Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-17


__ADS_3

"Hua Zu! Hua Zu!" Lim Shin Wu, mengenakan changsan berwarna perak di atas celana putih dan sepatu bot berongga setinggi lutut berwarna hitam, berseru sambil menunjuk tanaman rambat berbunga kuning yang mati di jalan setapak akibat sering terinjak. "Ayo, lakukan lagi. Buat bunga ini tumbuh!" pintanya dengan bersemangat.


Hua Zu, mengenakan jubah labuh cokelat kusam di atas celana hitam dan sepatu kanvas selutut, menghampirinya dan membungkuk di atas tanaman rambat yang mati itu, lalu menangkup setangkai bunga yang kering dengan kedua tangannya. Ketika ia melepaskannya, bunga itu kembali hidup, mekar dan segar dalam sekejap.


"Whoa—" Lim Shin Wu terbelalak dengan ekspresi takjub. "Bagaimana kau melakukannya?"


"Aku tidak tahu," jawab Hua Zu. "Itu terjadi begitu saja."


Hua Zu mendesah pendek dan tertunduk dengan raut wajah murung. "Dengar, Shin Wu! Ibuku bilang… ini adalah rahasia. Apakah kau mau bersumpah bahwa kau tidak akan menceritakannya pada siapa pun?"


Shin Wu berhenti mengedar pandang dan menoleh pada Hua Zu dengan mata terpicing. "Kenapa? Ini adalah bakat luar biasa!"


"Tidak, kumohon. Jangan katakan ini pada siapa pun. Bersumpahlah!" desak Hua Zu.


Shin Wu terlihat ragu, tapi lalu menyerah dan mengacungkan telapak tangannya di sisi wajahnya, "Aku bersumpah tidak akan mengatakannya pada siapa pun, bahkan ibuku!"


Tentu saja, kenang Shin Wu getir. Tentu saja ada yang bagus di Naseli.


Ada keajaiban di Naseli!


Ada keajaiban di udara…


Tanah…


Dan air…


Dan…


Dia!


Apakah dia masih hidup?


Mungkin sebaiknya aku memeriksanya, pikir Shin Wu.


Tapi tentu saja setelah aku mengurus si bajingan Kaida!


Sekonyong-konyong, pemuda itu tersenyum samar.


Baiklah, pikirnya licik. Jadi kau seorang Mi Sai Ya?


Mari kita lihat bagaimana aku akan menanganimu?


Apa yang bisa dilakukan seorang raja yang akan datang yang telah diramalkan?


.


.


.


Gunung Jingling…

__ADS_1


Jieru membeku di depan meja bacanya, menyimak hujan badai dan gelegar halilintar dengan perasaan getir yang misterius. Tercenung antara marah dan gelisah.


Ia seperti bisa mendengar jeritan istrinya di antara gemericik hujan.


"Nongnim!"


Lalu suara putranya dalam pusaran angin.


"Ayah!"


Suara Hua Zu kecil menyayat ulu hatinya.


"Nongnim!"


Sekarang ia mendengar suara Kakek Ghou di sudut ruang bacanya.


Dan ketika ledakan halilintar kembali menggelegar, bayang-bayang tubuh istrinya berkeredap di pelupuk matanya, meledak menyemburkan pecahan batu hitam menyala seperti batu bara.


Sebagai penganut garis keras ajaran dewa cahaya, kepada Jieru diajarkan bahwa perkawinan silang antara ras dewa dengan manusia merupakan suatu kekejian.


Dan sebagai penerus tahta ketua di Balai Roh Pelindung Jieru telah dilatih sejak kecil untuk memburu para Fallen---malaikat jatuh, yang menikahi ras manusia dan membasmi keturunannya, para Nefilim---keturunan campuran.


Tapi kemudian ia dihalau dari Balai Roh Pelindung tatkala terbukti istrinya bukan manusia.


Pada mulanya Jieru menolak untuk percaya.


Tapi permasalahan buruk terus mengikutinya seperti kutukan.


Segerombol pengkhianat yang sama kemudian mengepung rumahnya, memporak-porandakan keluarganya, membunuh ayah angkatnya, memburu putranya dan meremukkan tubuh istrinya.


Pada saat itulah Jieru akhirnya tahu Jia Lin bukan seorang manusia. Pecahan batu meteorit yang meledak dari tubuhnya membuktikan bahwa ia berasal dari ras dewa.


"AAAARGH…!!!" Kemarahan menggelegak dalam dirinya. Membuat Jieru tak mampu menahan dirinya untuk tidak meraung dalam angkara murka.


