
Di sepanjang koridor menuju kamar Xi Xia, para pengawal sudah berderet dengan siaga.
Shin Wu mendorong pintu dan menyeruak masuk ke dalam kamar. Lalu dengan cepat memeriksa setiap sudut ruangan untuk memastikan tidak ada penyusup lain yang bersembunyi.
Xi Xia menyusul ke dalam tak lama kemudian, diikuti empat pengawal yang siap membentenginya.
Tidak ada tanda-tanda pembongkaran paksa, atau penggeledahan di seluruh tempat.
Kamar itu terlihat sama seperti ketika Xi Xia meninggalkannya terakhir kali.
Shin Wu menyingkap setiap tirai dan melongok ke luar jendela, sementara Xi Xia mulai memeriksa setiap laci meja dan lemarinya untuk memastikan barang-barangnya tidak ada yang hilang.
"Aneh sekali," gumamnya dengan dahi berkerut-kerut.
Shin Wu menoleh pada Xi Xia dan menghampirinya.
Para pengawal tetap waspada mengawasi sekeliling.
"Tidak ada yang hilang?" tanya Shin Wu tak yakin.
"Tidak ada," Xi Xia menggeleng cepat-cepat. "Semuanya masih utuh dan laci-laci ini tampaknya tidak tersentuh."
"Kurasa penyusup itu tak sempat masuk ke sini," Shin Wu menyimpulkan. "Mungkin para penjaga keburu memergokinya."
"Mereka bilang penyusup itu keluar dari kamarku," tukas Xi Xia. "Lagi pula jendela itu tertutup saat aku keluar!" Xi Xia menunjuk jendela pertama yang didatangi Shin Wu ketika masuk ke dalam kamar.
Shin menoleh ke jendela itu dan ingat jendela itu terbuka ketika ia masuk. "Aneh sekali," gumamnya.
"Itu yang kukatakan barusan," sanggah Xi Xia sambil mendelik pada kakaknya.
Shin Wu mendesah pendek dan melemaskan tubuhnya. Malam panjang yang melelahkan! pikirnya. Lalu menuntun Xi Xia keluar untuk kembali ke aula perjamuan.
Sejumlah penjaga ditempatkan di depan pintu kamar Xi Xia mulai malam ini. Mereka biasanya hanya berjaga di gerbang estat atau patroli di pekarangan.
Menjelang dini hari, para tamu bangsawan sudah berduyun-duyun keluar istana gubernur melewati patung singa menakutkan yang meringkuk di pintu gerbang.
Hua Zu juga berbaur dalam barisan itu, diapit Shin Wu dan Xi Xia.
Tak jauh dari pintu gerbang, kereta kuda para bangsawan itu berderet di sepanjang jalan menunggu majikan mereka.
Sebuah kereta kencana yang luar biasa memukau sudah menunggu Hua Zu di antara kereta kuda para bangsawan dengan seorang sais yang tak kalah memukau—Dai Xiao Yu---sang dewa laut.
__ADS_1
Para tamu bangsawan itu terkesiap menatap kereta kencana yang entah dari mana munculnya, sebab tak ada kereta semacam itu di dunia ini kecuali di negeri dongeng. Terutama karena penunggang kuda itu juga terlihat seperti tokoh khayalan.
Pria ini benar-benar penuh kejutan, pikir Shin Wu. Apa dia masih Hua Zu yang kukenal?
Hua Zu tersenyum samar ketika Shin Wu menoleh padanya dengan serentet pertanyaan tak terucap yang menuntut jawaban.
"Masih banyak waktu, Shin Wu," kata Hua Zu penuh arti, lalu menoleh pada Xi Xia dan mengangguk sekilas memohon diri.
Xi Xia balas mengangguk seraya tersenyum sedih. Akankah kita bertemu lagi? pikirnya muram.
Lalu ketika Hua Zu mulai naik ke dalam kereta, kucing hitam di pangkuan Xi Xia melompat mengejar pria itu.
Xi Xia tersentak dan menghambur untuk menangkap kucing kecil itu.
Di luar dugaannya, kucing itu berhenti di dekat kereta Hua Zu dan membungkuk ke arah pria itu, diikuti semua kuda yang ada di seluruh tempat di sepanjang jalan keluar termasuk milik mereka para bangsawan.
Orang banyak memekik menyaksikannya.
"Siapa orang ini sampai-sampai binatang saja memberi hormat?" mereka bertanya-tanya satu sama lain, tanpa satu pun bisa menjawab pertanyaan seragam mereka.
