
Hari terus berganti bulan pun berganti, Satrio masih terus bermain api di belakang Ayunda. Suatu hari Satrio dan Ayunda bertengkar hebat dan semua barang di pecahkan, Ayunda pun bukan hanya hatinya Tapi fisiknya pun sudah Satrio sakiti.
Ayunda pulang kerumah mamanya, dengan hati yang hancur Ayunda pulang dengan menaiki angkot. Di dalam angkot Ayunda menahan tangisnya.
Hati Ayunda sungguh hancur, tatkala pernikahannya seperti ini sungguh ujian yang sangat berat bagi Ayunda.
"Ya Alloh jika Satrio adalah jodoh hamba, maka berikan dia petunjukMu, luruskan jalannya dan berikan dia hidayah dari Mu agar dia menjadi hambaMu yang taat. Dan jika Satrio bukan jodohku maka kuatkan aku ya Alloh. " Batin Ayunda yang mengeluarkan cairan bening di pipinya.
Ayunda sudah sampai di rumah mamanya, dia berjalan gontai sambil membawa tas berisikan pakaiannya. Ayunda ingin rasanya menangis namun Ayunda tak ingin membuat mamanya menjadi sakit. Sekuat hati Ayunda berusaha tegar dan kuat menjalani semua ujian ini, Ayunda yakin bahwa Satrio suaminya akan berubah.
"Assalamu'alaikum, Ma. " Sapa Ayunda saat masuk melihat mamanya sedang melipat baju.
"Ayunda, kenapa sayang? " Tanya mama yang melihat Ayunda langsung memeluk mamanya.
"Ayunda mau tidur disini, boleh? Satrio... " Kata Ayunda yang tangisnya langsung pecah.
"Sabar, ini ujian. " Kata mama yang mengusap punggung Ayunda.
Ayunda pun langsung menyeka air matanya. Ayunda masuk ke kamar nya dan langsung merebahkan tubuhnya. Tetesan air mata mulai turun di pipinya, Ayunda pun akhirnya menangis dengan tangan untuk menahannya agar tidak terdengar oleh mamanya.
Ayunda tak menyangka pernikahannya dengan Satrio akan seperti ini, di uji dengan hadirnya orang ketiga. Ayunda masih berharap kalau suaminya akan berubah dan Alloh SWT akan memberikan hidayah yang akan membuat Satrio lebih menyayangi Ayunda.
Satrio adalah cinta pertama Ayunda dan pertama bagi Ayunda merasakan sakit yang begitu dalam. Ayunda menikmati hari-hari sendiri, tak lagi memikirkan Satrio. Hari-harinya terhibur dengan teman-temannya yang selalu menemani setiap malam.
"Mba Yunda, kok melamun? " Tanya Dea yang lewat di depan conter Ayunda.
"Hai, De. " Ujar Ayunda.
"Mba, mau gak Ayunda kenalin sama teman kakak Dea, dia itu orangnya pintar menebak isi hati. Orangnya pintar mba, mau gak? "
"Aku tuh gak percaya sama yang begituan, De
" Kata Ayunda.
"Ya kita gak usah percaya, hanya meringankan beban kita agar lebih tenang. " Ujar Dea.
"Mau ikut gak? Kebetulan Dea mau kesana. " Kata Dea.
"Kapan? " Tanya Ayunda.
"Besok, udah jangan melamun aja. " Kata Dea.
"Hehehe.. " Ayunda hanya tertawa renyah.
"Yaudah, Dea pulang ya. "
"Daffi mana? " Tanya Ayunda menanyakan anak kembar yang membuat dirimu merasa bahagia.
"Ada dirumah, yuk kerumah? " Ajak Dea.
Kemudian Ayunda dan Dea berjalan beriringan masuk ke rumah Dea. Disana Ayunda melihat kembar sedang bermain, Ayunda tersenyum melihat kembar.
"Ade, ikut sama ibu Yunda. " Ajak Ayunda yang melebarkan tangannya untuk memeluknya. Lalu Daffi mendekati Ayunda yang minta di gendongnya, begitu juga Daffa yang ingin ikut.
"Iya iya kalian boleh ikut semua. " Kata Ayunda yang rasa sakitnya karena Satrio hilang seketika melihat anak asuhnya itu.
"Dea, aku bawa kembar ke depan ya. " Kata Ayunda yang menggandeng anak kembar itu berjalan.
__ADS_1
"Eh,, kaka gak usah ikut belum makan. " Kata Dea yang menarik tangan Daffa lalu menggendongnya. Dan Daffa pun menangis merasa dirinya tidak di ajak Ayunda.
"Itut bu, tata itut.. " Kata Daffa yang menangis.
"Nanti sama bunda, kaka makan dulu. " Kata Dea. Ayunda tersenyum dan kemudian duduk sambil mengusap rambut Daffa.
"Ya udah, ibu Yunda tunggu kaka Daffa makan. Hmm.. " Ujar Ayunda membuat anak itu diam.
"Ade mau makan juga? " Tanya Ayunda dan Daffi mengangguk.
"Iih.. Dede mah udah makan, bu. " Jawab Dea.
"Geri kemana, De? " Tanya Ayunda.
"Biasa, mba. "
Kemudian Dea menceritakan masalah keluarganya pada Ayunda, ternyata masalah Dea lebih sulit dan lebih berat. Ayunda masih bersyukurlah Alloh memberinya ujian hidup seperti ini. Kata-kata Dea menyadarkan Ayunda agar menjadi lebih kuat walaupun sakit hatinya.
