Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-10


__ADS_3

Para biksu penjaga itu masing-masing hanya bersenjatakan tongkat bambu seukuran gagang sapu, tapi siapa yang tahu mereka punya kemampuan apa.


"Hua Zu!" teriakan panik terdengar dari belakang para biksu yang mengepung Hua Zu.


Hua Zu melompat dari lantai dan memasang kuda-kuda.


Bersamaan dengan itu, suara-suara berdebuk dan teriakan para serdadu di atas kepalanya terdengar semakin ribut.


"Pencuri! Ada pencuri di bait suci!"


BRUAK!


Suara berderak dari belakang para biksu menyentakkan Hua Zu, membuat ia refleks menerjang ke arah para biksu itu untuk menerobos penjagaan.


Para biksu itu tak tinggal diam, dengan gerakan-gerakan gesit terlatih dan kecepatan luar biasa, mereka mengayunkan tongkat mereka dan menyodokkan ujungnya ke arah titik-titik mematikan di tubuh Hua Zu secara serentak.


Hua Zu melambungkan tubuhnya untuk keluar dari kepungan. Langit-langit ruang bawah tanah yang rendah menyebabkan gerakannya terbatas.


Salah satu biksu penjaga berhasil mendaratkan ujung tongkatnya di perut Hua Zu, mendorong tubuh pemuda itu ke sudut ruangan hingga punggungnya membentur dinding.


BRUAK!


Tumpukan peti di sekitarnya berjatuhan menumpahkan kepingan emas dan perak hingga berceceran di lantai.


Pada saat itulah sudut mata Hua Zu yang jeli menangkap sebatang pedang tergolek dalam peti besar di atas tumpukan perhiasan dari logam mulia terbaik. Ia mencoba meraih pedang itu, namun serangan demi serangan merajam bertubi-tubi dari berbagai arah.


Pemuda itu meliuk-liukkan tubuhnya untuk mengelak dari serangan. Ia menjejakkan sebelah kakinya di dinding untuk kemudian melambungkan dirinya ke arah peti, kemudian bersalto dan merenggut batang pedang itu dalam sekali hentak, lalu mendarat di belakang peti besar itu dalam posisi siaga.


Para biksu berhenti serentak dalam sikap kuda-kuda dan tatapan waspada.


Hua Zu menggenggam pedang itu dengan kedua tangan dan mengangkatnya di sisi wajah. Tapi tiba-tiba kepalanya mendadak pusing. Sengatan rasa panas merebak di telapak tangannya dan menjalar ke pergelangan.


Pandangannya tiba-tiba memburam, disusul ledakan cahaya menyilaukan. Detik berikutnya sebuah bayangan samar hitam-putih berkelebat di pelupuk matanya. Seperti cuplikan singkat sebuah adegan dalam film laga, di mana ia merasa seakan dirinya sendiri yang mengalaminya.


Dalam tayangan hitam-putih itu Hua Zu mengayunkan pedang di tangannya ke arah pedang yang sedang melayang di udara dan membenturkannya. Gelegar halilintar tercipta dari benturan kedua pedang itu.

__ADS_1


Hua Zu tersentak, tanpa sadar melempar pedang di tangannya dan menghambur tanpa melihat sekitar.


Bertepatan dengan itu, seorang serdadu menjatuhkan dirinya ke ruang bawah tanah itu melalui lubang yang dibuat Hua Zu dan mendarat dengan keras dalam posisi duduk, mengalihkan fokus para biksu.


Hua Zu tidak menunggu untuk melihat apa yang terjadi kemudian. Inilah kesempatan baginya untuk melarikan diri. Ia terus berlari melintasi lorong dan mendapati rekannya sudah berhasil meloloskan diri dari kepungan dengan menggondol sekantong besar harta rampasan.


Hua Zu mempercepat larinya dan bergabung dengan rekannya.


Suara-suara berdebuk dan berdebam terdengar dari kedua ujung lorong yang mereka lewati.


Hua Zu merenggut lengan rekannya dan menarik pemuda itu berbelok ke pintu ruang ibadah.


Orang banyak berdesak-desakan di dalam ruangan itu, tapi suara biksu Fang yang menggebu-gebu mendominasi seluruh ruangan. "Mata dewa roh agung melihat kalian apa adanya!"


Hua Zu dan rekannya sekarang merangsek ke tengah-tengah kerumunan itu dan menyeruak membelah kerumunan, membuat semua orang memekik terkejut dan seketika ruangan itu berubah gaduh.


