
Ayunda bersiap akan berangkat mengajar dan karena hari ini Satrio libur Ayunda membawa motor sendiri, Satrio sibuk dengan kerjaan yang harus dia edit. Ayunda mengendarai motor maticnya sampai di sekolah taman kanak-kanaknya, Ayunda sangat senang jika dia bertemu dengan anak-anak.
Hampir dua jam mengajar, Ayunda seperti melepaskan segala penat dan masalah ketika berada dirumah. Ayunda tersenyum melihat anak-anak didiknya yang lucu dan selalu menggemaskan, beban sewaktu dirumah terasa hilang ketika melihat anak-anak. Walaupun mereka bukan terlahir dari rahim Ayunda, namun Ayunda sangat menyayanginya.
"Bu, besok Andi mau pergi jalan-jalan sama ayah bunda," kata Andi salah satu muridnya.
"Oh ya, ibu boleh ikut?" tanya Ayunda dengan sedikit menggodanya.
"Mobilnya gak muat, Bu. Nanti ibu guru duduk dimana," jawab Andi sambil duduk di pangkuan Ayunda.
"Yah, padahal ibu guru mau ikut loh," kata Ayunda pura-pura bersedih.
"Ibu guru ikut sama Gendis aja, mobil Gendis muat kalo ibu guru ikut," kata Gendis murid perempuan yang paling cantik di usianya yang masih empat tahun.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Andi pada Gendis.
"Aku mau ke rumah eyang," jawab Gendis.
"Tapi kan ibu guru mau ikut aku," ujar Andi yang kesal pada Gendis.
"Bu, guru ikut aku," ucap Gendis dengan nada marah.
"Aku, ya bu guru," Andi tak mau kalah.
" Sudah-sudah, nanti ibu guru ikut kalian semua. Sekarang kalian tidak boleh saling marah, karena marah itu tidak baik," kata Ayunda dengan senyuman mengusap bahu kedua anak didiknya. Ayunda tersenyum ketika dirinya jadi rebutan anak muridnya.
"Sekarang kita kembali belajar, oke," ujar Ayunda yang menggiring anak-anak muridnya untuk kembali belajar.
Satu jam Ayunda mengajar, kemudian ponselnya berbunyi dan dia membuka pesan dari Yogi.
" Huffffttt," Ayunda menarik nafas panjang dia membaca pesan dari Yogi yang bener-bener nekat.
"Kenapa, Bu?" tanya Bu Yeka teman Ayunda di sekolah.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja hari ini sangat melelahkan," bohong Ayunda yang tersenyum pada Bu Yeka.
Ayunda merasa kesal, masih aja nekat tuh anak. Baru pertama kali ada seorang laki-laki yang nekat mendekati Ayunda yang berstatus memiliki suami.
"Dasar orang aneh, udah tau punya suami masih aja di deketin," gumam Ayunda.
Ayunda langsung membereskan tasnya dan kemudian menjalankan mesin motor maticnya ke tempat belajar gambar. Sampai disana, Ayunda melihat Yogi duduk di halaman dan tersenyum padanya.
"Hai, sudah datang?" tanya Yogi.
__ADS_1
"Udah tau pake tanya segala," jawab Ayunda dengan ketus.
"Padahal hari ini aku libur loh, mau antar kamu pulang," ujarnya.
"Terimakasih, aku masih bisa pulang sendiri," jawab Ayunda.
"Masih aja jutek, dengar ya nanti kamu pasti akan jadi pacar aku," kata Yogi.
"Iiih, kamu itu terlalu percaya diri sekali. Ingat aku itu punya suami," jawab Ayunda.
"Gak peduli apa statusmu dan yang pasti aku suka sama kamu,"
"Kamu itu harus di bawa ke psikiater kejiwaan,"
"Hahahaha," Yogi tertawa.
"Dasar stress, aneh. Aku tuh baru ketemu cowok yang gila kaya kamu," kata Ayunda.
" Aku tuh gila karena kamu," jawab Yogi sambil tertawa.
"Emang dasar gila!" sahut Ayunda yang masuk kedalam dan Yogi mengekornya dari belakang.
"Sabar, Sayang. Jangan marah-marah terus aku masih disini kok, buat nungguin kamu,"
" Kamu sakit?" tanya Yogi yang memegang kening Ayunda.
"Apasih," jawab Ayunda yang menepis tangan Yogi.