Keesokan harinya Ayunda dan Dea pergi kerumah teman kakaknya Dea, mas Tomi. Disana banyak teman-teman mas Tomi kakaknya Dea.
"Assalamu'alaikum, Mas. " Sapa Dea, Ayunda hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Dea menceritakan masalah Ayunda dan semua yang terjadi dengan Ayunda. Di sebrang sana ada seorang laki-laki yang menatap Ayunda lalu tersenyum melihat Ayunda.
"Mba, itu di panggil Mas Fajar. " Kata Dea yang menyadarkan Ayunda dari lamunannya.
"Oh iya. " Ujar Ayunda yang masuk ke dalam.
"Ada foto suaminya gak? " Tanya Mas Fajar.
"Namanya Satrio? " Tanya Mas Fajar lagi dan Ayunda mengangguk pelan.
Lalu Ayunda seperti orang yang sedang di do'akan kepalanya lalu di pegang pundak Ayunda lalu seketika air mata menetes dari pipi Ayunda.
"Apa yang kamu rasakan? "
"Sakit sekali, seperti di tusuk pedang. Hiks... Hiks... " Jawab Ayunda yang menangis.
"Menangislah agar kamu tenang. " Kata Mas Fajar.
" Mba Yunda kenapa, Mas? " Tanya Dea.
"Gak apa-apa, dia hanya terluka hatinya. " Kata Mas Fajar.
"Itu karena suaminya menusuk hati Ayunda dengan ribuan paku di hatinya, sehingga dia merasakan sakit yang amat dalam. " Kata Dedy anak asuhan Mas Fajar.
"Oohh... " Jawab Dea.
Ayunda selesai menangis Ayunda di berikan minum dan sudah merasa tenang hatinya. Ayunda duduk bersandar di dinding menghadap ke luar jalan. Hatinya masih sangat pedih namun tak seperti sebelumnya.
"Masih sakit? " Tanya Dedy.
"Sedikit, Mas. Terimakasih. " Kata Ayunda tersenyum.
"Nama saya, Dedy. " Ujarnya yang mengenalkan diri.
"Ayunda. " Balas Ayunda yang tersenyum.
__ADS_1
"Bisa minta no hpnya. " Ujar Dedy yang mengeluarkan ponselnya.
"Boleh ini 081***********. " Ayunda menyebutkan no ponselnya.
"Makasih, coba tenangin diri banyak membaca sholawat dan istighfar. Karena kita itu ibarat wayang yang sedang di mainkan oleh sang dalang. Jadi apapun yang dalang itu lakukan ya tidak bisa kita tolak. " Kata Dedy menasehati Ayunda.
"Terimakasih, Mas. " Ucap Ayunda.
"Kita pulang yuk, Mba. " Ajak Dea.
"Ayo, Mas semua terima kasih. " Pamit Ayunda lalu pergi meninggalkan rumah itu.
"Bagaimana sekarang? " Tanya Dea di tengah perjalanannya naik becak.
"Sedikit baik dan tadi di beri nasehat oleh, hmmmm... Siapa ya namanya aku lupa. " Kata Ayunda.
"Mas Fajar. " Kata Dea.
"Bukan yang tadi ngobrol sama aku. " Kata Ayunda memikirkannya.
"Oohh... Mas Dedy itu anak asuhannya Mas Fajar. " Kata Dea.
"Iya dia memberikan banyak nasehat padaku, dan aku merasa tenang mendengarkannya. " Kata Ayunda.
Malam harinya Ayunda duduk sambil menonton televisi di conternya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda telepon masuk. Dan Ayunda tak mengenali no baru itu.
"Assalamu'alaikum, Neng. " Sapa seseorang disana.
"Wa'alaikumsalam, maaf ini dengan siapa ya? " Tanya Ayunda yang melihat no nya tak di kenal.
"Aku A Dedy yang tadi siang kita ketemu. " Kata Dedy.
"Oohh.. Mas Dedy, iya bagaimana? " Tanya Ayunda.
"Bagaimana keadaannya sekarang? " Tanya Dedy balik.
"Hmmm... Sedikit tenang, Mas. " Jawab Ayunda.
"Jangan panggil Mas panggil saja Aa, neng. " Katanya.
"Iya A, terima kasih sudah membuat aku tenang. " Jawab Ayunda.
"Yang penting banyak bersholawat ya, neng. Dan ingat hidup kita sudah ada yang mengatur. " Katanya memberikan semangat pada Ayunda.
"Terimakasih, A Dedy. " Ujar Ayunda.
"Ya sudah, neng istirahat ya, jaga kesehatan dan jangan lupa makan. " Ujarnya.
"Iya terimakasih. Assalamu'alaikum A. " Kata Ayunda memutuskan teleponnya.
Ayunda merasa hidupnya begitu tenang, rasa sakitnya pun sedikit hilang. Dedy memberinya semangat dan perhatian kecil pada Ayunda.
Setiap pagi Dedy membangunkan Ayunda untuk sholat shubuh dan membaca Al-Quran.
"Ya Alloh sungguh lelaki ini begitu baik, dia membimbing aku untuk menjadi baik. " Gumam Ayunda setelah selesai berkomunikasi dengan Dedy.
Dengan senyuman Ayunda memulai aktivitas pagi dengan semangat dan tak lagi memikirkan Satrio. Dedy pun sering mengirimnya pesan hanya sekedar mengingatkan Ayunda untuk makan. Sungguh hati Ayunda sangat berbunga-bunga membacanya, ternyata ada yang lebih memperhatikan hidupnya daripada suaminya sendiri yang entah dimana dan bagaimana kabarin.
__ADS_1