Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 50


__ADS_3

Ayunda turun dari angkutan umum yang membawanya ketempat dirinya mencari ilmu untuk belajar dan mengajarkan anak-anak menggambar juga mewarnai. Ayunda menyalakan sebuah pendingin ruangan dan duduk sambil meluruskan kakinya agar lelahnya dan penatnya hilang.


"Sudah datang?" tanya Nico.


"Kenapa, memangnya?" tanya Ayunda balik.


"Nggak, sih," jawab Nico datar.


"Ihh, aneh. Gak jelas," ujar Ayunda.


"Teh," panggil Nico.


"Apa!"


"Galak amat,"


"Ck, udah deh jangan ngeledek," kata Ayunda.


"Siapa yang mau ngeledek?"


"Itu, apa? Mau bilang minion?"


"Iiih, su'udzon cuma mau bilang Nico lapar," kata Nico sambil tersenyum.


"Hah, terus bagaimana?"


"Aduh, teteh mau beli makan gak. Sekalian Nico mau beli makan," kata Nico yang menepuk keningnya melihat Ayunda. Ayunda hanya cengir kuda.


"Nih, aku nitip sekalian ya," ujarnya sambil memberikan uang berwarna biru.


Nico lalu pergi membeli makan dan Ayunda hanya bisa tersenyum melihat Nico yang memang selalu menghibur dirinya ketika sedang suasana hatinya sedang galau.


Ayunda menatap ponselnya yang berbunyi bertanda pesan masuk, Ayunda membaca pesan dari suaminya yang mengatakan kalo nanti sore dia akan menjemputnya. Ayunda membalasnya dan langsung kembali fokus mengerjakan tugasnya.


Siang harinya Ayunda melihat Yogi datang, sambil tersenyum melihat Ayunda yang asik dengan tugasnya. Yogi duduk dihadapan Ayunda lalu menatap wajah Ayunda yang cantik menurut Yogi.


"Kenapa, lihat-lihat?" tanya Ayunda yang melihat Yogi tersenyum menatap wajahnya.


"Nggak, kamu cantik," jawab Yogi sambil menopangkan kedua tangannya di dagunya.


"Masih siang sudah ngegombal," kata Ayunda.


"Terus, harus nunggu malam gitu," ujar Yogi.


"Apa sih kamu, Gi. Sudah sana jangan ganggu aku lagi sibuk nih," kata Ayunda yang mengibaskan tangannya menyuruh Yogi pergi dari hadapannya.


"Aku mau lihat kamu kerja," jawab Yogi.


"Aku sibuk, Gi. Sudah sana jangan ganggu aku," ujar Ayunda.


"Sore pulang mau diantar?" tanya Yogi.


"Aku dijemput suamiku," jawab Ayunda.


"Yah, telat deh. Padahal aku ingin jemput kamu biar cuma sampai angkot juga aku bisa mengantarkan kamu pulang," kata Yogi.

__ADS_1


"Gak usah, suami aku mau jemput aku," ujar Ayunda.


"Besok ya, kita pulang bareng," kata Yogi.


"Iih, apa sih kok kamu maksa," ujar Ayunda.


"Gak apa-apa, haruslah. Kamu itu gak akan mau kalo gak dipaksa," kata Yogi dengan menyeringai.


"Kita lihat besok, sekarang kamu jangan ganggu aku. Sudah sana, masuk kedalam," jawab Ayunda.


Yogi tersenyum lalu masuk kedalam, sungguh Yogi tergila-gila dengan Ayunda yang masih memiliki suami, Yogi memang aneh diantara teman-temannya yang selalu menyukai istri orang. Seperti memiliki kelainan pada skologis Yogi. Ayunda hanya menggelengkan kepalanya melihat Yogi, laki-laki itu tampan dengan hidung mancungnya dan rambutnya yang ikal.


"Ah, kenapa jadi aku mikirin Yogi," ujar Ayunda yang menggelengkan kepalanya.


Sore hari Satrio memberikan pesan pada Ayunda untuk menunggunya sebentar, Ayunda menunggu suaminya sambil bermain gawainya.


"Belum pulang? Gak jadi jemputnya?" tanya Yogi dengan nada meledek.


"Sebentar lagi," jawab Ayunda dengan ketus.


"Ya cuma tanya saja, siapa tahu kamu tidak dijemput bisa aku antar," kata Yogi dengan senyuman yang menyeringai.


"Gak perlu, terimakasih," ujar Ayunda.


"Biasa aja kali gak usah pake emosi," kata Yogi tersenyum.


Kemudian Ayunda menjulurkan lidahnya dan Yogi tertawa merasa lucu dengan Ayunda dan gemas melihatnya. Tak lama kemudian Satrio datang lalu Ayunda langsung pamit pada teman-temannya. Yogi melihat adegan itu merasa cemburu dan kesal, lalu mengirimkan pesan pada Ayunda bahwa dia cemburu.


