Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-25


__ADS_3

Kota Tua, Zhujia…


Di tengah kota tua yang artistik, aroma manis yang berasal dari sebuah toko bingcheng paling terkenal di Zhujia menyerbak saat kereta kuda Selir Yuwen melewati toko legendaris itu.


Toko Baixue Bingcheng terkenal sebagai penyebab kesengsaraan bagi para wanita yang sedang berdiet.


Sangat sulit melintas di depan Baixue tanpa tergoda untuk masuk, terutama setelah menempuh perjalanan panjang yang menghabiskan waktu berjam-jam di hari yang panas.


Dengan penuh selera Xi Xia menoleh ke arah toko yang ramai itu dan seketika mabuk oleh aroma kental dari vanila dan kayu manis yang mengapung di udara.


Sayangnya bukan ke sana tujuan mereka.


Menurut informasi yang didapat kedua pelayan Selir Yuwen, Sang Mi Sai Ya akan muncul di Kuil Dewa Roh Agung pada setiap hari Xianqiwu.


Jadi, ke sanalah tujuan mereka sekarang.


Menyadari bahwa kereta kuda melambat, Xi Xia menoleh ke arah jalan dan melihat persimpangan yang ada di lima puluh meter di depan sana macet oleh barisan kereta kuda yang dipaksa berhenti.


Arus kendaraan di sana berhenti sama sekali. Mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Xi Xia menggelengkan kepalanya dalam kekhawatiran. "Kuharap tidak ada kecelakaan yang terjadi."


"Yah, tidak mengejutkan, jika mengingat cara beberapa bajingan aristokrat muda mengendarai kereta mahal mereka," sela Selir Yuwen membantah. "Para putra mahkota di kota ini terkenal suka mengacau dan ugal-ugalan, ngebut ke sana-kemari seperti orang gila hanya untuk mencari perkara. Salah satu dari mereka mungkin menabrak seseorang atau justru sedang menindas rakyat jelata, malang sekali."


Xi Xia mendengarkan ibu tirinya dengan tatapan suram. Wajahnya menegang. Jantungnya berdegup cepat saat kereta kuda mereka mulai bergerak kembali pada saat berikutnya, karena orang-orang Luoji yang sombong tidak mau dihambat oleh sebuah kecelakaan lalu lintas, terutama jika korbannya orang Yuoji.


Jika seseorang ditabrak atau ditindas para putra mahkota, Xi Xia tak yakin apakah ia ingin melihatnya. Pemandangan berdarah biasanya membuat gadis itu mual. Tapi di satu sisi, ia benar-benar ingin melihat seperti apa aksi para putra mahkota yang terkenal suka mengacau dan ugal-ugalan itu.


Kembali berjalan maju, walau hanya selangkah siput, kereta-kereta kuda yang ada di depan mereka hanya berbelok-belok di sekitar kendaraan yang berhenti. Sebab dari kegaduhan yang terjadi sekarang mulai menjadi jelas sebuah kereta pengangkut yang kelebihan muatan dengan roda-roda berwarna merah dan tumpukan barang juga para penumpang yang berteriak di atasnya.

__ADS_1


Para penumpang yang marah mengulurkan kepala dari jendela sambil dengan tidak sabaran mengomel pada kusir mereka.


"Ayo jalan!"


"Buat kuda tuamu itu bergerak!"


Kedua mata Xi Xia melebar ketika mendapati seorang pria paruh baya berkebangsaan Yuoji berjubah hitam dengan penutup kepala berdiri di dekat salah satu dari kuda-kuda kereta pengangkut tersebut.


Seekor kuda berwarna cokelat kemerahan yang kurus dan lemah sedang berada dalam kondisi yang menyedihkan—entah terluka atau sakit, yang jelas kuda itu tidak dalam keadaan yang pantas untuk bertugas seperti biasanya.


Terjebak tak berdaya dalam pelananya, dengan gemetar dan mata terbelalak, kuda itu menggigil ketakutan di dekat pria paruh baya itu seolah bisa merasakan bahwa pada akhirnya ada seseorang yang baik hati yang datang untuk menyelamatkannya.


