
"Aku pastikan kamu jadi pacarku, kemarin kamu sudah mau terima perasaan aku," kata Yogi. Ayunda tak membalasnya lagi.
"Dasar aneh," gumam Ayunda di angkot.
"Aku tunggu di tempat gambar ya," balasan terakhir Yogi.
"Dasar pemaksaan" cibir Ayunda sambil cemberut.
Ayunda terkadang masih menyimpan rasa curiga pada suaminya, tapi Ayunda mencoba menepisnya. Sebenarnya kehadiran yogi menghibur ketika hatinya sedang gelisah dan ketika ada masalah dengan Satrio. Yogi hadir disaat Ayunda merasakan sakit karena sikap tempramen Satrio yang tak berubah. Cinta Ayunda begitu besar dan apapun yang Satrio lakukan selalu dia maafkan, bagi Ayunda menikah itu sekali seumur hidupnya dia tidak ingin seperti kakaknya yang sudah beberapa kali menikah dan selalu gagal dan bercerai. Ayunda mempertahankan prinsip seperti itu, dia ingin mempertahankan pernikahannya dengan Satrio untuk hidupnya.
"Hai, udah datang. Aku udah dari tadi loh nungguin kamu," kata Yogi yang tersenyum menyeringai.
"Apaan sih, Gi. Kamu itu sakit jiwa ya, suka sama aku yang sudah punya suami," ujar Ayunda.
"Emang kenapa? Sepertinya kamu suka sama aku dan pastinya aku suka sama kamu," jawab Yogi mengangkat dua alis matanya. Ayunda bergidik melihat tingkah Yogi. Dia langsung masuk kedalam dan langsung duduk di tempat front office.
Yogi mengikuti langkah Ayunda dan lalu kemudian duduk di hadapan Ayunda sambil tersenyum.
"Apa!"
"Aduh kamu galak banget sih, Yunda," jawab Yogi.
"Cowok kaya kamu itu harus di galakin, biar sadar diri gak ngejar-ngejar aku terus," kata Ayunda dengan kesal.
"Katanya ya, nih dengerin aku. Kalo cewek jutek itu biasanya akan jatuh cinta sama cowok yang suka pada dirinya," jawab Yogi.
"Iiihhh, pede banget sih kamu," ujar Ayunda.
"Aku tuh sadar diri kalo aku suka sama kamu, awas nanti kamu jatuh cinta sama aku. Sekarang bilang tidak nanti pasti akan terima rasa cinta aku, percaya deh sama aku," kata Yogi.
"Kamu itu aneh, kalo aku percaya kamu sama aja musyrik dong. Percaya itu sama Allah," jawab Ayunda.
"Hahahaha, kamu itu lucu. Tapi bener juga sih, jangan percaya sama aku ya," ujar Yogi tertawa sampai menggema.
"Dasar stress!"
"Tapi kamu masih mau balas pesan aku, padahal aku stress orangnya,"
"Udah sana kamu pergi, emang kamu gak kerja apa?"
"Kerja."
"Sana berangkat, aku mau ngerjain laporan,"
"Aku juga lagi kerja"
__ADS_1
"Kerja apa?"
"Lihatin kamu kerja, cantik dan manis,"
Jleb
Pipi Ayunda langsung memerah ketika Yogi mengatakan cantik dan manis. Baru kali ini ada seorang cowok yang mengatakan dirinya cantik, bahkan suaminya jarang mengumbar kata romantis seperti itu.
"Apaan sih, gak lucu. Sudah sana pergi!"
"Iya, tapi jangan kangen aku ya,"
"Pede banget, siapa yang kangen sama kamu," kata Ayunda menjulurkan lidahnya.
Yogi tertawa dan tak lupa sebelum keluar dia mencubit pipi Ayunda. Kemudian langsung berlari keluar sebelum Ayunda ngamuk.
"Yogiiiii!!!"
"Hahahaha.." Yogi memberikan ciuman udara pada Ayunda.
"Dasar gila!"
Ayunda mengusap pipinya yang di cubit Yogi, sambil mengomel mengumpat Yogi hingga tak sadar Nico di belakangnya dan mengagetkan Ayunda.
"Ya ampun, Nico!"
"Kamu ya, sama aja dengan temanmu suka ngagetin," ujar Ayunda kesal.
"Hehehehe, maaf minion," ledek Nico.
"Tau ah, nyebelin emang," cibir Ayunda.
Hari ini Ayunda merasa kesal, entah karena Yogi ataupun kerjaannya yang pasti Ayunda kesal pada dirinya. Hari sudah berganti sore Ayunda siap-siap akan pulang dan dia merapikan tempat kerjanya dan memasukkan semua barang-barangnya kedalam tas.
