
Ayunda dan Yogi menjalin hubungan di belakang Satrio, Ayunda yang akan membalas pengkhianatan Satrio yang kesekian kalinya. Ayunda yang menganggap Yogi adalah sebuah pembalasan pada Satrio. Sudah enam bulan Ayunda dan Yogi berhubungan dan Ayunda akan siap menerima konsekuensinya jika Satrio mengetahui hubungannya dengan Yogi, toh Satrio juga sudah berkhianat entah keberapa kalinya.
Sore itu Ayunda turun dari angkutan umum, dia tidak dijemput Satrio. Ditengah jalan Ayunda asik bermain ponsel saling bertukar pesan pada Yogi, tak tahu bahwa didepan ada Satrio yang sudah menunggunya.
"Kamu smsan sama siapa?" tanya Satrio dengan wajah yang marah.
"Ah," Ayunda kaget melihat Satrio yang sudah ada didepan dan langsung mengambil ponselnya dan membaca seluruh isi pesan dari Yogi.
Satrio hanya diam dan langsung menyuruh temannya pulang, kebetulan ada temannya yang datang sedang membahas rencana proyek outdoor.
"Katakan padaku siapa ini!" seru Satrio yang menunjukkan ponsel pada Ayunda. Ayunda hanya diam sambil menangis.
Prak...Prak...
Ponsel yang baru saja di beli Satrio pas ulang tahun Ayunda di kini patah berserakan kemana-mana. Ayunda terhenyak kaget lalu Satrio mencengkram dagu Ayunda.
"Jawab! Siapa dia?"
"Ampun, Aa. Bukan siapa-siapa, dia cuma teman Yunda," jawab Ayunda sambil meringis dan menangis.
Satrio menghempaskan tubuh Ayunda diatas ranjang, lalu mengambil laptop yang ada di tas Ayunda.
Prak...Prak...
laptop pun menjadi amukan Satrio sore itu, Ayunda berusaha memohon ampun pada Satrio namun sia-sia. Satrio bagai singa yang sedang bertarung matanya menyorot merah melotot pada Ayunda yang ketakutan melihat suaminya marah.
"Kurang apa aku ini? Semua kebutuhanmu selalu aku penuhi, kamu minta ponsel aku belikan, minta laptop aku belikan. Apa ini balasan kamu, hah!"
"Bukan itu yang aku butuhkan dari Aa, aku butuh cinta dan kasih sayang dari Aa, kemana Aa kemarin aku hampir terjatuh dari motor, dimana Aa saat aku terbaring sakit? Aa sibuk dengan selingkuhan baru Aa, apa hanya Aa yang boleh berselingkuh sedangkan aku tidak boleh." Ayunda mulai membuka suaranya sambil menangis Ayunda memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Satrio terdiam memandang Ayunda yang duduk dipojok ranjang sambil menangis. Satrio yang tahu dirinyalah yang menyebabkan istrinya bermain dengan laki-laki lain ternyata tak ingin mengakuinya.
"Siapa laki-laki itu? Jawab!" teriak Satrio yang melempar ponsel yang sudah berantakan kearah Ayunda. Ayunda terhentak kaget dan melihat ponsel itu sudah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Jawab, Yunda. Siapa laki-laki yang membuat kamu jadi berani padaku!"
"Yunda sama dia gak pernah ketemu dan ketemu hanya ditempat kursus itu saja," jawab Ayunda.
"Apa yang dia kasih buat kamu? Sudah sampai mana hubungan kalian, apa di sudah menyentuhmu?" tanya Satrio dengan berderai air mata dan dengan wajah yang merah padam.
"Kami tidak pernah melakukan apapun, A," jawab Ayunda sambil menangis.
"Kamu itu seorang perempuan dan istri, tak pantas jika kamu berselingkuh."
"Jadi hanya laki-laki yang boleh berselingkuh? Apa Aa tidak sadar Yunda seperti ini karena siapa? Karena Aa, Yunda seperti ini," ujar Ayunda.
"Berani kamu saya Aa!"
Satrio mendekat Ayunda dan siap melayangkan tangannya tapi dengan sigap Ayunda menepis tangan itu lalu Satrio mendorong Ayunda hingga dia terjatuh terjungkal diatas ranjang. Satrio memukul tembok dengan keras hingga tangannya berdarah sambil menangis.
"Sekarang bawa aku bertemu dengannya, cepat!"
