
Satrio dan Ayunda menikmati makan malam berdua di sebuah warung makan favorit mereka berdua, Ayunda sesekali menatap di sekeliling banyak sekali pengunjung di warung makan tersebut. Satrio tersenyum sambil bermain ponselnya.
Tring
Ponsel Ayunda berbunyi tanda pesan masuk dan benar itu pesan dari Yogi yang menanyakan sedang apa pada Ayunda. Ayunda buru-buru menghapus tanpa membalasnya terlebih dahulu. Satrio menatap aneh pada istrinya yang terlihat seperti sembunyikan sesuatu.
"Kenapa?"
"Ah, apa?" Ayunda mendadak seperti orang kebingungan.
"Kamu, kenapa?" tanya Satrio
"Ah, tidak ada apa-apa," jawab Ayunda dengan gugup, " sebentar Yunda mau kebelakang,"
Ayunda pergi meninggalkan Satrio pergi ke toilet dan Satrio hanya merasa aneh ada apa dengan istrinya itu, tampak wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Dikamar mandi perempuan, Ayunda mencoba menetralisirkan jantungnya yang berdegup kencang karena hampir saja ketahuan oleh Satrio ketika Yogi mengirimkannya pesan.
Ayunda langsung menghapus beberapa pesan yang Yogi kirimkan pada Ayunda. Ayunda takut nantinya Satrio akan tahu dia tengah berselingkuh dengan laki-laki lain. Ayunda keluar dari kamar mandi dan merapikan rambut juga pakaiannya.
Satrio menatap Ayunda yang duduk di hadapannya, " lama sekali kamu di toilet, kamu sedang apa di belakang?"
Ayunda hanya tersenyum dan merasakan detak jantungnya yang tak karuan ketika Satrio bertanya dengan pertanyaan yang tak mungkin di jawab Ayunda.
"Hei, ditanya malah senyum-senyum," ujar Satrio yang menatap sang istri, dan Ayunda hanya tersenyum.
Tak lama kemudian datang pesanan mereka lalu mereka menikmati makanan yang dipesan. Ayunda tersenyum melihat suaminya kepedasan memakan sambal yang menjadi favorit mereka berdua yaitu sambal cumi.
Setelah selesai makan, mereka pulang dan seperti biasa Satrio pergi keluar sendiri. Sebenarnya Ayunda sudah memiliki perasaan bahwa Satrio sedang selingkuh namun Ayunda tak menghiraukannya, dia ingin mengikuti permainan suaminya sampai dimana dia akan seperti itu. Ayunda hanya bisa menarik nafas panjang ketika melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan semakin larut.
"Kalau sudah main pasti lupa waktu," gumam Ayunda yang masih menonton drakor favoritnya.
Tak lama kemudian terdengar suara deru motor Satrio, Ayunda Lang mematikan televisi dan menghampiri Satrio di garasi motor. Ayunda menyambut sang suami dengan senyum walaupun sebenarnya hatinya kesal.
__ADS_1
"Hai, belum tidur?" tanya Satrio mencium kening Ayunda dan Ayunda menggelengkan kepalanya.
"Pasti gak bisa tidur kalo belum pegangan ayang ya," kata Satrio terkekeh.
Memang benar, Ayunda tak bisa tidur jika tidak memegang lengan suaminya. Ayunda sebenarnya manja tapi Satrio tak pernah memanjakannya, justru Satrio mengajarkan Ayunda kuat dan juga tidak cengeng. Ayunda menjadi sosok yang kuat dan tak cengeng.
"Sudah kita tidur, yuk," ajak Satrio dan Ayunda mengangguk.
Lalu keduanya merebahkan tubuhnya di atas spring bed dan Ayunda memegang lengan Satrio. Ayunda memang tidak bisa tidur tanpa harus memegang lengan Satrio, terkadang jika Satrio tidak ada atau belum pulang Ayunda tidak akan tidur.
"Ayang, hari ini gak ada kerjaan jadi kamu berangkat sendiri ya," kata Satrio yang sudah bangun lalu mulai duduk di depan komputernya.