Shin Wu bertukar pandang dengan Xi Xia dengan mata membulat.
Tian Xu memucat di atas kudanya. Kuda Tian Xu juga membungkuk pada Hua Zu.
Para bangsawan itu berangsur-angsur pergi seiring kereta Hua Zu yang kian menjauh.
"Cari tahu siapa Nefilim itu!" perintah Tio Jun dengan bahasa isyarat kepada para pengawalnya yang secara otomatis ditanggapi dengan membungkuk.
Tian Xu melirik gerombolan Tio Jun dengan tatapan gelisah, lalu melesat memacu kudanya ke arah yang berlawanan dengan kereta Hua Zu.
Sejurus kemudian, segerombol penunggang kuda menyeruak menyusul kereta Hua Zu yang terlihat seperti melayang di permukaan tanah.
"Baru semalam mengekspos wajah sudah dapat banyak penggemar," Xiao Yu berdecak dan menggeleng-geleng.
Hua Zu hanya tersenyum samar menanggapinya, tetap duduk tenang dalam keretanya sementara para cecunguk Tio Jun sudah semakin dekat di belakang mereka.
Dua di antaranya merentangkan busur panahnya membidik jendela kereta Hua Zu, sementara yang lainnya bersiap menghunus pedang.
SLASH!
Dua pengawal bayangan Tio Jun yang ahli aerokinesis melejit ke udara dan melesatkan sejumlah belati ke arah Xiao Yu.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, para pemanah melepaskan tembakan ke arah jendela.
Hua Zu tersenyum lagi.
Xiao Yu mengetatkan tali kekang kudanya dan dalam seketika tunggangan itu menggeliat dan berubah bentuk menjadi seekor naga berwarna hitam sesuai dengan warna kuda.
Kuda para pengejar di belakang mereka langsung tersentak dan melejit dengan gusar melemparkan para penunggang mereka hingga terpelanting dan terjerembab.
Pada waktu yang sama, para ahli aerokinesis yang sedang melayang juga terhempas terkena semburan api di mulut naga.
Hua Zu tersenyum tipis seraya menggeleng-geleng. "Ingatlah di mana kita berada sekarang," katanya memperingatkan Xiao Yu. "Berhentilah memboroskan energi alam semesta untuk hal-hal sepele."
"Hanya sedikit sulap," tukas Xiao Yu. "Lagi pula banyak ras dewa yang diremukkan, seharusnya itu membantu energi bumi sedikit pulih!"
"Batu energi mereka ditimbun untuk kepentingan pribadi golongan tertentu," sanggah Hua Zu. "Sumber daya manusia benar-benar sekarat. Kau tidak berharap mereka menderita lebih lama lagi, kan?"
"Memangnya siapa yang berinisiatif turun ke bumi?" gerutu Xiao Yu.
"Kau tahu Long Yue belum binasa, alam semesta butuh tatanan baru untuk membangun bumi yang baru," tutur Hua Zu dalam gumaman datar.
"Kukira ini tentang Yeliushen?" Xiao Yu menoleh ke belakang dan mengerutkan keningnya.
"Kubilang Yeliushen Baru!" tukas Hua Zu.
"Kukira itu artinya pembaruan Yeliushen!" sanggah Xiao Yu.
"Maksudmu memperbarui sarang penyamun?" dengus Hua Zu. "Yang benar saja?"
"Apa kau sedang membicarakan Jian?" kelakar Xiao Yu.
"Kau ketua sekte penyamun?" balas Hua Zu.
"Aku turun ke bumi sebagai Air Bah!" tukas Xiao Yu.
"Dan aku turun ke bumi sebagai Pedang Ilojim," timpal Hua Zu.
"Bukankah belum waktunya?" Xiao Yu mengerutkan dahinya, menanggapi serius ungkapan Hua Zu.
"Apa yang kau pikirkan?" tegur Hua Zu. "Pedang Ilojim tidak digunakan untuk tuaian di bumi, tapi untuk menguak tabir bait suci!"
"Apakah itu artinya kau akan membawa ras manusia kembali ke Shangri-La?" tanya Xiao Yu.
__ADS_1
"Kau dewa samudera, seharusnya pemahamanmu lebih dalam dari lautan," sindir Hua Zu.
Xiao Yu tergelak menertawakan dirinya. Lalu memekik dengan terkejut, "Oh, tidak! Kau tidak berniat menghancurkan dirimu lagi, kan?"