Kuasa Ganda Absolut

Kuasa Ganda Absolut
Verse-26


__ADS_3

Kusir berbadan kurus itu mengerang saat jatuh mendarat dengan punggung di atas bebatuan, dengan adanya sorak kegembiraan para penonton, kusir kurus itu memilih untuk tidak bangkit meskipun kelihatannya masih bisa.


Jika itu adalah pertempuran sungguhan, tipuan pintar seperti tadi hanya akan ditanggapi dengan tikaman belati.


Para lelaki itu sama sekali tidak mengerti mereka sedang berhadapan dengan siapa.


Zhou Jieru!


Ketua Sekte Belati Kuangre!


Ternyata memang dia, pikir Xi Xia. Lalu memberitahu ibu tirinya, "Dia penyelamat kita!"


"Benarkah?" mata Selir Yuwen terbelalak dengan sorot antusias, kemudian menjulurkan kepalanya keluar. "Ah—ternyata benar!" serunya kemudian.


Namun sikap Jieru terhadap musuh-musuhnya kali ini tampak berbeda, mengingatkan Xi Xia pada seekor kucing yang bermain-main dengan tikusnya yang sudah tertangkap sebelum dengan santai menggigit kepalanya hingga putus.


Kerumunan penonton menikmati pertunjukan dengan penuh semangat, mereka menyemangati Jieru, namun pria paruh baya itu tidak memberikan hukuman lebih lanjut terhadap korban keduanya dan kembali mengarahkan perhatiannya pada kusir berbadan besar, yang kelihatannya telah pulih.


la akan melakukannya, pikir Xi Xia dengan alis berkerut, nadinya berdetak keras. Ia akan memukulinya.


Kusir kejam itu secara perlahan bangkit berdiri dengan wajah seperti banteng yang sedang mengamuk.


"Ayo, bangun!" ejek Jieru seraya berjalan mendekati kusir tersebut. "Berdirilah yang tegak! Lebih cepat!"


Mata Selir Yuwen melebar saat ia melihat Jieru mengangkat tangan dan mencambuk kusir kekar tersebut dengan cambuknya sendiri.


Kusir itu mengerang atas sengatan yang ia rasakan, kembali jatuh ke dekat roda, meskipun Jieru tidak memukulnya cukup keras untuk sampai merobek pakaiannya.

__ADS_1


"Kenapa, kau tidak suka?" ejek Jieru dengan kebuasan yang meningkat. "Mungkin aku tidak melakukannya dengan benar!" Jieru mencambuk kusir itu lagi, lebih keras. "Bangun, Keparat Sombong! Mari kita lihat bagaimana sikapmu terhadap seseorang yang bisa melawan balik!"


"Master!" jerit Xi Xia.


Teriakan gadis itu yang tiba-tiba menarik Jieru kembali dari kondisinya yang gelap mata yang ia nikmati sejak tadi. Ketika pria paruh baya itu menoleh kepada Xi Xia, wajahnya diselubungi kekerasan dan matanya yang pucat dan seperti serigala berkedip dengan kemarahan.


Tatapan yang ada di wajah pria itu saat ini mengingatkan Xi Xia pada tatapan tajam dan dipenuhi kegelapan yang ia lihat di mata para perampok malam itu.


Malam itu tatapan para Shashou membuatnya tak nyaman, kali ini tatapan itu membuatnya bingung.


Mungkin Jieru melihat kebuasannya terpantul pada tatapan ngeri Xi Xia, karena setelah itu ia sepertinya bisa kembali mengontrol kemarahannya. Dengan menyamarkan pandangannya untuk menutupi apa yang ia rasakan sebenarnya, pria paruh baya itu melemparkan pandangan hina ke arah kusir tersebut. "Dia pantas menerimanya."


Jieru berhenti menakuti kusir tersebut, lalu menggulung cambuk kuda milik si kusir, melangkah mundur, dan melempar cambuk itu dengan sekuat tenaga. Cambuk itu terbentang seperti ular di tengah udara saat terlempar ke atas, terbang melewati barisan bangunan dan mendarat di salah satu atapnya.


Jieru membersihkan tangannya dari debu, melemparkan tatapan hina ke arah si kusir sekali lagi, lalu dengan tenang kembali melanjutkan tugasnya membebaskan kuda tersebut.


