
Hari-hari Ayunda sangat bahagia, dia kembali beraktifitas mengajar dan conter sudah kembali menjadi miliknya lagi. Ayunda juga sibuk mengurus suaminya, setiap pagi Satrio mengantarkan Ayunda berangkat dan dia menjaga conternya.
"Sayang, baru datang? " Tanya Satrio melihat istrinya yang masuk dari pintu samping conternya.
"Iya, Yang. Bagaimana lumayan hari ini? " Tanya Ayunda.
"Alhamdulillah. " Kata Satrio yang tersenyum mengusap rambut istrinya.
"Ayang, makan belum? " Tanya Ayunda yang mengambil air mineral di dalam tasnya.
"Sudah, kamu saja yang makan. " Kata Satrio.
"Ayunda mau ganti baju dulu. " Jawab Ayunda yang ke belakang mengganti bajunya.
"Ayunda, ini makan. " Kata Satrio yang membawakan makanan untuk istrinya.
"Terimakasih, Yang. " Jawab Ayunda mengambil makanan dan tersenyum manis pada istrinya.
Ayunda makan sambil bercerita tentang seharian di tempat dia mengajar. Satrio hanya tersenyum melihat istrinya bercerita sembari makan.
Setengah selesai makan Ayunda menyandarkan kepalanya di bahu Satrio. Rasa lelahnya hilang sudah ketika berada di bahunya, Ayunda memejamkan matanya dan Satrio mengelus kepalanya dengan lembut.
"Kamu ngantuk? " Tanya Satrio yang masih mengelus rambut Ayunda.
"Baru makan, Yang. " Jawab Ayunda yang memejamkan matanya.
"Ya sudah, nanti kalo mau tidur kamu tidur saja biar conter ayang yang tunggu. " Kata Satrio.
"Hmm.. " Ayunda hanya berdeham.
Tak lama kemudian, Ayunda pun sudah mulai mengantuk berat. Lalu dia merebahkan badannya di karpet di bawah etalase. Satrio dengan lembutnya mengusap rambut dan menyelipkan anak rambut yang berantakan di wajah Ayunda.
Sore hari Ayunda selesai mandi dan duduk menonjol televisi, yang ada di conternya. Kembali Satrio izin pulang untuk mengedit foto anak-anak.
"Jangan malam-malam jemputnya ya, Yang. " Kata Ayunda.
"Iya. " Jawab Satrio tersenyum. Kemudian Satrio menyalakan mesin motornya dan langsung pergi.
__ADS_1
Ayunda melihat kepergian suaminya yang sudah jauh, hanya menarik nafas. Tak pernah Ayunda berpikir bahwa Satrio kembali berhubungan dengan selingkuhannya itu.
Perasaan Ayunda tak menentu setelah menatap Satrio jauh dari pandangannya. Semoga itu hanya perasaan Ayunda saja.
Malam hari Satrio belum datang juga waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ayunda yang sudah mengantuk akhirnya dia tertidur di sofa panjang di dalam conternya. Tak lama kemudian terdengar suara deru motor Satrio yang baru saja datang.
Ayunda terbangun dan dia merapikan baju dan rambutnya, lalu membuka pintu dan keluar. Melihat Satrio yang baru saja datang, Ayunda melihat ke arah jam di dinding.
"Kita tidur disini saja, yak. " Kata Satrio mengusap wajah dan rambut Ayunda.
"Kenapa lama sekali? " Tanya Ayunda yang manja.
"Masih banyak kerjaan, sayang. " Jawab Satrio.
"Sekarang sudah selesai? " Tanya Ayunda lagi yang menggandeng lengan Satrio dan menggiring suaminya masuk ke dalam.
"Sudah makan? " Tanya Satrio yang duduk di sofa panjang. Ayunda menggelengkan kepala.
"Mau beli apa? Nasi goreng atau ayam goreng? " Satrio yang menarik Ayunda duduk di pangkuannya.
"Hmmm... Nasi goreng yang di pujamala saja. " Kata Ayunda.
Satrio dan Ayunda pergi ke pujamala yaitu tempat jajanan di malam hari, banyak aneka jajanan dimalam itu. Ayunda memilih membeli nasi goreng tempat favorit sewaktu dulu masih pacaran dengan Satrio.
Satrio senang melihat istrinya tersenyum saat duduk di tempat tukang nasi goreng tersebut. Walaupun Satrio sudah meyakiti istrinya lagi, tapi dalam hati kecilnya dia tidak ingin melepaskan istrinya.
