Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-35


__ADS_3

Akhirnya, para pelayan datang membawa satu set arak baru ke meja pangeran. Pria itu segera menenggak cangkir araknya yang baru diisi. Dalam saat-saat seperti ini, pria itu sepertinya membutuhkan minuman yang lain untuk meredakan kegelisahannya.


Oh, Tuhan, pikir wanita di sampingnya sambil mengawasi pria itu dengan khawatir, mungkin ada sesuatu yang sangat menggangu pikiran pria itu malam ini.


Tiba-tiba wanita itu ingin menanyakan apakah ada sesuatu yang dirisaukan pria itu, tapi akan dipandang tidak pantas bagi seorang wanita untuk menunjukkan minat pada urusan dunia lelaki.


Mencoba meredakan sengatan rasa ingin tahu yang sangat kuat, wanita itu menatap mata sang pangeran dengan sorot bertanya. Tapi lalu tertunduk begitu Tio Jun menghujamkan tatapan berkilat-kilat.


Saat keheningan menggeliat menyiksanya, wanita itu mengirimkan isyarat memohon pada gerombolannya di seputar meja, mereka yang ceria biasanya tak pernah kehilangan kata-kata dalam keadaan apa pun, tapi kali ini sponsornya membiarkan wanita itu terperangkap dalam keadaan sulit.


Pada saat itu, keheningan yang menyelimuti mereka dibuyarkan oleh kedatangan Gubernur Pao Lu, didampingi Selir Yuwen.


Shin Wu dan Hua Zu bertukar pandang dan saling mengangguk sekilas, kemudian menyisi ke meja perjamuan yang disediakan khusus untuk para kerabat, sementara sang gubernur naik ke singgasana Xi Xia untuk memberi sambutan.


Sederet aristokrat muda berwajah angkuh telah mengambil tempat mereka masing-masing, berdiri berjejer di sepanjang aula, tampak mempersiapkan diri untuk ajang pamer yang akan mereka hadapi. Dalam hati, mereka masing-masing sudah tak sabar untuk menghabiskan waktu malam ini dengan permainan favorit mereka, "buka kado."


Ah, ya!


Bagi mereka memang sangat menyenangkan selama beberapa saat bisa mengetahui dan membanding-bandingkan siapa di antara mereka para bangsawan yang terhormat yang paling memukau.


Lagi pula, ini istana gubernur.


Selain itu, pertemuan seperti ini memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menyampaikan pidato singkat di mana tidak satu pun bangsawan akan menolak mendengarkannya.


Sang gubernur mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, memberi isyarat bahwa mereka sudah cukup siap untuk memulai permainan, bersikap seolah-olah mereka akan membuka sebuah pintu masa lalu untuk menyaksikan sayembara kolosal.


Setelah beberapa kali melakukan pertemuan semacam ini, para bangsawan yang terhormat itu sudah hafal jenis bangsawan muda pengecut yang suka tebar pesona.


Beberapa di antaranya adalah penjilat yang senang bersolek, tidak diragukan, pasti anak muda dari kalangan aristokrat yang tentunya lebih memilih berada di rumah judi di Makau.


Ada juga jenis anak manis yang suka berdandan klimis yang akan berlindung di ketiak sang ayah ketika perundungan mulai menggila.


Tapi kemudian derap kaki kuat dengan irama teratur dari tumit sepatu armor yang beradu dengan lantai, memberikan kesan pertama pada seluruh tamu bangsawan yang terhormat itu bahwa perkiraan mereka sedikit… meleset.


Aristokrat muda pertama berjalan ke tengah ruangan.


Dan setengah dari tamu bangsawan kehormatan itu merasa seperti… mendapat peringatan.


Beberapa orang sebenarnya terkesiap.

__ADS_1


Mereka semua menatap pemuda itu, memberikan pandangan antara bingung dan kagum.


Tatapan mereka sekarang terpaku pada sosok memukau berambut merah berwajah kencang dengan setelan pakaian glamor. Dan mereka semua akhirnya tahu sosok flamboyan berparas dewa ini tak bisa diremehkan, sehingga mereka diam.


Pria itu menatap lurus ke depan saat berjalan, tapi tak cukup rendah hati untuk menatap barisan para bangsawan berwajah arogan di sepanjang aula ketika melewatinya.


Sikapnya tenang dan tatapan dinginnya mengirimkan peringatan… atau bisa dibilang sorotan muak. Pemuda itu bahkan mengabaikan gumaman semua orang, "Siapa dia? Kenapa banyak sekali Nefilim di istana gubernur?" dan tetap berjalan dengan gerakan terkendali, penuh kekuatan dan luwes.


