
"Bukan Kaida, tapi Kuangre." gadis penjual jianbing melaporkan setelah sesaat mendarat ringan tanpa suara di ruangan pribadi Shin Wu. Gadis itu membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan keningnya.
"Bagiku tidak ada bedanya," gerutu Shin Wu di dekat jendela tanpa menoleh, pria itu berdiri memunggungi pengawal bayangannya sambil memandang lepas ke seberang ngarai di pekarangan belakang estatnya. "Bukankah keduanya sama saja? Keparat Shashou!"
"Aku Keparat Shashou," sahut gadis penjual jianbing tanpa mengangkat wajahnya. Raut wajahnya berubah muram.
Shin Wu langsung menoleh.
Gadis itu masih membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya, masih memakai qipao yang sama seperti tadi siang.
Shin Wu tiba-tiba berbalik dan mengerutkan keningnya, terdiam sesaat sebelum akhirnya berjalan perlahan menyeberangi ruangan, mendekat ke arah gadis itu. Sebelah tangannya refleks terangkat tanpa bisa dikendalikan, hampir menyentuh puncak kepala pengawal bayangannya, tapi lalu berhenti beberapa senti begitu menyadari apa yang dilakukannya.
Gadis itu mengerjap namun masih tidak berani mengangkat wajah, menunggu apa yang akan dilakukan tuannya, tapi kemudian mengerutkan keningnya.
Panglima itu buru-buru menurunkan tangannya lagi dan berdeham, lalu melipat kedua tangannya ke belakang tubuhnya sambil memalingkan wajah dengan sikap salah tingkah.
Gadis itu meliriknya sekilas secara diam-diam. Sikap pria itu seringkali membuat jantungnya berdegup dan merasa kikuk. Tapi ia bahkan tidak berani menyimpulkan hal itu sebagai bentuk perhatian khusus.
Shin Wu bisa tiba-tiba lembut, lalu tergagap, tak jarang ia terpaku menatap wajahnya, lalu dalam sekejap berubah ketus.
Sebagai seorang wanita, gadis penjual jianbing itu tak bisa memungkiri angan-angannya saat melihat panglima itu sebagai pria. Tapi sebagai seorang pengawal, tentu saja ia tak bisa berharap banyak.
"Kau sudah boleh pergi," kata Shin Wu sambil mengibaskan tangannya sekilas tanpa menoleh.
Gadis itu mengangguk sekilas, lalu menurunkan kedua tangannya dan berbalik, kemudian menyelinap keluar melalui jendela dan menghilang dalam sekejap.
Pada saat bersamaan, Shin Wu menoleh ke belakang dan tergagap, menatap udara kosong. Lalu mendesah dan kembali menatap keluar jendela.
Perasaannya campur-aduk antara bimbang dan muram.
Pikiran pertamanya tertuju pada Xi Xia, dan yang kedua pada Lin Yao---gadis penjual jianbing tadi.
Segala sesuatu tentang Lin Yao selalu membuatnya terenyuh. Entah karena ia orang Yuoji, atau karena ia seorang pengawal bayangan. Keduanya bermakna budak di tangan Shin Wu, dan ia berharap Lin Yao bukan keduanya.
Tapi kemudian ia menolak untuk merenungkan semuanya dengan lebih mendalam. Hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah melupakannya.
Ia berbalik dan menjauh dari jendela, lalu bergegas keluar kamar, keluar dari estatnya dan memutuskan untuk menemui Xi Xia.
Ia tahu gadis manja itu sedang merajuk sekarang. Ia mungkin takkan diterima sekarang. Tapi bagaimanapun ia merasa berhutang pada gadis itu.
__ADS_1
Awalnya ia berniat mengembalikan kalung warisan mendiang ibu kandung Xi Xia, memberi gadis itu kejutan di hari ulang tahunnya beberapa hari lagi. Tapi tidak disangka seseorang telah merampas kalung Xi Xia sebelum mereka.
Sekarang Shin Wu tak tahu harus marah kepada siapa, meski lebih merasa jengkel kepada dirinya.
Apa yang paling diinginkan Xi Xia sebagai ganti kalung warisan itu? pikirnya.
Bertemu dengan penyelamatnyakah?
Jika itu yang diinginkannya, meski Yuoji sekalipun, Shin Wu akan mewujudkannya.
Tapi ia tetap harus mencari tahu terlebih dulu!
