
Kota tua, Zhujia…
"Mohon ampuni kekurangan kami, Pangeran!" para pengawal Tio Jun tersungkur di lantai, di hadapan pangeran itu. "Kami telah gagal. Kami tidak berguna. Kami pantas dihukum!"
Tio Jun mengetatkan rahangnya dan memelototi mereka satu per satu.
"Pria itu bukan Nefilim biasa," kata salah satu dari mereka. "Mungkin juga bukan Nefilim!"
"Jadi siapa dia? Dewa?" hardik Tio Jun tak sabar.
Para pengawal itu terdiam. Tidak berani menjawab meski hati mereka mengiyakan. Dia memang dewa, pikir mereka. Tapi petinggi Luoji yang sombong tidak mengakui adanya dewa kecuali diri mereka sendiri.
Bagi mereka dewa hanyalah simbol, siapa berkuasa maka dialah dewa.
"Kalian dibebastugaskan selama sebulan dan gaji kalian dipotong setengah pada bulan berikutnya," tandas Tio Jun semena-mena isi kepalanya.
Bersamaan dengan itu, dua pengawal bayangannya datang, keadaan mereka bahkan tidak lebih baik dari para pengawal biasa. Keduanya mengalami luka bakar di hampir sekujur tubuh mereka.
"Ampuni kekurangan hamba, Pangeran!" kedua pengawal bayangan itu tersungkur di lantai. "Kami pantas mati!"
"Apa yang terjadi?" Tio Jun terbelalak melihat kondisi kedua pengawal bayangannya.
Tidak satu pun dari kedua pengawal itu tahu apa yang harus dikatakan. Pertama karena apa yang dialami bersifat spiritual, petinggi Luoji yang skeptis tidak menerima penjelasan apa pun yang tidak realistis. Kedua karena hal itu terkait kekuatan seseorang yang akan dianggap ancaman di mana mau tidak mau mereka akan dipaksa untuk tidak pernah melepaskannya, bagaimanapun caranya.
"Tidak mau bicara?" teriak Tio Jun mulai murka.
"Tunggangan mereka berubah menjadi seekor naga," salah satu dari pengawal biasa akhirnya memberanikan diri untuk membuka mulut, meski ia tahu risikonya adalah mati. Tapi lebih baik seseorang dikorbankan untuk sekian banyak orang. Jadi, seseorang harus bertindak.
"Bicara omong kosong apa?" teriak Tio Jun semakin murka. Lalu menjejakkan kakinya di tengkuk pengawal yang mengatakannya. "Kau terlalu banyak minum arak di perjamuan, ya kan?" geramnya.
"Mohon ampuni hamba, Pangeran!" pengawal lainnya segera menginterupsi. "Apa yang dia katakan benar. Kami semua melihatnya. Para pengawal abadi menderita luka bakar karena semburan api dari mulut naga itu!"
Tio Jun mengangkat kakinya dari tengkuk pengawal yang pertama, sebagai gantinya ia menjejakkan kakinya di wajah pengawal kedua yang berani menengadah menatap wajahnya. "Hukum mati mereka yang berani bicara omong kosong di istanaku!" perintahnya dengan suara yang menggelegar.
Dua algojo berbadan besar merangsek ke tengah ruangan dan menyeret kedua pengawal tadi.
Sisanya masih tersungkur dengan wajah menyentuh lantai.
"Masih ada yang berani bicara omong kosong?" tantang Tio Jun.
Para pengawal itu terdiam.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu…
Di kediaman hakim agung, Tian Xu berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang kerja pribadi ayahnya, sementara sang ayah mengawasinya dari seberang meja sembari bersedekap.
"Dugaanmu memang tidak keliru," kata ayahnya. "Dia memang berasal dari ras dewa, tapi bukan yang mahakuasa! Dia hanya malaikat jurang maut. Kau perlu mewaspadainya, tapi tak harus takluk padanya."
"Malaikat jurang maut?" Tian Xu mengerutkan keningnya. "Diakah Jian?"
"Jiyou!" timpal ayahnya. "Jangan keliru membedakannya, yang mematikan adalah yang tidak menghunus pedang," nasihat sang hakim pada putranya. "Si pemilik hukum adalah Jiyou!"
Tian Xu berbalik pada ayahnya dan memicingkan mata. "Si pemilik hukum?"
"Apa yang kau pikirkan?" tegur sang hakim ketika menyadari sedikit pertanda bahwa ketertarikan putranya lebih dari sekadar rasa penasaran. "Kau tidak berpikir bahwa pemilik hukum artinya sang dewa agung, kan?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" Tian Xu menggeleng cepat-cepat.