Tugasnya selesai dengan cepat. Setelah kuda itu meninggalkan pelananya, Jieru menyentuh lembut leher kuda tersebut, berbicara dengan lembut kepadanya. Sambil menggenggam tali kekang yang kotor, pria paruh baya itu mulai menuntun hewan pincang tersebut.


Dengan hening, mereka membuka jalan untuk membiarkan pasangan tersebut lewat.


Tapi sebelum Jieru meninggalkan lokasi, ia sempat bimbang meskipun tidak terlihat jelas. Pria itu berhenti agak lama untuk mengirimkan Xi Xia tatapan bertanya melewati bahunya.


Xi Xia menautkan kedua tangannya di depan wajah, dan membungkuk pada Jieru. Selir Yuwen mengangguk di sisinya sambil tersenyum hormat.


Jieru menunduk dan kembali berjalan. Dengan seketika, lautan manusia kembali merapat di belakang pria paruh baya itu, sang penolong dan kuda betinanya yang terluka menghilang ke dalam keramaian.


Tak berapa lama tiga orang serdadu patroli datang dengan terlambat ke tengah-tengah keramaian, namun si kusir tidak membuang-buang waktu untuk menyuruh para tentara tersebut mengejar Jieru.

__ADS_1


"Hentikan dia, dia pencuri! Hentikan! Dia pembunuh!" Terburu-buru bangkit dari tempatnya tersungkur di dekat roda kereta, kusir itu mulai berteriak-teriak atas apa yang dialaminya, menunjuk dengan tidak sabar ke arah Jieru pergi. "Dia pergi ke arah sana! Maniak gila baru saja menyerang kami dan pergi dengan salah satu kudaku! Laki-laki tinggi, berjubah hitam seperti Shashou. Apa lagi yang kalian tunggu? Dia semakin jauh... dan dia membawa kudaku! Kalian lihat?" Kusir itu memegang pelana yang telah kosong tempat di mana tadinya kuda betina itu berada.


"Shashou?" tanya pemimpin serdadu itu, melihat ke sekeliling tempat perkelahian tersebut.


"Oh, tidak!" pekik Xi Xia sambil membekap mulutnya. Selir Yuwen turut menegang di sampingnya.


Itu Shin Wu!


"Benarkah itu?" panglima itu mengedar pandang.


"Benar, Tuan!" kata si pengawal mendukung tuannya. Pemuda kurus itu masih terkapar di atas tanah. Ia terkapar di samping si kusir, dengan hati-hati ia menggosok-gosok bokongnya yang nyeri. "Dia membantingku dan sekarang badanku patah-patah!"


Beberapa meter darinya, si kurir pesan berada dalam kondisi yang tidak lebih baik, kurir itu menggeleng dengan linglung berjuang untuk mengembalikan kesadarannya. la mengelap tetesan darah yang mengalir dari salah satu lubang hidungnya.


Wajah panglima itu mengeras. "Baiklah." Ia lalu menatap para bawahannya, "Kalian tahu apa yang harus dilakukan. Kejar dia!"


Mata Xi Xia dan Selir Yuwen melebar saat para serdadu itu pergi tergesa-gesa mengejar Jieru, sambil mencengkeram tombak dan perisai mereka.


Xi Xia dan ibu tirinya saling bertukar tatapan ngeri, menyadari bahwa penyelamat mereka dan kuda "curiannya" belum pergi terlalu jauh karena kuda itu berjalan pincang. Xi Xia dan Selir Yuwen hanya bisa berharap supaya rasa hormat Jieru kepada para serdadu Yuoji yang berwenang mampu menahan dirinya untuk tidak memukuli para serdadu seperti yang ingin ia lakukan kepada si kusir.


Mungkin dengan karisma yang dimilikinya, pria paruh baya itu bisa keluar dari permasalahan ini—namun harapan mereka hancur di detik berikutnya ketika seseorang yang berada di keramaian berteriak, "Mereka menangkap lelaki itu!"


Begitulah akhirnya...


Tidak sanggup lagi menahan diri, Xi Xia melompat dari kereta kudanya, ia mengangkat tepi roknya dengan kedua tangannya agar tidak tersandung, lalu berlari menuju ke arah Shin Wu. "Kakak, tunggu!"


Panglima itu menoleh pada Xi Xia dengan terkejut. "Xi Xia? Kenapa kau di sini?"

__ADS_1


"Pria ini hanya membual!" teriak Xi Xia.


Shin Wu spontan mengerutkan keningnya, sebelah alisnya terangkat tinggi.


__ADS_2