Ku Ingin Selamanya

Ku Ingin Selamanya
Episode 55


__ADS_3

Ayunda membuka matanya dan merasakan tangan kekar suaminya memeluk tubuhnya, Ayunda memiringkan badannya dan mengelus serta mengecup kening juga bibir suaminya kalau dia tersenyum.


"Terima kasih sudah menerimaku kembali," ujar Ayunda dalam hatinya dan dengan senyuman.


Satrio yang kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya dan memicingkan mata melihat Ayunda istrinya tersenyum dan kemudian mencium sekilas bibir Satrio dan Satrio membalasnya.


"Kenapa sudah bangun?" tanya Satrio.


"Sudah siang, Ay," jawab Ayunda dengan mesra.


"Memang jam berapa sekarang?"


"Sudah jam tujuh,"


Satrio menengok dan melihat jam di dinding kamarnya lalu tersenyum menatap wajah istrinya. Mereka saling tatap tanpa jarak dan Ayunda kemudian mencium bibir Satrio dan Satrio membalasnya dengan sangat lembut.


"Sekarang sudah mulai nakal ya," kata Satrio menyeringai.


"Kan Ay yang ngajarin aku,"


Satrio kemudian melanjutkan aksinya hingga hubungan antara suami istri kembali memanas di pagi hari yang sudah mulai beranjak siang. Dua jam mereka bergulat di atas ranjang dan kemudian setelah selesai Satrio langsung bangkit dari ranjang dan keluar kamar untuk membersihkan diri dari sisa percintaannya dengan sang istri.


Ayunda tersenyum tatkala melihat sang suami keluar dari kamarnya dan kemudian Ayunda merapikan tempat tidurnya dan mengganti sprei yang terkena cairan kental milik Satrio. Ayunda tersenyum mengingat kejadian dirinya begitu liar dan seperti wanita yang bekerja di setiap malamnya bersama laki-laki hidung belang.


Ayunda mengacak-acak rambutnya ketika mengingat semua itu, lalu Ayunda keluar kamar dan meletakkan sprei yang kotor ke dalam keranjang pakaian kotor untuk di cuci.


"Ay, kamu gak mandi?" tanya Satrio yang melilitkan handuk di pinggangnya.


"Ini aku mau mandi," jawab Ayunda yang menenteng handuk di pundaknya.


Ayunda masuk kedalam kamar mandi sementara Satrio masuk kedalam kamarnya kemudian memakai pakaian yang sudah disediakan istrinya.


Setelah selesai memakai pakaian kaos dan celana pendek rumahan, Satrio beralih ke dapur lalu membuatkan istrinya sarapan seadanya. Ayunda lebih menyukai nasi goreng dengan telur dadar di atasnya.


"Cepat ay, ini sudah aku masakin nasi goreng kesukaanmu," kata Satrio yang melihat Ayunda keluar dari kamar mandi.


"Waaahhhh, sepertinya enak sekali baunya. Sayang, kamu memang is the best," puji Ayunda yang mengangkat kedua jempolnya.


"Terima kasih, Sayangku,"


Ayunda lalu masuk kedalam kamarnya dan memakai baju dan keluar kembali untuk sarapan yang sudah terlewati. Ayunda duduk di samping Satrio yang sudah memakan terlebih dahulu nasi gorengnya.

__ADS_1


"Emmmm, ini enak banget, " ujar Ayunda yang mengunyah makanannya.


Satrio tersenyum mendengar pujian dari sang istri yang menikmati makanan buatannya.


"Ini spesial untuk wanita yang aku cintai," kata Satrio yang menarik dagu Ayunda dan menggoyang-goyangkannya.


Ayunda tersenyum merasakan kebahagiaan yang dia rasakan setelah perang keduanya. Ayunda berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Satrio dan tidak lagi untuk menduakan cintanya.


"Nanti kalo sudah selesai biar aku saja yang membereskan dapur," ujar Ayunda.


"Tidak usah, lebih baik kamu istirahat saja sambil nonton drama Korea," jawab Satrio yang hari ini ingin menggantikan Ayunda menjadi seorang ibu rumah tangga.


"Tapi, Sayang." Ayunda tidak meneruskan perkataannya karena Satrio menutup mulutnya dengan tangannya.


"Aku bilang kamu istirahat dan jangan terlalu lelah, biar nanti akan tumbuh Satrio junior disini," kata Satrio mengelus perut Ayunda.


Ayunda tersenyum dan lalu dia menghabiskan makanannya lalu setelah selesai dia masuk ke kamar dan bersantai menonton drama Korea dengan cemilan yang sudah Satrio yang sediakan.


Satrio merapikan meja makan dan mencuci semua piring yang menumpuk karena semalam Ayunda belum membersihkan dapur. Sambil mengisi air di mesin cuci Satrio membersihkan dapur yang kotor karena ulahnya, satu hari Satrio menggantikan tugas Ayunda.


"Ternyata cape juga ya jadi seorang istri," gumam Satrio membersihkan dapur dan juga mencuci baju serta membersihkan kamar mandi.