"Terimakasih, bang. " Kata Ayunda ketika tukang nasi goreng mengantarkan dua porsi nasi goreng ke mejanya.
"Kamu lapar ya? " Tanya Satrio yang melihat Ayunda makan dengan lahap meski nasi itu masih panas.
"Iya, Ayunda lapar. Habisnya nungguin ayang lama sekali. " Jawab Ayunda dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Maaf, banyak kerjaan yang harus selesai besok. Dan guru-guru minta deadline secepatnya. " Kata Satrio.
"Ooh... Emangnya minta cepat ya? " Tanya Ayunda.
"Iya, sayang. Sudah makanlah nanti keburu dingin. " Ujar Satrio.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku mengulangi kesalahanku yang kedua kalinya. " Kata Satrio di dalam hatinya.
Setelah selesai makan, Satrio dan Ayunda kembali ke Conter mereka. Memang conter tempat mereka jualan dekat dengan rumah mama Ayunda. Jadi jika mandi Ayunda pergi kebelakang kerumah mamanya.
Ayunda merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan Satrio memasukkan motornya ke dalam. Tiba-tiba ponsel Satrio berbunyi dan Ayunda tak sengaja melihat no yang tertera di sana.
"Siapa malam-malam begini telepon? " Tanya Ayunda pada dirinya.
Kemudian Satrio masuk dan melihat Ayunda memegang ponselnya. Seketika Satrio marah dan merebut ponselnya dari istrinya.
"Jangan ikut campur urusan aku, dan jangan berani membuka buka ponsel aku. " Kata Satrio dengan nada ketus. Ayunda kaget ada apa dengan suaminya itu?
"Ayunda cuma liat siapa yang menelepon malam-malam gini. " Kata Ayunda yang menjadi curiga ada apa dengan suaminya itu.
"Sudahlah, aku mau tidur. " Kata Satrio yang membaringkan tubuhnya membelakangi Ayunda.
Ayunda menarik nafas panjang dan di pun ikut tidur di samping suaminya. Hati Ayunda sangat sakit ketika di bentak oleh suaminya sendiri. Ada apa dengan Satrio? Pertanyaan itu muncul dalam benaknya.
"Ah.. Tidak mungkin ada perempuan lain. " Pikiran Ayunda tak menentu.
Keesokan harinya Ayunda melakukan aktifitas seperti biasanya, dia berangkat dengan berjalan kaki. Karena rumah mamanya dan tempat Ayunda mengajar sangat dekat. Sedangkan Satrio juga berangkat, ada beberapa sekolah yang meminta foto.
Siang itu Ayunda sudah selesai mengajar dan dia pulang lalu membuka tempat usahanya. Ayunda menunggu suaminya pulang karena gak biasanya sampai siang dia tidak datang ke rumah mamanya.
"Lama sekali, ayang gak datang-datang. " Gumam Ayunda.
Sampai malam Satrio baru datang dan mengajak Ayunda pulang. Ayunda menuruti suaminya dan ia pun ikut pulang. Ada kecurigaan dalam diri Ayunda yang mendalam.
Besok pagi ketika suaminya masih tidur, Ayunda akan mengecek ponselnya.
Pagi hari setelah selesai sholat shubuh, Ayunda langsung membuka isi ponsel Satrio. Betapa kaget dan tak percaya, Ayunda menutup mulutnya seakan hatinya tertusuk pedang tajam.
"Ya Alloh dia kembali lagi dengan perempuan ini. Ya Alloh kuatkan hambamu ini. " Kata hati Ayunda.
Tetesan airmata membasahi pipi Ayunda, dan seketika tubuhnya menjadi lemas. Ayunda menyimpan ponsel Satrio di tempat semula, agar dia tidak curiga bahwa Ayunda sudah membaca isi chat Satrio dengan perempuan yang menjadi selingkuhannya. Ayunda menatap wajah Satrio yang sedang tertidur.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? " Tanya Ayunda dengan airmata yang terus mengalir.
__ADS_1
Ayunda menghapus tetesan airmata yang membasahi pipi nya itu. Dia akan bersikap seperti biasa sebagai seorang istri yang melayani suaminya dan akan terus bertahan meskipun sakit dan perih yang Ayunda rasakan.
Ayunda menyiapkan diri untuk beraktifitas seperti biasa, dan Satrio yang akan mengantarnya ke tempat mengajar. Satrio tidak sedikitpun curiga bahwa Ayunda sudah mengobrak abrik isi ponselnya.