
Satrio datang hampir malam pukul sepuluh, Ayunda yang belum memejamkan matanya terbangun dan langsung menyambut suaminya. Ayunda tersenyum kala suaminya datang dengan rasa lelah, mata sayu dan baju yang sudah berbau keringat.
"Cape ya, Yang?" tanya Ayunda pada suaminya.
"Banget, Sayang. Aku mau mandi dulu biar seger, kamu masak apa?"
"Belum di masak sih, nanti ayang mandi aku goreng biar hangat jadi dadakan," jawab Ayunda yang menuntun suaminya ke kamar mandi.
"Baiklah, aku mandi dulu," kata Satrio yang masuk ke kamar mandi dan Ayunda memasak untuk suaminya.
Setelah selesai Ayunda menemani suaminya makan, lalu setelah selesai makan mereka berbincang sejenak di teras sambil menceritakan keseharian mereka berdua. Ayunda masuk lebih dahulu ke kamar dia mengecek ponselnya dan ternyata banyak pesan masuk di ponselnya dari Yogi.
" Ini anak nekat banget ya, berapa kali harus aku bilang," gumam Ayunda menghapus semua pesan dari Yogi karena takut Satrio melihat dan membacanya.
Keesokan harinya Ayunda berangkat mengajar diantar Satrio, karena Satrio akan membeli spepart motor. Satrio membeli motor vespa untuk weekend bersama Ayunda, Ayunda tak pernah melarang Satrio membeli apapun. Seperti kemarin Satrio membeli motor vespa dan membereskan motor vespa.
"Nanti, pulang aku jemput," kata Satrio yang berhentikan motornya di depan tempat istrinya mengajar.
"Iya, ayang hati-hati," jawab Ayunda.
Ayunda mencium punggung tangan suaminya dan Ayunda melihat suaminya jalan lalu menghilang dari pandangannya. Kemudian Ayunda masuk tanpa di sadarinya, Yogi melihat kemesraan pasangan suami istri tersebut.
"Mesra sekali aku jadi cemburu," ujar Yogi dan membuat Ayunda kaget.
"Ya ampun kamu itu bikin kaget aja, deh. Udah kaya hantu tau gak," kata Ayunda dengan kesal.
"Kamu diantar, tumben banget," kata Yogi yang duduk di hadapan Ayunda.
"Terus kenapa kalau aku diantar, masalah buat kamu?" tanya Ayunda dengan ketus.
"Jelas, aku jadi cemburu melihat kamu begitu mesra seperti tadi," jawab Yogi.
"Kenapa kamu harus cemburu? Itu kan suami aku sendiri, lagian kamu itu udah gila suka sama istri orang. Kamu itu udah gak waras dan harus ke psikiater," kata Ayunda.
"Dengar ya, aku itu serius suka sama kamu. Mau kamu istri orang istri presiden ataupun istri siapa saja kalo aku suka kamu ya suka,"
__ADS_1
"Dasar gila!"
"Ya aku gila karena kamu, sudah ya aku mau berangkat kerja dulu. Jangan kamu rindukan aku ya," kata Yogi yang tersenyum meninggalkan Ayunda.
"Stress, siapa juga yang merindukan kamu. Yang ada aku ingin nimpuk kamu tau gak," gerutu Ayunda.
Ayunda masih kesal dengan sikap Yogi yang keterlaluan menurut Ayunda. Belum pernah ada seorang laki-laki yang nekat seperti Yogi, dia dengan terang-terangan menyukai dirinya yang sudah berstatus istri orang. Dulu waktu kenal dengan Dedi, Ayunda gak pernah kesal ataupun marah-marah. Karena Dedi mundur ketika tahu Ayunda mempunyai suami, tapi Yogi dia nekat dan makin nekat aja.
"Teh, kenapa sih. Dari tadi Nico lihat kaya kesel gitu?" tanya Nico.
"Kesel sama temen kamu itu," jawab Ayunda.
"Siapa?Yogi?" tanya Nico.
"Iya, siapa lagi," ujar Ayunda.
"Memangnya kenapa dengan Yogi, teh?"
"Tuh, anak nekat banget deh. Kan sudah tahu saya punya suami tapi masih saja dia nekat," kata Ayunda.
"Emangnya Yogi deketin teteh?" tanya Nico yang tak percaya.
