
"Ohhh!"
Kedua murid Jieru itu terpekik bersama ketika menyadari bahwa yang mereka lihat itu adalah tanaman.
Segerumbul tanaman yang bangkit bersama-sama.
Mereka tercekat dan tersentak mundur.
Gerumbulan tanaman rambat itu hidup!
Ketiga daunnya membentuk kepala dan dua tangan. Semuanya mengangguk-angguk saat tanaman itu meregang pada sulurnya. Melampaui lapangan rumput di tepi danau.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Sulur-sulur panjang itu meraih ke arah mereka, meliuk dalam kegelapan.
Mereka berkelit dan melompat mundur seraya menghunus pedangnya masing-masing.
Kabut tebal kembali menutupi bukit.
Mereka tak bisa melihat apa-apa.
Sesuatu yang merayap seperti ular melilit mata kaki mereka.
Kedua pemuda itu mengerjap dan tertunduk untuk memeriksa kaki mereka. Tapi tiba-tiba tubuh mereka terseret ke depan, kemudian terjengkang dan dalam sekejap sulur-sulur tanaman itu melilit seluruh tubuh mereka dan menyeret mereka ke dalam tanah.
"Guru!" suara keduanya tercekik dan terbenam.
Kegelapan pekat menyergap mereka.
Entah berapa lama kegelapan itu menguasai Dunrui.
Bercak-bercak ungu tua melayang di depan mata Dunrui. Sebagian dari dirinya ingin tenggelam lagi dalam kegelapan, tapi sebagian dirinya yang lain berjuang keras untuk sadar sepenuhnya.
Lambat laun bercak-bercak ungu itu memudar, berganti abu-abu.
Kabut menipis, dan muncul seraut wajah lancip putih porselen dengan sepasang mata biru terang.
Mula-mula terlihat jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Semakin dekat…
Semakin bercahaya.
__ADS_1
"Kurasa dia sudah sadar!"
Dunrui mendengar seseorang berkata. Lalu wajah khawatir saudara seperguruannya muncul dari balik kabut abu-abu.
"Apa yang terjadi?" tanya Dunrui.
Saudara seperguruannya hanya mengangkat bahu.
Dunrui menarik duduk tubuhnya dan mengedar pandang sambil mengernyit. Ia melihat sebuah ruangan seperti istana batu gunung berwarna hitam mengkilap yang dipahat dengan sempurna, membentuk meja, jendela, tempat tidur… dalam detail yang sangat apik.
Sederet relief berbentuk aneh berderet di sepanjang tepi dinding seperti bingkai. Seluruh ruangan tampak gemerlap didominasi warna emas dan perak yang dipadu dengan batu-batu permata yang belum pernah dilihat Dunrui seumur hidupnya.
Cawan-cawan emas dan perak tertata artistik di meja batu berlapis kain lenan lembut.
Tirai-mirai dari kain lenan, mori halus dan kain ungu tua, yang terikat dengan tali lenan halus dan ungu muda bergantung pada tombol-tombol perak di tiang-tiang marmar putih. Sebuah katil emas dan perak ditempatkan di atas lantai pualam, marmar putih, gewang dan pelinggam.
Seperti istana langit, pikir Dunrui kagum.
Pemuda berwajah lancip putih porselen itu mengenakan jubah labuh berwarna putih menyala berlapis mantel armor putih metalik berbahan linen dengan ikat pinggang berwarna emas.
Rambut panjangnya yang berwarna emas dibiarkan tergerai sampai ke pinggang, sebuah ikat kepala dari emas melingkar di dahinya seperti mahkota.
Ketampanannya tak manusiawi.
Penampilan khas pria cantik memukau dari ras peri.
Pikiran itu memicu ingatan Dunrui. "Apa aku sudah mati dan masuk surga?" Pertanyaan konyol itu spontan terlontar dari mulutnya.
Pemuda elegan yang bercahaya di sisi tempat tidurnya itu tersenyum tipis.
Dunrui terkejut mendapati pemuda itu ternyata jauh lebih muda dari dugaannya. Bahkan terlihat jauh lebih muda dari dirinya.
Dan ketika pemuda itu berbalik memunggunginya, melangkah pelan ke arah jendela, Dunrui dipaksa untuk mengetahui tinggi badannya yang mengesankan.
Ia menatap lurus ke depan saat berjalan dengan gerakan terkendali, penuh kekuatan dan luwes, dan postur tubuhnya tegap sempurna. Hidung mancungnya yang mendongak arogan di atas bibir tipisnya memberikan kesan dingin, bertolak belakang dengan sorot matanya yang berbinar-binar hangat. Sepasang mata birunya memberikan tampilan wajah ramah yang seolah selalu tersenyum. Sangat berbeda dengan kesan yang ditampilkannya ketika pemuda itu menyembunyikan wajahnya di bawah tudung jubah berwarna gelap.
