
Ayunda kembali merasakan sakit di hatinya, mengetahui bahwa suaminya berhubungan kembali dengan Novi, nama perempuan itu. Perempuan yang sudah menjadi selingkuhan Satrio.
Ayunda menahan rasa sakitnya, dan hanya diam tak tahu harus bagaimana. Malam itu Ayunda tahu dalam pikirannya, Satrio pasti baru bertemu dengan kekasih gelapnya. Namun Ayunda bersikap biasa saja, jika amarahnya dulu dan sekarang tak bisa menghentikannya atau merubahnya. Biarlah Alloh SWT yang akan merubahnya.
"Kamu kenapa? Kok makanannya tidak dimakan? " Tanya Satrio yang melihat Ayunda hanya mengacak-acak makanan.
"Ayunda tau, ayang masih berhubungan dengan perempuan itu? Sampai kapan ayang mau berbohong pada Ayunda? Hah.. " Tanya Ayunda yang merasakan sakit hati. Satrio memegang tangan Ayunda dan menggenggamnya.
"Maafkan ayang, Ayunda. " Kata Satrio.
"Jika memang ayang masih mencintainya, silahkan nikahi saja perempuan itu dan lepaskan Ayunda. " Ucap Ayunda yang meneteskan air mata.
"Aku tidak tau, aku tidak ingin melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu. " Kata Satrio memeluk tubuh kecil Ayunda. Ayunda memberontak dan tak kuasa menahan tangisnya.
Kini tangisnya pecah dan Satrio masih memeluk tubuh Ayunda dan mengusap punggungnya. Ayunda terus menangis dan Satrio yang merasa sudah menyakiti istrinya hanya mengatakan maaf dan maaf.
"Maafkan, ayang. " Ucap Satria yang mengelus rambut Ayunda.
"Sampai kapan? Ayunda sudah tak sanggup lagi? " Kata Ayunda menatap wajah suaminya.
"Aku tau sudah menyakitimu, tapi sejujurnya aku tak ingin berpisah denganmu. Aku terlalu takut kehilanganmu dan takut kau pergi dariku. Dia tak sebanding denganmu, dia tak pernah mencintaiku dengan sabar, dia juga sudah mengkhianatiku. Mungkin ini balasan yang Alloh berikan untukku, aku telah menyakitimu dan dia sudah menyakitiku. Aku merasakan seperti apa rasanya sakit hati yang amat dalam. " Kata Satrio menghapus jejak air mata di pipi sang istri.
"Maksudnya? " Tanya Ayunda tak mengerti.
"Ternyata dia di belakangku diam-diam sudah berhubungan dengan laki-laki lain. Memaki diriku, memarahi diriku dengan kasar. Sedangkan dirimu tak pernah sekalipun memarahiku, memaki diriku dengan kasar. Aku sudah melepaskan dirinya dan aku tidak ingin melepaskan dirimu. " Kata Satrio yang menatap wajah sang istri.
__ADS_1
"Apa ayang serius sudah menyelesaikannya dengan perempuan itu? " Tanya Ayunda dan Satrio mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Maafkan aku.. Maaf mungkin tak cukup mengobati luka di hatimu, tapi aku akan berusaha untuk menyembuhkan luka di hatimu. " Kata Satrio
Ayunda tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat. Satrio pun mencium pucuk kepala Ayunda. Masih terbesit di hati Ayunda apakah benar suaminya sudah selesai berhubungan dengan perempuan itu?
"Semoga apa yang ayang katakan benar apa adanya. " Batin Ayunda.
Keesokan harinya Ayunda menyiapkan keperluan sang suami untuk bersiap siap menjalankan pekerjaannya sebagai freelance fotografer. Ayunda juga menyiapkan baju suaminya, sebelum berangkat ngajar Ayunda juga menyiapkan pakaian suaminya yang akan di pakai.
Ayunda melihat suaminya masuk kekamar dengan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Ayunda membantu mengusap punggungnya dan rambutnya. Satrio tersenyum menatap istrinya, lalu memeluk dan menciumnya. Tangan Ayunda melingkar di tekuk sang suami.
Ciuman itu semakin dalam, sehingga Ayunda kehabisan nafas.
"Sudah siang, ayo cepat pakai bajunya. Nanti aku terlambat. " Kata Ayunda memukul pelan dada suaminya.
Ayunda sudah tak lagi berjualan karena rumah mamanya sudah di jual. Rumah itu adalah rumah wasiat dan keluarga papanya, adik adik papanya meminta uang pembagian dari hasil jual rumah itu. Dan Ayunda fokus ngajar, karena itu adalah cita-cita nya.
Satrio sudah siap dan perlengkapan untuk foto semua sudah Ayunda siapkan. Satrio berangkat mengantarkan Ayunda dulu, karena hari ini adalah foto wedding jadi Satrio mengantarkan Ayunda lebih dahulu. Sehingga Ayunda yang berangkat pagi.
