
Benteng Kaida…
DUARRR!
DUARRRR!
Suara-suara gelegar halilintar itu berasal dari setiap ayunan pedang Hua Zu yang sedang berlatih di dalam gua di perut gunung Kaida.
Setiap kali ia mengayunkannya, halilintar meledak di ujung pedangnya.
Dan selama itu pula, bumi bergetar dilanda gempa vulkanik ringan yang tidak kentara. Beberapa orang merasakannya, tapi sebagian besar tidak menyadarinya.
Sementara itu, di atasnya…
Hua Zu berambut emas meluncur turun seringan taburan bunga-bunga poplar dan dandelion di musim panas.
Angin lembut bertiup menyapu butiran gerimis yang tidak membasahinya ketika ia mendaratkan sebelah kakinya di pelataran Benteng Kaida, menyusul kaki lainnya. Ujung jubahnya yang putih menyala melecut lembut seperti di dalam air.
Tumit sepatunya yang terbuat dari logam mulia mengetuk-ngetuk lantai batu kuno berwarna hitam dalam irama teratur ketika ia mulai berjalan. Lalu berhenti di dekat genangan darah yang telah mengering dan mengelupas, kemudian luntur tercampur air hujan.
Sepasang mata birunya yang menyala meneliti setiap genangan darah dan sederet mayat yang telah dirapikan dan ditutupi kain hitam.
Mayat-mayat itu terbaring sejajar seperti sepasukan tentara yang tidur dalam satu tenda.
Dalam penglihatan Hua Zu, beberapa di antaranya menyala---entah itu biru, kuning, merah, jingga, hijau dan lain sebagainya.
Dalam penglihatan manusia biasa, mayat-mayat itu terlihat sama---hitam.
Begitu pun genangan darah.
Dalam penglihatan Hua Zu, beberapa genangan darah menyala dan berwarna.
Ia melangkah ke arah genangan darah berwarna biru yang menyala seperti api, lalu membungkuk dan mencelupkan sedikit ujung telunjuknya kemudian mengusapnya dengan ibu jarinya.
Darah itu mendesis dan mengeluarkan asap tipis berwarna biru yang bercahaya di ujung jarinya seperti lidah api di ujung pemantik.
"Di mana tubuhmu?" tanya Hua Zu pada cahaya biru itu.
Cahaya biru itu berkeredap merespon pertanyaannya, kemudian melayang dalam bentuk lingkaran transparan yang bercahaya seperti kunang-kunang di dalam gelembung air.
Hua Zu mengikuti arah terbangnya, melayang ringan melompati tebing dan mendarat tanpa suara di area pemakaman khusus anggota Sekte Belati Kaida di kaki gunung.
Ia melirik sekilas mulut gua di mana Hua Zu berambut hitam sedang berlatih pedang. Semburat cahaya putih berkeredap keluar dan berkilat-kilat di dalam disertai suara-suara berdebum.
Senyum tipisnya yang khas mengembang di sudut bibirnya.
Ia mengalihkan pandangannya ke bawah, membaca tulisan pada pusara di mana bola cahaya itu hinggap.
Dai Xiao Yu!
__ADS_1
Ia menjejakkan sebelah kakinya ke tanah dan dalam sekali hentak permukaan tanah di bawah kakinya terbelah dan makam itu terkuak.
Bumi kembali bergetar dilanda gempa susulan.
"Bangunlah!" perintahnya.
Kain hitam dalam lubang itu melecut disusul suara terbatuk-batuk. Tak lama kemudian, Xiao Yu merangkak keluar dan terengah-engah. "Kenapa kau membangunkan orang mati?" gerutunya sambil menjatuhkan dirinya di tepi lubang.
Hua Zu hanya tersenyum tipis—seperti biasa.
DUARRR!
DUARRR!!!
Xiao Yu tersentak dan menoleh ke belakang. "Dan suara sialan apa itu?" tanyanya terkejut. "Itu bisa membangunkan orang mati!"
"Dewa petir sedang bergurau," kelakar Hua Zu sambil menoleh sekali lagi ke mulut gua.
"Jian? Dia di sini?" Xiao Yu menarik bangkit tubuhnya, kemudian mengintip ke dalam gua.
Hua Zu berambut hitam yang selama ini dikenal Xiao Yu hanya sebatas anak buahnya sedang memantul-mantul di dinding gua sambil mengayun-ayunkan pedangnya, menarikan setengah dari teknik tarian Malaikat Jurang Maut yang tidak disadarinya.
"Sejak awal aku sudah menduga kalau dia Jian," gumam Xiao Yu sambil menepiskan tanah dari jubahnya.
"Jangan ganggu dia!" kata Hua Zu, sambil melompat ke puncak gunung.
Hua Zu tidak menjawab.
"Sejak kapan dia menemukan kembali pedangnya?" Xiao Yu bertanya lagi sambil mengerling ke balik punggungnya.
