Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-50


__ADS_3

Ma Tuoli berjalan pulang menyeberangi alun-alun yang kosong dan sunyi, matanya menatap lurus ke depan.


"Tetua Ma!" Sebuah suara mengagetkannya di depan pintu rumahnya. Dia memerlukan waktu beberapa detik untuk memusatkan matanya pada sosok gelap di ambang pintu rumahnya. "Panglima!" desisnya.


Pemuda itu menghadangnya di teras. "Kita harus bicara," katanya setengah menggeram.


"Tidak." Tuoli memelototinya dan menyisikan Shin Wu dengan kasar dari jalannya.


"Kalau kau tak mau bicara di sini aku akan membuatmu bicara di balai pengadilan," Shin Wu berkata dengan nada mengancam.


"Tidak," Tuoli mengulangi. "Jangan sekarang, Panglima. Ada yang harus kulakukan lebih dulu."


Dia menyisikan pemuda itu sekali lagi dengan melewatinya dan masuk ke rumahnya, lalu membanting pintu keras-keras di belakangnya.


Rumah itu gelap, sama gelapnya dengan hati Ma Tuoli.


Dengan cepat tetua itu berjalan ke bagian belakang rumahnya. Dia membuka pintu ruangan khususnya, ruang rahasia yang sempit di balik dinding, yang bahkan istrinya maupun anaknya tak pernah masuk ke sana.


Ruangan tempat batu-batu hitam selalu menyala di dalam sebuah lubang di lantai ruang bawah tanah. Dia melangkah menuruni tangga menuju ke bara api merah lalu menutup pintu di belakangnya.


Sambil mendesiskan mantra upacara sihir, Tuoli mengambil jubah ungu bertudung yang disembunyikannya di bawah peti-peti kayu, lalu mengenakannya.


Pria itu bisa merasakan kekuatan jubah itu bahkan sebelum dia menutupi kepalanya dengan tudungnya.


Sambil mengangguk tiga kali, Tuoli memandang lingkaran cahaya di permukaan lubang. Setelah itu dia berlutut di lantai tanah dan mulai menyenandungkan kata-kata kuno yang dia hafal di luar kepala.


Sambil menggumamkan kutukan-kutukan kuno, dia mulai menggoreskan lambang-lambang setan di lantai tanah di tepi lubang. Napasnya sekarang memburu, jantungnya berdegup kencang.


Di bawah tudung satin ungu, matanya melotot tak berkedip, menatap simbol-simbol kuno yang digoreskannya di lantai tanah. Senyum miring tersungging di bibirnya yang gemetar.


Mulutnya terus berkomat-kamit memanggil roh-roh jahat yang sudah sering dipanggilnya sebelum ini yang ia sebut-sebut sebagai Dewa Roh Agung.


Pekik-jerit kengerian dan kesakitan jiwa-jiwa yang dikorbankan menggemuruh seperti mesin raksasa di dalam lubang.


.


.


.


"Sudah saatnya," gumam Hua Zu yang secara otomatis ditanggapi tatapan bingung murid-muridnya.

__ADS_1


Waktu menjelang dini hari ketika pemuda berambut emas itu mendadak mengumpulkan semua muridnya dan mengadakan perjamuan.


"Dengar, Dunrui!" Hua Zu menoleh pada murid Jieru yang sekarang menjadi muridnya. "Jieru sudah tiada. Kini giliranku untuk pergi." Ia mengedar pandang dan mengawasi semua muridnya yang terdiri dari dua belas orang.


"Guru, kau akan pergi ke mana?" salah satu muridnya bertanya.


"Kalian tidak perlu tahu, tapi ketahuilah bahwa apa pun yang terjadi aku akan kembali membawa kemenangan!" janji Hua Zu.


Murid-muridnya bertukar pandang.


"Kuatkan hati kalian. Kalian benar-benar akan diuji!" Hua Zu menambahkan. Ia mengenakan tudung jubahnya dan bergegas keluar.


Murid-muridnya beranjak serempak dan mengekor di belakangnya hingga ke perbatasan hutan.


Begitu keluar dari perbatasan, Hua Zu menoleh pada murid-muridnya dan mengingatkan. "Kuatkan hati kalian!" Lalu menurunkan penutup kepalanya dan melambungkan tubuhnya ke udara.


Sedetik kemudian, seuntai rantai misterius melecut dari cakrawala seperti keredap kilat dan merenggut tubuh Hua Zu.


GRAAAAAK!


Dan sebelum murid-muridnya mampu bereaksi, sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, Hua Zu telah menghilang bersama rantai neraka tadi.


