
Hubungan Ayunda dan Satrio semakin dekat. Sehingga Ayunda tak ada waktu buat main bersama sahabatnya. Satrio sudah berani mengajak Ayunda kerumahnya. Satrio pun sudah mulai berani mencium bibir Ayunda yang baru pertama di sentuh oleh laki-laki. Ayunda hanya menerima setiap sentuhan Satrio.
Pagi itu seperti biasa Ayunda bantuin mama yang beres-beres rumah serta menjemur pakaian. Kemudian telepon berdering dan kakaknya Ayunda yang mengangkat.
"Ayunda telepon, nih. " Teriak sang kakak.
"Iya sebentar, siapa sih yang telepon. " Gerutu Ayunda.
"Hallo... Assalamu'alaikum. " Sapa Ayunda.
"Hallo... Wa'alaikumsalam, hei ini aku Rio. " Sapa cowok yang selalu Ayunda rindu setiap hari.
"Rio, ada apa? " Tanya Ayunda yang senyum-senyum kecil.
"Siang ini kamu ada acara gak? " Tanya Satrio.
"Hmmm.. Gak. Kebetulan hari minggu ini aku lagi pengen di rumah aja. Kenapa? " Ayunda balik tanya.
"Aku mau ngajak nonton band, sekalian aku kenalin kamu sama teman-teman aku. " Kata Rio.
"Boleh jam berapa? " Tanya nya lagi.
" Aku jemput jam 10 ya, tapi kita berangkatnya naik angkot aja. Gak apa kan naek angkot? "
"Iya gak apa kok. " Jawab Ayunda dengan senyuman.
"Ya sudah nanti aku kerumah kamu. " Kata Satrio yang menutup telepon dan keluar dari bilik wartel.
( zaman dulu belum ada HP ya reader,, zaman dulu pake wartel dan telepon umum yang ada di pinggir jalan ☺)
Ayunda menutup teleponnya dan melanjutkan pekerjaannya. Lalu Ayunda mencoba meminta izin pada mamanya kalo dia akan pergi siang ini.
"Ma, Ayunda mau pergi keluar ya sama Rio. " Kata Ayunda yang merebahkan tubuhnya di samping mamanya.
"Emang mau kemana? Pulangnya jangan malam-malam. " Kata Mama yang membalikkan tubuhnya menghadap Ayunda.
"Nonton band, ma. " Ujar Ayunda.
__ADS_1
"Sore pulang kok, ma. Ayunda gak malam-malam kok pulangnya. " Kata Ayunda lagi.
"Ya udah, kerjaan kamu selesai belum. Jemuran sudah di jemur piring kotor sudah di cuci? " Tanya mama yang bangun lalu duduk menyandarkan di dinding kasur.
"Sudah ma, semua sudah beres. Ayunda mau mandi dulu. Oia ma, Ayunda minta uang jajan ya ma. " Kata Ayunda yang keluar dari kamar mamanya.
"Itu di laci uangnya. " Ujar mama.
Ayunda memang tak pernah minta uang jajan pada mamanya. Ayunda ingin sekali kerja tapi belum ada yang nerimanya. Cita-cita nya ingin menjadi seorang guru TK. Tapi ketika Ayunda sudah mendaftar di tempat sekolah TK yang murah, Ayunda mendengar mama papa nya bicara masalah keuangan lalu Ayunda mengurungkan niatnya.
Ayunda sudah siap untuk pergi. Dia menunggu Satrio datang menjemputnya. Sambil menunggu Satrio Ayunda nonton film kartun dengan adiknya Galih.
Kemudian Satrio datang dan Ayunda pamit pada mamanya dan pergi ke tempat acara band. Ayunda memakai kaos bergambar Tasmania Devil, celana jin dan rambut pendeknya di biarkan berantakan dan sepatu cats.
Satrio melihat penampilan Ayunda yang seperti anak kecil dengan kaos bergambar. Apalagi setiap pergi jalan-jalan Ayunda begitu tomboy penampilannya. Satrio hanya senyum-senyum melihat penampilan sang pacar.
Kemudian mereka sampai di tempat acara band. Satrio masuk sambil menggandeng tangan Ayunda. Banyak teman-teman memanggil Satrio. Ayunda merasa risih karena Satrio mengajak nonton band musiknya keras bikin pusing kepala Ayunda.
"Kamu duduk disini, nanti ada teman aku Dewi namanya nanti aku suruh temani kamu. " Kata Satrio yang meninggalkan Ayunda sendiri duduk di bangku penonton.
"Hmmm...Tau nonton band begini mendingan gak usah ikut. Enak di rumah tidur nonton TV. " Gumam Ayunda.