"Kurasa baru saja," jawab Hua Zu. "Sesaat setelah menguburkanmu dan meratapi kematianmu!" ia menambahkan sambil melirik sekilas pada Xiao Yu.
"Kenapa seseorang harus patah hati dulu baru bisa mengenal dirinya?" gerutu Xiao Yu. "Tidak dewa, tidak manusia. Tidak ada bedanya!"
Hua Zu hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Seharusnya kau biarkan saja aku tetap terkubur," protes Xiao Yu. "Aku merasa terhibur mendengar tangisan petir!"
Hua Zu tersenyum lagi. Tapi tetap tidak menanggapinya. Ia memalingkan wajahnya dari Xiao Yu dan tertunduk meneliti barisan mayat yang tertutup kain hitam di pelataran. Lalu menunjuk salah satu dari mereka, "Dia laskarmu," katanya pada Xiao Yu.
"Apa gunanya seonggok daging yang sudah mati?" gerutu Xiao Yu.
Lagi-lagi Hua Zu hanya tersenyum tipis.
"Bisa tolong hentikan itu!" protes Xiao Yu sambil menunjuk bibir Hua Zu. "Senyum sialanmu membuat ketampananmu sangat mengerikan."
Senyum Hua Zu melebar.
"Bahkan ketampanan bisa begitu mematikan," Xiao Yu masih saja menggerutu, kali ini lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Hua Zu kembali menatap barisan mayat di depan mereka. "Bangunlah, Prajurit!" ia memerintahkan.
Dua belas mayat tersentak duduk dan terperanjat, seperti para tentara yang mendengar terompet panggilan di waktu yang tidak seharusnya. Lalu secara serempak menyingkap kain hitam yang menutupi wajah mereka dan menyingkirkannya.
Hua Zu dan Xiao Yu bertukar pandang sekilas, dan memandangi mereka dengan senyuman samar.
Para Shashou itu menoleh ke arah mereka juga secara serempak, lalu melompat berdiri dan menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh, dan secara serempak pula mereka berlutut di depan Hua Zu dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya masing-masing. "Terpujilah Dewa Agung!" hormat mereka---lagi-lagi secara serempak.
"Makamkan mereka semua!" perintah Hua Zu sambil menunjuk barisan mayat yang tidak dibangkitkan.
"Terjadilah kehendak-Mu!" respon para Shashou yang dibangkitkan sambil membungkuk semakin rendah.
"Dan jangan mengganggu dewa halilintar!" Hua Zu menambahkan sambil mengerling ke belakang melewati bahunya.
"Dengan segenap kerendahan hati," jawab mereka sambil membungkuk lagi, dan dengan tertib mereka mulai bergerak dan bergegas-gegas untuk menjalankan perintah sang Dewa Agung.
Para Shashou yang tidak dibangkitkan itu adalah manusia biasa, sementara mereka yang dibangkitkan adalah para tentara langit yang turut terseret bersama sang Ratu Surga. Begitu pun dengan Xi Mo dan kedua murid Jieru, mereka juga tentara langit yang terdampar di bumi.
Berbeda dengan Xiao Yu, dia merupakan salah satu dari tujuh dewa utama dari ras dewa bumi.
Tujuh dewa utama inilah yang disebut Ilojim.
Tujuh dewa utama ini terdiri dari dewa matahari, dewi bulan, dewa halilintar, dewa angin, dewa laut, dewa bumi, dan dewa kematian.
Para Ilojim ini terdiri dari tiga ras dewa. Dewa cahaya, dewa langit dan dewa bumi. Dan yang tertinggi di antara ketiga ras ini adalah dewa cahaya.
Dewa matahari dan dewi bulan berasal dari ras dewa langit. Kedua dewa inilah yang berkhianat. Dewa matahari—Sang Putra Fajar, dan dewi bulan---Sang Ratu Surga.
Dewa halilintar, dewa angin dan dewa kematian berasal dari ras dewa cahaya.
Dewa laut dan dewa bumi berasal dari ras dewa bumi. Lebih dikenal dalam istilah malaikat bumi.
Dan Xiao Yu merupakan dewa laut.
Dari ketujuh dewa utama ini, tiga di antaranya menjadi dewa tertinggi. Lebih dikenal dalam istilah penghulu malaikat, seperti Jian dan Jiyou.
Dan dari ketiga dewa tertinggi ini, satu di antaranya adalah dewa agung.
Dialah Jiyou!
Dalam kerajaan langit pun, satu tahta tidak bisa diduduki oleh dua pribadi, meski mereka saudara kembar. Dan peraturan hak kepemimpinan selalu jatuh pada anak pertama.
Karena Jian dilahirkan setelah Jiyou, maka Jiyou mendapatkan hak untuk menduduki tahta.
Lagi pula dialah pemilik sembilan karunia cahaya alam semesta.
Satu-satunya pemegang hukum mutlak yang tak terelakkan…
Dewa kematian!
__ADS_1