
Beberapa hari kemudian Ayunda sedikit curiga dengan sikap dan tingkah Satrio yang tak biasa, apakah ini hanya perasaan biasa atau Ayunda takut jika Satrio berselingkuh kembali. Pagi itu Ayunda penasaran dengan rasa di hatinya, setelah meminta petunjuk kepada sang pencipta Ayunda memberanikan diri membuka ponsel suaminya. Kebetulan Satrio tak pernah memberi password pada ponselnya.
"Bismillah, ya Allah semoga kecurigaanku tak benar," gumam Ayunda membuka ponsel suaminya.
Ayunda membuka beberapa pesan dan dia membaca satu pesan di kotak keluar, karena pesan di kotak masuk sudah di hapus semua. Betapa kagetnya Ayunda saat membaca isi kotak keluar tersebut.
"Oh, jadi kamu seperti ini lagi, Yang. Oke baiklah aku pastikan kamu akan merasakan sakit yang sama seperti aku," kata Ayunda yang menahan rasa sesak di dadanya dan menahan agar tidak meneteskan airmata.
Pagi ini Ayunda bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi, Ayunda berangkat di antar Satrio dan Satrio pun tak pernah memperlakukan Ayunda dengan kasar. Rupanya Satrio memainkan peran sangat baik sekali.
Ayunda sudah sampai di tempat biasa dia mengajar, dia masih memikirkan suaminya yang tak pernah berubah masih saja seperti itu. Tiba-tiba ponsel Ayunda berbunyi menandakan pesan masuk dan Ayunda membukanya ternyata dari Yogi yang menanyakan bagaimana kabarnya.
"Hai, bagaimana kabarmu? Aku sekarang ada di kota J mengantar ayahku," kata Yogi.
"Sampai kapan? Berapa hari maksudnya?" tanya Ayunda yang membalas isi pesan itu.
"Kenapa? Kangen ya?" tanya Yogi balik.
"Siapa kangen kamu? Gak salah kamu yang kangen aku," kata Ayunda.
"Iya, sih aku yang kangen kamu. Aku hampir ingin mati karena kamu menolak cintaku," kata Yogi.
"Ish, apaan sih. Masa harus mati karena aku nolak kamu," jawab Ayunda.
Sebenarnya Ayunda tak menyukai Yogi hanya saja perlakuan Satrio membuat ingin balas dendam. Ayunda bertekad akan berselingkuh juga dari suaminya, agar Satrio tahu rasanya sakit di khianati.
Ayunda dan Yogi saling membalas pesan dan Ayunda terlihat bahagia dengan kata-kata Yogi yang cukup menghibur dari kesedihannya. Yogi bukan seperti laki-laki lain yang suka menggombal atau merayu wanita karena dia tak suka hal yang berbau romantis, sama seperti suaminya Satrio yang tak sedikitpun bersikap romantis.
Setelah membalas pesan Yogi, Ayunda mengulas senyum. Ah, perlakuan Yogi yang begitu membuat dirinya berbunga-bunga hatinya. Ayunda tak menyangka dirinya tergoda oleh laki-laki yang seharusnya menjadi adiknya.
"Kenapa, senyum-senyum sendiri?" tanya Nico.
"Ih, kepo deh kamu," jawab Ayunda yang menjulurkan lidahnya.
"Dasar Minion," ledek Nico yang berdiri di belakang Ayunda.
"Dasar kodok lompat," balas Ayunda yang meledek Nico balik.
Nico dan Ayunda memang seperti Tom dan Jerry terkadang mereka akur dan terkadang mereka ribut saling meledek. Ayunda sudah menganggapnya sebagai adik, sahabat dan guru bagi Ayunda. Nico yang banyak mengajarkan gambar dan mewarnai pada Ayunda.
__ADS_1
"Teh, tau kan film Minions?" tanya Nico.
"Tau, emangnya kenapa?"
"Kan mirip teteh, kecil pisan," ledek Nico sambil tertawa.
"Nicooooo!!!" teriak Ayunda yang memukul lengan Nico.
Nico langsung kabur melarikan diri mendengar singa betina yang sedang mengaum. Sementara Nico tertawa terbahak-bahak menjulurkan lidahnya, Ayunda melempar pensil kearah Nico.
"Dasar kodok jelek!" ledek Ayunda.
Ayunda merasa senang padahal hatinya sedang merasakan sakit karena suaminya dan bahagia karena Yogi yang menyatakan perasaannya. Ayunda ingin membalas perbuatan Satrio, entah apa yang ada dipikiran Ayunda yang tiba-tiba terbersit ingin membalas Satrio dengan selikuh lagi.