"Ingatlah, Xu'er! Dewa agung adalah dewa yang telah memberikan kekuatannya padamu. Dia tidak berkeliaran di bumi karena tahtanya di surga tertinggi. Siapa pun dia ras dewa yang berkeliaran di bumi adalah iblis!"
"Bagaimana dengan Mi Sai Ya yang diramalkan?" tanya Tian Xu.
"Mi Sai Ya adalah seorang manusia," tukas ayahnya. "Bukan ras dewa!"
"Kau lihat aku!" Tian Fu mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Aku juga pemilik hukum di negeri ini. Tapi bukan berarti aku seorang kaisar. Apa kau mengerti?"
"Aku mengerti, Ayah!" sahut Tian Xu tanpa menatap wajah ayahnya.
"Kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan?" ayahnya menambahkan seraya memicingkan matanya.
Tian Xu mengangguk ragu.
"Remukkan dia, sebelum dia yang meremukkanmu!" tandas ayahnya.
.
.
.
Benteng Kaida…
Hua Zu akhirnya mulai siuman, kelopak matanya bergetar dan membuka perlahan. Lalu samar-samar ia melihat dua wajah merunduk di atas kepalanya.
"Kak Zhou!" terdengar suara khawatir salah satu rekannya yang paling muda.
__ADS_1
Hua Zu mengerjap. Lalu semuanya mulai terlihat jelas.
Dua wajah tersenyum lega.
Hua Zu mengernyit dan menarik duduk tubuhnya. Lalu mengedar pandang.
"Kak Zhou! Minumlah!" salah satu dari kedua pria di sampingnya menyodorkan secangkir air.
Hua Zu menerimanya, tapi tidak segera meneguknya. Matanya tiba-tiba terpicing menatap bergantian kedua pria di sisi tempat tidurnya. "Kalian masih hidup?" ia bertanya dengan terkejut.
Kedua pria itu terkekeh gelisah sambil mengusap bagian belakang kepala mereka dengan gerakan seragam. Lalu bertukar pandang.
"Kau mengira kami sudah mati, ya kan?" kata salah satu dari mereka yang lebih tua sambil cengengesan. "Kau menutupi kami seperti mayat."
Hua Zu mendesah pendek dan menggeleng-geleng, lalu meneguk air dalam cangkirnya. "Berapa banyak yang masih hidup?" tanya Hua Zu sambil mengembalikan cangkirnya pada mereka.
Kedua pria itu bertukar pandang sekali lagi. Lalu salah satu dari mereka menjawab dengan kikuk. "Tak banyak! Tapi mereka sedang menunggumu di luar."
Hua Zu memijat-mijat tengkuknya dan meregangkan otot-ototnya. Lalu menurunkan kedua kakinya.
"Kami sudah membuatkan bubur untukmu," kata mereka hampir bersamaan.
"Dan kami juga sudah menyiapkan air panas untuk kau berendam." Salah satunya menambahkan.
"Jadi yang mana dulu yang harus kulakukan?" tanya Hua Zu.
"Ah—ha ha ha!" Mereka tertawa.
"Kukira sebaiknya kau berendam saja dulu sementara kami menyiapkan pakaian ganti dan menghangatkan bubur," usul salah satunya.
Hua Zu mendesah lagi, lalu menghela tubuhnya berdiri dan memaksa kedua kakinya melangkah menuju pemandian. Lalu tiba-tiba berhenti dan menoleh pada kedua rekannya. "Dan kenapa kalian berpakaian seperti itu?" Ia menunjuk pakaian serba putih berlapis mantel armor bermotif perak yang dikenakan kedua rekannya.
Kedua pria itu langsung terdiam.
Hua Zu memutar tubuhnya menghadap ke arah mereka dan menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu. Kedua tangannya bersilangan di depan dada. Rahangnya mendongak, matanya terpicing menuntut penjelasan.
"Banyak hal terjadi selama kau tak sadarkan diri," tutur salah satu dari mereka. "Kami tak tahu bagaimana memulainya."
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Hua Zu.
"Kami tak yakin tepatnya berapa lama," jawab rekannya yang lebih tua. "Kami juga baru pulih."
"Baiklah!" kata Hua Zu menyerah, lalu memutar tubuhnya lagi memunggungi mereka dan melangkah ke tempat pemandian. "Setelah aku selesai berendam, kuharap kalian sudah bisa memberi penjelasan."
Kedua pria itu saling melirik sekilas. Lalu bergegas meninggalkan ruangan.
__ADS_1