
Hujan menderas disertai badai—sesekali diselingi gelegar halilintar, ketika Zhou Hua Zu berkubang dalam kesedihan dan angkara murka.
Terpuruk!
Berlutut di depan pusara ketua Yu yang baru dikuburkannya.
Luluh lantak di bawah guyuran hujan.
Terjebak dalam lara yang membingungkan. Meratapi kepahitan janggal yang menggelayut di lehernya, menelan kesesakan misterius yang menusuk dadanya, menyesali keputusasaan gaib yang tertinggal di balik punggungnya.
Bukan sekali ini Hua Zu menyaksikan rekan-rekannya tewas bergelimpangan ketika mereka terpaksa bentrok dengan pasukan tentara Luoji. Tapi baru sekali ini dia merasa dunianya ditunggang-balikkan.
Kepahitan mengalahkannya.
Tapi ia sendiri bahkan tak tahu kenapa ia begitu merana. Seperti mau mati rasanya!
Seluruh tubuhnya gemetar karena geram. Pakaiannya yang basah kuyup terasa membebani bahunya. Kakinya lemas seperti kertas. Kepalanya berdenyut-denyut.
Ia menghela bangkit tubuhnya, memaksa diri berjalan.
Tapi tiba-tiba kilau cahaya keperakan di area hutan terlarang tertangkap oleh matanya yang jeli ketika kilat berkeredap sepersekian detik.
Benda itu tertanam di mulut gua di kaki gunung, tepat di bawah benteng Kaida, berbatasan dengan hutan terlarang.
Hua Zu berjalan menuju tempat itu, pandangannya tertuju pada sebilah pedang terbesar yang pernah ditemukannya di masa ini.
Bilah pedang itu menyala seperti bara api. Simbol poligon---bintang berekor delapan dari emas empat belas karat bertatahkan batu meteorit warna hitam menghiasi penahan batang bagian bawah. Penahan batang bagian atasnya dihiasi batu yang sama tanpa simbol poligon.
Hua Zu membungkuk untuk mengambilnya, mencabutnya dengan kedua tangan. Dan seketika itu juga ledakan halilintar menggelegar dari ujung mata pedangnya.
Ledakan cahaya putih terang membutakannya.
Lambat laun cahaya itu memudar. Kabut menipis, dan muncullah rentetan peristiwa di mana ia melihat dirinya sendiri melesat ke udara mengayunkan pedangnya ke arah pedang yang terlontar dari tangan seseorang dan membenturkan kedua pedang itu dengan teknik tertentu sehingga pedang itu memutar balik ke arah pemiliknya.
Detik berikutnya pemilik pedang tersebut memekik dengan mata terbelalak. Kedua tangannya serentak memegangi pedang yang sudah menancap menembus ulu hatinya. Tak lama kemudian tubuh itu pun roboh, lalu meledak menyemburkan pecahan batu menyala yang jatuh ke dalam lubang besar yang teramat dalam.
Ia juga melihat seseorang mengenakan jubah labuh berwarna putih menyala dengan ikat pinggang berwarna emas, begitu juga dengan kasutnya. Rambut panjangnya yang berwarna emas dibiarkan tergerai sampai ke pinggang, sebuah ikat kepala dari emas melingkar di dahinya seperti mahkota.
"JIYOU!!!" sebuah teriakan menggelegar tatkala pria berambut emas itu terseret bersama sepertiga bintang.
Terdengar seperti suaranya sendiri.
Hua Zu tersentak dan melemparkan pedang itu dari tangannya.
Sekali lagi, ledakan halilintar memecah kesunyian.
"Pedang itu lagi!" rutuknya terengah-engah. Bukankah pedang itu berada di bait suci? pikirnya.
Ia mengamati pedang itu sekali lagi—sekarang sudah tergolek di mulut gua. Kemudian menyadari pedang itu berbeda dengan pedang yang ditemukannya di bait suci. Keduanya memang memiliki batu hitam yang sama, tapi bentuk dan ukurannya sama sekali berbeda.
Telapak tangannya terasa panas ketika ia menyentuh gagang pedang yang di bait suci, tapi yang ini tidak bereaksi apa-apa kecuali memicu penglihatan yang sama.
Apa artinya ini? Hua Zu bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah batu hitam yang tertanam di kedua pedang itu mengandung racun yang dapat memicu halusinasi?
Lalu kenapa halusinasinya selalu sama?
Dan pria itu, pikirnya sambil mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat pria berambut emas.
__ADS_1
Ah—benar! ia menyadari. Tentu saja, katanya dalam hati. Di bait suci.
Bait suci, batu hitam, Nefilim… pedang… perang…
Apa artinya?