.


.


.


Ruangan panjang berlangit-langit rendah itu penuh bayang-bayang. Wajah-wajah kaku berkilat dalam cahaya lampion berwarna merah. Mata, lusinan mata, melirik ke arah Hua Zu berambut emas dan Hua Zu berambut hitam.


Deretan bangku kayu ditata sampai ke bagian belakang ruangan panjang itu. Tanpa bicara orang-orang berdatangan lalu duduk di bangku. Mereka warga kota, para petinggi bangsa Luoji, mereka berbisik-bisik, mereka memandang kedua Hua Zu dengan sikap ingin tahu, tak percaya, dan sinis. Bisikan dan dengung orang bicara semakin keras.


"Jiyan, apa kau mendengarku?" tanya Hua Zu berambut emas dalam bahasa cahaya. Badannya menyandar rapat ke punggung Hua Zu berambut hitam, sampai dia bisa merasakan tubuh pemuda itu mengeras karena geram.


Hua Zu tak bereaksi. Ia bisa mendengar suara Hua Zu berambut emas, dan ia tahu persis Jiyan adalah nama pada dahinya, namun ia tak tahu bagaimana menanggapinya.


"Gunakan pikiranmu untuk menjawabku!" instruksi Hua Zu berambut emas.


"Siapa kau?" tanya Hua Zu berambut hitam dalam benaknya.


"Kau takkan percaya jika aku mengatakannya sekarang," jawab Hua Zu berambut emas. "Tapi biar kuberitahu kau sebuah rahasia. Kau harus melewati kematian supaya pedang langit tak bisa meremukkanmu."

__ADS_1


Hua Zu berambut hitam terkekeh sinis. "Kultus!" dengusnya dalam benaknya.


"Kau lihat ayahmu mati hari ini?" tanya Hua Zu berambut emas, masih dalam bahasa cahaya.


Hua Zu berambut hitam langsung terdiam. Mereka tak bisa meremukkan Ayah, katanya dalam hati.


"Benar," kata Hua Zu berambut emas. "Kau harus melewati kematian fana! Ayahmu sudah melewatinya."


Hua Zu berambut hitam kembali terdiam. Jadi ayahku memang dewa?


"Ketahuilah, Hua Zu! Ayahmu akan bangkit pada hari ketiga, dan aku berjanji kau akan keluar dari sini sebelum hari kebangkitannya."


"Kenapa kau ingin mengeluarkanku dari sini?" tanya Hua Zu berambut hitam dengan curiga.


"Kau harus terbunuh oleh hal lain sebelum pedang langit!" Hua Zu berambut emas memberitahu. "Percayalah padaku. Aku akan membangkitkanmu pada hari ketiga."


"Kau tidak sedang mengaku dirimu Dewa Agung, kan?" Hua Zu berambut hitam tersenyum sinis.


"Bagaimana kalau ya?" tanya Hua Zu berambut emas.


"Kalau begitu selamatkan saja dirimu sendiri, Mi Sai Ya!" dengus Hua Zu berambut hitam, masih bicara melalui pikirannya.


"Kau kira aku tak bisa melepaskan diri?" tanya Hua Zu berambut emas.


Hua Zu berambut hitam mengerutkan keningnya. Kata-kata ayahnya melintas dalam benaknya.


"Kau kira aku tak bisa melepaskan diri?"


"Baiklah," batin Hua Zu berambut hitam. "Kita lihat saja bagaimana caranya kau melepaskanku?" tandasnya tetap skeptis.


Hua Zu berambut emas hanya tersenyum samar.


Lalu muncullah Lim Shin Wu, Ma Tuoli dan Lim Pao Lu.


Wajah gubernur dan putranya terlihat muram menghadapi persidangan itu. Keduanya tahu persis bahwa para tetua Balai Roh Pelindung menyerahkan Zhu Hua Zu karena dengki.


Para tetua bangsa Yuoji, bahkan seluruh petinggi Balai Roh Pelindung mencari kesaksian terhadap Zhu Hua Zu supaya ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya.


Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai antara yang satu dengan yang lain.


Beberapa orang naik saksi melawan dia dengan tuduhan palsu lainnya. Dalam hal ini pun kesaksian mereka tidak sesuai antara yang satu dengan yang lain.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Pao Lu tidak menemukan bukti kesalahan Zhu Hua Zu. Jadi ia berusaha mencari cara untuk membebaskan Zhu Hua Zu dari hukuman mati.


__ADS_2