
Seiris bulan pucat mengintip dari balik segumpal awan gelap, meninggalkan berkas cahaya berbentuk segi empat kecil yang menembus jendela sel tahanan yang kecil.
Jieru bersandar pada dinding yang dingin sambil memandangi sebentuk sinar di lantai tanah. Tangannya terikat erat di punggungnya.
Di luar, cahaya bulan yang putih menyinari deretan tiang kayu yang tinggi dan gelap di bukit landai.
Ketika ia memandangi salah satu tiang kayu di bukit landai itu dan membayangkan dirinya terikat di sana sebagai tervonis mati, Jieru tersenyum samar.
Tiba-tiba cahaya bulan lenyap. Sel sempit itu kini gelap gulita.
Jieru berpaling dan melihat sebentuk siluet di luar jendela, menghalangi cahaya bulan.
"Ayah!" terdengar bisikan parau.
"Hua Zu?"
Hua Zu menatap ayahnya, separuh wajahnya tersembunyi dalam gelap. "Aku datang untuk menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku?" Jieru mengerutkan keningnya, menghujamkan tatapan mencela. "Dasar anak bodoh," dengusnya sengit.
Hua Zu tersentak.
"Kita sedang menuju keselamatan, Hua Zu!" kata ayahnya. Kata-kata itu dimuntahkannya dengan penuh amarah. "Dan kau sedang mencoba merusak rencana-Nya!"
Hua Zu bisa melihat mata ayahnya yang gelap menatapnya, mengawasinya dengan dingin. "Tapi, Ayah—" desisnya lirih.
"Pergilah! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan," potong Jieru dengan nada menuduh, matanya yang hitam berkilat penuh kemarahan.
Hua Zu menelan ludah dengan susah payah. Ia mundur dari jendela lalu menoleh cepat ke kiri dan ke kanan. Setelah yakin tak ada orang di sekitar situ, dia mendekatkan wajahnya lagi ke jendela. "Aku takkan membiarkanmu diremukkan," katanya pahit.
"Kau yang akan diremukkan kalau kau tetap di sini!" bisik Jieru sengit.
"Aku tidak peduli!" Hua Zu berkeras. Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia mengambil napas panjang, lalu mencoba lagi. "Aku baru saja menemukanmu!"
"Dan kau tak akan pernah menemukanku lagi selama-lamanya kalau kau tidak segera pergi!" Jieru menatap putranya, wajahnya kaku, matanya sedingin kata-katanya.
Hua Zu langsung terdiam. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya.
"Kau kira aku tak bisa melepaskan diri?" bisik Jieru.
Hua Zu tidak menjawab. Dalam hatinya ia membenarkan perkataan ayahnya. Ayahnya bisa saja melepaskan diri jika ia menginginkannya. Lalu kenapa dia tidak melakukannya? pikir Hua Zu tidak mengerti.
"Dengar, Hua Zu!" kata ayahnya memperingatkan. "Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."
__ADS_1
Hua Zu terlihat bimbang.
"Angkat pedangmu, Jiyan!" tegas Jieru.
Hua Zu mengerutkan keningnya dengan terkejut.
"Bawakan kemenangan bagi Yuoji! Itu adalah takdirmu!" Jieru menandaskan.
Hua Zu akhirnya menyerah. Lalu menjauh dari jendela, menyelinap ke dalam kegelapan dan menghilang.
Dalam hatinya, Hua Zu berharap ayahnya bisa memberi penjelasan bagus mengenai rencananya. Tapi lalu ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa pun rencana ayahnya, tentunya sangat bagus.
Esok sorenya Hua Zu menyamar sebagai orang Luoji---berpakaian mewah seperti kaum bangsawan, kemudian bergegas menyeberangi alun-alun menuju penjara.
Sekawanan kuda berhenti merumput untuk mengangkat kepala mereka, meringkik terkejut dan memandang ke arah Hua Zu.
Matahari turun di balik pepohonan, menebarkan berkas-berkas cahaya merah jambu di langit sore.
Bulan pucat setengah lingkaran sudah tampak di langit, mengintip dari balik menara Balai Roh Pelindung yang tinggi menjulang.
Bagi Hua Zu hari itu berlalu seperti dalam balutan kabut. Waktu seakan berhenti bergerak, dan ia membeku bersamanya.
Ketika matahari mulai tenggelam dan senja datang, barulah Hua Zu kembali bersemangat.
Hua Zu sudah tak sabar ingin segera melihat rencana ayahnya. Dan untuk berjaga-jaga, ia telah menyelipkan banyak sicae di hampir seluruh tubuhnya. Bahkan di balik manset di bawah lengan hanfu elegan yang ditemukannya dari lemari pakaian Xiao Yu.
