
Kira-kira pukul tiga, dua sosok berkuda dengan jubah militer menyeruak di antara kerumunan dan menarik perhatian semua orang.
Xi Xia dan Selir Yuwen mengenali salah satu dari mereka. Tio Jun!
Seorang komandan pasukan, menghampiri Jenderal itu dengan raut wajah tegang. "Pangeran, apa yang membuat Anda datang?"
"Ini hari persiapan Yuoji," jelas Tio Jun. Hari persiapan adalah satu hari menjelang hari Xingqiwu. "Di semua hari libur besar, fanatik idiot dari seluruh Zhujia akan datang untuk melampiaskan malapetaka."
Komandan itu mengerjap tak mengerti. "Apa tepatnya yang harus saya lakukan, Jenderal?" Ia bertanya terus terang.
"Kendalikan saja wilayah dan segera selesaikan!" Tio Jun menandaskan.
Komandan itu memutar tubuhnya ke arah tempat hukuman, kemudian memberikan isyarat "pengakhiran" kepada para ninja yang berada di area pembantaian---menggerakkan jemari tangannya seperti sedang meremukkan sesuatu.
Remukkan saja sekarang!
Percepat kematian mereka!
Kurang lebih seperti itulah arti isyarat komandan itu.
Karena hari itu adalah hari persiapan, sesuai tradisi bangsa Yuoji, segala pekerjaan harus diselesaikan menjelang hari Xingqiwu.
Jadi, pekerjaan ini harus segera diakhiri!
Ada tiga Shashou yang diikat pada tiang bersama Hua Zu hari itu. Mereka adalah tentara langit yang dibangkitkan Hua Zu dari Sekte Belati Kaida---rekan-rekan Hua Zu berambut hitam.
Para wanita yang berkerumun di belakang barisan para tentara menjerit histeris ketika para ninja mulai bersiap di tempatnya masing-masing dan menghunus pedang.
Tio Jun mengernyit dan menoleh ke arah para wanita yang menjerit-jerit itu dengan tampang kesal.
"Itu para pendukung Orang Naseli," komandan tadi memberitahu.
Tio Jun memperhatikan kerumunan para wanita tadi dengan mata terpicing. Kemudian tergagap dan terbelalak mendapati Xi Xia dan Selir Yuwen berada di antara mereka.
Kedua wanita itu balas menatap Tio Jun dengan gelisah.
Tio Jun menelan ludah. "Dia…"
"Itu para wanita yang katanya dibangkitkan Orang Naseli itu dari kematian!" Komandan itu menunjuk para wanita yang menjerit-jerit histeris.
"Tutup mulut mereka!" Tio Jun menghardik komandan tadi tanpa menoleh ke belakang, tak berani memperlihatkan wajahnya pada Xi Xia dan Selir Yuwen.
"DIAAAAAAM!!!" Komandan berteriak nyaring ke arah para wanita tadi.
Para wanita itu terdiam serentak, menahan isak-tangisnya, tersengak-sengak seraya berkerumun dan saling berpelukan.
Xi Xia dan Selir Yuwen bertukar pandang, kemudian melirik ke arah Tio Jun dengan raut wajah kecut.
Salah satu ninja di bagian eksekusi itu mematung bimbang seraya mendongak menatap Hua Zu.
Rekannya terlihat sama ragunya. Lalu dengan ragu-ragu pula, mereka menaikkan pedang di sisi wajahnya.
__ADS_1
Para wanita kembali menjerit. Lebih nyaring dari sebelumnya.
Tio Jun mengetatkan rahangnya dan mengangkat sebelah tangan. "TUNGGU!" teriaknya.
Para wanita serentak terdiam.
Kedua ninja eksekutor itu menoleh pada Tio Jun seraya mengerutkan dahi.
Lalu dalam sekejap, Tio Jun sudah melesat sambil menghunus pedangnya.
JLEB!
Seketika darah dan air menyembur keluar dari lambung Hua Zu. Para ninja eksekutor itu terkesiap dan membeku.
Semua orang tercengang.
Tio Jun juga tercengang.
Tidak ada ledakan? pikirnya terkejut. Dia bukan ras dewa? Mustahil!
Hua Zu terkulai dengan tubuh gemetar. Kelopak matanya bergetar dan masih bernapas meski tersengal.
Lalu para ninja melesat ke arah dua lainnya dan menghujamkan pedang mereka.
Mereka juga tidak meledak. Tapi mereka langsung tewas seketika itu juga.
Hua Zu masih bernapas. Masih mengerjap dan mengedar pandang.