Hua Zu mencoba memungut pedang itu lagi. Kemudian menunggu.
Menunggu sensasi yang sama---gelegar halilintar dan penglihatan.
Tapi tidak terjadi apa-apa.
Ia meraba perlahan pedang itu dan menelitinya. Terasa familier sekaligus asing.
Seperti sebuah kenangan.
Berkesan dan terlupakan.
Hilang dan ditemukan.
Perasaan sialan macam apa ini? pikirnya.
Merasa terpanggil oleh misteri melalui pedang temuannya, merasa tergerak oleh keinginannya untuk membalas para bajingan Kuangre, Hua Zu akhirnya memutuskan untuk menguji pedang itu.
.
.
.
Di Lembah Jinzhi...
Zhu Hua Zu mendongak sekali lagi, memandang lepas ke langit tinggi, menembus rinai hujan dengan mata terpicing.
Menyimak suara gemuruh di dunia bawah.
Menyimak gelegar di udara.
Lalu bergegas ke dalam kastil, menghilang sesaat, kemudian kembali dengan mengenakan jubah gelapnya dan melesat ke jalan setapak.
"Dengar," katanya pada Dunrui dan saudara seperguruannya. "Ada tiga hal yang menjadi kunci untuk berdamai dengan segala sesuatu," ia memberitahu. "Yang pertama, jangan khawatir. Yang kedua, jangan khawatir. Dan yang terakhir… jangan khawatir!" tandasnya.
Setelah mengatakan itu, Hua Zu menaikkan tudung jubahnya dan menutupi kepalanya, lalu melesat dan menghilang di ketinggian.
Terdengar gumaman terbenam dari kedua kepompong tanaman rambat. Lalu keduanya bergeliat-geliut. Suara gumaman keduanya masih belum terdengar jelas.
Hujan badai kian menderu. Ledakan halilintar menjadi-jadi.
Jangan khawatir! Jangan khawatir! Jangan Khawatir!
Dunrui mengulang-ulang kalimat itu dalam benaknya. Mencoba mencerna melalui otaknya, kemudian menyaringnya melalui perasaannya.
Tiga kali Guru mengatakan hal yang sama, pikirnya. Dan ia mengatakan itu sebagai tiga hal.
Tiga? Dunrui memutar otaknya.
Tiga kendali…
Tiga keajaiban…
__ADS_1
Ada keajaiban di udara…
Tanah…
Dan air…
Tiga unsur dalam tubuh yang mengandung udara, tanah, dan air…
Jasmaniah…
Alamiah…
Dan rohaniah…
Aku mengerti! pikir Dunrui.
Tubuh…
Jiwa…
Dan spirit!
Lalu tiba-tiba kepompong Dunrui terkuak. Tanaman rambat itu berangsur-angsur melepaskannya. Lalu jatuh terhempas di lantai hutan.
"Berhasil!" seru Dunrui sambil melompat berdiri.
Saudara seperguruannya masih menggeliat-geliut dalam lilitan sulur tanaman rambat itu.
"Percayalah! Tanaman ini bukan ancaman!" Dunrui memberitahu. "Saat aku terbebas dari rasa khawatir, tanaman ini melepaskanku!"
Terdengar gumaman tak jelas. Lalu kepompong saudara seperguruannya bergeliat-geliut lagi.
"Pertama-tama, lemaskan otot-ototmu!" Dunrui memberitahu. "Lalu kosongkan pikiranmu, dan—"
SRAAAAK…
BRUK!
Saudara seperguruan Dunrui akhirnya terbebas. "Ternyata begitu!" serunya gembira meski tubuhnya terhempas keras.
"Kau sudah mengerti?" Dunrui bertanya antusias. Lalu membungkuk untuk membantu saudara seperguruannya berdiri.
"Ya!" jawab saudara seperguruannya tak kalah antusias.
Sejurus kemudian, keduanya sudah menghambur ke arah kastil, sambil berteriak riang memanggil gurunya, meniti tangga ke pelataran sambil tertawa-tawa.
"Guru! Kami berhasil!"
Tidak ada sahutan.
"Di mana Guru?" tanya keduanya pada satu sama lain. Lalu mencari ke sana-kemari. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan guru mereka.
Seseorang melangkah keluar dari dalam salah satu kamar.
Kedua murid Jieru menoleh dan berseru bersamaan, "Xi Mo!"
Pemuda itu mengerutkan keningnya. "Dari mana kalian tahu namaku?"
"Guru yang memberitahu kami," jawab keduanya juga bersamaan.
__ADS_1
"Guru?" Xi Mo menaikkan sebelah alisnya. "Siapa guru kalian? Apa aku mengenalnya?"
Kedua murid Jieru serentak terdiam, lalu bertukar pandang.