Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 47


__ADS_3

Ayunda berniat membalas Satrio yang sudah mengkhianatinya, entah kerasukan apa Ayunda yang ingin membalas pengkhianatan Satrio dengan pengkhianatan lagi. Ayunda akhirnya menerima Yogi, bisa dibayangkan Yogi sangat senang karena perjuangannya untuk mendapatkan Ayunda tak sia-sia. Ayunda diam-diam berhubungan dengan Yogi dengan belakang Satrio, dan Satrio tak mengetahui Ayunda yang bermain dibelakangnya, seperti Satrio yang bermain dibelakang Ayunda.


"Kamu berangkat naik motor aja," kata Satrio yang memakai kemejanya.


"Nanti ayang pake motor apa?" tanya Ayunda.


"Aku pakai vespa aja, mau ke rumah teman," jawab Satrio.


Ayunda hanya diam, dan sedikit curiga yang tak biasanya Satrio pergi kerumahnya temen pagi hari. Ayunda tak menjawab dia langsung mencium punggung tangan suaminya dan langsung berangkat menyalakan mesin motor matic hitam metalik. Kecewa, yah hati Ayunda kecewa pada Satrio yang sudah terlalu dalam menyakitinya.


Ayunda sampai ditempat kerjanya, dia langsung duduk di meja front office lalu kemudian dia melamun dan tiba-tiba airmatanya jatuh membasahi pipinya.


"Aaarggggghhh, kenapa harus jadi cengeng sih? Ayolah Yunda kamu kuat," Ayunda bermonolog menguatkan dirinya sendiri.


Ayunda menghapus pipinya yang basah karena air mata yang jatuh perlahan menetes di pipinya. Ayunda berusaha kuat walaupun hatinya terasa sakit atas pengkhianatan suaminya.


"Ayo, Yunda kamu harus semangat. Tuhan masih ada bersamamu. Fighting!" Ayunda mensupport dirinya dengan senyum lalu dia membuka laptop dan mulai mengerjakan beberapa laporan.


Tak lama kemudian Yogi datang dia menyandarkan tubuhnya di pintu sambil tersenyum melihat Ayunda sedang bergoyang goyang mengikuti irama musik, telinga Ayunda tertutup headset sehingga dia tidak tau Yogi sedang memperhatikan dirinya.


"Asik bener, sampai pacarnya datang gak tau," kata Yogi yang duduk di hadapan Ayunda.


Ayunda melepaskan headsetnya lalu tersenyum menatap Yogi. Ayunda masih mode bengong dan dia tak mendengar apa yang dikatakan Yogi.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Ayunda, sedangkan Yogi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Makanya, jangan pake headset jadi gak denger apa yang dikatakan," ujar Yogi. Ayunda mengerucutkan bibirnya dan Yogi tertawa gemas pada Ayunda yang seperti anak-anak.


"Naik motor?" tanya Yogi dan Ayunda mengangguk sambil menjejerkan giginya.


"Sudah makan?" tanyanya lagi.


" Belum," jawab Ayunda.


"Kenapa belum? Ini sudah jam berapa? Nih, aku beliin makan buat kamu," kata Yogi memberikan bungkusan.


"Wah, makasih. Kamu tau aja aku belum makan," jawab Ayunda.

__ADS_1


"Iyalah, aku kan pacar yang baik," ujar Yogi dengan jumawa.


"Apa? Pacar? Sejak kapan?" tanya Ayunda dengan terkekeh.


"Sejak waktu aku nyatakan perasaanku dan kemudian kamu menerimanya," kata Yogi.


"Iiih, narsis banget sih kamu. Emangnya kamu yakin aku menerimanya," ujar Ayunda.


"Aku harus yakinlah," jawab Yogi.


"Udah, ah. Kamu udah makan?" tanya Ayunda.


"Sudah, aku ingat pasti kamu belum makan. Kamu kan orangnya gak suka makan," jawab Yogi.


"Sok tau, kamu," ujar Ayunda, Yogi tersenyum melihat Ayunda.


"Sudah, makan. Aku mau berangkat kerja dulu ya," kata Yogi yang mengusap pucuk kepala Ayunda yang tertutup hijab.


"Arggghhhh, kamu kebiasaan deh," sahut Ayunda yang mengerucutkan bibirnya. Sementara Yogi tersenyum lalu meninggalkan Ayunda yang masih kesal dan merapikan hijabnya.


"Kebiasaan banget, sukanya ngacak-ngacak sudah rapi. Dasar gila!" cibir Ayunda yang memaki Yogi.


"Ya Tuhan, berikan yang terbaik untukku," pinta Ayunda dengan hati yang sakit.


