
Sudah 6 bulan Ayunda dan Satrio hidup pisah rumah dan pisah ranjang. Selama itu Ayunda berusaha kuat dan tak lagi berharap, dia hanya pasrah pada kebesaran illahi. Hubungan dengan Dedy pun makin dekat, namun hati Ayunda masih ada nama Satrio seorang. Walaupun berkali-kali Dedy ingat Ayunda menceraikan Satrio, tapi Ayunda tak kuasa melakukannya. Dalam hatinya Ayunda yakin bahwa suatu hari nanti Satrio akan berubah. Entah kapan hanya Alloh swt yang maha tau.
"Ayunda, kita jalan-jalan yuk. " Ajak Sinta dan Dewi temannya.
"Kemana nih? Kita ke mall yuk. " Kata Ayunda.
"Bener banget kita ke mall sambil ngecengin cowok ganteng. " Ujar Dewi cekikikan.
"Kamu mah otaknya cowok ganteng aja. " Kata Sinta.
"yeee... Gak apa-apa dong yang cuci mata tau. " Kata Dewi yang mengibaskan rambutnya.
"Udah yuk kita berangkat, nanti keburu siang panas. " Kata Ayunda.
Mereka bertiga pun berangkat ke sebuah mall, Ayunda seperti tak punya beban dia bebas sesuka hatinya. Kesedihan dan rasa sakit hilang sejenak, bersenang-senang bersama dua temannya yang sedikit agak gokil.
"Ayunda kita fotobox yuk. " Ajak Dewi yang masuk ke sebut fotobox.
"Iihh... Aku gak bisa gaya tau. " Kata Sinta yang mengerucutkan bibirnya.
Ayunda hanya tersenyum melihat kelakuan dua sahabatnya. Dan mulai mereka berfoto ria dengan berbagai gaya. Setelah selesai mereka pun makan di sebuah cafe yang harganya pas di kantong mereka.
"Hai, ngelamun aja sih, Yunda? " Tanya Dewi yang datang dari toilet.
"Gak melamun kok, Wi. " Jawab Ayunda dengan senyuman manis.
Ayunda sedang memikirkan Satrio yang sekarang sedang apa dan bersama siapa.
"Kamu sedang apa, A? " Tanya Ayunda dalam. hatinya.
"Ah.. Kenapa aku masih memikirkan Satrio sih. " Gumamnya dalam hati.
"Belum tentu Satrio memikirkan aku, dan gak peduli lagi dengan ku. " Batinnya.
"Ayunda, kok bengong sih.? " Tanya Dewi lagi.
"Gak apa-apa, Wie. " Ujar Ayunda. Dewi tak tahu prahara rumah tangga Ayunda, karena Dewi adalah teman sekolah Sinta. Ayunda juga tak suka bercerita masalah rumah tangganya pada orang lain.
Malam harinya, Ayunda asik mengobrol dengan Dedy di telepon bercerita kejadian tadi siang Ayunda berjalan-jalan dengan temannya.
"Pantesan Aa telepon gak diangkat, ternyata lagi asik jalan-jalan ya. " Kata Dedy saat di telepon.
"Maaf A, Ayunda hilangin penat aja. Jadi ketika temen ngajak jalan-jalan ya Ayunda mau. " Kata Ayunda.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa, asalkan kamu senang, neng. " Ujar Dedy.
"Besok kita ketemuan yuk, Neng. Aanya kangen tau, gak kasihan udah hampir dua minggu gak ketemu. " Kata Dedy.
"Iihh.. Apaan si Aa? " Tanya Ayunda seakan tersipu malu karena kata-kata Dedy.
"Beneran, neng. Aa nya kangen. " Jawab Dedy.
"Iya.. Iya.. Kita ketemuan di tempat biasa. " Kata Ayunda.
"Ya sudah neng nya Istirahat ya, kumpulkan tenaga buat besok ketemu sama Aa. " Kata Dedy yang tertawa dan lanjut menutup teleponnya.
Ayunda tersenyum setelah menutup telepon dari Dedy. Setelah menutup teleponnya Ayunda mendengar suara motor Satrio datang, lalu Ayunda keluar dari conternya.
"Satrio, mau apa kesini? " Batin Ayunda saat melindungi suaminya mematikan mesin motornya dan memasukkan ke dalam rumahnya.
Kemudian Satrio menghampiri Ayunda yang berdiri di depan pintu belakang conter, karena waktu sudah malam dan Ayunda menutup conternya.
"Belum tidur? " Tanya Satrio yang datang menghampiri dan langsung memeluk Ayunda.
Ayunda pun menggelengkan kepala.
"Maafkan Aa ya, Yank. " Ucapnya dengan lirih.
Ayunda hanya bisa diam hatinya tak tau harus bagaimana. Apakah dia senang atau tidak, hubungannya dengan Satrio itu apakah bisa di lanjutkan atau tidak, Ayunda semakin bingung.
"Kenapa Aa datang disaat Ayunda sudah bisa mengikhlaskan Aa. " Gumam Ayunda.
