Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-44


__ADS_3

Hua Zu tercenung bosan sambil bertopang dagu di meja teh dekat jendela di sisi kamarnya, membolak-balik halaman buku panduan ketua sekte yang dibacanya tanpa dapat dicerna oleh otaknya yang berkecamuk.


Kebijakan baru sekte ini terlalu mendadak, dan ia tak siap memikul tanggung jawabnya sebagai ketua.


Daripada itu, masih ada hal yang belum ia tuntaskan. Sebuah alasan kenapa ia berlatih begitu keras hingga ia nyaris sesat.


Ia melirik pedang temuannya yang tidak pernah diduganya ternyata pusaka ketua leluhur sekte.


Darahnya seketika mendidih mengingat satu hal yang belum ia lakukan itu. Lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian menyambar pedang itu dan menyelipkannya di ikat pinggangnya.


Dengan langkah tergesa ia meraih jubah gelapnya yang dilengkapi tudung kepala dan mengenakannya. Lalu menyelinap keluar melalui jendela bulat di ujung kamarnya dan mendarat di balkon tanpa suara.


Dan dalam seketika, ia sudah melesat ke dalam hutan, melompati dahan-dahan pohon dan menyeberangi ngarai dengan teknik aeorokinesinya.


Tak sampai setengah dupa, ia sudah mencapai tebing batu menjulang yang menjadi menara alami Sekte Belati Kuangre.


Sejumlah remaja pria berseragam ninja sedang berpatroli di setiap sudut kastil dalam empat kelompok. Setiap kelompok membawa satu obor yang dipegang sepenuhnya oleh pemimpin kelompok.


Hua Zu tersenyum tipis, lalu berjongkok dengan perlahan, menarik belati yang terselip di sela-sela sepatunya dan menunggu.


Satu kelompok patroli melintas di bawahnya.


Hua Zu melesat dan menukik sambil melontarkan belati-belati itu dari sela-sela jemarinya ke arah para pemuda itu.


SLASH!


SLASH!


Satu kelompok berhasil ditumpas dalam sekali hentak tanpa meninggalkan suara.


Lalu dengan cepat menyelinap ke sudut gelap ketika satu kelompok patroli lain muncul dari sudut pekarangan. Lalu menarik belati lagi dari ikat pinggangnya.


"Apa yang terjadi?" Salah satu dari pemuda yang sedang berpatroli itu memekik terkejut mendapati saudara-saudara seperguruannya bergelimpangan di permukaan tanah tanpa tanda kehidupan.


Empat pemuda lainnya spontan waspada.


Hua Zu menyeringai dan melompat ke dinding kastil untuk kemudian memantulkan tubuhnya ke udara, lalu memutar sambil melontarkan lagi belati di sela-sela jarinya.


Kelompok kedua berhasil ditumpas tanpa kendala yang berarti.


Ia berlari mengendap-endap di bawah bayang-bayang bangunan dan menyelinap ke sisi lain pekarangan dan berpapasan dengan kelompok patroli lainnya lagi.


Para pemuda itu tidak menyadari keberadaannya.


Hua Zu menyergap salah satunya dan membekap mulutnya sambil mendaratkan sikut di bawah telinga pemuda tersebut.


"Ugh!" pemuda itu memekik tertahan sesaat sebelum akhirnya ambruk.


Salah satu temannya spontan menoleh. "Zhong Ming!"


Teman-temannya serentak menoleh dan memekik.


Hua Zu melompat ke sudut gelap dan merayap naik ke salah satu pilar penyangga atap, tepat ketika kelompok remaja itu menghambur ke arah teman mereka yang tertelungkup di tanah berumput basah.


"Apa yang terjadi?" pekik mereka sambil mengedar pandang dengan curiga.


Hua Zu memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang ke tengah-tengah mereka dan menyapukan tendangan memutar di udara.

__ADS_1


BUG!


BUG!


BUG!


Suara-suara berdebuk menarik perhatian sejumlah pemuda lainnya yang sedang berjaga di tiap-tiap pintu masuk, dan dalam seketika suasa berubah gaduh.


"Ada penyusup!" teriak beberapa pemuda sambil melingkarkan telapak tangan di sekeliling mulut mereka membentuk corong. "Beritahu guru!"


Suara-suara berdebuk dan berdebam membahana dari berbagai sudut dan sejurus kemudian puluhan pemuda berseragam ninja menghambur ke arah mereka mengepung Hua Zu.


Salah satu dari mereka menyalakan roket parasut suar.