"Guru!" Dua muridnya menyeruak ke dalam ruangan dengan raut wajah panik.


Jieru melemas di kursinya. Terpuruk dengan tubuh gemetar karena geram.


"Guru! Anda tidak apa-apa?" Kedua murid itu menghampiri Jieru dengan tergopoh-gopoh, memegangi bahu pria itu di kiri-kanannya.


"Lagi-lagi bajingan Kaida!" Jieru menggeram sambil memukul permukaan meja dengan kepalan tangannya.


Kedua muridnya saling menatap.


Mula-mula mereka menghancurkan rumahku, menghancurkan keluargaku, lalu menghancurkan istriku! kenang Jieru merana.


Sementara nuraninya mengakui dirinya tercela, pikirannya yang aktif tidak membuang-buang waktu dalam menawarkan beberapa pilihan mengenai gagasan yang mengerikan.


Para bajingan Kaida diperlengkapi seragam yang sama, senjata yang sama, strategi pergerakan yang sama, dan disebut-sebut sebagai sayap radikal Kuangre.


Mereka juga beroperasi di kaki gunung Jingling untuk mencoreng nama Kuangre.

__ADS_1


Dan sekarang mereka juga membantai anggota Kuangre secara terang-terangan di tempat umum.


Siapa pun bajingan yang menjadi pelopor Sekte Belati Kaida jelas punya masalah pribadi dengan dirinya.


Dan gagasan-gagasan mengerikan itu kemudian membawa dirinya pada sebuah kesimpulan yang lebih mengerikan lagi.


Siapa pun bajingan yang menjadi pelopor Sekte Belati Kaida ini tentunya bukan orang lain!


Dugaan-dugaan itu memperkuat pertanyaan penting yang selama ini tertanam dan mengakar dalam kepalanya.


Apakah masalah batu energi ini sedemikian berarti?


.


.


.


Ibukota Yeliushen…


Dari balik jendela-jendela kediaman Selir Yuwen, tampak hari yang terlihat begitu indah, cerah dan sejuk.


Dari aula besar tempat Xi Xia duduk, ia dapat melihat bayangan ranting-ranting dan dedaunan dari pohon persik di atas rerumputan.


Di dekat singgasana Selir Yuwen, terdapat beberapa meja rendah di mana para selir sang gubernur berkerumun membicarakan peristiwa kemarin malam dan mendiskusikan trauma sebagai tawanan.


Mengenakan hanfu sutra damask berwarna biru lembut, Xi Xia dan saudara-saudara perempuannya dari selir yang lain berjajar di depan meja perjamuan, mereka saling menatap satu sama lain dengan semacam rasa syukur dan ikatan yang baru.


Bukan hanya karena mereka sekarang adalah sekelompok orang yang baru kembali dari Balai Sosial, tapi faktor pengikat lainnya adalah mereka akhirnya tahu mereka bereaksi dengan cara yang sama.


Gemetaran, ketakutan, dan yang terburuk, pasif, tiba-tiba bungkam, tanpa terkecuali.


Tidak ada pahlawan di dalam kelompok, mereka semua tidak mampu bahkan untuk menyelamatkan diri, apalagi menyelamatkan orang lain.


Tidak ada yang bereaksi, bahkan ketika harta benda mereka yang tak ternilai dan keramat semua dirampok.


Mereka semua telah merasakan ketakutan yang sama.


Kini bukan saatnya untuk membual tentang siapa yang paling hebat di istana gubernur.


Tidak ada pengalaman nyata sebelumnya yang mengalahkan kejadian yang baru saja mereka alami.


Karena di tengah hujan yang dingin itu, sendirian di dalam karung kain, mereka baru saja melihat sifat pengecut yang tanpa mereka sadari ternyata ada di dalam diri mereka. Makhluk hina yang pasti akan mereka kasihani, membuat mereka jengkel dan malu, jika sifat tersebut tampak pada diri orang lain.


Tetapi sekarang, setelah menemukan itu di dalam diri mereka sendiri, dipaksa untuk mengenali dan menerimanya, mereka menjadi lebih terbuka, lebih rendah hati, dan lebih ringan.


Mereka berdesak-desakan di dalam kereta di sisa perjalanan itu.


Dan sekarang, mereka bersama untuk perjamuan selir Yuwen, mengenakan lambang persaudaraan baru ini.


Selir Yuwen telah mengusulkannya.

__ADS_1


Bagaimanapun mereka perlu merayakannya.


__ADS_2