"Hai.. Pasti kamu pacarnya Satrio ya. Kenalkan aku Dewi. " Sapa perempuan itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Ayunda " Ayunda menyambut uluran tangan Dewi dan membalas senyumannya.
"Namaku Dewi juga. " Ujar perempuan satunya yang dengan senyuman mengembang.
"Tapi namaku Dewi Anjani. " Imbuhnya.
"Udah lama sama Satrio? " Tanya Dewi.
"Hmmm.. Baru 4 bulan kita pacaran. " Jawab Ayunda.
"Aku teman Satrio dulu sama-sama kita anak jalanan. Aku udah punya pacar ko jadi jangan cemburu. " Katanya dengan senyuman.
"Hehhe... Gak mba. Aku tau kok Satrio sering cerita tentang teman-temannya. " Kata Ayunda yang tersenyum.
__ADS_1
"Kita kesana yuk. Mungkin kamu gak suka ya musik begini? " Tanya Dewi Anjani.
"Gak apa-apa. " Ujar Ayunda yang sedikit memang pusing mendengar musik yang keras.
Kemudian Satrio datang dan duduk di samping Ayunda. Ayunda agak marah sama Satrio karena mulutnya bau alkohol. Ayunda gak suka kalo liat cowok yang suka mabuk.
"Kamu habis minum ya, mulutmu bau alkohol? " Tanya Ayunda yang sedikit bergeser duduknya.
"Sedikit, Yunda. " Jawab Satrio dengan senyuman yang mengembang.
" Mau sedikit mau banyak aku gak suka. Bukannya kamu tau kalo aku gak suka sama cowok pemabuk dan suka minum alkohol. " Kata Ayunda yang cemberut karena marah.
Ayunda memalingkan wajahnya ke lain arah. Ayunda kesal dan terus cemberut di hadapan Satrio dan teman-temannya.
"Ini kamu barangkali haus. " Kata Satrio yang memberikan air mineral pada Ayunda.
"Aku mau pulang. Aku gak mau dekat-dekat sama kamu. Kamu bau alkohol. " Ujar Ayunda.
"Sebentar lagi ya, Yunda. " Kata Satrio yang melihat Ayunda dengan wajah yang di tekuk.
Ayunda hanya diam dan tak menjawab setiap pertanyaan Satrio. Ayunda kesal dengan sikap Satrio. Seminggu yang lalu Satrio datang kerumah dengan mulut bau alkohol. Ayunda marah dan menyuruhnya pulang. Ayunda sebenarnya gak mau punya pacar yang suka mabuk.
Ayunda lahir dari keluarga sederhana. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahnya seorang pelatih bola. Dulu ayahnya seorang atlit sepak bola yang terkenal di kota C. Namun ayah Ayunda tukang mabuk Ibunya setiap hari ketika malam ayahnya pulang dengan keadaan mabuk dan ibunya selalu membersihkan ketika ayahnya muntah.
Ayunda kecil hanya bisa menatap ibunya yang sabar dengan sikap ayahnya. Sejak saat itu Ayunda gak mau punya cowok yang suka mabuk cukup dia melihat kelakuan ayahnya dan ibunya yang sakit karena ayahnya.
"Ayunda, kita pulang yuk. " Ajak Satrio yang menggandeng tangan Ayunda tapi Ayunda menepisnya.
"Masih marah? Maaf ya aku gak akan mengulanginya lagi. " Kata Satrio yang menatap Ayunda.
Ayunda hanya diam tak bicara sampai ketika angkot datang lalu naik dan duduk di dekat jendela. Udara sore hari membuat Ayunda ingin cepat pulang. Satrio menarik tangan Ayunda dan di letakan di pahanya.
"Ayunda, masih marah sama aku? " Tanya Satrio yang berbisik di telinga Ayunda.
Ayunda hanya diam dia mencoba bergeser duduknya tapi di sampingnya ada teman Satrio. Ayunda hanya cemberut dan memasang wajah yang tajam.
"Ayunda, aku minta maaf ya. Sudah jangan cemberut aja. " Kata Satrio pelan.
__ADS_1
Ayunda masih diam tak bicara. Ayunda gak mau nasibnya seperti ibunya yang bertahun-tahun hidup dengan ayahnya yang tukang mabuk. Hampir setiap hari ayahnya mabuk dan seperti orang gila ketika mabuk.
Satrio hanya pasrah melihat Ayunda marah dan mendiami dirinya. Satrio hanya memegang tangan Ayunda dan terus menggandeng sampe rumah Ayunda.