"Gak bisa antar aku gitu, Yank," ujar Ayunda.
"Banyak kerjaan di komputer, Sayang," jawab Satrio.
"Ya sudah deh, Ayunda siap-siap dulu," kata Ayunda dengan sedih.
Hati ingin suaminya mengantarkan dirinya bekerja namun apa daya Satrio terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jika tidak dengan pekerjaannya dia sibuk dengan teman dan selingkuhannya.
Ayunda telah sampai di tempat dia bekerja, bertemu anak-anak usia dini membuat rasa gundah di hatinya hilang terhibur oleh anak-anak yang ceria membuat Ayunda melupakan masalahnya.
"Ibu guru, besok kita jalan-jalan berenang ya , Bu?" tanya Chika murid Ayunda yang terkenal sedikit cerewet.
"Iya, Sayang. Chika mau ikut?" tanya Ayunda balik.
"Ikut dong, Bu. Nanti Chika sama ayah dan bunda juga adek,' jawab Chika dengan memberikan gigi ompongnya.
"Wah, ayah bunda ikut sama adek juga," ujar Ayunda yang tersenyum melihat Chika.
"Iya bu guru, kata bunda kalau Chika rajin sekolah nanti ikut berenang sama ibu guru," kata Chika.
__ADS_1
"Iya dong, Chika harus rajin sekolah biar nanti ikut berenang," ujar Ayunda.
"Bu guru masuk belum?" tanya Fandi yang datang dari pintu samping.
"Kita masuk, yuk," ajak Ayunda yang membereskan mejanya.
"Masuk!!!" teriak salah satu orang murid memberitahu bahwa masuk dan siap untuk belajar lagi.
Ayunda mulai mengajar kembali setelah istirahat 15 menit, semua anak-anak semua mengikuti Ayunda berdo'a dan membaca kalimat yang Ayunda tulis di papan tulis. Sudah hampir satu setengah jam Ayunda mengajar kemudian sekolah selesai, berdo'a dan bersalaman dengan guru anak-anak pulang. Ayunda kembali mengajar ke tempat les gambar dan disana Ayunda akan mengajar gambar.
"Udah datang, Bu?" tanya teh Ufi selaku owner tempat les tersebut dengan senyuman yang menyambut Ayunda.
"Iya, Teh. Mba Lia belum datang, Teh?" tanya Ayunda balik yang menyimpan tasnya di loker kerjanya.
"Belum, Bu. Biasanya jam dua belas datangnya man Lia mah," jawab teh Ufi.
"Sekarang mah mba Lia ngajar juga, teh," kata Ayunda.
"Iya, alhamdulilah bisa berkembang dan tak selamanya du tempat les ini aja," ujar teh Ufi.
"Oia, Teh. Maaf aku mau tanya, katanya akan pindah tempatnya bukan disini lagi?" tanya Ayunda yang penasaran.
"Iya benar, Bu. Disini katanya gak dikontrakkan lagi," jawab teh Ufi.
"Rencananya pindah kemana, Teh?" Ayunda bertanya lagi,
"Di jalan perum aja, Bu. Biar jadi satu tempatnya dan mulai lusa kita beres-beres, " kata Teh Ufi.
"Berarti tidak ada yang belajar, Teh,?"
"Sementara kita libur dulu, Bu. Semoga disana banyak rezekinya dan banyak muridnya," ucap teh Ufi yang sekalian berdo'a agar tempat lesnya kembali banyak muridnya.
__ADS_1
"Aamiin," sahut Ayunda. Ayunda ikut bergabung dengan tempat les gambar sampai sekarang mereka masih bergabung dan nanti pindah Ayunda pun akan ikut.
Teh Ufi memang owner yang tidak banyak nuntut atau mengatur para karyawannya, dan tak pernah memarahi karyawan jika para karyawannya telat mereka sudah menganggapnya seperti keluarga besar dan tidak ada batas antara karyawan dan owner.