Sabar ya Ayunda hanya bisa sabar, mungkin Tuhan sedang mengujinya, menguji cintanya tuk kesekian kali. Usia pernikahan Ayunda dan Satrio menginjak ke delapan tahun, kebahagiaan Ayunda dan Satrio yang banyak ujiannya.


Malam sudah larut, Ayunda menunggu Satrio sampai dia merasa lelah dan mengantuk. Tak terasa air mata Ayunda menetes membasahi pipinya. Ayunda menghapusnya dan kemudian ponselnya berbunyi dan Ayunda melihat Yogi memberikan pesan menanyakan apakah sudah makan atau belum.


"Orang lain aja perhatian, ini suami sendiri tak ada perhatiannya. Ck, dasar gak peka jadi suami tuh," gumam Ayunda.


Tak lama kemudian terdengar suara motor Satrio datang, Ayunda sengaja tidak menyambutnya datang dan dia pura-pura tidur.


Ayunda masih kesal hatinya pada Satrio yang tak peka sedikit pun, sedari pagi hingga malam Satrio tak sedikit pun memberikan pesan untuk sekedar bertanya apa atau bagaimana hari ini.


Satrio masuk ke kamar dan melihat istrinya sudah tertidur, Satrio mencium kening Ayunda dengan penuh kasih sayang. Ayunda merasa hatinya seketika mencair, hati yang kesal seketika hilang. Satrio sebenarnya sangat mencintai Ayunda, tapi selalu menyakitinya. Satrio keluar kamar dan dia mengambil makan sendiri, Ayunda membuka matanya ketika Satrio sudah keluar kamar.


"Maafkan Yunda ya, Yang. Ayunda, kecewa sama ayang," gumam Ayunda.

__ADS_1


Ayunda kembali tidur dan tak lama Satrio tidur disamping Ayunda, Satrio memeluk Ayunda yang membelakanginya. Satrio mencium pucuk kepala istrinya.


Pagi sudah tiba, Ayunda sudah siap dengan aktivitasnya sebagai seorang guru. Dia mulai suaminya masih tertidur, dan Ayunda langsung berangkat dan hanya menulis di kertas bahwa dirinya sudah menyiapkan makanan di meja makan. Ayunda menjalankan mesin motor maticnya dan langsung jalan menuju tempat aktivitasnya.


"Pagi anak-anak," sapa Ayunda pada anak didiknya.


Dengan senyum Ayunda mengajarkan mereka bermain sambil belajar dan bernyanyi. Sesaat Ayunda melupakan masalahnya dengan Satrio, Ayunda tak pernah cerita kepada siapapun. Dia memendam rasa sendiri, Ayunda hanya mengadu kepada pemilik hidupnya.


"Bu guru, Dennis mau beli mainan baru," kata siswa Ayunda yang mendekati Ayunda yang sedang melamun.


"Oh ya, dimana belinya?" tanya Ayunda yang membungkukkan kepalanya sejajar dengan Dennis.


"Sama mama dan papa," jawab Dennis dengan lucu dan menggemaskan membuat Ayunda tersenyum dan mengusap rambut Dennis yang ikal.


"Bu guru boleh ikut beli mainannya?" tanya Ayunda yang berpura-pura.


" Motornya gak muat, Bu guru. Nanti ibu guru naik motor sendiri aja, nanti ketemu di toko mainan, ya," kata Dennis membuat Ayunda terkekeh.


"Boleh, nanti ibu guru tunggu di toko mainan ya. Dennis," jawab Ayunda yang merasa lucu dengan obrolannya dengan Dennis.


Ayunda merasa terhibur dengan Dennis yang aktif dan humble dengan teman juga guru. Ayunda juga merasa terhibur dengan anak-anak yang memang tak memiliki beban atau masalah seperti orang dewasa.


"Bu guru, nanti pulang sama siapa?" tanya Galuh murid Ayunda lagi.


"Ibu guru naik motor, Sayang. Kenapa, mau ibu guru antar pulangnya?" tanya Ayunda dengan senyuman.


"Nggak, kalo ibu guru gak naik motor nanti Galih antar ibu guru," jawab Galih.


"Ya ampun, kamu baik sekali. Terimakasih, ya. Ibu guru bawa motor sendiri," kata Ayunda tersenyum.


Hai... Reader jangan lupa like, vote, hadiah juga komentarnya ya...biar author semangat menyelesaikan kisah Ayunda dan Satrio....


*****


Sambil menunggu Author up bab selanjutnya...


mampir yuk di karya author yang kece badai nih.... Ceritanya oke dan seru lagi pasti gak bikin bosen deh...

__ADS_1



__ADS_2