
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, keluarlah Pao Lu dari ruang persidangan diikuti kedua Hua Zu yang dibelenggu, menemui orang-orang Yuoji yang berkerumun di pelataran balai pengadilan itu.
Hari itu adalah tanggal 14 bulan Changshi menurut penanggalan bangsa Yuoji. Satu hari lagi, mereka akan merayakan hari raya. Sudah menjadi tradisi bagi Wali Negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya, atas pilihan orang banyak.
”Aku tidak mendapati kesalahan apa pun padanya." Pao Lu menunjuk Hua Zu berambut emas. "Tetapi pada kalian ada kebiasaan, bahwa pada setiap hari raya aku akan membebaskan seorang hukuman bagi kalian. Maukah kalian, supaya aku membebaskan raja orang Naseli bagi kalian?”
Tapi karena hasutan para petinggi Balai Roh Pelindung dan para tetua bangsa Yuoji, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Zhou Hua Zu dibebaskan dan Zhu Hua Zu dihukum mati.
”Jangan Dia, melainkan Zhou Hua Zu! Bebaskan Zhou Hua Zu bagi kami!"
Pao Lu mengerutkan dahi. Lalu bertanya kepada mereka, ”Kalau begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Zhu Hua Zu, yang disebut Mi Sai Ya?”
Mereka semua berseru, ”Ia harus diremukkan!”
Pao Lu kemudian bertanya sekali lagi, ”Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukannya?”
Namun orang banyak itu berteriak semakin keras, ”Ia harus diremukkan!”
"Remukkan dia!"
"Remukkan Legion itu!"
Orang banyak berteriak nyaring bersahut-sahutan seraya mengacung-acungkan tinju mereka ke udara.
Hua Zu berambut emas, berdiri limbung di teras pengadilan dengan tubuh gemetar dan carut-marut dipenuhi luka, para serdadu telah menindasnya sepanjang dini hari. Jubah putihnya yang sebatas mata kaki sebagian besar telah terkoyak di sana-sini dan berubah warna menjadi merah kecokelatan. Kedua tangannya dirantai di depan tubuhnya, sepaket dengan kedua kakinya.
Pao Lu memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan menaikkan rahangnya. Kemudian menggerakkan sebelah tangannya memberikan isyarat kepada para serdadu untuk melepaskan Hua Zu berambut hitam.
Hua Zu berambut hitam melirik ke arah Hua Zu berambut emas melalui sudut matanya, ketika dua orang serdadu melepaskan belenggu dari tangan dan kakinya. Bilur-bilur di tubuhnya tak kalah carut-marut akibat pertempuran yang ditambah penyiksaan di dalam penjara.
__ADS_1
Hal itu memang pantas didapatkan Hua Zu berambut hitam, pikir Lim Shin Wu. Tapi apa salah Hua Zu berambut emas? batinnya.
Ia telah mendengar perkara yang ditanggung Hua Zu berambut emas dari mulut para serdadu yang berjaga di luar sel Hua Zu berambut emas.
"Seorang psikopat telah mengumpulkan banyak pengikut untuk menentang doktrin Balai Roh Pelindung. Dewan memutuskan untuk melenyapkannya karena dia mengklaim dirinya sebagai Mi Sai Ya," seorang serdadu memberitahu serdadu lainnya. "Dia bahkan mengutus beberapa idiot untuk bersaksi bahwa ia membangkitkan orang mati."
Aku adalah saksinya, kata Lim Shin Wu dalam hatinya. Tapi ia tahu ia tak bisa berbuat banyak untuk menentang Ma Tuoli. Dan itu lebih menyakitinya. Xi Xia akan menjauhiku setelah hari ini, batinnya getir.
Hua Zu berambut hitam mengalihkan pandangannya ke tengah kerumunan. Lalu kembali menoleh pada Hua Zu berambut emas. Dia membuktikannya! katanya dalam hati. Dia benar-benar mengeluarkanku dari sini, dan caranya benar-benar tak terduga. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Seketika itu juga, Hua Zu berambut emas membalas tatapan Hua Zu berambut hitam. "Pergilah!" katanya melalui bahasa cahaya. "Aku telah menyiapkan seseorang untuk membunuh dan membangkitkanmu!"
Hua Zu berambut hitam mengerjap dan meliriknya sekali lagi.
"Percayalah padaku!" kata Hua Zu berambut emas.