Ayunda mendengus kesal setelah membaca pesan dari Yogi dan Ayunda langsung menghapusnya karena takut Satrio membacanya.


"Kenapa?" tanya Satrio yang melihat Ayunda memasukkan ponselnya didalam tasnya.


"Sudah makan?" tanya Satrio lagi dan Ayunda menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kita makan dulu, mau makan dimana?"


"Terserah ayang saja,"


"Kita makan di SS saja ya,"


"Ya sudah tidak apa,"


Kemudian Satrio menjalankan motornya kearah tempat makan yang biasa favorit mereka berdua. Satrio sudah sampai ditempat makan SS dan memarkirkan motornya. Lalu mereka masuk dan duduk ditempat yang menjadi tempat favorit mereka.


"Mau pesan apa?" tanya Satrio membaca buku menu.


"Sambal cumi, cah kangkung sama tempe tepung," kata Ayunda.


Satrio menceklis menu makanan yang dipesan Ayunda dan dirinya. Lalu dia memanggil pelayan dan menyerahkan daftar menu makanan yang mereka pesan.


"Tadi bagaimana ngajarnya?" tanya Satrio.


"Ya seperti biasa, kadang ada anak-anak yang bandel dan anak yang nyenengin," ujar Ayunda tersenyum.


"Happy kamu?"

__ADS_1


"Happy banget, Yang. Aku senang sekali bisa menghibur anak-anak," jawab Ayunda dengan senang.


"Syukurlah ku senang aku juga ikut senang," kata Satrio.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan Ayunda Lang memakannya. Satrio tersenyum melihat istrinya yang makan seperti kelaparan.


"Pelan-pelan makannya, Sayang," kata Satrio terkekeh.


"Hehehehe, lapar," jawab Ayunda tersenyum.


"Pelan-pelan ya makannya," katanya lagi, Ayunda mengangguk pelan.


Ayunda dan Satrio menikmati makanan yang baru datang dari pelayan. Ayunda tampak kepedasan dan Satrio tersenyum melihat istrinya pipinya merah karena pedas.


"Kenapa ketawa?" tanya Ayunda saat melihat Satrio tersenyum.


"Kamu kepedasan, lihat pipimu merah kaya kepiting rebus," ujar Satrio terkekeh.


Ayunda yang malu lalu meminum air dingin yang sudah dia pesan, Ayunda menyesap minumannya yang dingin dan bibirnya merah karena pedas.


"Kamu level berapa pedasnya?" tanya Satrio.


"Gak tau nih, tumben pedas banget gak biasanya," jawab Ayunda yang masih kepedasan.


"Nih, air hangat biar gak kepedasan," kata Satrio.


"Habis minum dingin terus panas, yang ada aku nantinya pipis terus," ujar Ayunda.


"Hahahaha, benar juga ya," ujar Satrio tertawa.


"Orang lagi kepedasan malah diketawain," Ayunda mengerucutkan bibirnya.


"Habis kamu lucu dengan wajah yang merah itu," kata Satrio.


"Udah ah, lihat ayang juga kepedasan," ujar Ayunda terkekeh melihat suaminya juga sedang kepedasan.


"Kamu balas dendam ya," kata Satrio yang meminum air hangat pesanannya.


"Nggak," jawab Ayunda tersenyum.


Sungguh bahagia Ayunda hari ini, seakan dia lupa akan rasa sakitnya yang sungguh membuatnya ingin membalas perlakuan Satrio pada dirinya. Ayunda ingin kebahagiaan ini seterusnya ada setiap hari tanpa ada masalah dan pertengkaran didalamnya.


Ayunda tersenyum melihat Satrio yang sedang berdiri di kasir untuk membayar tagihan makanan tersebut. Ayunda menatap dari kejauhan suaminya yang memang tampan, Satrio memiliki postur tubuh yang tinggi 175cm dan dada yang bidang serta sifat dan karakter yang terkadang baik dan tempramen.


"Yuk, sudah," kata Satrio membuyarkan lamunan Ayunda.


"Eh, ayo," jawab Ayunda yang berjalan beriringan dengan suaminya. Ayunda lalu menaikan dirinya di belakang jok motor yang sudah ada Satrio didepannya. Ayunda memeluk pinggang Satrio dengan erat, dia berharap cinta dan kasih sayangnya pada Satrio terus ada selamanya hingga maut memisahkan mereka.


*****


Hai... Reader maaf ya baru up nih author...


ikuti terus kisah Ayunda dan Satrio...


jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Sambil menunggu Author up yuk mampir di karya novel yang keren juga nih...milik kakak author yang kece badai...



__ADS_2