Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 56


__ADS_3

Sore hari perjalanan Ayunda dan Satrio berhenti di sebuah warung makan pinggir jalan yang menyediakan sate kambing muda. Hari ini Satrio benar-benar memanjakan Ayunda dengan disuguhkan makanan.


"Sampai juga, kita," Satrio memarkirkan motornya di tempat parkir.


Lalu Ayunda turun dan mengikuti Satrio masuk kedalam warung makan tersebut dan duduk. Ayunda melihat sekeliling dan ada beberapa pelayan yang sedang membakar sate dengan kipas. Satrio memesan menu sesuai yang tertera di daftar menu, Ayunda masih melihat di depan kendaraan yang berlalu lalang karena warung sate ini persis di pinggir jalan raya.


"Hari ini kita judulnya perjalanan kuliner," kata Satrio tersenyum.


"Biar kamu gemuk," lanjut Satrio menarik hidung Ayunda.


"Awwwwww, sakit," rengek Ayunda dengan manja.


Satrio tersenyum lalu mengusap rambut Ayunda dan Ayunda menggelengkan kepalanya agar Satrio melepaskan tangannya dengan gemas melihat tingkah Ayunda.


Tak lama kemudian pelayan membawa satu piring sate kambing muda dan dua porsi nasi serta minum hangat. Satrio menggosokkan kedua telapak tangannya sambil meniupnya karena tak tahan untuk menyantap makanan yang sudah disajikan pelayan tadi.


"Heemmmm, enak sayang?" tanya Satrio yang menggigit daging satenya.


"Enak, rasanya beda dengan yang biasa kita beli," jawab Ayunda.


"Kalo enak habiskan dan nanti malam kita kuliner terakhir makanan penutup martabak telor spesial," ujar Satrio.


"Haah...Ayang masih belum kenyang?" tanya Ayunda menatap suaminya.


"Perbaikan gizi, Sayang,"


"Alasan saja, bilang aja masih lapar," ledek Ayunda.


"Hahaha," Satrio tertawa pelan melihat istri tercintanya.


Setelah selesai makan Satrio membayar ke kasir dan melanjutkan perjalanan pulang kerumah. Dan benar saja malam hari Satrio membeli martabak telor spesial di dekat rumahnya, Ayunda hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang hobi makan.


"Ini nanti tolong di kondisikan ya, Sayang," kata Ayunda yang menepuk perut Satrio yang sedikit buncit.


Satrio tersenyum lalu membuka bungkusan yang berisikan martabak telor yang dibelinya baru saja. Ayunda membantu suaminya menyajikan martabak telor dipiring dengan nasi. Satrio makan malam dan Ayunda ikut makan martabak telor yang enak rasanya.


****


Pagi hari Satrio bersiap-siap untuk beraktivitas dan Ayunda sudah menyiapkan segala keperluan Satrio dan juga sudah membuat sarapan untuk suaminya. Satrio tipe yang tidak suka pemilih makanan, apa saja yang Ayunda masak pasti selalu dimakan.


"Sudah siap semuanya, Ay?" tanya Satrio yang merapikan pakaiannya.


"Sudah, Bos. Bisa langsung berangkat," jawab Ayunda yang memberikan tas pada Satrio.


"Sayang, aku berangkat dulu," ujar Satrio dan Ayunda mencium punggung tangan suaminya.


Satrio menyalakan mesin motornya dan melajukan dengan pelan lalu lama kelamaan Ayunda melihat Satrio sudah tak terlihat lagi. Ayunda masuk dan merapikan kamar serta rumahnya, Ayunda menikmati menjadi seorang ibu rumah tangga walaupun belum dikaruniai keturunan Ayunda sangat bahagia bisa hidup bersama laki-laki yang begitu dia cintai.

__ADS_1


"Yunda!" teriak Dena teman sekaligus tetangga Ayunda.


"Apaan sih, berisik tau," ujar Ayunda dan Dena hanya senyum.


"Ada apa?" tanya Ayunda dengan ketus.


"Ya ampun galak banget sih" ujar Dena yang mencolek dagu Ayunda.


"Udah cepat ngomong aku sibuk nih," kata Ayunda sambil menjemur pakaian.


"Aku mau pinjam uang, dong,"


"Berapa?"


"Lima puluh ribu aja, Yunda buat jajan anak-anak,"


"Sebentar ya aku ambil dulu," Ayunda masuk kedalam kamarnya dan mengambil uang untuk dipinjamkan Dena.


"Nih," Ayunda menyodorkan satu lembar warna biru pada Dena.