"Yank, kenapa? Apakah kamu gak ingin Aa kembali? " Tanya Satrio melihat Ayunda hanya diam dan tak membalas pelukan suaminya.
"Tidak, Ayunda hanya bingung. Kenapa Aa datang setelah menyakiti hati Ayunda. Kemana Aa saat Ayunda butuh Aa menemani Ayunda saat sakit? Aa tau Ayunda sakit terkena flek paru-paru. " Kata Ayunda.
Sebulan yang lalu Ayunda sakit dan harus di rontgen, Ayunda memberitahu Satrio dan minta antar untuk di rontgen. Satrio mengantar dan membayar tagihan rontgen. Namun setelah itu Satrio tak datang lagi sampai Ayunda sehat kembali. Hanya Dedy yang memberinya semangat.
"Aa minta maaf, Aa tak ada saat kamu membutuhkannya support dari Aa. Kamu mau kan menerima Aa lagi? " Kata Satrio.
"Sejujurnya Ayunda udah ilfeel sama Aa, namun Ayunda rak bisa menbenci Aa karena Aa masih suami Ayunda. Tapi apa bisa Aa tak lagi kembali pada perempuan itu? " Tanya Ayunda.
"Iya Aa akan pastikan tak akan kembali pada perempuan itu. " Kata Satrio.
"Kita tidur ya. Aa kangen sama Ayunda. " Ujar Satrio yang menggiring Ayunda masuk ke kamar untuk tidur.
Keesokan hari setelah shubuh, Ayunda melaksanakan kewajiban, selesai sholat shubuh Ayunda lupa ponselnya masih di Conter. Sedangkan Ayunda sholat di dalam rumah.
__ADS_1
"Aaarggghhh... Pasti ketahuan Aa kalo Dedy telepon. " Gumam Ayunda yang membereskan alat sholatnya.
"Ini apa, Yunda? " Tanya Satrio yang melihat pesan masuk dari ponsel Ayunda. Ayunda yang baru ingin masuk kaget Satrio sudah ada di depan pintu.
"Hmmmm.... " Ayunda tak bisa menjawab dia hanya menundukkan kepalanya.
"Siapa ini? Apa kamu selingkuh di belakangku? " Tanya Satrio dengan mengeraskan suaranya.
"Iya aku selingkuh, dan itu semua karena Aa. Apakah hanya Aa yang boleh selingkuh? Sedangkan aku gak boleh selingkuh? " Tanya Ayunda yang juga mengeraskan suaranya.
"Kamu perempuan, dan seharusnya tidak boleh kamu selingkuh. " Kata Satrio.
"Kamu itu jangan seperti aku, cukup aku saja yang berselingkuh. " Kata Sario.
"Sekarang katakan, siapa dia dan kenal dimana kamu? " Satrio terus mencerca Ayunda pertanyaan yang tak henti.
Wajah Satrio yang begitu menyeramkan, membuat Ayunda takut, karena Satrio jika marah maka pasti akan memukul Ayunda.
Ayunda memeluk suaminya dan mencoba mengalah menenangkan hati dan pikiran Satrio. Namun Ayunda mendapat penolakan, Satrio mendorong Ayunda hingga menabrak dinding yang terbuat dari bambu.
"Awww.. " Ayunda meringis kesakitan pada bahunya.
"Maafkan Ayunda, Aa. Ampuni Ayunda Aa. " Kata Ayunda memohon pada kaki Satrio. Lagi-lagi Satrio menolak.
"Aku ingin ketemu laki-laki itu. Besok mau ketemu dimana. Hah. " Kata Satrio.
"Buat apa? Gak usah. " Kata Ayunda.
"Seperti apa laki-laki itu? Sampai kamu seperti ini? " Tanya Satrio.
"Asal Aa tau, Ayunda itu benci sama Aa dan Ayunda ingin balas dendam pada Aa karena sudah menyakiti Ayunda. Jadi asal Aa tau Dedy itu alat balas dendam Ayunda buat Aa. Jadi gak usah ketemu sama dia. " Kata Ayunda.
"Apa? Kenapa kamu seperti itu, Ayunda? " Tanya Satrio menatap istrinya.
"Karena Ayunda ingin Aa merasakan sakit Ayunda ketika tau Aa selingkuh. Seperti ini kan rasanya, Aa. " Kata Ayunda tersenyum dengan kecut.
"Aa minta maaf sudah membuat kamu seperti ini. Ayunda yang Aa kenal dia baik dan tak suka mendendam. " Kata Satrio.
"Ayunda yang dulu sudah mati karena cintanya sudah di khianati. " Ujar Ayunda.
"Ayunda, Aa minta maaf. Kita mulai dari awal dan lupakan laki-laki itu, hmmm... " Kata Satrio yang memeluk Ayunda.
Ayunda hanya diam, sejujurnya cinta untuk Satrio masih ada sampai kapanpun. Dan Ayunda juga ingin hubungannya dengan Satrio kembali seperti dulu. Semoga Satrio tidak berhubungan lagi dengan perempuan itu, dan bisa kembali pada Ayunda.
__ADS_1