"Kalian tak bisa lari dari murkanya!" Biksu Fang berteriak lantang sambil menunjuk ke arah jemaat, tidak terganggu dengan kegaduhan yang tengah berlangsung.


"Hentikan penyamun itu!" teriak lantang serdadu yang mengejar mereka dari koridor.


Orang-orang dalam ruangan kembali memekik. Lebih gaduh dari sebelumnya.


Para biksu penjaga dan serdadu itu sudah berada cukup dekat di pintu masuk ruang ibadah.


Hua Zu dan rekannya menerjang ke arah altar dan mendorong bahu Biksu Fang di kiri-kanannya hingga biksu itu terjengkang dan terjerembab di lantai. Hua Zu meraup kepingan emas dalam peti yang diletakkan di depan meja imam dengan kedua tangan kemudian menebarkannya ke arah kerumunan.


Para jemaat bersorak dan berebut memunguti kepingan emas itu dengan gembira, sementara Hua Zu dan rekannya sudah melesat ke arah pintu keluar sambil terbahak-bahak.


Pemuda misterius yang bersembunyi dalam kerumunan tersenyum lebar di bawah tudung jubahnya. Lalu berbalik dan menyelinap keluar dengan diam-diam.


"Tangkap penyamun itu!" teriakan lantang itu terdengar dari tengah kerumunan jemaat yang sedang berjibaku di lantai untuk berebut uang kaget.


Dua biksu yang sedang berjaga di pintu keluar di sisi lain serentak menoleh ke arah datangnya suara itu.


"Hentikan pencuri itu!" teriak serdadu itu lagi sambil menunjuk ke arah pemuda yang mengenakan jubah gelap dengan tudung kepala.

__ADS_1


Pemuda misterius itu tetap berjalan, melewati dua biksu penjaga itu sambil menundukkan kepalanya,


Kedua biksu itu menyergap bahu pemuda misterius tadi dan menahannya.


Serdadu tadi segera menerjang ke arah mereka dan merenggut penutup kepala pemuda itu.


Pemuda itu spontan membeku. Tapi tidak menoleh maupun mengangkat wajah.


Serdadu tadi memekik dan tergagap. Begitu pula dengan kedua biksu yang menyergap bahunya.


Rambut pemuda itu berwarna emas!


Serdadu itu menelan ludah dengan susah payah, "Bukan penyamun!" katanya dengan suara tercekat. Tapi Nefilim, katanya dalam hati. "Bukan berandalan yang tadi," katanya lagi.


Kedua biksu penjaga itu menurunkan tangannya dari bahu pemuda itu dan membungkuk untuk memohon maaf.


Pemuda itu menaikkan kembali tudung jubahnya dan berlalu tanpa menoleh maupun mengangkat wajah seperti sebelumnya. Lalu bergegas dan menghilang di balik gerbang.


"Hua Zu! Sebelah sini!" teriakan rekan Hua Zu membuat si pemuda misterius itu mendadak menghentikan langkah, dan untuk pertama kalinya ia mengangkat wajah dan menoleh ke arah datangnya suara tadi.


Seorang pemuda seusianya mengendap-endap di sudut toko kain sambil melambai-lambaikan tangannya ke seberang jalan di sisi lain pemuda misterius tadi. Ia menyelubungi tubuh dan kepalanya dengan bahan pakaian wanita berwarna merah bercorak bunga sakura.


Pemuda misterius tadi mengikuti arah pandang pemuda itu dan mendapati pemuda lainnya mengenakan jubah yang sama seperti dirinya. Hua Zu? pikirnya sambil mengawasi pemuda itu dengan mata terpicing.


Hua Zu melirik pemuda misterius itu melalui sudut matanya dan mengerutkan dahi.


Pemuda misterius itu buru-buru berpaling dan bergegas menjauhinya.


Namun mata Hua Zu yang jeli bisa menangkap sekilas pemuda itu berambut emas. "Nefilim," gumamnya dalam bisikan rendah sambil memandangi punggung pemuda misterius tadi.


"Apa kau bilang?" temannya bertanya kebingungan.


"Tidak ada," tukas Hua Zu cepat-cepat. Lalu mengalihkan perhatiannya dari pemuda misterius tadi. "Kau—" Hua Zu tergagap mendapati rekannya seperti perempuan, lalu mendesis tertawa.


"Aku bisa jelaskan ini!" tukas rekannya sambil berbalik dan bergegas dari tempat itu. "Tapi tidak sekarang!" teriaknya sambil berlari sekencang-kencangnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu para serdadu patroli menyeruak dari ujung gang.


Hua Zu serentak melejit menyusul temannya sambil terbahak-bahak.


__ADS_2