"Kalo benar nanti aku kasih tau sama tuh anak, biar gak deketin teteh. Nico kan gak enak sama suami teteh, kan kita kenal semua sama suami teteh,"
"Dia itu makin gila tau, Co. Aku tuh takut kalo suami aku tau, dia itu harus ke psikiater deh periksa kejiwaannya. Masa suka sama istri orang," kata Ayunda.
"Emang teh, anaknya begitu. Dia selalu suka sama istri orang dan kadang dia suka sama yang sudah ja*da," ujar Nico.
"Gila ya teman kamu yang satu itu, memang sakit tuh anak," jawab Ayunda.
"Baru tau ya, teh," kata Nico dengan senyum.
"Teman kamu kan banyak ya, tapi aku baru tau aja teman kamu yang satu itu,"
"Yogi emang lain dari teman-teman Nico yang lain teh,"
__ADS_1
"Iya agak stres harus di bawa ke dokter jiwa,"
"Udah ah, Nico mau ngajar dulu teh. Nanti Nico nasehatin Yogi biar gak deketin teteh," kata Nico.
"Makasih ya, Nico," ucap Ayunda tersenyum.
Ayunda dan Nico memang sudah seperti kakak adik, teman, sahabat dan seorang guru dan muridnya. Namun Satrio terkadang cemburu pada Nico yang terlalu dekat dengan Ayunda. Ayunda mencoba menyakinkan Satrio bahwa dirinya dan Nico hanya sebatas kerja tidak lebih.
Sore hari Ayunda mengirimkan pesan pada Satrio bahwa dia sudah pulang dan Satrio akan sampe kira-kira 20 menit lagi. Ayunda duduk sambil melihat jalan yang banyak di lewati kendaraan, karena posisi tempat mengajar Ayunda di pinggir jalan. Tak lama kemudian Satrio datang dan Ayunda langsung naik di belakang Satrio.
"Kita makan di SS ya," kata Satrio.
"Sekarang?" tanya Ayunda.
"Iya, mumpung masih sore. Nanti malam aku mau keluar ya," ujar Satrio.
"Mau main?"
"Iya, ke distronya Deni," jawabnya.
"Ya sudah," kata Ayunda datar.
Satrio menyetir motornya menuju tempat makan favorit mereka berdua. Setengah jam mereka sampai dan Ayunda mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka berdua duduk lesehan lalu memesan beberapa makanan kesukaan dan favorit mereka berdua. Tak lama kemudian pesanan mereka datang, lalu keduanya menikmati makanan yang dipesannya.
Setelah selesai Satrio dan Ayunda pulang kerumah, Satrio langsung mandi tak lama kemudian langsung pergi lagi. Ayunda hanya menghembuskan nafasnya ke udara melihat suaminya pergi lagi dengan motor Vespanya. Ayunda sedikit curiga, karena Satrio tidak biasanya pergi main ke tempat distro temannya Deni. Tapi biarkan Tuhan yang akan membuka dan menyadarkan suaminya itu.
Terkadang cinta Ayunda yang begitu besar dan merasa bodoh karena cintanya pada Satrio. Laki-laki yang membuat hatinya tak bisa membencinya, laki-laki pertama yang mengisi hatinya dengan keceriaan dan kesakitan.
"Kapan, sih ayang berubah?" gumam Ayunda menatap suaminya yang sudah menjauh.
"Satrio mau kemana?" tanya ibu mertua Ayunda.
"Biasa mau main kerumah temannya, Bu," jawab Ayunda.
Ayunda masuk ke kamarnya dan dia menikmati drama Korea yang belum selesai dia tonton. Sambil menikmati cemilan yang dia beli di warung Ayunda menghibur dirinya dengan drama Korea favoritnya. Ayunda banyak membeli kaset DVD drama Korea untuk stok ketika dia libur.
__ADS_1
Malam semakin malam, Ayunda melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam, suaminya belum juga pulang dan ada rasa khawatir di hati Ayunda. Dia tak bisa memejamkan matanya karena suaminya belum pulang. Suara mesin motor terdengar Ayunda dari garasi, Ayunda langsung menghampirinya dan melihat suaminya sedang memasuki motor.
"Pulangnya, malam sekali," kata Ayunda.