Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 17


__ADS_3

Pernikahan Ayunda dan Satrio menginjak tahun ke 2, tak ada perayaan istimewa hanya makan berdua seperti biasanya. Ayunda dan Satrio pun membuka usaha sebuah Conter pulsa kecil-kecilan. Setiap pagi Ayunda diantar Satrio ke rumah mamanya, karena Conter pulsanya di depan rumah mamanya.


Tak ada yang mencurigakan dari sikap Satrio setiap hari. Hingga suatu hari entah kenapa perasaan Ayunda merasa tak enak setiap melihat suaminya seperti menyembunyikan sesuatu.


Terkadang Satrio di ruang komputer sedang mengedit foto hingga larut malam sambil memainkan ponselnya (tahun 2008 ponsel yang author punya itu Nokia jadul yang ada antenanya, reader)


Ayunda sedikit curiga, dia selalu berdo'a di berikan petunjuk apa yang terjadi pada suaminya. Ponsel Satrio selalu di sembunyikan, sehingga Ayunda sulit mencarinya.


Hari jum'at siang kebetulan Satrio sedang melaksanakan sholat jum'at dan Satrio melupakan ponselnya yang tersimpan di etalase. Ayunda dengan berani menyalakan ponsel tersebut dan bagai di sambar petir di siang hari ada pesan masuk yang tertulis nama 'ayang'. Lalu Ayunda membukanya sungguh Ayunda tak dapat menahan rasa sakit di hatinya.


"Yank, isi pulsa dong. " Isi pesan tersebut.


Sungguh Ayunda tak percaya suaminya selingkuh di belakangnya dan rasanya sakit seperti tertusuk ribuan pedang tajam.


Satrio pulang selesai sholat jum'at, dan Ayunda pura-pura tidak mengetahuinya. Namun rasa sakit di hatinya tak tertahan, Ayunda meneteskan airmata ketika melihat Satrio masuk ke kamar dan terdengar oleh Ayunda Satrio sedang menelepon.


Sungguh hati Ayunda tercabik menahan sakit yang begitu sakit. Kemudian Ayunda melihat Satrio terlelap dan ponselnya entah di simpan dimana.


"Ya Alloh kuatkan aku. " Gumam Ayunda dengan lirih.


Ayunda menghapus air matanya yang tak sanggup dia bendung lagi. Dulu ketika masih pacaran Satrio tidak pernah selingkuh, tapi kenapa setelah menikah Satrio tega bermain api di belakang Ayunda. Ayunda menahan tangisnya.


Malam harinya Ayunda hanya diam melihat gerak gerik Satrio yang tak biasa, Satrio pergi setelah maghrib. Ayunda berharap Satrio ingat perjuangan cinta mereka untuk mendapatkan restu kedua orang tua.


Namun sepertinya sia-sia, Satrio sedang di landa cinta. Ayunda membereskan conterny karena sudah malam dan akan tutup. Kemudian Ayunda mendengar suara ponsel Satrio berdering lalu setelah itu Satrio pergi tanpa pamit pada Ayunda.


Ayunda hanya menghela nafas panjang, rasa sakitnya sungguh tak sanggup lagi


Seperti terbakar dan tertusuk ribuan duri.


"Ya Alloh kuatkan hambamu ini. " Gumam Ayunda.


Beberpa jam kemudian Satrio datang dan melihat conter Ayunda sudah di tutup. Ayunda yang duduk sambil menunggu Satrio masih meneteskan air mata.


"Ayo kita pulang. " Kata Satrio.


Ayunda melangkahkan kakinya lalu duduk di belakang Satrio dengan mata yang terus meneteskan airmata.

__ADS_1


"A, Ayang mau tanya sesuatu sama Aa. " Kata Ayunda di tengah perjalanannya di motor.


"Apa? " Tanya Satrio.


"Siapa perempatan yang mengirim pesan diponsel Aa. Yank isi pulsa. " Tanya Ayunda sambil menangis.


"Siapa? " Ayunda dengan tegas.


Satrio hanya diam, dia tau sudah menyakiti istrinya. Dia memilih diam sambil fokus menyetir motor.


"Tadi ketika ada telepon Aa langsung pergi, hah. Kenapa Aa tega membohongi aku. " Kata Ayunda.


Sesampainya dirumah Satrio masih diam dan Ayunda masuk ke kamar dengan hati yang begitu sesak. Ayunda menangis di dalam kamar dia memeluk bantal dan tertidur.