"Tapi Ayunda tidak pernah mengeluh lelah dan dengan sabar menjalani semuanya. Belum lagi dengan sikap tempramen aku, sama sekali gak ngeluh. Ayunda kamu itu sabar banget sih,". kata Satrio yang di dengar Ayunda yang tak sengaja ingin ke belakang mengambil minum.


Satrio menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan semua sudah bersih. Satrio masuk kekamarnya dan melihat Ayunda tertidur dengan televisi menyala.


"Ya, ampun baru juga jam segini udah tidur," ujar Satrio yang mematikan tv nya.


Ayunda yang sudah tidak aktif mengajar dan hanya mengurus rumah tangga dan belajar menjadi istri yang baik untuk Satrio.


****


Minggu pagi Satrio mengajak Ayunda jalan-jalan seperti janjinya semalam. Ayunda tidak membawa bekal apapun karena Satrio melarangnya karena lapar bisa makan dijalan.


"Ay, sudah siap?" tanya Satrio dan Ayunda mengangguk pelan.


"Nanti kita makan sop iga sapi yang rasanya enak banget," kata Satrio.


"Benaran enak, Yank?" tanya Ayunda dengan mata yang khawatir. Ayunda trauma ketika Satrio merekomendasikan kuliner namun rasanya tak karuan membuat Ayunda ilfeel untuk memakannya.


"Yang ini pasti dijamin enak banget, Ay," Satrio menyakinkan Ayunda bahwa sop yang direkomendasikan dirinya enak dan pasti enak.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita jalan," kata Ayunda yang memakai celana jeans di padu kaos berkerah dengan logo red devil favoritnya dan jaket jeans tak lupa sepatu cats.


Ayunda memang seperti abg jika berpakaian seperti itu. Satrio tersenyum kagum melihat istrinya yang seperti anak SMA.


"Tau tidak aku tuh seperti jalan sama anak abg, " ungkap Satrio di telinga Ayunda.


Ayunda tersenyum malu mendengar Satrio berkata seperti itu, postur tubuh Ayunda yang kecil dan ramping membuat dirinya tampak seperti anak yang masih SMA. Satrio menyalakan mesin motornya dan Ayunda memeluk pinggang suaminya dengan erat.


Sepanjang jalan Satrio banyak bercerita setiap jalan yang dilaluinya, Ayunda hanya menjadi pendengar setia. Sesekali Ayunda bertanya jalan atau tempat yang belum pernah dikunjunginya. Sungguh bahagia hati itu, ternyata keputusan Ayunda untuk resign dari pekerjaannya tak membuat dirinya menyesal.


Ayunda ingin menghabiskan waktu bersama Satrio suaminya, bersama dengannya Ayunda menjadi perempuan yang kuat dan tidak lagi cengeng.


"Sudah sampai," kaya Satrio ketika motornya berhenti di sebuah warung makan pinggir sawah dengan menyediakan menu sop iga sapi dan sop kikil.


Ayunda berjalan masuk dan mengikuti langkah Satrio yang mengambil tempat duduk lesehan dekat sawah. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan Ayunda tersenyum kala menatap Satrio.


"Bagus kan tempatnya?" tanya Satrio.


"He em, sejuk lagi dan deket sawah. Ayunda senang banget, terima kasih," ucap Ayunda yang tersenyum.


Tak lama kemudian makanan pesanan keduanya datang, pelayan menyajikan dengan rapi dan kemudian pamit pergi.


"Terima kasih," ucap Ayunda sebelum pelayan itu pergi.


Ayunda menikmati hidangan sop iga sapi yang menurut Satrio itu enak. Ayunda seperti chef yang dalam sebuah acara di stasiun TV swasta.


"Hem em, enak rasanya dan pas dagingnya lembut dan tidak keras. Perfecto," Ayunda melingkarkan jarinya berbentuk o dan mencium jari itu.


"Benarkan, aku tidak bohong rasanya emang enak," kata Satrio dan Ayunda mengangguk pelan.


Ayunda menghabiskan makanan itu dan sudah merasa kenyang, Satrio terkekeh melihat istrinya yang sudah mulai kekenyangan.


"Nanti kita berpetualang lagi, di daerah sana ada warung sate kambing muda yang rasanya lebih enak lagi dibandingkan sate kambing yang biasa kita beli," Satrio mulai memprovokasi Ayunda untuk makan lagi.


"Aduh, aku sudah kekenyangan," rengek Ayunda membuat Satrio tertawa.


"Kan nanti makan sore, Sayang," ujar Satrio.


"Oohh, Ayunda kira makan lagi sekarang," kata Ayunda dengan menampilkan giginya.


"Kalo kamu masih kuat makan boleh," Satrio menantang Ayunda dan Ayunda menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita jalan lagi," ajak Satrio yang sudah membayar di kasir.


Perjalanan mereka kembali menelusuri daerah persawahan dan Ayunda sangat menyukai sawah nan hijau dan banyak pematang sawah yang membuat bibir Ayunda terus mengucapkan syukur kepada sang pencipta.


__ADS_2