
Tibalah saatnya Hua Zu mempersembahkan hadiah istimewanya untuk Xi Xia.
Ia mengangkat sebelah tangannya, dan seketika seseorang datang menghampirinya membawa keranjang rotan.
Barangkali pelayannya, pikir beberapa orang. Tapi pakaian yang dikenakan pria itu tidak seperti seorang pelayan. Tidak kurang glamor dari para bangsawan yang ada di aula perjamuan itu. Pria itu bahkan membawakan diri selayaknya seorang bangsawan.
Shin Wu bahkan terlihat tak kalah bingung melihat pelayan itu. Seingatnya Hua Zu tidak memiliki siapa-siapa setelah ibunya meninggal.
Dan dia selalu sendiri ke mana-mana.
Dari mana dia mendapat pelayan?
Apakah selama dia menghilang, dia benar-benar menjadi raja?
Lalu kenapa dia masih tinggal di hutan terlarang?
Apakah di balik hutan terlarang itu sebenarnya tersembunyi sebuah kerajaan?
Hua Zu berbicara dengan begitu meyakinkan ketika menjelaskan situasi sebuah kerajaan yang diyakini Shin Wu sebagai karangan bebasnya karena terdesak.
Tapi melihat kepercayaan diri Hua Zu, ditambah tata kramanya yang cukup tinggi, memperkuat pertanyaan yang mendadak melintas di kepala Shin Wu.
Apakah Shangri-La itu sebenarnya adalah hutan terlarang?
Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran dalam pikiran Shin Wu, dan seketika ia menyadari bahwa ia tidak mengenal pria ini lagi.
Dia benar-benar berbeda.
Dan dia juga sangat tampan! pikir beberapa wanita terpesona.
Pria di sisi Hua Zu membungkuk sebelum akhirnya membuka penutup keranjang yang dibawanya.
Para tamu serentak menahan napas, antara penasaran dan sangat berharap bisa melihat sesuatu yang mungkin lebih memukau dari sekadar kalung permata terapi dan akar Mandrake.
Tapi lagi-lagi tamu misterius itu menghancurkan harapan mereka.
Gubernur Pao-Lu bahkan tak bisa menutupi kekecewaannya.
Pria luar biasa yang mengaku dirinya seorang raja itu mempersembahkan seekor kucing kecil berbulu hitam sebagai hadiah istimewanya.
Apa dia sedang bercanda? pikir semua orang.
Jenderal Tio Jun mendesis tertawa seraya membekap mulutnya.
Xi Xia mengerjap gelisah dan mengedar pandang, lalu melirik kakaknya.
Panglima itu tidak bereaksi.
Xi Xia akhirnya mengalihkan kembali perhatiannya pada Hua Zu dan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Cakra pelindung pembawa keberuntungan," jelas Hua Zu di antara senyuman samar yang memancarkan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Pelayan pria di belakangnya serentak mendekat pada Xi Xia dan membungkuk menyodorkan hadiah itu.
"Cakra pelindung?"
Seisi ruangan tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya-tanya.
"Salah satu satwa istimewa di negeri kami," Hua Zu menambahkan.
"Apa keistimewaannya?" tanya Pao-Lu penasaran. "Apakah itu sesuai dengan namanya?"
"Tentu, Gubernur!" jawab Hua Zu meyakinkan.
Tio Jun terkekeh sinis menanggapinya. "Buntalan bulu itu bahkan tak lebih besar dari guci arak," cemoohnya. "Bagaimana bisa dia menjadi pelindung? Melindungi dari apa? Serangan tikus?"
Seisi ruangan tertawa gelisah menanggapi pria itu.
Berbeda dengan Tio Jun, Tian Xu justru terlihat cemas, wajahnya menegang sejak penutup keranjang itu dibuka.
Hua Zu melirik putra sang hakim melalui sudut matanya dan tersenyum miring tanpa kentara.
"Kelihatannya hanya kucing biasa!" komentar beberapa orang meragukan.
Hua Zu hanya tersenyum. Lalu menjentikkan jarinya pada pelayan yang dibawanya, yang tak lain adalah tentara langit yang dibangkitkannya di sekte Kaida.
Seisi ruangan memekik terkejut. Terlebih lagi Xi Xia.
Dan seketika, sebuah lingkaran cahaya berkeredap dari tubuh kucing itu membentengi Xi Xia.
Seisi ruangan kembali memekik terkejut.
Xi Xia membeku dengan mata dan mulut membulat.
Tubuh pelayan Hua Zu terpental dan terpelanting.
Pao-Lu tidak berkedip menyaksikan pemandangan itu.
