Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-9


__ADS_3

Hari itu adalah hari Xianqiwu---hari berkat…


Rakyat Yuoji beribadah di kuil.


Kuil Dewa Roh Agung merupakan yang terbesar di kota Zhujia.


Seorang biksu tetua---lagi-lagi dari Balai Roh Pelindung—memimpin doa, menggantikan Ma Tuoli. Namanya Kai Fang. Lebih dikenal sebagai Biksu Fang. Tidak lebih baik dari Ma Tuoli.


"Oh, Dewa Roh Agung… pemberi kekayaan dan kelimpahan panen, lihatlah umatmu ini, Bangsa Yuoji yang malang…" demikian ia memulai doanya.


Seorang pemuda memperhatikan pendeta itu dari tengah kerumunan dengan tangan bersedekap, wajahnya tersembunyi di bawah tudung jubahnya yang berwarna gelap.


"Mereka datang pada-Mu membawa persembahan…" Biksu Fang melanjutkan.


Pemuda itu tersenyum sinis.


"Dari hasil panen, ternak dan sebagian kecil kekayaan mereka yang tidak seberapa… mereka berserah kepada-Mu untuk diperhamba dan menerima engkau sebagai raja atas hidup mereka. Sekarang engkau sudah melihat betapa mudahnya mereka melupakan dewa-dewa mereka. Mereka sekarang milik-Mu!"


Debutan Balai Roh sialan!


Bersamaan dengan itu, di sisi lain kuil…


Seorang penyamun—seorang pemuda berusia dua puluh tahun berpakaian ninja lengkap dengan penutup wajah dan selubung kepala, menyelinap masuk ke dalam bait suci yang hanya boleh dimasuki biksu tetua seperti Ma Tuoli karena dianggap paling keramat di mana dewa agung akan menampakkan dirinya untuk memberi pencerahan hanya kepada orang terpilih.


Namun sesungguhnya di tempat itulah biksu tetua menimbun harta benda dari semua orang yang datang memberi persembahan.


Dan… karena tempat itu dianggap sakral, para biksu penjaga bahkan takkan berani menginjakkan kakinya meski hanya di pelatarannya.


Jadi sampai sejauh ini, si penyamun menang banyak.


Ninja penyamun itu merayap melalui lubang di atas kepalanya dengan menggunakan tali rami yang biasa digunakan untuk membuat karung dan cemeti, yang diulurkan penyamun lainnya yang juga berpakaian ninja misterius yang sama namun dilapisi mantel lusuh berwarna hitam kusam dengan tudung kepala.


Lubang itu dibuat oleh mereka pada malam sebelumnya setelah memata-matai situasi dan memahami denah kuil dengan menyamar sebagai umat.


Jika dilihat dari arah luar, lubang itu hanya berupa lubang jalan biasa karena letak gudang penyimpanan harta biksu tetua berada di ruang bawah tanah yang tersembunyi di bawah altar bait suci.


Bisa dikatakan ruang rahasia di balik ruang rahasia.


Tidak ada yang curiga meski orang-orang berseliweran melewati gang antara tembok kuil dan tembok Balai Roh Pelindung yang saling membelakangi itu, dan menemukan seorang pemuda membungkuk di sana berbalut mantel usang. Sepintas orang-orang mengira pemuda itu hanya pengemis yang biasa tinggal di emperan toko dan di lorong-lorong sempit seperti tempat itu.

__ADS_1


Sementara pemuda itu menunggu, rekannya di bawah sana mengemas harta curian ke dalam kantong yang telah disiapkan dan mengikatkannya pada tali.


Si pemuda yang di bawah akan memberi tanda dengan cara menggoyang tali itu sebagai isyarat jika sudah saatnya si pemuda di atas menarik tali.


Kantong demi kantong berisi bertael-tael emas dan perak berhasil ditarik keluar melalui lubang yang sama.


Ketika tiba saat si pemuda yang di bawah harus naik, empat serdadu patroli bangsa Luoji tiba-tiba melintas di gang itu dan menemukan si pemuda bermantel usang.


"Hei! Yuoji!" Salah satu dari serdadu itu meneriaki si pemuda seraya melontarkan tatapan tajam yang menyelidik.


Mereka berhenti dalam jarak dua tombak di depan pemuda itu. Tidak berani gegabah untuk lebih dekat lagi.


Cara berpakaian bangsa Yuoji dan bangsa Luoji memang dapat dibedakan dengan mudah hanya dengan melihat bahan dasar kain dan corak khas masing-masing bangsa.


Bangsa Luoji memakai bahan sutra terbaik untuk membuat pakaian mereka dengan corak mewah berwarna metalik, sementara bangsa Yuoji membuat pakaian dari bahan katun dengan corak batik yang dilukis para pengrajin.


Bisa dikatakan perbedaan pakaian mereka seperti budak dan tuan.


"Apa yang kau lakukan di sana?" serdadu patroli itu bertanya padanya dengan tatapan waspada.