Mencapai estat Xi Xia, para pelayan gadis itu memberitahu bahwa Xi Xia tak pernah keluar lagi dari kamarnya setelah kembali dari kota tua.
"Nona tak mau makan, tak mau bertemu dengan siapa pun," cerita beberapa pelayan. "Bahkan Selir Yuwen!"
Shin Wu menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu berhenti di depan pintu kamar Xi Xia. Sesaat ia mendadak ragu, tapi kekhawatiran mengalahkan segalanya. "Xi Xia! Seseorang mencarimu!" teriak Shin Wu sambil mengetuk pintu kamar gadis itu.
Di luar dugaan semua orang, gadis itu membuka pintu kamarnya dengan terburu-buru.
Shin Wu mengerutkan keningnya.
"Aku," jawab Shin Wu sekenanya.
Xi Xia langsung mengerang, lalu berbalik sembari cemberut.
Tapi sebelum gadis itu sempat membanting pintunya hingga menutup, Shin Wu mengulurkan sebelah kakinya untuk menahan pintu itu tetap terbuka.
Xi Xia melotot tak sabar.
"Memangnya siapa yang kau harapkan mencarimu kecuali aku?" ejek Shin Wu.
Xi Xia hanya mendelik menanggapinya.
"Sedang menunggu seseorang?" Shin Wu melangkah ke dalam kamar gadis itu dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
Xi Xia mendesah pendek dan bergegas ke tempat tidurnya dengan langkah-langkah lebar. Lalu menghempaskan dirinya.
Shin Wu menghampirinya dan duduk di tepi tempat tidur, "Apa kau ke kota tua untuk menemuinya?" ia bertanya sambil mengusap kepala gadis itu dan menariknya ke dalam dekapannya. "Penolongmu?"
__ADS_1
Xi Xia akhirnya melemaskan tubuhnya dan bersandar di dadanya. "Sejujurnya aku dan ibumu ingin bertemu Mi Sai Ya," ia mengaku.
"Mi Sai Ya?" Shin Wu mendorong sedikit kepala gadis itu dan mengerutkan dahi.
"Penolongmu!" Xi Xia menambahkan.
"Jadi kau pergi ke kuil orang Yuoji?" tanya Shin Wu.
"Kau takkan mengadukan kami pada Ayah, kan?" tanya Xi Xia dengan raut wajah muram.
"Tidak—tentu saja tidak!" tukas Shin Wu cepat-cepat. "Aku hanya… terkejut," katanya ragu-ragu. "Maksudku… kau sangat peduli pada Yuoji itu---maksudku penolongmu. Kukira kau mencarinya untuk berterima kasih atau apalah!"
"Ya, kukira juga begitu," gumam Xi Xia sambil melingkarkan sebelah lengannya di perut Shin Wu. "Aku akan berterima kasih suatu saat nanti."
"Kau sudah melakukannya, Xi Xia!" timpal Shin Wu. "Kau sampai mengorbankan…" Shin Wu menggantung kalimatnya dan membiarkannya menghilang begitu saja.
Xi Xia mendongak menatap wajah kakaknya dengan mata terpicing.
"Aku turut menyesal soal kalungmu," kata Shin Wu dengan raut wajah prihatin.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" sergah Xi Xia sambil mengetatkan pelukannya di perut Shin Wu. "Aku sama sekali tidak menyesal," katanya sambil tersenyum.
"Jadi… Yuoji itu lebih penting dari kalung warisan ibumu?"
"Kukira nyawaku jauh lebih penting dari kalung ibuku," sanggah Xi Xia.
Shin Wu mendesah tipis dan memaksakan senyum.
"Apa kau serius soal Mi Sai Ya ini?" tanya Shin Wu setelah sejenak terdiam.
"Aku sangat penasaran," sahut Xi Xia. "Aku berharap bisa melihatnya sekali saja," dambanya dalam gumaman lirih.
Dia serius! pikir Shin Wu. Lalu tersenyum samar dengan tatapan menerawang. Raut wajahnya terlihat sedih seperti sedang mengenang sesuatu yang mengharukan. Ia mendesah lagi, dan kembali memaksa senyum. "Kalau begitu kau harus makan," ia menyarankan.
Xi Xia menarik kepalanya menjauh dari dada Shin Wu dan memelototinya.
"Orang-orang Yuoji berdoa sebelum makan," cerita Shin Wu. "Kalau kau ingin bertemu dengan dewa mereka kau harus mengikuti cara mereka!"
Mata Xi Xia spontan melebar.
__ADS_1