"Teh, Nico mau kasbon dong,"
"Berapa?"
"Seratus ribu saja," Ayunda mengambil uang di dompet kas milik tempat belajar.
" Oke terimakasih, mama,"
"Apa? Mama?" sahut Ayunda yang membulatkan matanya pada Nico uang tersenyum lalu lari sebelum Ayunda marah dan memukulnya.
Ayunda hanya menggelengkan kepalanya sambil mengulas senyum melihat semua anak-anak yang sudah dianggap adik oleh Ayunda. Ayunda berjalan gontai setelah turun dari angkot, hari ini dia tidak dijemput Satrio karena sedang ada kerjaan.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Ayunda membersihkan tubuhnya agar merasa segar. Dia bingung ingin memasak apa, karena Satrio memberikan pesan bahwa dia akan pulang membawa makanan. Ayunda merebahkan tubuhnya di kasurnya sambil menonton moto GP kesukaannya.
"Hah, pasti pulang malam lagi," gumam Ayunda saat melihat jam didinding yang sudah menunjukkan pukul 21.00 wib.
Ayunda belum bisa memejamkan matanya karena Satrio belum pulang, padahal matanya sudah sangat mengantuk. Berkali-kali Ayunda menguap menutup mulutnya dan memejamkan mata sebentar namun tetap tidak bisa.
Tak lama kemudian suara motor Satrio datang dan Ayunda langsung menghampirinya membantunya membawakan peralatan yang dibawa suaminya.
"Sudah makan?" tanya Satrio pada Ayunda.
" Belum, tunggu ayang," jawab Ayunda yang berjalan di depan Satrio.
"Nih, siapkan aku mau mandi terlebih dahulu," kata Satrio yang memberikan bungkusan pada Ayunda.
Ayunda meletakkan bungkusan itu di atas meja makan dan menyimpan peralatan Satrio. Ayunda menyiapkan makanan untuk suaminya, dengan telaten Ayunda mengurus segala keperluan Satrio.
"Sudah siap, ayo kita makan," ujar Ayunda yang melihat suaminya keluar kamar.
"Maafkan ayang ya, pulangnya terlalu malam," ucap Satrio memeluk Ayunda dan mencium keningnya. Dan Ayunda hanya mengangguk pelan.
"Oh, Tuhan. Kenapa aku tidak bisa marah dengan suamiku? Dan apakah hanya aku yang mencintainya?" batin Ayunda.
Keduanya makan tanpa suara, hanya terdengar suara televisi yang sedang menayangkan film. Satrio menatap Ayunda dan Ayunda membalas tatapan suaminya, dengan senyum Satrio mengelus pucuk kepalanya.
"Besok berangkat ayang antar dan jemput kamu ya," ujar Satrio.
"Antar Yunda ke sekolah saja, nanti sore ayang jemput Yunda," jawab Yunda dan Satrio pun tersenyum.
"Sekarang kamu tidur, pasti cape tunggu aku pulang, maaf ya pulangnya malam," kata Satrio yang kemudian mencium kening Ayunda.
Ayunda masuk kekamarnya dan dia membuka ponselnya, dia membulat matanya karena begitu banyak pesan dari Yogi. Ayunda yang panik dan tak sempat membaca isi pesan itu satu persatu.
"Dasar orang gila, gak tau apa kalau dirumah ada suami aku," gumam Ayunda.
Ayunda menghapus satu persatu pesan dari Yogi, karena takut Satrio membacanya dan pasti akan terjadi perang dunia ke tiga.
Ayunda terus menggerutu dan memaki Yogi dalam hati, entah apa yang ada didalam isi otak anak itu. Memang Yogi memiliki perawakan tinggi, hidung yang mancung dan wajahnya mirip orang Arab.
"Kenapa sih aku bisa ketemu dengan cowok seperti ini?"
"Sayang, belum tidur?" tanya Satrio yang masuk kedalam kamar dan Ayunda langsung menyembunyikan ponselnya. Untung saja semua pesan dari Yogi sudah dihapus semuanya.
"Ini udah mau tidur, ayang mau tidur?" tanya Ayunda balik.
"Sebentar mau nonton bola dulu, ya. Kamu tidur saja duluan, nanti aku menyusul," jawab Satrio.
__ADS_1
Sebenarnya Ayunda tidak bisa tidur jika tak memeluk suaminya atau memegang lengannya. Ayunda memang istri yang selalu ingin dimanja, tapi Satrio mengajarkan istrinya untuk kuat tidak cengeng dan manja.