Satrio masih dengan diamnya, lalu dia melihat istrinya tertidur lalu Satrio tidur disampingnya dan memeluk Ayunda dari belakang.


"Maafkan aku mungkin aku sudah menyakitimu, Ayunda. " Kata Satrio yang mencium kening Ayunda. Lalu Satrio ikut terlelap tidur bersama Ayunda.


Keesokan harinya sikap Ayunda biasa saja, seperti biasa mereka berdua bersiap siap berangkat membuka conter.


"Hmmm. " Ayunda tak menjawabnya. Lalu Ayunda mencium tangan suaminya setelah sampai di Conter.


Hati Ayunda merasa perih dan pikirannya gak karuan. Dia melihat suaminya yang sudah menjauh dari hadapannya.


"Apa Aa akan menemui perempuan itu? Ya Alloh kuatkan aku. " Kata Ayunda dengan lirih.


Malam hari Satrio datang dan dia melihat Ayunda sedang asik ngobrol desa teman-temannya sambil main gitar. Geri, Kalif, Danu, Ayunda melalui motor Satrio di parkir di samping conter. Ayunda menghampiri Satrio dan langsung masuk ke dalam


"Malam ini kita tidur di sini ya, Yank. " Kata Satrio.


"Iya. " Jawab Ayunda datar.


Entah mengapa meski rasanya sakit, Ayunda tak bisa membenci Satrio. Ingin Rasanya Ayunda tahu siapa perempuan yang sudah merusak rumah tangganya.


Ayunda masih ingat perjuangan mendapatkan restu dari kedua orang tua Satrio dan Ayunda sendiri. Mengingat masa-masa saat sulit ketika harus jualan jambu merah di pinggir jalan, sholat dan tidur di emperan. Ayunda mengetes air mata mengingat itu semua.


"Aa udah makan? " Tanya Ayunda yang duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Kamu lapar? Kita beli ayam goreng yang biasa kita beli. " Kata Satrio.


"Hmmm... Boleh. Aa mau apa? "


"Ati ampela, tempe sama tahu aja, Yank. " Kata Satrio. Ayunda tersenyum bisa melayani suaminya.


"Baiklah Ayunda pergi dulu ya, Yank. " Ujar Ayunda yang mengambil kunci motor dan uang lalu pergi meninggalkan Satrio.


Ayunda menarik nafas panjang dia begitu mencintaimu Satrio, namun apakah Satrio mencintainya? Pertanyaan itu selalu muncul di pikiran Ayunda. Kalo Satrio mencintainya gak mungkin dia selingkuh dan menduakan cinta Ayunda.


"Hah... " Ayunda menghembuskan nafas kasar ke udara sambil menunggu pesanan datang.


"Besok aku akan mencatat no ponselnya, nanti aku akan memberitahu dia kalo dia sudah merusak rumah tanggaku. " Batin Ayunda yang melamun di warung makan itu.


Setelah selasai Ayunda kembali kw Conter dan makan bersama suaminya. Ada rasa bahagia di hati Ayunda melihat kebersamaannya dengan sang suami. Sungguh nikmat yang harus selalu Ayunda syukuri.


"Yank, nanti malam kita... " Kata Satrio menaik turunkan alisnya.


"Iya sayangku, nanti habis ini aku siap-siap suamiku. " Ujar Ayunda tersenyum manis.


Cup


Satrio mencium kening Ayunda sangat lama. Ayunda pun bisa merasakan cinta Satrio yang dalam pada Ayunda.


" Sudah selesaikan makannya, A. Ayang mau ke belakang dulu. " Kata Ayunda yang membawa piring bekas makan ke dapur rumah mamanya.


"Semoga Alloh senantiasa melindungi suamiku. " Batin Ayunda.


Setelah selesai Ayunda dan Satrio menutup conter mereka saling bahu membahu. Lalu setelah semua sudah di bereskan Satrio dan Ayunda melakukan hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri.


Malam panjang mereka berada di conter yang tidak terlalu mewah, dindingnya hanya gribig.


Walaupun hatinya menahan sakit dan sesak, Ayunda sebagai seorang istri berhak pada suami dan berkewajiban melayani sang suami.


Entah mengapa rasanya masih sakit. Apa salah Ayunda sehidup Satrio berselingkuh? Seperti apa wajah perempuan itu? Apakah lebih cantik dari dirinya.


"Hufft... " Ayunda masih terjaga setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Ayunda terus memikirkan kenapa Satrio tega paan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2