"Tapi gak panas badan kamu, apa yang sakit?"
"Udah deh ah, jangan sok peduli. Sana kamu pulang, aku tuh gak suka sama kamu. Please, aku sudah punya suami,"
"Aku kan bilang gak peduli kamu sudah punya suami atau tidak, yang pasti aku suka sama kamu!" kata Yogi dengan tegas.
"Kamu itu udah gila tau gak," ujar Ayunda.
"Sampai kamu jadi milikku, aku akan tetep terus deketin kamu," jawab Yogi yang langsung pergi meninggalkan Ayunda dengan sedikit kesal dan marah.
Ayunda melihat Yogi menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan tempat Ayunda kerja. Ayunda menarik nafas dan menghembuskan keudara, mencoba menetralisir amarah di hatinya.
Hari terus berlalu dan Yogi masih terus berusaha mengejar Ayunda, tanpa disadari Ayunda. Sementara dirumah, Ayunda melihat suaminya yang sedang mengerjakan kerjaannya. Menatap wajah suaminya yang semakin berisi dan tampan.
"Kenapa, Sayang? Aku ganteng ya," kata Satrio yang menaik turunkan alisnya. Ayunda tersenyum lalu kemudian memeluknya dan mencium keningnya, mata, hidung dan bibir suaminya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya suaminya memeluk pinggang Ayunda.
"Yunda, mau tanya sama ayang," kata Ayunda.
"Apa?"
"Jika seumpama kita dipisahkan oleh keadaan atau kematian, bagaimana?" tanya Ayunda mengelus rambut suaminya.
"Kamu ini ngomong apa, sih," jawab Satrio.
"Yunda, sayang banget sama ayang. Ayang, gak sayang ya sama Yunda?"
"Kalo aku gak sayang sama kamu, kenapa aku nikah sama kamu,"jawab Satrio.
"Dengar, aku memang bukan laki-laki yang selalu mengatakan aku sayang kamu. Rasa sayang dan cinta itu gak perlu dengan kata-kata, cukup dengan perhatian aku ke kamu dan juga sikap aku ke kamu, itu sudah cukup," kata Satrio lagi.
"Yunda, tau itu. Hanya saja Ayunda takut kehilangan ayang," ucap Ayunda memeluk suaminya.
"Segitu cintanya kamu sama aku?" tanya Satrio dan Ayunda mengangguk.
Ayunda memang begitu mencintai Satrio, kesalahan Satrio yang selalu menyakitinya selalu dimaafkan, bahkan kesalahan yang fatal sekalipun. Ayunda memang terlalu baik, entah karena rasa cintanya atau prinsip yang dia pegang.
Tanpa sepengetahuan Ayunda, Satrio sudah menyakiti hatinya. Sebenarnya Satrio juga sangat mencintai Ayunda, hanya saja godaan dan ujian cintanya selalu di uji dengan kehadiran wanita lain di hati Satrio.
Pagi itu, Ayunda sedang memegang ponsel Satrio dan tiba-tiba ada pesan masuk, lalu Ayunda membacanya. Betapa kagetnya hati Ayunda saat membaca isi pesan itu. Pesan dari seorang bernama Nisa yang ditujukan untuk suaminya, hati Ayunda seperti tertusuk ribuan pisau di hatinya.
"Ya Tuhan, Ayang. Kamu tega seperti ini lagi," gumam Ayunda menghapus air matanya.
Ayunda menangis dalam lamunannya, betapa sakit yang dia rasakan. Sungguh dia tak menyangka, bahwa suaminya akan seperti itu lagi.
"Kamu pikir hanya kamu yang bisa, aku juga bisa seperti itu," ucap Ayunda menghapus jejak air matanya yang membasahi pipinya.
Ayunda bertekad akan membalas kelakuan Satrio yang sangat menyakiti hatinya. Ayunda menyimpan ponsel Satrio dan sebelumnya menghapus pesan yang masuk dan tak membuat Satrio curiga.
"Kamu akan merasakan sakit seperti sakit yang aku rasakan sekarang!" kata Ayunda.
*****
Hai....Kakak reader semuanya.. Author punya rekomendasi novel bagus nih...yuk..baca ceritanya seru dan pasti bikin ketagihan untuk membacanya..
Jangan lupa mampir ya kak ke karyanya author kece badai kak sun_flower95
Pasti bikin nagih deh bacanya..
__ADS_1