Malam hari Satrio hanya diam di rumah, Ayunda menyiapkan makan malam sederhana kesukaan suaminya Satrio. Ayunda telah selesai memasak makan malam untuk suaminya, lalu dia duduk disamping Satrio yang sedang menonton film K-movie di salah satu tv swasta.
"Yang, mau makan itu udah matang," kata Ayunda.
"Boleh, nasinya jangan banyak-banyak," jawab Satrio mengusap punggung Ayunda.
"Sebentar, ya," ujar Ayunda yang kemudian berjalan ke belakang menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Ini kamu yang buat?" tanya Satrio yang mecocol sambal dan tempe hangat.
"Gak enak ya," kata Ayunda yang mengerutkan dahinya.
"Hmmmm, enak kok," jawab Satrio tersenyum.
"Soalnya, Yunda gak pake penyedap rasa cuma garam dan gula doang," jawab Ayunda.
"Pas rasanya, aku suka. Besok kalo bikin sambal begini ya, enak," ujar Satrio yang melahap habis nasi juga sambalnya.
Ayunda merasa senang melihat suaminya makan dengan lahap, Ayunda pun makan sedikit agar malam nanti dia tidak merasa lapar. Satrio makan habis semua masakan istrinya yang merasa lezat dan enak, Satrio memang tidak suka masakan luar karena banyak mengandung penyedap rasa. Ayunda yang awalnya tak bisa masak kini dia lebih menyukai masak.
Hari ini Ayunda begitu bahagia karena suaminya berada di rumah mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang editing dan Ayunda menemani Satrio selalu di sampingnya. Dari pagi hari libur, Ayunda menemani suaminya di samping komputer. Satrio makan pun disuapi oleh Ayunda, Ayunda pun senang bisa menemani suaminya yang manja dan selalu minta di temani. Ayunda melupakan isi pesan yang berada di ponsel Satrio, dan Ayunda berharap kebahagiaan hari ini seterusnya.
"Sayang, nanti malam jalan-jalan yuk?" ajak Satrio.
"Kemana?" tanya Ayunda.
__ADS_1
"Nongkrong di distro Bani," jawab Satrio.
"Boleh, jam berapa? Habis maghrib, Ay," kata Ayunda.
"Iyalah, terus nanti kamu nyobain mie ayam pakde di samping distro. Enak tau, Yang," ujar Satrio.
"Iya, emang,"
"Gak percaya, cobain ya," kata Satrio. Ayunda mengangguk sambil tersenyum.
Malam ini begitu hangat untuk Ayunda, keduanya saling mengisi kehangatan di malam yang dingin. Sejenak Ayunda melupakan seseorang yang sudah membuat hatinya hancur, Ayunda tahu Satrio menyayangi dirinya, namun hati Ayunda masih sakit ketika membaca isi pesan yang ada di ponsel Satrio.
"Sayang, hari ini naik angkot saja ya, aku buru-buru," kata Satrio ketika pagi hari dia harus pergi bekerja.
Satrio seorang photografer yang sekali menang tender bisa besar keuntungannya, Satrio sangat menyayangi Ayunda meski tak lewat kata-kata.
"Iya, nanti pulang Yunda naik angkot juga," jawabnya.
"Aku berangkat, sudah siang," ujarnya.
" Hati-hati dijalan," kata Ayunda mencium punggung tangan suaminya.
Setelah mengantar suaminya berangkat, Ayunda siap-siap untuk berangkat mengajar, Ayunda begitu semangat entah karena apa yang pasti Ayunda sangat bersemangat pagi ini.
Dalam perjalanan, Ayunda mendapatkan pesan dari Yogi yang menanyakan kabarnya.
"Hai, kemana aja kok seharian gak ada kabarnya?" tanya Yogi dalam isi pesannya.
"Emang kamu siapa, tanya keadaan aku," jawab Ayunda.
"Aku kan calon pacar kamu," kata Yogi.
"Hah. Calon pacar? Gak salah dengar aku ini?" tanya Ayunda.
"Tunggu saja, kamu pasti akan jadi pacar aku,"
"Sampai lebaran monyet juga aku itu gak akan jadi pacar kamu, sadar diri aku sudah punya suami. Ingat SUAMI!"
Ayunda mengakhiri membalas pesan dari Yogi, dia tidak ingin membalas Satrio yang berselingkuh. Karena Ayunda belum menemukan bukti bahwa Satrio berselingkuh dan hubungannya dengan suaminya sedang baik-baik saja.
__ADS_1