Tak lama kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Hua Zu berambut emas kembali ke dalam balai pengadilan untuk menyesahnya. Rantai besi yang membelenggunya berderak di belakang pria itu, terseret langkahnya yang terseok-seok.
Pria itu adalah Xi Mo.
Xi Mo? Hua Zu mengerutkan keningnya. Dia masih hidup?
Hua Zu bergegas turun dari serambi, ketika ia melihat Xi Mo terburu-buru menjauhi tempat itu, kemudian berusaha menyusulnya. Tapi rekan-rekan dan anak buahnya dari kedua sekte serentak mengerumuninya di dasar tangga, di pelataran gedung pengadilan itu, dan mulai berebut untuk merangkul Hua Zu di sana-sini. Mereka semua menyamar sebagai para pendatang dan berpakaian seperti saudagar dari Timur-Tengah. Sebagian dari mereka hanya membungkuk hormat padanya, memberi selamat.
Dukungan itu seharusnya milik Hua Zu berambut emas. Seorang gadis membatin getir menyaksikan seremoni itu.
Hua Zu berusaha menguak kerumunan itu dengan buru-buru, hampir saja berteriak memanggil sosok Xi Mo yang timbul tenggelam dalam lautan massa dan kian menjauh. Tapi kemudian ia menyadari teman-temannya masih mengerumuninya. Mereka semua tahu Xi Mo telah tewas di kaki gunung Jingling.
Pemuda berambut hitam mengkilat itu kemudian mengedar pandang dan memaksakan senyum ke arah rekan-rekannya dan para anak buahnya yang mengerumuninya seraya terus berusaha keluar dari kerumunan.
__ADS_1
Beberapa orang mulai saling mendorong dan menguak kerumunan untuk memberikan jalan bagi Hua Zu. Tapi sebagian besar dari mereka seolah tak rela melepaskan pria itu, hingga semua orang yang hendak keluar pekarangan harus berimpitan di depan gerbang, terdesak gerombolan Shashou dari arah belakang.
Begitu Hua Zu dan rombongannya sampai di depan seorang gadis yang sejak tadi mengawasinya, gadis itu spontan berpaling seraya menarik tudung jubahnya, menutupi separuh wajahnya, terutama karena Hua Zu memergokinya sedang mengawasi. Buru-buru gadis itu memutar tubuhnya memunggungi pria itu, kemudian bergegas menjauhi kerumunan.
Hua Zu mengamati gadis itu dengan mata terpicing. Lalu menyapukan pandangan ke arah semua orang di sekelilingnya. Para Shashou itu masih menghimpitnya di sana-sini. Sebuah gagasan seketika melintas di kepala Hua Zu. "Aku melihat Xi Mo," pekiknya seraya menunjuk kerumunan, tempat di mana Xi Mo menghilang.
"Kau yakin itu Xi Mo?" beberapa rekannya bertanya ragu. "Bukankah dia…"
"Kurasa dia berhasil meloloskan diri dari maut dan bersembunyi selama ini!" jawab Hua Zu.
Sejurus kemudian, para Shashou itu sudah bergerak, berpencaran ke sana kemari dan menjauh dari Hua Zu, lalu bergegas serempak mencari Xi Mo.
Gadis tadi berhenti berlari setelah merasa yakin jaraknya sudah cukup jauh dari Hua Zu, hanya sekadar beristirahat sebentar untuk menentramkan napasnya yang terengah-engah. Sesaat ia menoleh ke belakang, ke tempat di mana ia bertemu Hua Zu dan para pendukungnya. Tapi ia tercekat mendapati pria itu sudah menghilang dari tempatnya.
Bahkan para Shashou yang diketahuinya sebagai kelompok pedagang dari Timur-Tengah tadi sudah tak nampak satu pun di sekitar tempat itu.
Gadis itu menyentakkan tubuhnya, memutar menghadap belakang, kemudian mengedar pandang, meneliti kerumunan orang-orang yang berseliweran. Lalu mendesah pendek seraya menepuk-nepuk dadanya. Ia kembali memutar tubuhnya dan bergegas meninggalkan pelataran gedung pengadilan itu tanpa memperhatikan langkahnya.
BRUK!
Wajah gadis itu membentur dada seseorang. Gadis itu mengangkat wajahnya.
Seorang pria berambut hitam mengkilat memelototinya seraya bersedekap.
Gadis itu memekik tertahan seraya membekap mulutnya.
Hua Zu!
Pria itu tahu-tahu sudah berada di depannya dan menghadangnya.
__ADS_1
Gadis itu menelan ludah dan tergagap-gagap.