Mantel merah kuda itu basah oleh keringat, sementara bagian belakangnya berdarah karena cambukan kasar yang ia dapatkan dari cemeti si kusir.


"Menyingkir dari sana!" Kusir yang besar dan tegap itu berteriak pada pria paruh baya itu dari atas tempatnya.


Ketika pria paruh baya itu menoleh pada si kusir, wajah kusir itu terlihat sangat marah.


Pria paruh baya itu menusuk si kusir dengan tatapan mengancam dan menudingkan telunjuk ke wajahnya, "Kalau kau mencambuk hewan ini sekali lagi akan kutunjukkan padamu rasanya dipukul."


"Jangan coba-coba mengancamku! Menyingkir dari kudaku!"


"Aku akan melepaskannya dari pelana. Kuda ini tak bisa melakukan perjalanan hari ini."


"Persetan denganmu! Kau kira kau bisa mengambil kudaku? Aku akan lihat kau digantung atas pencurian kuda!"


Lalu lintas kembali melambat seiring dengan para penonton yang mulai tertarik dengan perselisihan yang terjadi.


Para pejalan kaki berkumpul di sekitar persimpangan untuk menyaksikan kejadian yang sedang berlangsung.

__ADS_1


Kusir Selir Yuwen menarik kereta kuda mereka ke seberang jalan untuk memberi jalan beberapa kereta kuda di belakang mereka.


"Kalau begitu, aku akan membeli kuda ini darimu," kata pria paruh baya itu pada si kusir.


Pria paruh baya itu telah mengambil nada suara berbahaya yang belum pernah didengar Xi Xia.


"Dia tidak dijual! Kuperingatkan kau, menyingkir dari jalanku!" Kusir itu mengarahkan ibu jarinya melewati bahu dengan marah ke arah para penumpangnya yang terus mengeluh. "Aku punya jadwal yang harus dikejar!"


"Wah, sayang sekali! Sepertinya kau akan terlambat," balas pria paruh baya itu, dengan tenang ia meraih tali-temali kulit yang ada di punggung kuda tersebut untuk membebaskannya.


"Sialan kau!" teriak si kusir.


Xi Xia menghela napas takut saat kusir tersebut menarik cemetinya untuk mencambuk lagi, tapi pria paruh baya itu segera menggapai tangan kusir yang berbalut sarung tangan kulit itu dan merenggut cambuknya. Dengan sentakan yang sangat kuat, ia menarik kusir itu keluar dari kotak pengemudi.


Lalu pria paruh baya itu berjalan ke arah si kusir saat lelaki itu jatuh di atas timbunan di dekat roda depan kereta kudanya.


Dalam seketika, kusir satunya yang bertubuh kurus dan kurir pesan melompat turun dari tempat duduk mereka di puncak kereta kuda itu dan berlari ke arah si pria paruh baya sambil memaki-maki.


Seluruh persimpangan berubah menjadi kekacauan seperti kerumunan orang-orang di arena pertarungan, mereka menyaksikan dengan serius sementara si pria paruh baya menoleh ke arah mereka dengan sikap tak peduli.


Dua pengawal bersenjata ditempatkan untuk melindungi surat-surat yang ada di atas kereta pengangkut, dan untungnya para pengawal itu masih memiliki akal sehat untuk tidak menghujamkan ujung tombaknya ke arah pria paruh baya itu di depan banyak orang. Sebaliknya, pengawal itu hanya menggunakan gagang tombaknya sebagai pentungan dan mengayunkannya ke kepala pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu menahan serangan itu dengan tangan kirinya, dan merobohkan kurir berbadan kekar itu dengan satu tinju keras dari tangan kanannya, lalu menerjang ke arah si kusir berbadan kurus.


Si kusir kurus itu mundur perlahan, namun masih tampak segan untuk kabur seperti pengecut di hadapan sekian banyak penonton.


Sekarang si kusir kurus itu mengayunkan sebelah kakinya, mencoba menendang lutut pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu mendengus mengejeknya, menangkap tumit si tukang kuda berbadan kurus itu dan menyentakkannya.

__ADS_1


__ADS_2