"Terima kasih, Tante," ucap Dena manja dan Ayunda langsung mencibir.


Dena tertawa sambil melambaikan tangan pada Ayunda, Ayunda hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah temannya itu.


****


"Mas, jangan suka ngasih orang itu," kata sang pemilik warung.


"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Satrio.


"Dia itu pura-pura miskin, padahal anak-anaknya kaya raya," ujar sang pemilik warung.


"Kalau anak-anaknya kaya raya kenapa ibunya minta-minta, Pak." Satrio kembali bertanya dan sang pemilik warung merasa canggung.


"Pak, kita niat memberi itu karena allah dan mau beliau bohong atau tidak itu urusan dan dosa beliau. Yang penting kita ikhlas memberi bukan hanya sekedar pamer," kata Satrio yang pergi meninggalkan pemilik warung dan meletakkan uang untuk membayar makanannya.


Dalam perjalanan Satrio masih memikirkan wanita tua itu dan sampai dirumah Satrio menceritakan kepada Ayunda.


"Lalu, Ayang beri uang?" tanya Ayunda.


"Ya aku kasih sepuluh ribu, aku kasihan tapi bapak pemilik warung itu kenapa mengatakan bahwa wanita itu memiliki anak-anak yang kaya raya," Satrio merasa bingung dan tidak tau mana yang benar dan bohong.


"Sudah, terpenting ayang ikhlas memberi sedekah pada wanita itu," jelas Ayunda membuat Satrio mengangguk mengerti.


"Kamu masak apa? Aku lapar,"


"Aku masak ikan tongkol kesukaanmu,"

__ADS_1


"Heeemmm, sepertinya baunya enak sekali. Aku jadi lapar, ambilkan aku makan ya, Sayang," Satrio yang masuk kedalam kamar setelah membersihkan dirinya dan kemudian makan makanan yang sudah disediakan oleh istrinya.


"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari pintu.


"Wa'alaikumsalam, Papa," Ayunda membuka pintu dan lalu mencium tangan papanya.


"Siapa yang datang, Ay?" tanya Satrio dari arah ruang makan.


"Papa, Yank. Papa ayo masuk," ajak Ayunda menyuruh papanya masuk.


Satrio keluar dan kemudian mencium tangan papa mertuanya, Satrio duduk di samping papa mertuanya. Ayunda menyajikan kopi kesukaan papanya.


"Darimana, Pa?" tanya Satrio.


"Dari rumah teman papa," jawab papa mertuanya.


"Papa udah makan?" tanya Ayunda.


"Iya, Pa. Sudah makan belum, ada tongkol di balado," kata Satrio yang menawarkan papa mertuanya.


"Sudah, papa sudah makan, tadi dirumahnya teman," ujar papa mertuanya.


Satrio berbincang dengan papa mertuanya bersama Ayunda yang duduk disampingnya Satrio. Satrio bukan seorang menantu yang hebat dan kaya, tapi rasa hormatnya melebihi dirinya sendiri.


Hampir satu jam papa berbicara dan menceritakan tentang hidup dan bercerita tentang masa kecil papanya yang mengasikkan.


"Papa pulang dulu, nanti papa mampir lagi," kata papa yang tangannya di cium oleh putri dan menantunya.


"Ini, Pa. Buat papa jajan," Satrio yang memberikan satu lembar merah untuk papa mertuanya.


"Papa hati-hati ya,"


"Sampaikan salam untuk mama, Pa," kata Satrio dan papa mengangguk.


Satrio menatap punggung papa mertuanya yang sudah menjauh. Kemudian Satrio masuk dan melihat istrinya yang sedang merapikan kamar.


"Kamu cape, Sayang?" tanya Satrio yang berdiri di ambang pintu.


Ayunda menoleh ke arah Satrio dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Satrio memeluk tubuh kecil Ayunda dan mencium pucuk kepalanya, Satrio yang begitu menyayangi Ayunda merasa bersalah dengan apa yang dulu pernah dia lakukan.


"Maafkan aku yang selalu menyakitimu dulu," ujar Satrio yang mendekap tubuh Ayunda.


"Sudah aku maafkan, Sayang," jawab Ayunda yang menggenggam erat tangan Satrio.


"Aku banyak salah padamu, tapi kamu begitu sabar menghadapi segala kelakuanku,"


"Kita sama-sama belajar menjadi lebih baik lagi dan menjalani rumah tangga yang diridhoi Allah SWT,"

__ADS_1


__ADS_2