"Bagaimana aku menghubunginya, sedangkan ponselku rusak," kata Ayunda yang meringis kesakitan.
Ayunda langsung menekan no ponsel Yogi dan berusaha mengingatnya. Ayunda menatap bola mata Satrio yang penuh kemarahan dan dengan tajam menatap Ayunda.
Tuuuuttt....Tuuuuttt...
"Halo..." Sapa Yogi dari kejauhan.
"Hai, ini aku Yunda. Bisa kita ketemu, ada hal yang ingin aku bicarakan," kata Ayunda.
"Kamu ketahuan ya sama suami kamu?" tanya Yogi yang sudah mempunyai firasat .
"Iya, bisa kita selesaikan masalah ini baik-baik," ujar Ayunda dengan lirih.
"Dimana?" tanya Yogi yang merasa kasihan pada Ayunda.
__ADS_1
"Di dekat minimarket dekat cafe Cyrus," jawab Ayunda lalu Satrio mematikan ponselnya dan langsung menyimpannya di nakas.
"Bagaimana? Dimana kalian akan bertemu?" tanya Satrio dengan nada yang marah.
"Di dekat minimarket dekat cafe Cyrus," jawab Ayunda yang menundukkan kepalanya.
Ayunda terdiam menahan tangisnya dan rasa sesalnya, Ayunda pasrah apa yang terjadi dengan nasibnya dan rumah tangganya. Apapun keputusan Satrio Ayunda akan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada, bagaimanapun juga Ayunda bersalah dan siap menanggung resiko semua ini.
Satrio menyalakan mesin motornya dan Ayunda duduk dan belakang dengan wajah yang masih menyimpan sedih dan ingin segera menyelesaikan masalah ini.
"Nanti aku tunggu di depan mini market dan kamu jangan sampai lari," ucap Satrio.
"Iya," jawab Ayunda dengan lemas dan rasanya tak sanggup lagi berani menatap wajah Satrio yang penuh dengan amarah.
Ayunda dan Satrio sudah sampai di depan minimarket dekat cafe Cyrus. Satrio berdiri menjauhi Ayunda yang sedang menunggu Yogi dipinggir jalan, Ayunda menatap jalanan yang begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dari kejauhan Satrio mengawasi Ayunda dan setiap orang yang datang mendekati Ayunda.
Tak lama Yogi datang dan menghampiri Ayunda yang sedang berdiri di pinggir jalan. Dari jauh Satrio datang menghampiri Yogi dan mereka langsung ketempat yang jauh, Ayunda merasa khawatir mereka akan berkelahi. Satrio yang terlihat penuh dengan amarah menatap tajam Yogi.
Setelah selesai perdebatan mereka, Satrio langsung menarik Ayunda pulang dan sesampainya dirumah Satrio langsung memukul tembok dengan keras dan menangis.
"Aa maafkan Ayunda," kata Ayunda menarik tangan Satrio. Kemudian Satrio mendorong Ayunda hingga Ayunda terjatuh di atas ember berisikan air.
"Kamu keterlaluan, Yunda." Satrio dengan marah.
"Maaf, Ayunda khilaf. Sekarang Ayunda pasrah apa yang akan Aa inginkan silahkan Ayunda terima," kata Ayunda.
"Kamu akan aku antarkan pulang kerumah orang tua kamu, sekarang mana buku nikah juga kartu keluarga?" tanya Satrio.
Kemudian Ayunda mengambil buku nikah serta kartu keluarga lalu dia serahkan pada Satrio dan Ayunda langsung membereskan bajunya dan dia masukkan kedalam tasnya. Dengan rasa hancur Ayunda menerima apapun keputusan Satrio, Ayunda memang bersalah pada Satrio tapi apakah Satrio juga tidak pernah merasa bersalah? Itu yang selalu ada di dalam benak Ayunda.
"Besok pagi aku antar kamu kerumah orang tuamu, dan aku akan mengurus perpisahan kita," kata Satrio yang langsung berbaring dan dengan menghadap ke tembok membelakangi Ayunda.
"Iya," jawab Ayunda dengan lirih.
__ADS_1
"Maafkan Ayunda, Aa. Ayunda tak bermaksud menyakiti Aa, Ayunda khilaf dan apapun. keputusan Aa semoga yang terbaik untuk kita berdua," gumam Ayunda yang meneteskan air mata sambil memandangi seluruh isi ruangan kamarnya yang penuh suka cita.