
Satrio mengantarkan Ayunda pulang kerumah orang tuanya, disana Satrio mengatakan pada kedua orangtua Ayunda bahwa Ayunda sudah berselingkuh juga Satrio mengembalikan Ayunda kembali kepada kedua orangtuanya.
"Aku tak menyangka kamu seperti itu," ujar Satrio. Ayunda hanya diam dan tak menjawabnya, memang semua Ayunda yang salah tapi semua ada sebabnya.
"Aku akan mengurus semuanya," kata Satrio yang kemudian pergi meninggalkan Ayunda.
Hati Ayunda seakan hancur, padahal yang berselingkuh adalah Satrio sendiri tapi kenapa Ayunda yang disalahkan. Ayunda diam dan meneteskan air mata, Ayunda pun pasrah pada takdir dan apa yang akan terjadi nanti.
"Yunda, sudah malam ayo masuk," kata mamanya.
"Iya, Ma." Ayunda kemudian masuk lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Sakit rasanya disakiti hatinya oleh Satrio, Ayunda berharap Tuhan memberikan yang terbaik bagi hubungannya dengan Satrio.
Keesokan harinya Satrio datang dan dia masih ingin marah pada Ayunda, sungguh kata-kata yang sangat sakit saat Ayunda mendengarnya. Satrio begitu membenci Ayunda hanya karena kesalahan kecil saja.
"Apa yang kamu pikirkan ketika melakukan perselingkuhan itu? Sudah sejauh mana hubungan kalian?" kata Satrio yang penuh dengan amarah.
"Sudah berapa kali Yunda katakan bahwa kita gak pernah ketemu dan gak pernah ada apa-apa," jawab Ayunda merasa kesal dengan sikap Satrio.
"Aku gak rela kamu seperti ini," ujar Satrio.
"Apakah semua kesalahanku begitu besar hingga Aa begitu benci padaku?" tanya Ayunda yang memberanikan diri sambil menangis.
"Kamu sudah menyakitiku, Yunda," jawab Satrio.
"Bagaimana sakit bukan ketika orang yang kita cintai menyakiti hati kita? Itu yang selama ini Yunda rasakan, Aa selalu lempar batu sembunyi tangan. Melemparkan kesalahan sendiri kepada orang lain,"
"Lalu kenapa kamu selingkuh?" tanya Satrio.
"Karena Aa yang sudah membuat Ayunda seperti ini, coba Aja Aa gak selingkuh dulu mungkin Ayunda juga tidak akan berselingkuh," jawab Ayunda sambil menangis.
Satrio terdiam sejenak dan menatap Ayunda yang menangis sambil menekuk lututnya. Satrio hanya memainkan jarinya dan tak tau apa yang akan dia katakan. Sebenarnya Satrio juga merasa bersalah karena tak pernah memberikan perhatian dan cinta kasihnya pada istrinya, selama ini Satrio hanya memberikan Ayunda uang dan apapun yang Ayunda butuhkan selalu Satrio turuti, tanpa tahu hati dan perasaan Ayunda.
Satrio berjalan dan menaiki motornya lalu menyalakan mesin motornya lalu pergi meninggalkan Ayunda yang masih duduk sendiri di teras rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Aa jahat," gumam Ayunda yang kemudian masuk kedalam kamarnya.
Dalam perjalanan Satrio masih memikirkan kata-kata Ayunda yang membuat dirinya merasa bersalah. Hidup Satrio seperti tak karuan selama satu minggu tak ada istrinya dirumah. Tak pernah makan dan tidur dirumah temannya.
"Kamu itu harusnya peka jadi suami tuh," kata Abdi teman Satrio.
"Peka gimana maksudnya?" tanya Satrio.
"Ya peka, istri itu maunya apa juga perasaannya bagaimana cemburu tidak. Itu saja kamu tidak paham," ujar Abdi.
"Dia selingkuh, Di," kata Satrio.
"Kamu bisa cari tahu kenapa istrimu bisa selingkuh, apa mungkin perhatian kamu kurang atau kamu tidak pernah mengerti perasaannya," jawab Satrio.
"Ya selama ini aku hanya memberikan dia uang dan apapun yang dia inginkan selalu aku belikan," kata Satrio.