Sebagai petinggi bangsa Luoji, gubernur itu termasuk orang paling skeptis pada hal-hal gaib. Pikirannya seketika campur aduk antara penasaran dan tidak percaya.
Trik apa yang digunakan pria ini untuk memanipulasi penglihatan semua orang? pikirnya tetap skeptis.
"Itu monster roh!" pekik seorang ahli spiritual kerajaan, tak bisa menutupi kekagumannya.
Pao-Lu langsung menoleh. "Dan apa itu artinya?" ia bertanya pada ahli spiritualnya.
"Itu semacam binatang spiritual, Yang Mulia!" ahli spiritual kerajaan itu langsung membungkuk pada Pao-Lu.
"Binatang spiritual?" ulang Pao-Lu. Lagi-lagi permasalahan spiritual, katanya dalam hati. Bahkan binatang!
__ADS_1
"Bagi para ahli bela diri spiritual, binatang itu berguna untuk meningkatkan kemampuan dan mempercepat kultivasi mereka. Bagi orang biasa, binatang spiritual bisa menjadi pengawal bayangan," ahli spiritual kerajaan itu menjelaskan dengan penuh antusias. Tatapannya tidak berpaling dari kucing kecil di pangkuan Xi Xia.
Pao-Lu termangu mencerna penjelasan ahli spiritual yang ditempatkan di istananya hanya sebagai pion pelengkap. Hari ini adalah pertama kalinya gubernur itu bertanya mengenai masalah spiritual. Sejujurnya secara pribadi, ia sama sekali tidak terlalu membutuhkan ahli spiritual kecuali hanya sebagai alat kendali untuk menghasut para fanatik bangsa Yuoji untuk bekerja sama. Ia tidak berminat pada apa pun yang berhubungan dengan spiritual.
Tapi bahkan keahlian bela diri ternyata memiliki aliran spiritual.
Tampaknya permasalahan spiritual ini memang begitu penting untuk beberapa orang, pikir Pao-Lu.
Mengabaikan keinginannya untuk menghujat para fanatik spiritual, Pao-Lu mengalihkan perhatiannya ke seluruh ruangan dan mendapati semua orang cukup terkesan. Lalu memutuskan untuk tidak membahas permasalahan spiritual ini hingga berlarut-larut.
Anggap saja ini sebagai pertunjukan sulap atau akrobat, pikirnya tak mau ambil pusing.
Lalu mempersilahkan tamu lainnya untuk maju.
Seorang gadis berpakaian paling semarak mendekat ke singgasana Xi Xia dengan gerakan anggun yang berlebihan dan tampak jelas dibuat-buat.
Putri seorang saudagar kaya yang baru-baru ini membeli gelar bangsawan, Liu Xingsheng tidak terbiasa diabaikan.
Hua Zu segera menyisi. Pria itu mengetahui bahwa dirinyalah yang sebenarnya menjadi target perhatian gadis bangsawan itu.
Xi Xia juga mengetahuinya, dan menggemeretakkan gigi.
Sayang sekali bagi Liu Xingsheng, karena bahkan Shin Wu sekalipun tidak dapat mentolerir sikapnya yang manja, berisik dan vulgar. Dan sayang sekali bagi para lelaki, karena semakin mereka berusaha keras untuk menghindar, semakin giat pula gadis itu akan mengejar mereka.
Xi Xia melayangkan tatapan masam pada kakaknya. Mata Lim Shin Wu menari-nari seolah mengatakan, Sekarang barulah pertunjukan seru!
Liu Xingsheng baru saja membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu ketika sekonyong-konyong terdengar suara-suara berdebuk ribut di luar aula, disusul teriakan-teriakan gusar, "Ada penyusup!"
"Dia keluar dari kamar Nona!"
Mata Xi Xia spontan melebar.
Seisi ruangan berubah gaduh.
Shin Wu segera menghambur keluar diikuti Hua Zu dan pengawalnya.
Seisi ruangan menahan napas ketika Hua Zu dan pengawalnya melesat ke pintu dalam kecepatan komet.
Pao-Lu bahkan belum berkedip hingga kedua tamu misteriusnya menggamit lengan Shin Wu di kiri-kanannya, membawa panglima itu menghilang bersama mereka.
Jenderal Tio Jun menyusul tak lama kemudian, diikuti putra sang hakim agung, kedua pria itu juga menggunakan kecepatan super yang sama.
Seisi ruangan kembali terpekik.
"Apa mereka manusia?" beberapa orang menggumam.
Pao-Lu menoleh pada ahli spiritualnya dengan tatapan bertanya.
Pria itu segera membungkuk, "Itulah yang dimaksud keahlian bela diri spiritual, Tuanku!" katanya dengan sopan.
__ADS_1