Sementara itu, dari bawah sana, rekannya juga mempertanyakan hal yang sama, "Apa yang kau lakukan di sana?" pemuda di bawah mendesis tajam ke arah lubang, tidak berani bersuara lebih keras lagi. Ia menggoyang-goyangkan tali itu namun tidak mendapat reaksi.


"Kenapa kau menyembunyikan wajahmu?" serdadu itu bertanya lagi.


"Aku hanya hamba sahaya, Tuan!" jawab pemuda itu.


"Perlihatkan wajahmu pada kami!" hardik serdadu itu.


Pemuda itu semakin tertunduk.


Di bawah, pemuda lainnya mulai gusar. "Apa yang terjadi?" desisnya gelisah. "Hei—ada apa di sana?" ia menggoyangkan talinya lebih kencang lagi.


"Turunkan penutup kepala sialanmu!" serdadu itu mengulang perintahnya.


Pemuda itu berdeham, ia menaikkan sebelah tangannya perlahan dan merenggut tudung kepalanya, kemudian menurunkannya sambil mengangkat wajahnya dan menyeringai, dan dua dari keempat serdadu itu merasa seperti mendapat peringatan.


Seraut wajah lancip putih porselen, rambut panjang hitam mengkilat selurus penggaris yang diikat sebagian dalam gaya hun. Mata rubahnya yang berwarna cokelat keemasan memberikan tampilan mata pengembara padang belantara yang biasa digunakan untuk meneropong jauh ke medan gelap.


"Aku kenal dia!" bisik salah satu serdadu dengan gusar.

__ADS_1


Pemimpin mereka meliriknya dengan mata terpicing.


"Shashou. Dia berbahaya," serdadu itu memberitahu.


Shashou adalah sebutan untuk anggota Sekte Belati Kaida---sekte baru yang tergabung dalam kelompok pemberontak yang menamakan diri sebagai aliansi pemuda pribumi, yang diyakini sebagai sempalan sekte belati tertua dari sayap radikal Kuangre.


Serdadu pemimpin itu berdeham dan mendongak seraya melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya dan membusungkan dada. "Ikut kami!" perintahnya pada pemuda itu. "Mari kita temui majikanmu jika kau mengatakan yang sebenarnya."


"Baik," jawab pemuda itu sambil tersenyum. "Memangnya kenapa aku harus menolak?" tali dalam genggamannya tiba-tiba mengetat, pertanda bahwa rekannya di bawah sedang memanjat. Tanpa pikir panjang, ia pun melepaskan tali itu dan seketika pemuda di bawah terjerembab di lantai ruang bawah tanah, meninggalkan bunyi berdebuk ribut yang bisa menarik perhatian.


BRUK!


"Hua Zu!" pekik pemuda di bawah keceplosan.


Hua Zu melangkah perlahan ke arah para serdadu dengan kedua tangan tetap terlipat di belakang tubuhnya.


Para serdadu itu serempak mendekat dan seketika itu juga Hua Zu memutar tubuhnya sambil melompat melambungkan tubuhnya hingga setinggi dua tombak dalam gerakan seringan angin, bersamaan dengan itu tiga belati kecil terlontar dari sela-sela jemari tangannya, kemudian melesat ke arah mereka.


SLASH!


SLASH!


BRUAK!


Dua serdadu terpelanting ke belakang dan terjerembab di lantai koridor. Dua lainnya berhasil mengelak.


"Shashou!" salah satu serdadu yang terjerembab di lantai berteriak nyaring mengirim isyarat darurat pada kelompok patroli lainnya, sesaat sebelum kehilangan kesadaran.


Dan dalam sekejap empat serdadu lainnya bermunculan dari arah berlawanan, menyusul empat yang lainnya lagi. Bersamaan dengan itu dua tombak serdadu pertama melesat ke arah dada Hua Zu.


Hua Zu melompat ke sisi gang, kemudian menjejakkan kakinya ke dinding Balai Roh Pelindung untuk kemudian memantul ke dinding kuil, lalu menjejakkan kakinya lagi di dinding kuil untuk kemudian memantul lagi ke sisi lainnya, begitu seterusnya ia memantul-mantul ke sana-kemari untuk menghindari setiap serangan. Setiap satu lompatan, tubuhnya semakin naik.


Dan sampai sejauh ini, para tentara patroli itu masih bisa diatasi dengan mudah tanpa harus repot-repot membuang sicae. Akan tetapi, situasinya mulai mendesak ketika tentara khusus pasukan abadi yang lebih dikenal dengan sebutan royal guard mulai turun tangan.


Tentu saja kemampuan mereka tidak setara dengan para serdadu biasa.


Tak ingin ambil risiko, Hua Zu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan rekannya di ruang bawah tanah bait suci, dan menjebloskan diri ke dalam lubang.


Begitu ia mendarat di lantai ruangan bawah tanah itu, situasinya ternyata tak jauh lebih baik.

__ADS_1


Tempat itu juga sudah dikepung!


__ADS_2