Setelah mencapai jendela, makhluk rupawan itu berhenti, kemudian memutar dengan gerakan yang tepat.
Untuk beberapa saat, tidak satu pun dari kedua murid Jieru itu tahu apa yang akan mereka katakan, bagaimana cara memulainya. Keduanya hanya terpaku menatap pemuda itu, mengagumi sosok menawan di hadapan mereka untuk mengingat bahwa pemuda setampan itu akan menjadi guru mereka.
Mantel linen bercorak X berlapis Y melekat pas di dada bidangnya saat ia membeku. Kedua sisi mantel di bahunya yang lebar berbeda warna. Salah satu sisi mantel dipulas dengan warna biru terang seperti matanya, sementara sisi lainnya yang dipulas dengan warna emas berkilau di bawah cahaya kandil yang menggantung di langit-langit di atas kepalanya. Ikat pinggang lebar yang juga berwarna emas melingkar sempurna di pinggang rampingnya. Sepatu bot selutut bercorak---apa lagi kalau bukan emas---seperti baru digosok dan tampak tak bernoda.
"Ada yang bilang hutan Jinzhi sangat keramat," Hua Zu memberitahu. "Tidak ada laki-laki yang diterima. Hutan Jinzhi tidak akan membiarkan mereka masuk atau keluar hidup-hidup."
__ADS_1
Hutan Jinzhi? pikir Dunrui terkejut.
"Akan ada saat di mana hutan ini tak lagi keramat bagi kalian," Hua Zu menoleh sekilas pada mereka.
Jadi kami masih berada di hutan Jinzhi? pikir Dunrui tak yakin, lalu bertukar pandang dengan saudara seperguruannya.
Siapa mengira di hutan terlarang tersembunyi sebuah istana milik ras dewa?
"Apa yang dapat kami lakukan?" saudara seperguruan Dunrui bertanya pada Hua Zu.
Hua Zu tersenyum tipis sekali lagi, "Berdamai," katanya dipenuhi makna. Lalu memalingkan wajahnya lagi, memandang lepas ke luar jendela.
Dunrui bertukar pandang lagi dengan saudara seperguruannya.
"Apakah itu berarti kami tak bisa keluar hidup-hidup sebelum kami memahami arti berdamai yang Guru maksud?" Dunrui bertanya lagi.
"Itu akan menjadi latihan pertama kalian," kata Hua Zu.
Dunrui langsung terdiam.
.
.
.
Sementara itu…
Di sisi lain pinggiran kota, Zhou Hua Zu—atau Hua Zu berambut hitam yang telah berhasil meloloskan diri dari kejaran para serdadu memborong banyak makanan dan membagi-bagikannya pada para pengemis di sepanjang jalan menuju desa mereka sambil berlari-lari kecil dan tertawa-tawa, "Masak bagian dalamnya, lalu makan bagian luarnya?" Hua Zu mengajukan teka-teki kepada rekannya, tidak menunggu untuk mendengar pujian maupun ucapan terima kasih dari siapa pun, menoleh saja tidak.
"Apa itu?" rekannya tak bisa menjawab. "Apa yang selalu mengikuti kita, namun telinga kita tak bisa mendengarnya?" alih-alih menjawab, ia membalas Hua Zu dengan teka-teki lagi.
"Teka-tekimu seburuk rencanamu hari ini," dengus Hua Zu. Lalu membalasnya dengan teka-teki lagi, "Apa yang berdaging tapi tak berdarah, dan hati sekeras batu?"
"Apa maksudmu itu zaitun atau ketua Yu?" kelakar temannya sambil terkekeh.
Lalu keduanya terbahak-bahak dan mempercepat larinya menuju jalan berkerikil menuju desa mereka, jauh dari perbatasan kota.
Mencapai dasar tangga menuju gerbang markas mereka, Hua Zu menghambur lebih dulu dan melompati dua anak tangga sekaligus.
Rekannya terengah-engah di belakangnya.
"Ada kabar para bangsawan Luoji akan melintas di kaki gunung Jingling!" Guru mereka, Dai Xiao Yu menyambut dengan tatapan dingin dan raut wajah datar. Pria itu tahu-tahu sudah berdiri berkacak pinggang di puncak tangga di bawah pintu gerbang markas mereka.
__ADS_1
Hua Zu dan rekannya menghentikan langkah di anak tangga ketiga dari atas. Lalu bertukar pandang.
"Xi Mo! Kau ikutlah dengan mereka," ketua mereka berkata pada rekan Hua Zu sambil mengerling melewati bahunya, menunjuk lima pria berpakaian misterius yang sama. "Dan kau ikut aku!" katanya pada Hua Zu.