Setelah mencapai pelataran singgasana Xi Xia pemuda itu berhenti dengan gerakan yang tepat, dan tidak memberi hormat. Tetap berdiri tegap dengan sikap waspada. Kemudian mengerling sekilas melewati bahunya, mengisyaratkan pada pelayan di belakangnya untuk membuka kotak hadiah yang dibawanya.


Hua Zu mengerjap gelisah menatap hadiah yang dibawa pemuda berambut merah itu.


Sebuah kalung paladium dengan permata berwarna hitam---batu energi alam semesta—Lucifer.


"Bintang Timur!" Pemuda itu memulai pidato singkatnya, menjelaskan nilai persembahannya. "Kalung permata terapi, dapat menyembuhkan berbagai penyakit."


Para bangsawan di seluruh ruangan menggumam serentak tanpa bisa menutupi kekaguman mereka.


Semua orang tahu, kalung permata terapi itu tidak mudah didapatkan, bahkan jika ia keluarga kaisar.


Mata Xi Xia berbinar-binar ketika beradu pandang dengan pemuda itu. Tidak terpukau oleh hadiah yang dibawanya.


Shen Ryu! pikirnya terkejut.


Shen Ryu adalah sang Putra Fajar—penghulu malaikat kegelapan yang telah diremukkan.


Setiap ras dewa yang telah diremukkan tak bisa dibangkitkan maupun bereinkarnasi, kecuali seseorang menemukan batu energi dari pecahan tubuhnya, kemudian menyerapnya dan bermutasi seperti putra mahkota, mengubah manusia menjadi dewa.


Tapi batu energi dari tubuh Shen Ryu adalah yang paling tinggi dari batu energi tentara langit.


Kekuatan Shen Ryu hampir setara dengan Jiyou.


Shen Ryu bisa mengikat jiwa siapa saja yang diinginkannya dan menjadikan semua orang sebagai miliknya.


Dan itu artinya Xi Xia sungguh celaka!


Siapa dia? bisik Hua Zu dalam bahasa cahaya. Lalu memasang telinga untuk mendengar suara hati semua orang.


Sejumlah wanita membatin kagum, sementara para pria di sana-sini membatin jengkel. Sangat berisik!

__ADS_1


Tampan sekali…


Keparat arogan!


Andai dia sedikit manis.


Dia luar biasa!


Bajingan keras kepala!


Seandainya aku lebih muda sepuluh tahun…


Tian Xu…


Si tangan besi!


Putra Hakim Agung, Tian Fu!


Hua Zu mengerjap, menutup pendengarannya.


Suara Xi Xia yang terdengar seperti burung pipit ketika menyampaikan ungkapan terima kasih yang bertele-tele, menggantikan kebisingan jeritan hati semua orang.


Tapi itu terdengar jauh lebih baik di telinga Hua Zu dibanding suara hati. Suka cita dalam hatinya terdengar seperti nyanyian.


Seolah bisa merasakan dirinya tengah dipindai, Tian Xu tiba-tiba menoleh pada Hua Zu.


Mata serigalanya yang berwarna hazel memberikan tampilan mata pengembara padang pasir yang biasa digunakan untuk meneropong jauh ke medan gelap. Rahangnya yang tinggi menegaskan wajah kokoh yang pantang menyerah. Semua itu menggambarkan kekuatannya sebagai seorang tentara langit yang patut diperhitungkan di medan perang.


Atau mematikan.


Menatap dengan tak sabar, sejujurnya Tian Xu berharap supaya Hua Zu merasa tak nyaman.


Tapi Hua Zu balas menatap ke dalam matanya dengan raut wajah yang seolah selalu tersenyum, meski sepasang mata birunya berkilat-kilat menghujamkan isyarat tantangan yang hanya disadari oleh Tian Xu.


Lalu suara Xi Xia menjeda pertikaian mereka.


Tian Xu menaikkan rahangnya dan menoleh pada Xi Xia dengan senyuman maut paling memukau yang dimilikinya, sementara yang lain bergerak gusar di tempat mereka ketika tiba-tiba tersadar hingga timbul kegelisahan bahwa mereka harus bersaing dengan orang seperti ini.


"Panjang umur, Nona Lim!" Tian Xu mengangguk sekilas pada Xi Xia, sebelum akhirnya berbalik sambil melirik sekilas pada Hua Zu dengan hidung mendongak.

__ADS_1


__ADS_2