Ketika bangunan penjara beratap rendah dan berdinding batu bata merah itu mulai kelihatan, jantung Hua Zu berdegup kencang karena terlalu bersemangat.
Tak sabar untuk melihat pertunjukan menarik!
Tak sabar untuk berkolaborasi lagi dengan ayahnya dalam pertempuran yang mendebarkan yang akan melenyapkan semua kengerian dan menghapus segala mimpi buruk.
Hua Zu melambatkan langkahnya, lalu berhenti untuk mengambil napas. Ia mengangkat wajahnya dan melihat orang berkerumun di depan penjara.
Wajah-wajah mereka tidak terlihat oleh Hua Zu, tersembunyi di bawah bayang-bayang caping atau selubung wajah. Tetapi dia tahu sebagian dari mereka adalah para anak buahnya, kawan-kawannya, pasukan berani mati yang siap bertempur.
Ketika semakin dekat dengan mereka, lututnya melemas dan kakinya gemetar.
Kemudian pintu terbuka.
Seorang serdadu muncul. Menyusul serdadu lainnya.
Beberapa serdadu lain keluar lalu berdiri di depan orang-orang yang berkerumun sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
Jieru akhirnya muncul tak lama kemudian, tangannya terikat di punggung, kepalanya tertunduk ketika dia berjalan melewati ambang pintu.
Dua orang tahanan menyusul rapat di belakangnya, bayang-bayangnya tampak biru di tanah kelabu yang keras.
Hua Zu mengawasi ayahnya sambil mendesak maju menembus kerumunan orang-orang.
Jieru mengangkat mata dan meliriknya.
Hua Zu melangkah maju ke depan kerumunan orang yang menonton. Lalu menunggu.
Menunggu Jieru memberi tanda.
Pria paruh baya itu masih terlihat tenang.
Hua Zu mengetatkan rahangnya ketika melihat salah satu petugas mendorong Jieru dengan keras dari belakang hingga membuat pria paruh itu nyaris terjungkal. Ia berusaha menguatkan hatinya, menenangkan dirinya. Aku percaya padamu, Ayah! katanya dalam hati.
"Ayah!" Seorang gadis menjerit. Dia berontak, melepaskan diri, lalu berlari ke arah salah satu tahanan di belakang Jieru. "Lepaskan ayahku! Lepaskan ayahku!"
Gadis itu terlihat kaget dan ngeri melihat para tahanan sudah dibawa ke tengah alun-alun dan diikatkan ke tiang kayu yang tinggi.
"Jangaaaaaannnn!" Teriakan dan protes gadis itu membelah malam seperti lolongan binatang yang putus asa.
"Mingmei!" tahanan itu menjerit nyaring, wajahnya berkerut penuh kengerian. "Kenapa kau di sini?"
"Aku…" Gadis itu mencoba bicara. Tetapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika dia melihat sejumlah pria berpakaian ninja lengkap dengan tudung kepala dan selubung wajah mulai bersiap di tempatnya masing-masing dan menghunus pedang langit.
"Pergi...!" Tahanan itu memohon pada putrinya. "Pergi dari sini!" jeritnya.
"Tidak!" teriak putrinya. Seseorang mencoba mencegahnya.
Lim Shin Wu berdiri tegang di tepi kerumunan, mengawasi pelaksanaan hukuman itu. Wajahnya murung dan sedih sekali, tersembunyi di balik helm armornya. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya merah, pandangannya kabur karena air mata kemarahan. Tangannya terjuntai lemas di kiri-kanan mantel panglima yang tangguh.
"Ini semua sudah takdir Sang Pencipta," ia mendengar seseorang bergumam. "Mari kita mendoakan jiwa mereka."
Gadis itu menerjang maju, menggeram marah, dan berteriak-teriak menyuarakan protesnya. Lalu tiba-tiba dia terdiam ketika dalam sekejap para ninja itu melesat ke arah tiang dan menghujamkan pedang mereka ke dada para tahanan secara serentak.
GLAAAAAAAAAAR!!!
Bunyi ledakan menggelegar menghamburkan pecahan batu hitam menyala ke udara.
Kebekuan menyergap seluruh tempat.
Hua Zu mengerjap dan menahan napas. Menunggu tanda dari ayahnya. Tapi kemudian hanya membeku dengan wajah memucat ketika semburan debu bercampur api dan bebatuan itu mulai mengendap turun, dan mendapati ayahnya hanya terkulai pada tiangnya.
__ADS_1