Orang-orang menatap Hua Zu dalam waktu yang lama.
Bersamaan dengan itu, terjadilah gempa bumi yang mahadahsyat.
Pekik-jerit semua orang membahana di seluruh Zhujia, kemudian menggaung ke awang-awang. Menggemuruh seperti mesin penggiling raksasa.
Tanah Zhujia terbelah dan pulau Liuwang bergeser. Bersamaan dengan itu air laut meluap dan menghempas retakan itu dan menyeret pulau Liuwang menjauh hingga pulau itu terpisah sepenuhnya dari Zhujia.
GROAAAAAAARRR…!!!
Sesuatu di dunia bawah menggeliat.
KRAAAAAK!
Bebatuan dalam lubang di ruang rahasia Ma Tuoli berkeretak.
Ma Tuoli tersentak. Dewa Roh Agung meraung dan memberontak.
Ada energi perlawanan yang membuat Tuoli terdorong hingga terlempar ke belakang.
Ia berusaha bangkit dan membaca lagi mantra-mantra kunonya, mencoba menyerap jiwa Hua Zu untuk dipersembahkan bagi Dewa Roh Agung.
Tapi lagi-lagi roh jahat yang tersembunyi jauh di dalam lubang kembali memberontak.
__ADS_1
GLAAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!!
Lubang penyimpanan batu Lucifer akhirnya meledak.
Tuoli terhempas dan rumahnya serentak luluh-lantak.
.
.
.
Jauh di kedalaman bumi…
Ruang tahanan neraka jahanam mendadak ambruk. Para tawanan menyeruak keluar dan berpencaran seperti geluguk mata air.
Para serdadu iblis tersentak, membeku di puncak-puncak bukit batu di sekeliling lubang tempat mengurung jiwa-jiwa yang dikirim Ma Tuoli pada mereka.
Para tawanan itu merangkak keluar dengan tubuh menyala seperti bara.
Sebagian pria menyerbu enam algojo iblis berbadan besar dan berotot keras yang membawa pentungan batu berduri yang berjaga di pintu penjara yang berbentuk seperti kawah gunung.
Para tawanan itu menjadikan belenggu dan rantai pada tubuhnya sebagai senjata.
Api neraka menyala berderak-derak di seluruh tempat dalam keabadian.
Bau keringat bercampur darah menyengat ketika Jieru menyeruak bersama dua tentara langit, memakai baju zirah dan menunggangi kuda api bersayap yang setiap hentakan kakinya menyebabkan keredap kilat.
Sejumlah ninja Shashou berpakaian serba hitam yang mati di kaki gunung Jingling mengekor di belakang mereka seperti hujan meteor.
Dari puncak menara, kota jahanam itu terlihat laksana kebun permata berwarna merah di malam hari. Berkelap-kelip di antara bebatuan hitam mengepul laksana arang menyala.
Iblis-iblis penyerap jiwa berkelebatan dalam bentuk asap hitam, melesat ke sana kemari di udara seperti kelelawar raksasa yang bergerak dalam kecepatan komet, lalu menukik ke arah para tawanan yang melarikan diri dari penjara.
Para wanita menjerit-jerit dan anak-anak menangis histeris.
Dai Xiao Yu melesat keluar dari cakrawala menunggangi seekor naga raksasa berwarna biru transparan seperti lautan.
Panjang tubuhnya tidak terkira. Ekornya melecut seperti badai tsunami dan menyapu para tawanan dari permukaan tanah menyala dan menyelamatkan mereka dalam satu raupan. Kemudian mulutnya menyemburkan api berwarna biru ke sana kemari dan menghanguskan gumpalan iblis-iblis penyerap jiwa.
Serdadu iblis di puncak menara meniupkan terompet tanduk raksasa.
BOOOOOOOONG…!!!
Sinyal peringatan bahaya menggema seperti raungan singa raksasa.
Detik berikutnya, para tentara iblis menghambur keluar dari lubang-lubang bebatuan yang mirip terumbu karang yang menyemburkan api.
"Apa yang terjadi?" Ratu iblis terusik di singgasananya.
Para petinggi di dalam aula singgasana serentak menegang.
__ADS_1
Seorang penjaga lorong aula menyeruak ke pintu aula singgasana dan tersungkur di depan pintu. "Para Ilojim, Yang Mulia! Para Ilojim menyerang negeri kita!"
"Bagaimana bisa?" Ratu iblis yang mengaku dirinya sebagai ratu surga itu tersentak berdiri. "Hanya orang mati yang bisa sampai di sini!"