Di sekolah Ayunda mengajari anak-anak dengan ketulusan dan begitu senang. Karena hampir 2 tahun belum di karunia anak semakin Ayunda merindukan sosok seorang anak. Tapi semua kehendak Alloh swt dan Ayunda percaya bahwa rezeki, mati, jodoh itu sudah ada yang mengatur. Ya mungkin anak adalah rezeki yang belum Ayunda dan Satrio dapatkan. Mungkin rezeki lain sudah Ayunda dan Satrio miliki, mempunyai banyak keponakan yang lucu, nikmat sehat dan suami yang sudah kembali pada dirinya adalah rezeki yang Ayunda dapatkan.
Pulang sekolah Ayunda berjalan kaki menuju rumah ibu mertuanya, karena Satrio belum mau untuk pisah rumah sendiri. Satrio masih belum mampu untuk pisah dari orang tuanya. Ayunda berjalan dan sampai di rumah dia di sambut dengan keponakannya yang menggemaskan, Aryo makin bulat dan pipinya makin gembul.
"Assalamu'alaikum dede. Uluh makin gembul aja nih si dede. " Kata Ayunda yang memeluk balita itu. Sang bunda yang di sampingnya hanya tersenyum. Perutnya yang sudah membuncit, lantaran sedang hamil kembali.
__ADS_1
"Atet... Atet.. " Panggil Aryo pada Ayunda yang masuk kamar ingin berganti baju.
"Iya, sayang. Sebentar tante ganti baju dulu ya. " Kata Ayunda yang mencium pipinya.
"Bun, Aryo kok panggil tante atet ya.. " Kata Ayunda yang keluar sambil menggendong Aryo.
"Heheh... Padahal udah di ajarin sama saya nyebut nama tante dengan benar. " Jawab Bunda yang terkekeh.
"Tapi lucu sih bun, panggil Satrio aja lele. " Ujar Ayunda yang juga terkekeh gemas dengan ponakannya itu.
"Iya juga ya, te. " Kata Bunda Aryo yang tertawa.
Selesai bercengkerama dengan keponakan dan kakak iparnya, Ayunda masuk ke kamar istirahat. Dia membuka sosmed di ponselnya ( Tahun 2009-2010 belum ponsel android tapi bisa FB ya reader). Membaca satu persatu status teman-temannya, bahkan Ayunda melihat Satrio memposting sesuatu di sosmednya. Ayunda tersenyum kalau melihat postingan suaminya itu dan menglikenya.
Lalu Ayunda mengirimkan pesan pada suaminya dan mereka saling mengirimkan pesan seperti mereka masih pacaran saja. Dulu mungkin tidak ada alat komunikasi ketika jauh, sekarang Ayunda mengirimkan pesan. Dalam hati Ayunda sangat menyayangi suaminya itu, cinta yang selalu ada disaat susah, sakit dan bahagia. Ayunda merasa Satrio adalah cinta pertama yang dia rasakan dulu, tak pernah menyangka cintanya berlabuh pada seorang Satrio yang suka marah dan tempramental.
Waktu hampir menunjukkan pukul 5 sore, Ayunda sudah berhias diri menyambut suaminya datang. Ayunda tersenyum kalau mendengar suara motor suaminya di depan rumah. Ayunda dengan senyuman menyambut kedatangan suaminya itu.
"Capek, ya? " Tanya Ayunda yang membantu membawakan alat-alat foto kedalam.
"Sedikit. " Jawab Satrio.
"Mau mandi dulu atau mau makan? " Tanya Ayunda yang membantu suaminya melepaskan bajunya.
" Mandi dulu lah bau keringat. " Kata Satrio yang berjalan menuju kamar mandi dan Ayunda memberikan handuk pada Satrio.
__ADS_1
Sambil menunggu Satrio mandi Ayunda menyiapkan makanan untuk suaminya. Hari ini Ayunda masak soto ayam untuk sang suami, sungguh bahagia Ayunda terus mengulas senyum karena rumah tangga nya baik - baik saja. Namun Ayunda tidak tau bahwa ujian akan selalu datang kedalam rumah tangganya.
Satrio selesai mandi dan berpakaian santai, lalu Ayunda memberikan makan pada suaminya dan mereka saling bercerita tentang kegiatan pagi ini. Satrio bercerita yang membuat Ayunda serius menatap suaminya. Begitu juga Satrio, di balik tempramental suaminya itu Satrio adalah laki-laki yang sabar, humoris dan jiwa pemimpin yang baik. Percakapan sore hari ini di selingi candaan dan ledekan masing-masing, yang membuat Ayunda semakin mencintai suaminya itu.