Sial! pikir Hua Zu sambil menaikkan tempo gerakan dan menyerampang ke sana kemari hingga tubuhnya memantul-mantul di tengah kepungan.


Hanya dalam hitungan detik, murid-murid senior mulai bermunculan mengepung Hua Zu.


SLASH!


SLASH!


Sejumlah belati melesat ke arah Hua Zu dari berbagai arah.


TRAAAAANG!


Hua Zu berhasil membendungnya dengan belatinya.


"GURUUUUUUU…!" seorang murid menerobos ke dalam ruangan ketua, disambut tatapan tajam tiga murid senior.


"Ssssssst!" salah satu murid senior mendesis tajam menegur juniornya.


Jieru mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya, menatap muridnya yang tersungkur di lantai dari seberang meja dengan alis bertautan. "Apa yang terjadi?"


"Penyusup!" murid junior itu melaporkan. "Ada penyusup masuk ke perguruan, mereka menghabisi semua orang."


Jieru mendesah pendek dan menutup buku di hadapannya. "Beri sambutan yang baik untuk tamu tak diundang!" perintahnya pada ketiga murid seniornya.


Ketiga pemuda yang sedang berdiri di sekeliling mejanya serentak membungkuk. Lalu bergegas keluar ruangan.


"Kau pergilah!" perintah Jieru pada muridnya yang masih tersungkur di lantai.


Pemuda itu segera beranjak dan membungkuk sekali lagi, lalu berbalik dan bergegas menyusul ketiga kakak seperguruannya.


Jieru beranjak dari tempat duduknya, mendorong kursi di belakangnya dan berjalan ke dekat jendela dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. Ia memandang keluar jendela, mengawasi pertempuran di bawah kamarnya.


Hua Zu terlihat seperti cakram yang sedang berputar menggilas semua orang di sekelilingnya.


Jieru mengerutkan keningnya. Merasa sedikit heran. Hanya satu orang? pikirnya tak yakin.


Tiga murid senior Jieru sekarang sudah mencapai balkon lantai dua bangunan itu, mengawasi sesaat untuk membaca situasi, kemudian menerjang serempak sambil melontarkan belati bumerang andalan Jieru.


Hua Zu terhenyak dan memicingkan mata. Merasa familier dengan belati itu.


SLASH!


SLASH!

__ADS_1


Hua Zu memutar di udara sambil melontarkan belati lagi.


TRAAAAANG!


DUAAAAARRRR!!!


Hua Zu berhasil menghalau serangan dengan membenturkan belatinya. Tapi belatinya terpental membentur dinding dan menimbulkan ledakan.


Yang tiga ini tampaknya tidak bisa diremehkan! pikir Hua Zu mulai meningkatkan kewaspadaannya. Lalu melompat ke arah salah satu dari ketiga murid senior itu, sementara tangannya melontarkan belati ke arah dua lainnya.


BUG!


Hua Zu mencoba mendaratkan tendangan di tengkuk murid senior itu, tapi dengan cepat pemuda itu berhasil menangkisnya dengan tendangan memutar.


SLASH!


SLASH!


Sejumlah belati lagi melesat ke arah Hua Zu dari berbagai penjuru.


Sejumlah murid junior keras kepala yang tidak mau menyerah merangsek ke arah Hua Zu.


SLASH!


Hua Zu menyapukan tendangan memutar sambil melontarkan belati lagi.


Tiga murid senior menerjang ke arah Hua Zu dengan tendangan memutar yang sama.


BUG!


BUG!


Hua Zu menampung serangan dengan kedua tangannya.


SLASH!


Belati bumerang menyeruak ke arah Hua Zu dalam kecepatan luar biasa.


JLEB!


Belati itu menancap di bahu Hua Zu dan seketika tubuhnya terlempar ke pagar dinding di tepi pekarangan.


DUAAAAARRRR!


Pagar batu itu meledak di belakang punggungnya.


Hua Zu mengernyit sambil memegangi bahunya, kemudian menarik bangkit tubuhnya.


SLASH!


Satu lagi belati bumerang melesat ke arah Hua Zu, membuat Hua Zu spontan menghunus pedangnya untuk menangkis belati itu.


DUAAAAARRRR!!!


Ledakan halilintar menggelegar di ujung pedangnya, meremukkan belati itu dan menyambar puluhan ninja yang langsung terkapar dengan luka bakar yang mengerikan.


Murid-murid senior itu spontan tersentak dan melompat mundur.

__ADS_1


Jieru terkesiap di depan jendela kamarnya. Merasa tak asing dengan pedang itu.


Siapa dia sebenarnya? pikirnya terkejut.


__ADS_2