa tak seperti miliki suami, tak pernah Satrio ada di saat Ayunda butuh perhatian dan yang ada Satrio hanya memberikan uang pada Ayunda. Ayunda tidak ingin uang atau apapun yang dia inginkan adalah perhatian Satrio.
"Hei, melamun?" tanya Nico yang datang lalu duduk menghadap Ayunda.
"Apaan sih kamu rese deh," ucap Ayunda dengan kesal.
"Tadi ada Yogi kemana tuh anak?" tanya Nico.
"Lagi beli makan," jawab Ayunda.
"Teh, maaf kalo Nico lancang atau kurang sopan sama teteh," kata Nico yang tiba-tiba memasang wajah yang serius
"Ada apa sebenarnya, Co?" tanya Ayunda yang merasa khawatir melihat wajah Nico.
"Teteh kalo bisa jangan terlalu dekat dengan Yogi, Teh," ujar Nico.
"Nggak enak, Teh. Suami teteh Nico kenal, mas Niko juga kenal sama suami teteh," kata Nico yang mengetahui Ayunda dan Yogi dekat.
"Gak, kita gak terlalu dekat kamu gak usah khawatir," jawab Ayunda.
"Yogi itu selalu menyukai perempuan yang sudah bersuami, Teh," ujar Nico.
Nico sudah Ayunda anggap seperti adik sendiri, wajar jika Nico mengkhawatirkan Ayunda yang dekat dengan Yogi. Nico yang hari itu menceramahi Ayunda seperti ustadz dalam sebuah pengajian. Ayunda merasa senang jika Nico memberikan wejangan, bukan rasa suka sesama lawan jenis tapi Ayunda menyukai Nico seperti adiknya sendiri.
*****
Ayunda dan Yogi semakin dekat, Ayunda berbohong ketika Nico terus memberikan nasehat yang sama seperti waktu itu. Ayunda yang sudah terjerat pesona Yogi seperti lupa akan hal yang membuat dirinya akan hancur.
"Teh, semua orang sudah tahu kalo teteh dan Yogi ada affair," kata Nico. Ayunda terdiam sejenak, Nico memang sudah banyak mencampuri urusannya tapi sebagai teman sahabat juga adik Nico sangat peduli pada Ayunda.
"Teh, Nico udah kasih tau sama teteh jangan diteruskan hubungan cinta terlarang itu," kata Nico.
"Nico, aku sama Yogi hanya sebatas teman saja ko tidak lebih," jawab Ayunda.
__ADS_1
"Tapi Nico lihat teteh sepertinya serius sama Yogi?" tanya Nico yang terus mengimidasi Ayunda.
Ayunda tersenyum melihat perhatian sahabat dan sekaligus adik bagi Ayunda..
"Kamu salah, Nico," jawab Ayunda.
"Ya sudah Nico cuma gak ingin rumah tangga teteh rusak," kata Nico.
"Ya terimakasih atas perhatiannya, Nico," ujar Ayunda.
Nico meninggalkan Ayunda sendiri diruang depan tempat biasa Ayunda menerima pendaftaran anak untuk kursus menggambar dan mewarnai. Ayunda tersenyum melihat perhatian Nico yang begitu besar, layaknya seorang adik yang menasehati kakaknya.
Tak lama kemudian Ayunda menerima pesan dari ponselnya, pesan itu dari Yogi yang menanyakan kepadanya makanan apa yang disukai Ayunda. Seketika bibir Ayunda melengkungkan sebuah senyuman yang sangat lebar, Ayunda merasa ada yang memperhatikan dirinya sebagai seorang wanita. Sedangkan Satrio suaminya tak pernah sedikitpun memperhatikan atau sekedar bertanya sudah makan atau belum.
Dengan cepat Ayunda membalas pesan yang Yogi kirim, dengan senyum yang sumringah Ayunda sedang merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
"Ah, kenapa aku seperti abg yang sedang jatuh cinta," gumamnya.
Ayunda terus mengulas senyum, dalam pikirannya seketika teringat Satrio suaminya.
"Coba saja jika itu kamu, Yank. Pasti aku akan begitu senang karena kamu memperhatikan aku," kata Ayunda dengan pelan.
Ayunda menopang kedua tangannya di meja, dia menunggu Yogi datang membawa makanan yang tadi dia pesan. Yogi yang usianya terpaut tujuh tahun dari Ayunda namun sifatnya begitu dewasa, perawakannya tinggi dan hidung mancung membuat semua perempuan pasti akan jatuh cinta padanya.
Kemudian Yogi datang dan memberikan sebungkus nasi dan lalu dia duduk sebentar melihat Ayunda makan.
"Aku berangkat kerja dulu ya," kata Yogi.
"Hari ini kamu masuk siang?" tanya Ayunda.
"Iya, nanti aku berangkat pukul satu," jawab Yogi.
"Nanti malam kalau tidak ada suamimu sms aku ya," kata Yogi tersenyum. Ayunda pun membalas senyuman Yogi.
"Terimakasih makanannya," ujar Ayunda.
"Sudah aku berangkat dulu," kata Yogi yang meninggalkan Ayunda yang masih makan.
Ayunda menatap punggung Yogi yang sudah menjauh yang mengendarai motornya. Ayunda melanjutkan makannya dan kemudian dia mulai bekerja menyelesaikan laporan.
__ADS_1
"Ada hubungan apa Yogi dan teteh?"