"Tanpa kamu tahu hati dan perasaannya. Yo, cewek itu gak pernah dia jujur kalau dia cemberut dan ingin diperhatikan oleh cowok terus kita sebagai cowok harus peka lah," ujar Abdi.
"Istriku tak sabar banget ngadapi aku yang selalu keras dan temperamen."
"Emangnya dia tahu kalo aku sering smsan sama cewek?" tanya Satrio.
"Cewek itu punya indera keenam, Yo. Mereka bisa merasakan hal-hal yang tak wajar pada suaminya," jawab Abdi.
Satrio terdiam dan Satrio mungkin merasa bahwa Ayunda mengetahui dirinya sering bertukar pesan setiap malam pada mantannya. Satrio merasa bersalah.
"Istrimu bisa selingkuh itu karena dia mencari kenyamanan, dimana ada disaat dia ingin bercerita, sharing dan berbagi. Sudahlah kamu meminta maaf pada istrimu sebelum kamu menyesal," kata Abdi.
"Iya, Di. Aku masih sayang sama dia, aku merasa bersalah, karena aku dia jadi berbuat yang tak baik," jawab Satrio.
"Nah, itu kamu tahu. Kamu bukan anak kecil lagi, dan sudahlah berbaikan tak baik marahan sama istri lebih dari tiga hari," ujar Abdi.
"Terima kasih, Di. Mungkin setelah ini aku akan belajar memahami hati dan perasaannya," kata Satrio.
"Sudah, sekarang jemput istrimu pulang dan bicarakan baik-baik jangan sampai kamu menyesal,"
__ADS_1
Satrio kemudian pamit pada Abdi dan lalu dia menyalakan mesin motornya melajukan kearah rumah kedua orangtua Ayunda. Satrio akan berubah demi istrinya dan dirinya berjanji tidak akan menyakiti hati Ayunda lagi. Sesampainya di depan rumah Ayunda Satrio mengetuk pintu dan Ayunda membukanya.
"Ada apa lagi? Apa Aa kesini hanya untuk memaki Yunda?" tanya Ayunda dengan ketus.
"Aku kesini ingin meminta maaf sama kamu, mungkin selama ini aku tidak mengerti hati dan perasaannya kamu," kata Satrio.
"Terus,"
"Apakah kamu masih mau memaafkan aku dan kita bisa balik lagi?" tanya Satrio.
Ayunda terdiam hatinya masih terasa sakit mendengar kata-kata kasar Satrio tempo hari. Bahkan kata-kata itu masih terngiang dalam pikiran Ayunda.
"Yunda, kamu tidak ingin kita balik lagi?" tanya Satrio yang memegang kedua tangannya.
"Apa Aa memaafkan Ayunda?" tanya dirinya.
"Aku memaafkan kamu, kamu melakukan biru karena aku, kan," kata Satrio.
"Apa Aa tidak memukul Ayunda?" tanya Ayunda dan Satrio menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
Ayunda memeluk Satrio dan tersenyum, Satrio mengusap punggung Ayunda dan lalu mencium pucuk kepalanya. Lalu menatap manik kedua bola mata istrinya.
" Kita balik lagi dari awal ya," ujar Satrio yang tersenyum.
Kini hubungan keduanya kini berjalan baik dan semua kembali seperti semula. Ayunda resign dari kerjaannya dan lebih fokus mengurus rumah tangga dan Satrio tak mengizinkan Ayunda bekerja namun cita-cita Ayunda masih ada dan terpaksa Ayunda menggantung cita-citanya.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu masih menerima," kata Satrio yang mengecup keningnya.
"Yunda yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena Aa sudah memaafkan Ayunda dan juga masih mau menerima Ayunda kembali," ujar Ayunda.
Satrio tersenyum bahagia saat keduanya datang dirumah Satrio, tampak ibu Satrio sangat marah mendengar ceritanya bdaribsang anak.
"Ibu pasti marah ya sama Yunda?" tanya Ayunda kepada Satrio.
"Pelan-pelan saja mungkin masih syok melihat kamu karena kamu anak kesayangan ibu, " ujar Satrio memberikan semangat pada istrinya yang diam.
__ADS_1